Lompat ke isi

Konsep:Sifat Salbiyah Allah

Dari wikishia

Templat:Akidah Syiah Sifat Salbiyah Allah berlawanan dengan sifat tsubutiyah, adalah sifat-sifat yang menafikan kekurangan dan sifat-sifat negatif dari Allah swt dan diperkenalkan sebagai tanda kesucian dan keagungan zat Ilahi.[1] Tidak berjasad, tidak ber-jawhar (substansi), tidak ber-'aradh (aksidensi), tidak terlihat, tidak bertempat, tidak menempati sesuatu yang lain, dan tidak bersatu dengan sesuatu apa pun, dianggap sebagai bagian dari sifat-sifat salbiyah Allah swt.[2]Templat:Catatan Sifat-sifat ini tidak dikenal sebagai karakteristik riil, melainkan sebagai penghapusan kekurangan[3] dan sifat-sifat negatif.[4]

Ja'far Subhani dan Murtadha Muthahhari berkeyakinan bahwa semua sifat salbiyah bermakna penafian kekurangan dari Allah swt dan tidak mungkin untuk menyusun daftar lengkap darinya[5] dan keragaman sifat-sifat salbiyah muncul karena adanya kritik terhadap keyakinan sekte-sekte. Sebagai contoh, sifat "penafian hulul (menempati) dan ittihad (bersatu)" merujuk pada keyakinan umat Kristiani yang menganggap Allah bersatu dengan Isa (as), atau sifat "tidak terlihat" berkaitan dengan keyakinan Ahli Hadis dan Asy'ariyah yang menganggap Allah dapat dilihat pada hari kiamat.[6] Dikatakan bahwa kaum Mu'tazilah, untuk mencegah penyerupaan (tasybih) Allah dengan makhluk, meyakini Teologi Negatif (Ilahiyat Salbi)[7] dan berkeyakinan bahwa manusia hanya dapat memahami apa yang bukan Allah, bukan apa itu Allah.[8] Qadhi Said Qummi juga berpandangan bahwa menisbatkan sifat-sifat afirmatif (ijabi) kepada Allah menyebabkan kekurangan dalam konsep tentang-Nya.[9] Tentu saja, untuk mencegah teori Ta'thil Sifat (yang menurutnya akal tidak mampu memahami sifat salbiyah maupun tsubutiyah Allah),[10] ia menyatakan bahwa melalui sifat-sifat salbiyah, seseorang dapat memperoleh pengetahuan tidak langsung tentang sifat-sifat tsubutiyah Allah.[11]

Para pemikir Islam dalam beberapa karya mereka menggunakan istilah sifat Jalaliyah Allah dalam makna sifat-sifat salbiyah.[12] Dikatakan bahwa Ibn Maitsam al-Bahrani adalah orang pertama yang menggunakan sifat Jalal sebagai pengganti sifat salbiyah.[13] Namun Imam Khomeini menganggap penamaan ini tidak akurat, karena sifat Jamal menyebabkan keakraban dan keterikatan hamba kepada Allah, sementara sifat Jalal menimbulkan ketakutan dan keheranan pada para hamba, dan ada kemungkinan kedua jenis sifat tersebut adalah sifat-sifat tsubutiyah.[14]

Beberapa pemikir Syiah berkeyakinan bahwa sifat-sifat salbiyah Allah merujuk kembali kepada sifat-sifat tsubutiyah. Sebagai contoh, Mulla Sadra berkeyakinan bahwa sifat-sifat salbiyah berasal dari penafian kekurangan dan ketiadaan, dan penafian atas penafian (negasi ganda) adalah keberadaan itu sendiri, seperti penafian kekurangan yang bermakna kesempurnaan.[15] Misbah Yazdi juga berkeyakinan bahwa ketika kita menafikan sifat-sifat seperti "kebodohan" dari Allah, sebenarnya kita telah meniadakan makna ketiadaan dari kebodohan, yang hanya mungkin dilakukan dengan membayangkan konsep afirmatifnya (ilmu).[16] Sebaliknya, beberapa teolog Syiah seperti Qadhi Said Qummi[17] dan Mulla Rajab Ali Tabrizi[18] berpandangan bahwa seluruh sifat tsubutiyah merujuk kembali kepada perkara-perkara salbiyah.[19]

Beberapa filsuf berkeyakinan bahwa mendeskripsikan Allah dengan sifat-sifat afirmatif adalah salah, karena Allah tidak memiliki esensi (mahiyah), tidak tersusun, dan tidak memiliki aksidensi. Oleh karena itu, hanya deskripsi salbiyah tentang Allah yang benar, karena tidak memiliki kekurangan maupun kelonggaran di dalamnya.[20] Qadhi Said Qummi juga berpandangan bahwa mengenal Allah hanya mungkin melalui penyucian-Nya (tanzih) dari sifat-sifat tsubutiyah.[21] Namun Imam Khomeini menekankan pentingnya sifat-sifat tsubutiyah dan meyakini bahwa sifat-sifat salbiyah juga penting, karena menunjukkan penafian segala bentuk kekurangan dari zat Allah, dan tanpa itu Allah tidak dapat menjadi kesempurnaan dan keindahan mutlak.[22]

Catatan Kaki

  1. Mulla Sadra, al-Hikmah al-Muta'aliyah, 1981 M, jld. 6, hlm. 120.
  2. Subhani, al-Ilahiyat, 1413 H, hlm. 83.
  3. Subhani, Mansyur-e Javid, Qom, jld. 1, hlm. 30.
  4. Thabathaba'i, Nihayah al-Hikmah, 1386 HS, jld. 4, hlm. 1110.
  5. Subhani, Mansyur-e Javid, Qom, jld. 1, hlm. 31; Muthahhari, Dars-hay-e Ilahiyat-e Syifa, 1401 HS, jld. 1, hlm. 84
  6. Subhani, Mansyur-e Javid, Qom, jld. 1, hlm. 31; Muthahhari, Dars-hay-e Ilahiyat-e Syifa, 1401 HS, jld. 1, hlm. 84.
  7. Tawakuli, "Ilahiyat-e Salbi", hlm. 96-97.
  8. Alikhani, "Ilahiyat-e Salbi; Sair-e Tarikhi wa Barrasi-ye Didgah-ha", hlm. 93
  9. Nazhari dan lainnya, "Ilahiyat-e Salbi-ye Qadhi Said Qummi wa Mo'zal-e Ta'thil", hlm. 104.
  10. Misbah Yazdi, Amuzesy-e Falsafeh, 1390 HS, jld. 2, hlm. 368.
  11. Nazhari dan lainnya, "Ilahiyat-e Salbi-ye Qadhi Said Qummi wa Mo'zal-e Ta'thil", hlm. 104.
  12. Syarif Darabi Syirazi, Tuhfah al-Murad, tanpa tahun, hlm. 112.
  13. Salmani, "Jalal wa Jamal: dar Kalam", hlm. 526.
  14. Musawi Khomeini, Adab al-Shalah, 1368 HS, hlm. 333.
  15. Ibrahimi Dinani, "Basith al-Haqiqah", hlm. 436.
  16. Misbah Yazdi, Amuzesy-e Falsafeh, 1390 HS, jld. 2, hlm. 460.
  17. Qadhi Said Qummi, Syarh Tauhid al-Shaduq, 1419 H, jld. 1, hlm. 179.
  18. Mulla Rajab Ali Tabrizi, Risalah Isbat-e Wajib, dalam Muntakhabati az Atsar-e Hukama-ye Ilahi Iran, 1378 HS, jld. 1, 157–258.
  19. Sayid Za'ir, Tahlil wa Barrasi-ye Sifat-e Tsubuti-ye Dzati-ye Ilahi, 1399 HS, hlm. 30.
  20. Khawwash, "Ma'na-shenasi-ye Aushaf-e Ilahi az Didgah-e Ibn Maimun wa Qadhi Said Qummi", hlm. 57.
  21. Khawwash, "Ma'na-shenasi-ye Aushaf-e Ilahi az Didgah-e Ibn Maimun wa Qadhi Said Qummi", hlm. 62.
  22. Khomeini, Syarh-e Chehel Hadits, 1380 HS, hlm. 616.

Catatan

Templat:Catatan

Daftar Pustaka

  • Ahmadi, Habibullah. Hukumat-e Alawi wa Jaryan-hay-e Ijtima'i (Pemerintahan Alawi dan Arus Sosial). Majalah Hukumat-e Islami, No. 17, Musim Gugur 1379 HS.
  • Alikhani, Ismail. "Ilahiyat-e Salbi; Sair-e Tarikhi wa Barrasi-ye Didgah-ha" (Teologi Negatif; Alur Sejarah dan Tinjauan Pandangan). Majalah Ma'rifat-e Kalami, No. 8, Musim Semi dan Musim Panas 1391 HS.
  • Asytiyani, Jalaluddin. Muntakhabati az Atsar-e Hukama-ye Ilahi Iran: az Ashr-e Mirdamad wa Mirfendereski ta Zaman-e Hazhir (Pilihan Karya Para Bijak Ilahi Iran). Tehran, 1376 HS.
  • Ibrahimi Dinani, Gholamhossein. "Basith al-Haqiqah". Dalam Danisyenameh Jahan-e Islam, jld. 3. Tehran, Markaz Da'irah al-Ma'arif Bozorg Islami, 1376 HS.
  • Ibn Muzahim, Nashr. Waq'at Shiffin. Qom, Perpustakaan Ayatullah Mar'ashi Najafi, 1404 H.
  • Khomeini, Sayid Ruhullah. Adab al-Shalah (Adab Salat). Tehran, Penerbit Muassasah Tanzhim wa Nasyr Atsar Imam Khomeini, 1378 HS.
  • Khomeini, Sayid Ruhullah. Syarh-e Chehel Hadits (Syarah Empat Puluh Hadis). Tehran, Penerbit Muassasah Tanzhim wa Nasyr Atsar Imam Khomeini, 1380 HS.
  • Khawwash, Amir. "Ma'na-shenasi-ye Aushaf-e Ilahi az Didgah-e Ibn Maimun wa Qadhi Said Qummi" (Semantik Sifat-sifat Ilahi dari Perspektif Ibn Maimun dan Qadhi Said Qummi). Majalah Ma'rifat, No. 121, Januari 2008.
  • Misbah Yazdi, Muhammad Taqi. Amuzesy-e Falsafeh (Pembelajaran Filsafat). Qom, Penerbit Muassasah Amuzesyi wa Pazhuhesyi Imam Khomeini, Cetakan Pertama, 1390 HS.
  • Mulla Rajab Ali Tabrizi. Risalah Isbat-e Wajib. Dalam Muntakhabati az Atsar-e Hukama-ye Ilahi Iran, 1378 HS, jld. 1.
  • Mulla Sadra, Muhammad bin Ibrahim. Al-Hikmah al-Muta'aliyah fi al-Asfar al-'Aqliyah al-Arba'ah. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1981 M.
  • Muthahhari, Murtadha. Dars-hay-e Ilahiyat-e Syifa (Pelajaran Teologi Syifa). Tehran, Sadra, 1401 HS/ 1443 H.
  • Nazhari, Javad; Seraj, Syamsullah; Zhiya'i, Majid. "Ilahiyat-e Salbi-ye Qadhi Said Qummi wa Mo'zal-e Ta'thil" (Teologi Negatif Qadhi Said Qummi dan Masalah Ta'thil). Majalah Ayineh Ma'rifat, No. 66, Musim Semi 1400 HS.
  • Qadhi Said Qummi, Muhammad bin Muhammad. Syarh al-Tauhid al-Shaduq. Tehran, Wizarat Farhang wa Irsyad Islami, 1419 H.
  • Salmani, Parviz. "Jalal wa Jamal: dar Kalam". Dalam Danisyenameh Jahan-e Islam, jld. 10. Tehran, Markaz Da'irah al-Ma'arif Bozorg Islami, 1385 HS.
  • Sayid Za'ir, Abbas. Tahlil wa Barrasi-ye Sifat-e Tsubuti-ye Dzati-ye Ilahi dar Andisyeh Ayatullah Muhsini (Analisis dan Tinjauan Sifat-sifat Tsubutiyah Dzatiyah Ilahi dalam Pemikiran Ayatullah Muhsini). Tesis Magister Jurusan Kalam Islam. Qom, Al-Mustafa International University, 1399 HS.
  • Subhani, Ja'far. Al-Ilahiyat 'ala Huda al-Kitab wa al-Sunnah wa al-'Aql. Qom, Muassasah al-Imam al-Shadiq as, 1413 H.
  • Subhani, Ja'far. Mansyur-e Javid (Manifesto Abadi). Qom, Penerbit Muassasah Imam Shadiq as, tanpa tahun.
  • Syarif Darabi Syirazi, Abbas. Tuhfah al-Murad: Syarh Qasidah Mirfendereski. Tehran, Cetakan Muhammad Hossein Akbari Sawi, tanpa tahun.
  • Tawakuli, Gholamhossein. "Ilahiyat-e Salbi" (Teologi Negatif). Majalah Pazhuheshnameh Falsafeh Din, No. 1, 1386 HS.
  • Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Nihayah al-Hikmah. Qom, Penerbit Markaz Intisyarat Muassasah Amuzesyi wa Pazhuhesyi Imam Khomeini, 1386 HS.

Templat:Ketuhanan