Lompat ke isi

Konsep:Umat Islam

Dari wikishia

Umat Islam (bahasa Arab: أُمَّةُ الإسْلَامِ) adalah sekumpulan Muslim yang disatukan berdasarkan kriteria keyakinan atau akidah. Berdasarkan ajaran Islam, seluruh Muslim adalah umat yang satu. Islam menerima batas-batas geografis dan nasional yang membagi kaum Muslimin saat ini sebagai hukum sekunder, namun kaum Muslimin tetap harus bersatu dalam bentuk satu umat yang terpadu dan solid.[1] Dalam Al-Qur'an juga terdapat ayat-ayat yang mengisyaratkan pembentukan satu masyarakat dan pemerintahan Islam yang tunggal.[2] Tujuan ini tertuang secara tegas dalam Undang-Undang Dasar Republik Islam Iran Pasal 11. Pemerintah diwajibkan mendasarkan kebijakan umumnya pada persatuan dan koalisi umat Islam, serta berupaya mewujudkan kesatuan politik, ekonomi, dan budaya Dunia Islam.

Konsep "umat Islam" adalah fondasi penting dalam pemikiran politik Imam Khomeini. Baginya, bentuk ideal Dunia Islam terwujud dalam konsep ini, yang ia perjuangkan baik secara teori maupun praktik.[3]Menurutnya, Umat Islam terbentuk dengan menghilangkan batas suku, ras, dan kebangsaan; mencegah kezaliman; menyatukan akidah; bersatu dalam urusan penting; berjuang mencapai tujuan Ilahi; serta menjalin cinta dan persaudaraan.[4] Ia menginginkan hubungan yang kuat antarnegara Islam agar dengan mengikuti prinsip dan kepentingan bersama seperti Al-Qur'an dan Nabi Muhammad saw serta dengan munculnya Umat Islam yang satu, mereka dapat menyelesaikan masalah Dunia Islam dan menempatkan diri di jajaran negara adidaya.[5] Hal ini dikarenakan pembentukan blok kekuatan Islam yang terdiri dari negara-negara Muslim akan menjadi landasan bagi pembentukan satu masyarakat global Islam.[6]

Imam Khomeini tidak memandang keberadaan negara-negara Islam yang merdeka bertentangan dengan pembentukan Umat Islam; namun, ia meyakini bahwa negara-negara ini harus menjadi Islami dan bergerak demi kepentingan Islam.[7] Ia menganggap kebangkitan pemerintah dan bangsa-bangsa Islam serta kewaspadaan mereka terhadap rencana-rencana para penjajah, serta pengenalan terhadap masalah dan penyebab keterbelakangan negara-negara Islam bergantung pada pemahaman yang benar dan menyeluruh terhadap ajaran agama dan Al-Qur'an.[8]

Catatan Kaki

  1. Dehqani Firouzabadi, Siyasat-e Khareji-ye Jumhuri-ye Eslami-ye Iran, hlm. 167.
  2. QS. Al-Qashash: 5; QS. Al-Anbiya: 105.
  3. Babaei Zarch, Ummat va Mellat dar Andisyeh-ye Imam Khomeini, hlm. 187.
  4. Imam Khomeini, Sahifeh-ye Imam, jld. 20, hlm. 344; Imam Khomeini, Syarh-e Chehel Hadits, hlm. 309–310.
  5. Imam Khomeini, Sahifeh-ye Imam, jld. 7, hlm. 199.
  6. Dehqani Firouzabadi, Siyasat-e Khareji-ye Jumhuri-ye Eslami-ye Iran, hlm. 352.
  7. Babaei Zarch, Ummat va Mellat dar Andisyeh-ye Imam Khomeini, hlm. 294.
  8. Imam Khomeini, Sahifeh-ye Imam, jld. 7, hlm. 392–393.

Daftar Pustaka

  • Al-Qur'an Al-Karim.
  • Babaei Zarch, Ali Muhammad. Ummat va Mellat dar Andisyeh-ye Imam Khomeini. Teheran: Markaz-e Asnad-e Enghelab-e Eslami, cetakan pertama, 1383 HS.
  • Dehqani Firouzabadi, Sayid Jalal. Siyasat-e Khareji-ye Jumhuri-ye Eslami-ye Iran . Teheran, Samt, cetakan ke-3, 1389 HS.
  • Imam Khomeini, Sayid Ruhullah. Sahifeh-ye Imam. Teheran, Muassasah Tanzim va Nashr-e Asar-e Imam Khomeini, cetakan ke-5, 1389 HS.
  • Imam Khomeini, Sayid Ruhullah. Syarh-e Chehel Hadits. Teheran: Muassasah Tanzim va Nashr-e Asar-e Imam Khomeini, cetakan ke-4, 1388 HS.