Konsep:Syirik Khafi
Syirik Khafi atau Syirik Ashghar adalah lawan dari syirik jali, yaitu jenis syirik ringan yang terwujud dengan mempertimbangkan selain Allah dalam melakukan amal perbuatan. Syirik jali, seperti menyembah berhala, secara jelas merupakan tindakan menyekutukan Allah, sementara syirik khafi bersifat internal dan tersembunyi serta berkaitan dengan perkara-perkara seperti riya dan nifak. Menurut para pakar ilmu akhlak, jenis syirik ini umumnya tidak menyebabkan seseorang keluar dari Islam, dan orang-orang mukmin pun bisa saja terjangkit penyakit ini.
Beberapa mufasir, dengan merujuk pada Ayat 106 Surah Yusuf, meyakini bahwa mayoritas kaum Muslim secara tidak sadar terlibat dalam syirik khafi. Syirik ini terletak pada niat dan kehendak individu, seperti kurangnya tawakal yang sempurna kepada Allah atau menyembah hawa nafsu dan dunia. Beberapa peneliti juga menganggap syirik khafi sebagai sejenis penyembahan terhadap selain Allah di dalam hati, tanpa individu tersebut merasa benci untuk mengingat Allah.
Contoh-contoh syirik khafi meliputi riya, melakukan ibadah untuk makhluk alih-alih untuk Allah, dan berbicara dengan cara yang menyekutukan Allah. Selain itu, mencintai kezaliman dan merasa gentar di hadapan kekuatan duniawi juga termasuk dalam kategori syirik khafi. Nabi Islam dan para Imam maksum telah menekankan bahaya jenis syirik ini dan menganggapnya sebagai penyebab menjauhnya seseorang dari ruh munajat serta hubungan sejati dengan Allah.
Syirik Jali dan Syirik Khafi
Syirik secara umum berarti menempatkan sesuatu setara dengan Allah[1] dan terbagi menjadi dua jenis: syirik jali dan syirik khafi.[2] Syirik jali, seperti penyembahan berhala, secara nyata merupakan tindakan menyekutukan Allah. Namun syirik khafi, yang tersembunyi di tengah masyarakat, menurut beberapa mufasir berkaitan dengan hal-hal seperti riya dan nifak.[3] Jenis syirik ini mungkin tersembunyi dari pandangan orang lain,[4] sedemikian rupa sehingga Nabi Islam menggambarkannya lebih samar daripada gerakan semut di atas batu hitam pada malam yang gelap gulita.[5]
Menurut para peneliti agama, syirik khafi secara umum tidak menyebabkan seseorang keluar dari Islam[6] dan tidak bertentangan dengan iman, dalam artian bahkan orang-orang mukmin pun bisa saja terjangkit wabah ini.[7] Beberapa mufasir, seperti mereka yang merujuk pada Ayat 106 Surah Yusuf, "Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan-Nya (dengan sembahan-sembahan lain)", telah mempertimbangkan jenis syirik ini.[8]
Karakteristik
Beberapa peneliti memperkenalkan syirik khafi sebagai syirik dalam kehendak dan niat manusia.[9] Allamah Majlisi menyebutkan bahwa salah satu tingkatan syirik khafi adalah kurangnya tawakal yang sempurna kepada Allah dalam berbagai urusan kehidupan, termasuk dalam hal rezeki dan urusan duniawi. Selain itu, menyibukkan diri dengan dunia dan bertawasul kepada selain Allah juga dianggap sebagai tanda-tanda syirik khafi.[10]
Syaikh Bahai berkeyakinan bahwa kebanyakan orang menyembah hawa nafsu dan syahwat mereka sendiri, di mana syahwat ini bagi mereka laksana berhala yang disembah, yang hal ini juga merupakan sejenis syirik khafi.[11] Maybudi dalam Kasyf al-Asrar menganggap syirik jali sebagai penyembahan berhala dan mengaitkan syirik khafi dengan memandang makhluk dengan pandangan pengagungan (i'zham). Ia meyakini bahwa syirik jali menghalangi seseorang dari surga, sementara syirik khafi menjauhkan ruh munajat dari individu tersebut.[12] Beberapa peneliti juga berpendapat bahwa pelaku syirik khafi tidak melihat satu pun maujud mandiri di samping Allah dan tidak benci mengingat Allah, bahkan ia mencintai-Nya.[13]
Luasnya Cakupan
Para mufasir menganggap maksud dari syirik dalam Ayat 106 Surah Yusuf, "wa ma yu'minu aktsaruhum billahi illa wa hum musyrikun", merujuk pada syirik khafi.[14] Berdasarkan tafsir ini, mayoritas kaum Muslim secara tidak sadar terjangkit syirik khafi dan sedikit sekali orang yang terbebas darinya.[15]
Imam Shadiq as menyatakan bahwa orang yang berkata "jika bukan karena si fulan niscaya aku akan binasa", berarti ia telah menetapkan sekutu bagi Allah.[16] Imam Baqir as dan Imam Shadiq as menyebut tindakan ini sebagai "syirik nikmat", di mana manusia menganggap selain Allah sebagai sekutu dalam pemberian nikmat-nikmat Allah.[17]
Beberapa peneliti juga meyakini bahwa individu yang terjebak dalam pemujaan hawa nafsu, ambisi kekuasaan, pemujaan uang, dan merasa gentar terhadap kekuatan setan serta arogan, secara tidak langsung telah jatuh ke dalam perangkap syirik khafi.[18]
Contoh-contoh
Dalam riwayat-riwayat, disebutkan beberapa contoh bagi syirik khafi:
- Riya adalah salah satu contoh syirik khafi, dalam artian ibadah tidak dilakukan semata-mata karena Allah melainkan dilakukan untuk makhluk. Perbuatan ini dianggap sebagai penghinaan terhadap Allah dan termasuk dalam kategori dosa besar.[19] Rasulullah saw bersabda bahwa beliau sangat mengkhawatirkan syirik ashghar pada umatnya, yaitu riya.[20] Imam Shadiq as juga memperkenalkan riya laksana pohon dengan buah yang hasilnya adalah syirik tersembunyi.[21]
- Perbuatan yang menuntut permohonan maaf: Nabi saw memperingatkan agar menjauhi setiap perbuatan yang memaksa manusia untuk meminta maaf, karena di dalamnya terdapat syirik yang tersembunyi.[22]
- Memohon kepada selain Allah: Ketika seseorang berkata kepada Nabi saw: "Apa pun yang Allah kehendaki dan engkau kehendaki", Nabi saw menjawab bahwa janganlah menetapkan sekutu dan tandingan bagi Allah, melainkan katakanlah "Jika Allah menghendaki".[23]
- Mencintai kezaliman: Nabi saw bersabda bahwa salah satu contoh terdekat dari syirik khafi adalah mencintai kezaliman dan membenci keadilan.[24]
Catatan Kaki
- ↑ Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 1, hlm. 123.
- ↑ Amuli, Tafsir al-Muhith al-A'zham, 1422 H, jld. 3, hlm. 189.
- ↑ Raghib al-Isfahani, Mufradat Alfadh al-Qur'an, 1412 H, hlm. 452.
- ↑ Amuli, Sayid Haidar, Tafsir al-Muhith al-A'zham wa al-Bahr al-Khidham, 1422 H, jld. 3, hlm. 190.
- ↑ Isfahani, Hilyah al-Awliya, 1394 H, jld. 8, hlm. 36; Hilyah al-Awliya, 1427 H, 2007 M, jld. 9, hlm. 264.
- ↑ Abadi, Tauhid va Syerk dar Negah-e Syiah va Vahhabiyat, Penerbit Masy'ar, hlm. 126.
- ↑ Amuli, Tafsir al-Muhith al-A'zham, 1422 H, jld. 1, hlm. 285.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1417 H, jld. 13, hlm. 407.
- ↑ Al-Ghamidi, Himayah al-Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam Hima al-Tauhid, 2003 M, jld. 1, hlm. 278.
- ↑ Allamah Majlisi, Mir'ah al-Uqul, 1404 H, jld. 8, hlm. 271.
- ↑ Allamah Majlisi, Bihar al-Anwar, 1404 H, jld. 70, hlm. 13.
- ↑ Maybudi, Kasyf al-Asrar, 1371 HS, jld. 2, hlm. 532.
- ↑ Sayid Karimi, Syerk va Bot-parasti dar Qur'an (Syirik dan Penyembahan Berhala dalam Al-Qur'an), 1385 HS, hlm. 243.
- ↑ Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 1, hlm. 124.
- ↑ Faidh Kasyani, Al-Wafi, 1406 H, jld. 8, hlm. 1084.
- ↑ Allamah Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 9, hlm. 106.
- ↑ Huwaizi, Tafsir Nur al-Tsaqalain, 1415 H, jld. 2, hlm. 476.
- ↑ Tauhid va Syerk, 1378 HS, hlm. 22.
- ↑ Allamah Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 69, hlm. 269.
- ↑ Al-Baghdadi, Kitab al-Aiman, 1421 H, jld. 1, hlm. 72.
- ↑ Allamah Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 69, hlm. 300.
- ↑ Ja'far bin Muhammad as, Mishbah al-Syari'ah, 1400 H, hlm. 163.
- ↑ Ibnu Khuzaimah, Shahih Ibnu Khuzaimah, jld. 4, hlm. 106.
- ↑ Hakim Naysaburi, Al-Mustadrak 'ala al-Shahihain, 1411 H, jld. 2, hlm. 319.
Daftar Pustaka
- (Dinisbatkan kepada) Ja'far bin Muhammad as (Imam keenam). Mishbah al-Syari'ah. Beirut, Al-A'lami, cetakan pertama, 1400 H.
- Al-Baghdadi. Kitab al-Aiman wa Ma'alimuhu wa Sunanuhu wa Istikmaluhu wa Darajatuhu. 1421 H.
- Al-Ghamidi, Muhammad bin Abdullah. Himayah al-Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam Hima al-Tauhid. 2003 M.
- Amuli, Sayid Haidar. Tafsir al-Muhith al-A'zham wa al-Bahr al-Khidham. Peneliti: Musawi Tabrizi, Sayid Mohsen. Teheran, Organisasi Percetakan dan Publikasi Kementerian Bimbingan Islam, cetakan ketiga, 1422 H.
- Ayyasyi, Muhammad bin Mas'ud. Al-Tafsir. Peneliti dan Korektor: Rasuli Mahallati, Hashem. Teheran, Al-Mathba'ah al-Ilmiyah, cetakan pertama, 1380 HS.
- Daftar Perwakilan Pemimpin Besar dalam Urusan Ahlusunah Baluchistan. Tauhid va Syerk. Qom, Daftar Perwakilan Pemimpin Besar dalam Urusan Ahlusunah Baluchistan, 1378 HS.
- Faidh Kasyani, Mohammad Mohsin. Al-Wafi. Isfahan, Perpustakaan Imam Amirul Mukminin Ali as, cetakan pertama, 1406 H.
- Hakim Naysaburi, Muhammad bin Abdullah. Al-Mustadrak 'ala al-Shahihain. Peneliti: Atha, Mustafa Abdul Qadir. Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan pertama, 1411 H.
- Ibnu Khuzaimah, Muhammad bin Ishaq. Shahih Ibnu Khuzaimah. Peneliti: Muhammad Mustafa al-A'zhami. Beirut, Al-Maktab al-Islami, tanpa tahun.
- Isfahani, Abu Nu'aim. Hilyah al-Awliya wa Thabaqat al-Ashfiya. 1394 H.
- Majlisi, Muhammad Baqir. Bihar al-Anwar. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, cetakan kedua, 1403 H.
- Majlisi, Muhammad Baqir. Mir'ah al-Uqul fi Syarh Akhbar Alu al-Rasul. Peneliti dan Korektor: Rasuli, Sayid Hashem. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan kedua, 1404 H.
- Makarem Syirazi, Nasir. Tafsir Nemuneh. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan pertama, 1374 HS.
- Maybudi, Ahmad bin Muhammad. Kasyf al-Asrar va 'Uddat al-Abrar. Teheran, Amirkabir, 1371 HS.
- Raghib al-Isfahani, Husain bin Muhammad. Mufradat Alfadh al-Qur'an. Beirut, Dar al-Qalam, cetakan pertama, 1412 H.
- Sayid Karimi, Sayid Abbas. Syerk va Bot-parasti dar Qur'an. Qom, Kousyar-e Adab, 1385 HS.
- Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Qom, Daftar-e Intisyarat-e Islami, cetakan kelima, 1417 H.