Lompat ke isi

Konsep:Tafsir Historis Al-Quran

Dari wikishia

Tafsir Historis Al-Qur'an adalah sebuah pendekatan penafsiran yang bersandar pada peran sejarah dalam memahami makna dan tujuan ayat-ayat Al-Qur'an.

Pendekatan ini dilakukan dalam tiga metode berbeda: menafsirkan ayat-ayat sejarah dengan bersandar pada sumber-sumber sejarah yang menggunakan sumber non-Qur'ani untuk menganalisis kisah-kisah sejarah dalam Al-Qur'an; menafsirkan berdasarkan konteks sejarah dan linguistik era pewahyuan yang mempertimbangkan kondisi sosial dan linguistik masa turunnya wahyu dalam penafsiran; serta mengungkap sunnah-sunnah Ilahi dalam sejarah manusia dari teks Al-Qur'an yang bertujuan untuk memberikan pola-pola peradaban bagi manusia kontemporer.

Posisi

Tafsir historis merupakan salah satu pendekatan penafsiran Al-Qur'an yang memperhatikan peran sejarah dalam memahami makna dan tujuan ayat-ayat Al-Qur'an.[1] Istilah ini digunakan dalam tiga pendekatan tafsir khusus, di mana masing-masing makna ini memiliki metode dan tujuan khusus, serta pandangan yang berbeda-beda mengenai validitas dan efektivitasnya:

  1. Menafsirkan ayat-ayat sejarah Al-Qur'an dengan bersandar pada sumber-sumber sejarah
  2. Memperhatikan konteks sejarah, sosial, dan linguistik turunnya ayat-ayat untuk pemahaman yang lebih baik terhadap konsep-konsep Al-Qur'an
  3. Mengkaji peristiwa-peristiwa sejarah dalam Al-Qur'an untuk mengungkap sunan Ilahi dalam sejarah manusia dan menyimpulkan sistem ayat-ayat sejarah Al-Qur'an.[2]

Penafsiran Ayat-Ayat Sejarah Al-Qur'an

Dalam pendekatan tafsir historis Al-Qur'an ini, mufasir memilih ayat-ayat yang terkait dengan tema-tema sejarah seperti kisah para nabi atau tradisi jahiliyah, lalu menjelaskannya dengan bersandar pada sumber-sumber sejarah yang terpercaya. Hal ini dilakukan baik sesuai urutan turunnya ayat-ayat maupun dengan mengekstrak dan menganalisis kumpulan ayat-ayat yang terkait dengan satu tema sejarah.[3] Terhadap pendekatan ini, dua kelemahan diajukan:

  • Hanya memperhatikan sekelompok ayat yang secara langsung berkaitan dengan masalah-masalah sejarah, sementara ayat-ayat Al-Qur'an lainnya berada di luar lingkup analisis.
  • Metode ini tidak memungkinkan untuk mencapai pemahaman yang komprehensif dan final tentang pandangan historis Al-Qur'an.[4]

Contoh dari pendekatan tafsir ini adalah buku "Tarikh Islam az Manzhar Qur'an Karim" (Sejarah Islam dari Perspektif Al-Qur'an) karya Ya'qub Ja'fari, yang mengkaji ayat-ayat terkait sejarah Islam dari periode Jahiliyah hingga pengutusan (bi'tsah), hijrah, dan wafatnya Nabi saw.[5]

Penafsiran yang Bersandar pada Kondisi Historis dan Sosial Masa Turunnya Wahyu

Dalam pendekatan ini, mufasir menafsirkan Al-Qur'an dengan mempertimbangkan unsur waktu dan tempat, implikasi historis dari kosakata, serta kondisi kultural dan sosial era turunnya wahyu. Asumsi-asumsi pendekatan tafsir ini adalah:

  • Bahasa Al-Qur'an mengikuti bahasa dan budaya era turunnya wahyu.
  • Pemahaman yang akurat terhadap ayat-ayat memerlukan pengetahuan tentang kondisi historis, politik, dan sosial masa turunnya wahyu.
  • Konsep-konsep Qur'ani mungkin telah mengalami perubahan makna seiring waktu.[6]
Berkas:Jild-e Kitab al-Sunan al-Tarikhiyah fi al-Qur'an.jpg
Buku al-Sunan al-Tarikhiyah fi al-Qur'an karya Muhammad Baqir Shadr

Beberapa tafsir ditulis dengan pendekatan pemahaman historis dan sesuai urutan turunnya ayat-ayat, di antaranya adalah tafsir Pa be Pay-e Vahy (Selangkah demi Selangkah dengan Wahyu) karya Mehdi Bazargan.[7] Kurangnya perhatian terhadap validitas proposisi-proposisi sejarah, risiko tafsir berdasarkan opini pribadi (tafsir bi al-ra'yi),[8] dan membatasi hukum-hukum agama hanya pada masa turunnya wahyu[9] adalah di antara kritik yang diajukan terhadap kecenderungan tafsir ini.

Mengungkap Sunah Sejarah dalam Al-Qur'an

Dalam pendekatan tafsir historis Al-Qur'an ini, mufasir melalui analisis komparatif kisah-kisah dan peristiwa-peristiwa sejarah dalam Al-Qur'an, berusaha mengungkap hukum-hukum dan sunnah-sunnah Ilahi dalam sejarah manusia; hukum-hukum seperti kemenangan hak atas batil atau kejatuhan penguasa zalim. Pendekatan ini memandang Al-Qur'an bukan semata sebagai kitab naratif, melainkan sebagai kitab analitis mengenai sejarah manusia, dengan tujuan memahami sebab-sebab kemajuan dan kejatuhan peradaban serta menyajikan pola-pola sosial dan edukatif bagi manusia kontemporer.[10]

Menurut Sayid Muhammad Baqir Shadr (W. 1359 HS) dalam kitab al-Sunan al-Tarikhiyah fi al-Qur'an, berdasarkan apa yang disebutkan dalam Al-Qur'an, ranah sejarah sebagaimana ranah-ranah eksistensi lainnya, diatur berdasarkan sunnah-sunnah dan hukum-hukum Ilahi, dan Al-Qur'an menggambarkan sunnah-sunnah ini melalui berbagai metode, termasuk menyajikan generalitas dan menunjuk pada contoh-contoh dan teladan.[11] Sayid Muhammad Baqir Shadr dalam konteks ini merujuk pada berbagai ayat Al-Qur'an; di antaranya Surah Yunus ayat 49, dan Surah Al-A'raf ayat 34.[12]

Catatan Kaki

  1. Nekunam, "Tafsir Tarikhi Qur'an Karim", hlm. 45.
  2. Rezaei Isfahani wa Mu'min Nejad, "Tafsir Tarikhi Qur'an Karim", hlm. 35-38.
  3. Rezaei Isfahani wa Mu'min Nejad, "Tafsir Tarikhi Qur'an Karim", hlm. 35-36.
  4. Rezaei Isfahani wa Mu'min Nejad, "Tafsir Tarikhi Qur'an Karim", hlm. 36.
  5. Rezaei Isfahani wa Mu'min Nejad, "Tafsir Tarikhi Qur'an Karim", hlm. 36.
  6. Abu Zaid, Mafhum al-Nash, 2000 M, hlm. 9; Mujtahid Shabistari, Naqdi bar Qira'at-e Rasmi az Din, 1379 HS, hlm. 128-130.
  7. Ma'refat, Tafsir va Mufassiran, 1379 HS, jil. 2, hlm. 521.
  8. Misbah Yazdi, Qur'an Shenasi, 1392 HS, jil. 2, hlm. 156-157.
  9. Misbah Yazdi, Ta'addud-e Qira'at-ha, 1394 HS, hlm. 48-49.
  10. Rezaei Isfahani wa Mu'min Nejad, "Tafsir Tarikhi Qur'an Karim", hlm. 38.
  11. Shadr, al-Sunan al-Tarikhiyah fi al-Qur'an, 1432 H, hlm. 54.
  12. Shadr, al-Sunan al-Tarikhiyah fi al-Qur'an, 1432 H, hlm. 55.

Daftar Pustaka

  • Abu Zaid, Nashr Hamid, Mafhum al-Nass, Beirut, al-Markaz al-Thaqafi al-'Arabi, 2000 M.
  • Reza'i Esfahani, Muhammad 'Ali, wa Abulhasan Mukmin-Nejad, ["Tafsir-e Tarikhi-ye Qur'an-e Karim"](https://quran.isca.ac.ir/fa/Attachment/ArticleFile/24076.pdf), dar Majmu'eh-ye Maqalat-e Qur'an wa 'Elm, Qom, Pazhuheshha-ye Tafsir wa 'Olum-e Qur'an, 1386 HS.
  • Ṣhadr, Sayid Muhammad Baqir, al-Sunan al-Tarikhiyyah fi al-Qur'an, Beirut, Dar Ihya' al-Turath al-'Arabi, 1432 Q.
  • Mojtahed Syabestari, Muhammad, Naqdi bar Qira'at-e Rasmi az Din, Tehran, Ṭarh-e Now, 1379 HS.
  • Misbah Yazdi, Muhammad Taqi, Ta'addud-e Qira'atha, Qom, Entesharat-e Mo'asseseh-ye Amuzesyi wa Pazhuhesyi-ye Emam Khomeini (ra), 1394 HS.
  • Misbah Yazdi, Muhammad Taqi, Qur'an-Syenasi, Qom, Entesharat-e Mo'asseseh-ye Amuzeshi wa Pazhuheshi-ye Emam Khomeini (ra), 1392 HS.
  • Ma'rifat, Muhammad Hadi, Tafsir wa Mufassiran, Qom, Mu'asseseh-ye Farhangi-ye Entesharati al-Tamhid, 1379 HS.
  • Nekunam, Ja'far, ["Tafsir-e Tarikhi-ye Qur'an-e Karim"](https://www.sid.ir/fileserver/jf/700138819v03.pdf), dar Majalleh-ye Pazhuhesh-e Dini, Shomareh-ye 19, 1388 HS.