Lompat ke isi

Konsep:Rahim Sewaan

Dari wikishia

Sewa rahim (ibu pengganti/surogasi) termasuk metode medis baru, yang berarti mengandung dan melahirkan janin milik orang lain. Sewa rahim dalam fikih Syiah dikemukakan sebagai sebuah masalah baru, dan telah menimbulkan berbagai pertanyaan. Penggantian penuh dan parsial adalah dua jenis sewa rahim yang umum; pada jenis pertama, wanita inang tidak memiliki hubungan genetik apa pun dengan janin, dan pada jenis kedua, sel telur wanita inang juga berperan dalam pembentukan janin.

Mengenai kebolehan atau ketidakbolehan metode ini, terdapat tiga pandangan umum di antara para fukaha: kebolehan mutlak, keharaman mutlak, dan kebolehan bersyarat pada kondisi-kondisi khusus. Dalam kondisi di mana asal perbuatan ini diperbolehkan, menerima upah untuknya juga diperbolehkan. Terkait pembuahan sperma dan sel telur dari orang-orang yang bukan pasangan suami istri, yang juga dikemukakan dalam beberapa bentuk sewa rahim, terdapat berbagai pandangan di antara para fukaha.

Dalam menjawab pertanyaan mengenai kepada siapakah anak yang lahir dari metode ini menjadi milik? Tiga pendapat telah dikemukakan. Pada pandangan pertama, anak tersebut semata-mata milik pemilik sperma dan sel telur serta tidak memiliki hubungan apa pun dengan wanita pemilik rahim, dalam kasus penggantian penuh. Pada pandangan kedua, wanita pemilik rahim adalah ibu susuan anak tersebut. Pada pandangan ketiga, wanita yang melahirkan anak tersebut dianggap sebagai ibu sang anak.

Salah satu pembahasan fikih-hukum yang berkaitan dengan sewa rahim adalah hakikat kontrak yang disepakati antara pasangan infertil (mandul) dan wanita yang mengambil peran sebagai inang janin. Kontrak-kontrak ini dapat berupa sewa barang, sewa jasa (orang), Ju'alah, Wadiah, Ariyah, atau kontrak tak bernama (tidak spesifik). Masing-masing kontrak ini memiliki syarat dan hukum khususnya tersendiri yang telah dikaji dalam fikih dan hukum.

Penggunaan sewa rahim sebagai solusi untuk memiliki anak bagi pasangan infertil telah memunculkan kekhawatiran-kekhawatiran etis. Oleh karena itu, pengawasan komite-komite etik atas proses ini merupakan sebuah keharusan untuk menjaga prinsip-prinsip etika. Kekhawatiran-kekhawatiran seperti komersialisasi kontrak, bahaya terhadap kesehatan ibu pengganti, persetujuan suami dan anak-anaknya, reaksi emosional saat penyerahan bayi dan pengungkapan fakta, serta masalah-masalah hukum, budaya, dan kesehatan termasuk di antaranya. Berkaitan dengan sewa rahim, karya-karya independen telah ditulis oleh para peneliti Syiah.

Pengenalan dan Kedudukan

Sewa rahim atau rahim pengganti bermakna bahwa seorang wanita menanggung kehamilan dan persalinan janin yang berhubungan dengan orang lain.[1] Penggunaan metode ini memungkinkan para wanita yang rahimnya tidak memiliki kemampuan untuk membentuk atau mengandung janin, atau yang karena alasan apa pun tidak memiliki keinginan untuk mengandung janin, untuk memiliki anak.[2]

Masalah ini, yang latar belakangnya kembali ke tahun 1990 M di Amerika Serikat, dikemukakan sebagai permasalahan baru dalam fikih Syiah.[3] Menurut Makarim asy-Syirazi, di masa lalu, sebagian barang tidak dijual dan tidak pula disewakan. Namun saat ini, hal-hal tersebut mungkin saja dijual atau disewakan. Sebagai contoh, orang-orang mungkin menyewakan atau menjual organ tubuh atau rahim mereka untuk memperoleh keuntungan.[4]

Dalam sebuah penelitian yang dibentuk terkait dengan hal ini, sumber-sumber fikih independen mengenai masalah ini dinilai sangat sedikit.[5] Selain pembahasan fikih, pembahasan etika medis juga telah dikemukakan sehubungan dengan hal ini.[6]

Penggantian Penuh

Salah satu bentuk sewa rahim, yang juga disebut sebagai penggantian penuh, adalah sebuah kondisi di mana wanita pemilik rahim inang tidak memiliki hubungan genetik apa pun dengan janin di dalam kandungannya.[7] Untuk penggantian penuh ini, berbagai kondisi dapat diasumsikan:

  • Seorang wanita menjadi inang bagi nutfah yang terbentuk dari sperma dan sel telur sepasang suami istri. Dalam hal ini, sperma dan sel telur pasangan tersebut dibuahi di lingkungan laboratorium dan dipindahkan ke rahim inang.[8]
  • Kemungkinan lain bagi masalah ini adalah di mana sang wanita memiliki sel telur, namun tidak memiliki rahim atau tidak memenuhi syarat untuk hamil, dan sang pria juga tidak memiliki sperma. Pada metode ini, sel telur sang wanita digabungkan dengan sperma pria asing (bukan suami) di lingkungan laboratorium, dan janin yang dihasilkan dipindahkan ke rahim wanita lain.[9]
  • Pria memiliki sperma namun wanita tidak memiliki sel telur. Dalam kondisi ini, sperma sang pria dibuahi dengan sel telur wanita lain di lingkungan laboratorium dan dipindahkan ke rahim pengganti.[10]
  • Sperma dan sel telur seorang pria dan wanita yang masing-masing tidak memiliki sperma dan sel telur yang sehat, digabungkan dengan sperma dan sel telur pria dan wanita lain, lalu ditempatkan di dalam sewa rahim. Kondisi ini juga dikenal sebagai Donor Janin.[11]

Penggantian Parsial

Dalam keadaan ini, wanita pemilik sewa rahim akan memiliki hubungan genetik dengan janin yang dikembangkannya.[12] Asumsi ini memiliki beberapa kemungkinan bentuk:

  • Kondisi di mana sel telur wanita inang digabungkan dengan sperma pria yang istrinya tidak memiliki sel telur.[13]
  • Kondisi di mana sel telur wanita inang digabungkan dengan sperma pria asing (bukan suami), seperti dari bank sperma.[14]
  • Sebagian sel telur wanita pemilik rahim digunakan dalam proses pembuahan. Dalam pengobatan yang dikenal sebagai mitokondria, jika seorang wanita memiliki sel telur namun sel telurnya tidak memiliki kemampuan untuk menerima atau mengembangkan sperma, maka inti sel telurnya dapat dipisahkan dan menggantikan inti pada sel telur yang lain.[15] Dalam kondisi ini, sel telur yang menjadi inang bagi inti sel telur lain akan memiliki pengaruh genetik pada janin. Karena adanya hubungan genetik tiga individu dengan janin, maka janin yang terbentuk melalui metode ini disebut sebagai anak-anak tiga orang tua.[16]

Apakah Sewa Rahim Diperbolehkan?

Terkait dengan kebolehan atau ketidakbolehan tindakan ini, tiga pandangan umum telah disampaikan oleh para fukaha:

  • Kebolehan bersyarat: Subhani,[27] Nuri Hamadani,[28] dan Kharrazi[29] membolehkan perbuatan ini jika wanita pemilik rahim tidak memiliki suami dan sang pria menikahinya secara siri (akad nikah) selama masa kehamilan. Mazhahiri memandang kebolehan tindakan ini disyaratkan pada keadaan darurat, dan dari sudut pandangnya adalah lebih baik jika wanita pemilik rahim itu berstatus lajang dan dinikahi oleh pemilik nutfah (sperma).[30] Muntazhari juga meyakini bahwa wanita pemilik sewa rahim haruslah lajang.[31] Muhammad Fadhil Lankarani, menganggap tindakan ini hanya diperbolehkan pada saat darurat dan jika terdapat hubungan suami istri antara pria pemilik sperma dan wanita pemilik rahim.[32] Berdasarkan sebuah penelitian yang mengkaji fikih sewa rahim, menyewa rahim untuk pembuahan tidak diperbolehkan; namun, jika sperma dan sel telur digabungkan di luar pembuahan, maka kemampuan mengembangkan rahim dapat disewakan.[33]

Apakah Wanita Pemilik Rahim Boleh Menerima Upah?

Kebolehan atau ketidakbolehan menerima upah untuk sewa rahim dianggap mengikuti hukum perbuatan asalnya.[34] Para fukaha yang memandang asal perbuatan ini tidak bermasalah, memperbolehkan pembayaran uang sewa kepada wanita pemilik rahim karena telah mengandung janin.[35] Menurut pendapat Makarim asy-Syirazi, besarnya upah yang diterima wanita pemilik rahim atas perbuatan ini bergantung pada kontrak. Jika tidak ada kontrak dan wanita itu tidak melakukannya secara cuma-cuma, maka besaran upah yang biasa dibayarkan untuk kondisi seperti ini harus diberikan kepadanya.[36]

Apakah Pembuahan yang Tergabung dengan Sperma dan Sel Telur Orang Lain Dapat Ditempatkan di Sewa Rahim?

Pada beberapa jenis sewa rahim, sperma, sel telur, atau keduanya bukan milik pasangan suami istri yang meminta sewa rahim.[37]

Mengenai hukum permasalahan ini, sebagian ulama seperti al-Khoei,[38] dan Fadhil Lankarani[39] meyakini bahwa secara umum, pembuahan sperma pria dan wanita yang tidak memiliki hubungan suami istri di antara mereka adalah tidak diperbolehkan. Kelompok ini menyandarkan pada sebuah riwayat dari Imam ash-Shadiq (as)[40] bahwa azab yang paling pedih di hari kiamat adalah bagi seseorang yang menumpahkan maninya ke dalam rahim wanita yang bukan istrinya. Sebab, dengan memperhatikan hadis ini, asal penggabungan mani pria yang bukan suami dengan sel telur wanita adalah dilarang.[41] Berpegang teguh pada kemutlakan (itlaq) beberapa ayat dan riwayat, serta pada kehendak syariat (mazaq syari'at), merupakan alasan lain yang diutarakan oleh mereka yang menentang kebolehan perbuatan ini.[42]

Sebaliknya, sebuah kelompok seperti Muhammad Mu'min[43] dan Muhammad Yazdi[44] meyakini bahwa riwayat-riwayat ini hanya mencakup kasus di mana mani orang asing (bukan suami) digabungkan dengan sel telur di dalam rahim. Jika penggabungan ini terjadi di luar rahim dan kemudian dipindahkan ke dalam rahim, hal tersebut tidak bermasalah. Berdasarkan pandangan ini, sewa rahim jenis ini diperbolehkan.[45] Demikian pula, Ayatullah Khamenei secara umum membolehkan perbuatan semacam itu; baik penggabungan sperma orang asing terjadi di luar rahim maupun dimasukkan ke dalam rahim dengan sebuah alat lalu digabungkan dengan sel telur di sana.[46]

Janin yang Berkembang di Sewa Rahim Menjadi Milik Siapa?

Salah satu pertanyaan yang berkaitan dengan sewa rahim adalah memiliki atau tidaknya wanita pemilik rahim hubungan kekerabatan dengan sang anak. Dalam menjawab pertanyaan ini, tiga pandangan telah dikemukakan:

  • Anak tersebut semata-mata milik pemilik sperma dan sel telur.[47] Bahkan jika pemilik sperma atau sel telur tidak dikenal, anak tersebut akan memiliki ayah atau ibu yang tidak dikenal.[48] Pemilik sewa rahim juga, apabila tidak memiliki hubungan genetik dengan sang anak, tidak memiliki hubungan kekerabatan apa pun dengan janin. Akan tetapi dalam perkara-perkara seperti kemahraman, warisan, dsb., harus berhati-hati.[49] Menurut pandangan kelompok ini, tolak ukur nasab adalah terbentuknya janin dari unsur-unsur yang dimiliki oleh ayah dan ibu.[50]
  • Anak tersebut merupakan milik orang-orang yang memiliki hubungan genetik dengan janin. Pemilik rahim juga berstatus sebagai ibu susuan. Artinya, anak ini adalah mahram baginya dan bagi anak-anaknya, namun mereka tidak saling mewarisi.[51] Alasan untuk masalah ini dipandang dengan memperhatikan riwayat-riwayat yang menunjukkan bahwa seorang yang menyusui juga berperan dalam pertumbuhan anak dan menyebabkan kemahraman.[52] Sebagai akibatnya, menumbuhkan anak di dalam rahim juga akan memiliki dampak-dampak seperti halnya menyusui.[53]
  • Baik ibu genetik maupun ibu pemilik rahim sama-sama berstatus sebagai ibu anak tersebut, dan dalam masalah-masalah seperti pernikahan, warisan, nafkah, dsb., ibu pengganti juga harus diridakan (dipenuhi haknya).[54] Kelompok ini menyandarkan pendapatnya pada Surah Al-Mujadilah Ayat 2 yang memandang bahwa ibu seseorang adalah wanita yang melahirkannya.[55]

Jenis Kontrak dalam Sewa Rahim

Salah satu pembahasan fikih-hukum yang berkaitan dengan sewa rahim adalah hakikat kontrak yang disepakati antara pasangan infertil (mandul) dan wanita yang mengambil peran sebagai inang janin.[56] Berkaitan dengan hal ini, berbagai kemungkinan telah dikemukakan:

  • Sewa Barang: Dalam kontrak ini, pihak yang menyewakan (mu'jir) menyerahkan suatu barang kepada penyewa (musta'jir) untuk dimanfaatkan manfaatnya dengan imbalan uang sewa.[57] Pada penggantian rahim, hal ini dapat digambarkan bahwa wanita inang menempatkan rahimnya pada keleluasaan pria dan wanita lain untuk dimanfaatkan dengan imbalan menerima upah.[58] Dinyatakan bahwa penyerahan bentuk fisik harta (barang) adalah sebuah syarat di dalam sewa. Di sisi lain, penyerahan rahim sebagai barang yang disewa adalah tidak mungkin. Sebagai hasilnya, kontrak semacam itu sehubungan dengan sewa rahim adalah tidak sahih.[59]
  • Sewa Jasa (Orang): Dalam jenis sewa ini, pihak yang disewa (ajir) berkomitmen untuk melakukan pekerjaan tertentu bagi pihak yang menyewa (mu'jir) dengan imbalan menerima sejumlah uang tertentu.[60] Sewa rahim digambarkan sedemikian rupa sehingga wanita pemilik rahim berkomitmen untuk menanggung kehamilan dan melahirkan janin yang terkait dengan orang lain dengan menerima upah.[61] Berdasarkan jenis kontrak ini, jika sebelum kelahiran terjadi keguguran pada janin, dikarenakan pekerjaan yang dijanjikan belum terselesaikan, wanita tersebut tidak berhak menerima upah. Beberapa peneliti meyakini bahwa masalah ini tidak adil; karena bisa jadi kejadian ini tidak terjadi akibat dari kelalaian wanita tersebut. Terdapat pula komitmen-komitmen dalam sewa rahim yang pada dasarnya tidak dapat dimasukkan ke dalam akad sewa.[62] Sebaliknya, terdapat pandangan yang menganggap jenis sewa ini sesuai dengan kondisi yang terjadi pada kontrak sewa rahim.[63] Berdasarkan pandangan ini, sebagaimana seorang wanita dapat menyewakan fungsi menyusui dari payudaranya, ia juga dapat menyewakan fungsi dari rahimnya.[64]
  • Ju'alah: Menetapkan upah dan imbalan tertentu di hadapan (sebagai ganti) pekerjaan halal yang telah ditentukan disebut Ju'alah. Misalnya, seseorang berkata kepada penjahit: "Jika kamu menjahit pakaianku, aku akan memberimu uang sejumlah ini."[65] Kontrak sewa rahim dapat digambarkan dalam bentuk ju'alah. Dalam bentuk di mana seseorang yang menginginkan nutfah (benih) yang diinginkannya dikembangkan di rahim orang lain, menetapkan sebuah upah untuk hal itu. Wanita pemilik rahim juga dengan menerima upah tersebut, menanggung pekerjaan mengembangkan janin di rahimnya.[66] Masalah paling krusial terhadap dijadikannya kontrak sewa rahim sebagai ju'alah adalah kebolehan membatalkan ju'alah itu sendiri (sifatnya ja'iz). Dengan makna bahwa kedua belah pihak dalam kontrak dapat membatalkannya karena alasan apa pun. Padahal, dalam kontrak rahim pengganti, komitmen kedua belah pihak terhadap isi kontrak sangatlah penting.[67]
  • Wadi'ah (Titipan): Sebuah kontrak dua pihak di mana salah satu pihak menjadikan pihak lain sebagai penggantinya untuk menjaga hartanya.[68] Disebutkan bahwa pada kontrak sewa rahim, dikarenakan bukan semata-mata menjaga nutfah, ia tidak dapat dianggap sebagai wadi'ah. Dalam kontrak ini wanita pemilik rahim berkomitmen untuk pertumbuhan dan perkembangan janin.[69]
  • Ariyah (Pinjaman): Jenis kontrak yang berdasarkan padanya salah satu pihak mengizinkan pihak lain untuk memanfaatkan hartanya secara gratis.[70] Dapat dibayangkan bahwa wanita pemilik rahim memberikan ariyah berupa manfaat rahimnya kepada pihak yang lain (di hadapannya).[71] Dikarenakan syarat ariyah adalah menyerahkan harta yang dipinjamkan, mereka tidak memandang kontrak ini memiliki kesesuaian yang sempurna dengan kontrak sewa rahim.[72]
  • Kontrak Tak Bernama (Tidak Spesifik): Berdasarkan pandangan ini, memasukkan kontrak sewa rahim ke dalam salah satu kontrak tertentu tidaklah penting (darurat). Kedua belah pihak dengan memperhatikan prinsip kebebasan berkehendak setiap individu dan kriteria-kriteria umum yang ada di dalam hukum (undang-undang), dapat memiliki kesepakatan tersendiri (yang spesifik).[73]

Sewa Rahim dalam Etika Medis

Pemanfaatan sewa rahim, terlepas dari fakta bahwa ini dianggap sebagai solusi bagi pasangan infertil untuk memiliki anak, menciptakan kekhawatiran-kekhawatiran dari sisi etis.[74] Para peneliti di bidang etika medis meyakini bahwa untuk mempertahankan prinsip-prinsip etika pada sewa rahim, adalah hal yang penting (lazim) jika komite etika mengawasi proses ini secara independen di samping staf medis.[75] Pengkajian artikel-artikel etika mengenai rahim pengganti mencakup kekhawatiran tentang pencegahan kemungkinan penyalahgunaan seperti komersialisasi kontrak-kontrak, bahaya terhadap kesehatan ibu pengganti dan keridaan (persetujuan) suami beserta anak-anaknya, timbulnya reaksi emosional saat penyerahan bayi, dan pengungkapan kebenaran. Selain itu, telah dikemukakan pula kekhawatiran-kekhawatiran tentang masalah-masalah hukum, budaya, dan kesehatan.[76]

Menjaga Martabat dan Kemuliaan Manusia

Menyebarluaskan pandangan komersial terhadap sewa rahim telah dianggap sebagai sumber kekhawatiran dalam persoalan penjagaan martabat manusia. Pandangan instrumental (sebagai alat) terhadap manusia demi mencapai tujuan-tujuan finansial tidak sejalan dengan kemuliaan manusia. Terlebih lagi, mungkin ada pasangan yang memiliki kemampuan untuk memiliki anak, namun dikarenakan perasaan lebih unggul (sombong) atau untuk menghindari kesulitan kehamilan dan persalinan, mereka melakukan tindakan ini.[77] Oleh karena itu, disebutkan bahwa sewa rahim hanyalah etis apabila hal itu dilakukan dengan niat kemanusiaan (altruistik) dan dalam kasus di mana tidak ada metode lain yang memungkinkan pasangan tersebut untuk memiliki anak. Tentu saja, membiayai pengeluaran pemilik rahim dan memberinya hadiah atas kesulitan yang ia tanggung adalah tindakan yang disukai secara etis.[78]

Pencegahan dari Bahaya

Buku Ahkam wa Atsar-e Ejareh-e Rahim dar Fiqh-e Fariqain karya Ruqaiyah Qaheri

Salah satu hal lain yang diperhatikan dalam permasalahan etis terkait dengan sewa rahim adalah perlunya perhatian pada potensi bahaya yang dapat terjadi pada anak atau wanita pemilik rahim pada proses (jalur) ini. Untuk tujuan tersebut, sebelum melakukan proses ini, kesehatan fisik dan ketidakberadaan penyakit pada wanita tersebut harus diukur (dievaluasi) dari segala aspek. Pemenuhan asupan nutrisi secara benar dan sempurna serta kebutuhan-kebutuhan medis dan perawatan pada masa kehamilan juga merupakan hal-hal yang harus diperhatikan. Kesehatan spiritual dan mental, serta kesiapan mental untuk sewa rahim adalah di antara hal-hal darurat dalam perbuatan ini.[79]

Monograf

Sewa rahim sebagai topik yang baru muncul telah mendapat perhatian dari para peneliti Syiah dan karya-karya independen sehubungan dengan hal ini telah ditulis:

  • Barresi-e Fiqhi-e Rahim-e Ejareh-i (Kajian Fikih Sewa Rahim), karya Malihe Sadat Huseini Hujjatabadi. Buku ini diterbitkan pada tahun 1396 HS oleh penerbit Sukhanwaran.[80]
  • Rahim-e Ejareh-i (Sewa Rahim), tulisan Thayyibah Khalqi. Dicetak pada tahun 1398 HS oleh penerbit Wasef Lahiji.[81]
  • Ahkam wa Atsar-e Ejareh-e Rahim dar Fiqh-e Fariqain (Hukum-hukum dan Dampak-dampak Sewa Rahim dalam Fikih Dua Mazhab), karya Ruqaiyah Qaheri, yang diterbitkan pada tahun 1402 HS oleh penerbit Hajar.[82]
  • Barresi-e Fiqhi-e Tathbiq-e Shurut-e Ejareh bar Qarardad-e Ejareh-e Rahim dar Fiqh-e Ahlulbait (as) (Kajian Fikih Penerapan Syarat-syarat Sewa terhadap Kontrak Sewa Rahim dalam Fikih Ahlulbait (as)), karya Ali Abbas-Abadi. Pusat Penerbitan Buku menerbitkan karya ini pada tahun 1402 HS.[83]

Catatan Kaki

  1. Huseini Hujjatabadi. Barresi-e Fiqhi-e Rahim-e Ejareh-i. 1396 HS. hlm. 11; Akhundi & Rasekh. "Muqaddameh" dalam Rahim-e Jaygozin. 1387 HS. hlm. 9.
  2. Huseini Hujjatabadi. Barresi-e Fiqhi-e Rahim-e Ejareh-i. 1396 HS. hlm. 11-12; Akhundi & Rasekh. "Muqaddameh" dalam Rahim-e Jaygozin. 1387 HS. hlm. 9.
  3. Yahyazadeh Ardestani. Qarardad-e Rahim-e Ejareh-i wa Ehda-e Gamet. 1398 HS. hlm. 1-2.
  4. Makarim asy-Syirazi. Da'irah al-Ma'arif-e Fiqh-e Muqaran. 1385 HS. jld. 2. hlm. 82.
  5. Qaheri. Ahkam wa Atsar-e Ejareh-e Rahim dar Fiqh-e Fariqain. 1402 HS. hlm. 10.
  6. Jahani Shourab & Latifnejad Roudsari. "Muroori bar Janbeh-haye Huquqi, Qanuni, Akhlaqi wa Fiqhi-e Rahim-e Jaygozin dar Iran ba Ta'kid bar Janbeh-e Mosavereh-i-e An". hlm. 39.
  7. Ramezani. "Tahlil-e Fiqhi wa Huquqi-e Rahim-e Jaygozin az Manzar-e Zan-e Saheb-e Rahim". hlm. 54.
  8. Karimi & Mehtari. "Hukm-e Fiqhi-e Rahim-e Ejareh-i". hlm. 104; Tabataba'i & Jalili. "Huquq-e Mali wa Ghair-e-Mali-e Kudakan-e Mutawallid az Ravesh-e Rahim-e Jaygozin". hlm. 40.
  9. Karimi & Mehtari. "Hukm-e Fiqhi-e Rahim-e Ejareh-i". hlm. 94.
  10. Karimi & Mehtari. "Hukm-e Fiqhi-e Rahim-e Ejareh-i". hlm. 99; Tabataba'i & Jalili. "Huquq-e Mali wa Ghair-e-Mali-e Kudakan-e Mutawallid az Ravesh-e Rahim-e Jaygozin". hlm. 40.
  11. Karimi & Mehtari. "Hukm-e Fiqhi-e Rahim-e Ejareh-i". hlm. 97; Tabataba'i & Jalili. "Huquq-e Mali wa Ghair-e-Mali-e Kudakan-e Mutawallid az Ravesh-e Rahim-e Jaygozin". hlm. 40; Khalafi. "Ehda-e Janin dar Partov-e Fiqh wa Huquq". hlm. 60.
  12. Ramezani. "Tahlil-e Fiqhi wa Huquqi-e Rahim-e Jaygozin az Manzar-e Zan-e Saheb-e Rahim". hlm. 54.
  13. Karimi & Mehtari. "Hukm-e Fiqhi-e Rahim-e Ejareh-i". hlm. 99; Tabataba'i & Jalili. "Huquq-e Mali wa Ghair-e-Mali-e Kudakan-e Mutawallid az Ravesh-e Rahim-e Jaygozin". hlm. 40.
  14. Karimi & Mehtari. "Hukm-e Fiqhi-e Rahim-e Ejareh-i". hlm. 97; Tabataba'i & Jalili. "Huquq-e Mali wa Ghair-e-Mali-e Kudakan-e Mutawallid az Ravesh-e Rahim-e Jaygozin". hlm. 40.
  15. Rezvantalab dkk. "Barresi-e Masru'iyat-e Ravesh-e Darmani-e Enteqal-e Mitokondri". hlm. 708-709.
  16. Rezvantalab & Maleki. "Barresi-e Fiqhi-e Kudakan-e Seh Waledi bar Asas-e Nazarat-e Imam Khomeini (ra)". hlm. 92.
  17. Akhundi & Behjaty Ardekani. "Rahim-e Jaygozin wa Zarurat-e Estefadeh az An dar Darman-e Nabarvari". hlm. 11.
  18. Sistani. "Porsesh wa Pasokh-e Laqah-e Masnu'i". Situs Resmi Kantor Ayatullah Sistani; Akhundi & Behjaty Ardekani. "Rahim-e Jaygozin wa Zarurat-e Estefadeh az An dar Darman-e Nabarvari". hlm. 11.
  19. Akhundi & Behjaty Ardekani. "Rahim-e Jaygozin wa Zarurat-e Estefadeh az An dar Darman-e Nabarvari". hlm. 11.
  20. Makarim asy-Syirazi. "Hukm-e Ejareh-e Rahim-e Maharem". Situs Kantor Marja Agung Ayatullah al-Uzhma Makarim asy-Syirazi; Akhundi & Behjaty Ardekani. "Rahim-e Jaygozin wa Zarurat-e Estefadeh az An dar Darman-e Nabarvari". hlm. 11.
  21. Rohani. Istifta'at. 1383 HS. jld. 1. hlm. 333.
  22. Akhundi & Behjaty Ardekani. "Rahim-e Jaygozin wa Zarurat-e Estefadeh az An dar Darman-e Nabarvari". hlm. 11.
  23. Jannati. Tathawwur-e Ijtihad dar Hauzah-e Istinbath. 1386 HS. jld. 1. hlm. 35.
  24. Mu'min Qomi. Kalimat Sadidah fi Masa'il Jadidah. 1415 H. hlm. 93.
  25. Bahjat. "Ravesh-haye Bardari ke az Rah-e Tazriq be Amal Mi-ayad, az Nazar-e Syar'i Cheh Hukmi Darad?". Pusat Pengaturan dan Penerbitan Karya-karya Ayatullah Bahjat; Akhundi & Behjaty Ardekani. "Rahim-e Jaygozin wa Zarurat-e Estefadeh az An dar Darman-e Nabarvari". hlm. 11.
  26. Fadhil Lankarani. Barresi-e Fiqhi-e Talqih-e Masnu'i. 1389 HS. hlm. 138-139; Fadhil Lankarani. Makasib Muharramah. 1396 HS. jld. 1. hlm. 286-287.
  27. Subhani Tabrizi. Istifta'at. 1389 HS. jld. 2. hlm. 417.
  28. Nuri Hamadani. Hezar wa Yek Mas'aleh-e Fiqhi. 1388 HS. jld. 2. hlm. 264.
  29. Kharrazi. Al-Buhuts al-Hamah fi al-Makasib al-Muharramah. 1423 H. jld. 3. hlm. 170-180.
  30. Mazhahiri. Taudhih al-Masa'il. 1389 HS. hlm. 318.
  31. Akhundi & Behjaty Ardekani. "Rahim-e Jaygozin wa Zarurat-e Estefadeh az An dar Darman-e Nabarvari". hlm. 11.
  32. Fadhil Lankarani. Jami' al-Masa'il. 1425 H. hlm. 560-561.
  33. Mohajeri. "Ejareh-e Rahim". hlm. 76.
  34. Sekelompok Peneliti. Mausu'ah al-Fiqh al-Islami. 1423 H. jld. 4. hlm. 331.
  35. Akhundi & Behjaty Ardekani. "Rahim-e Jaygozin wa Zarurat-e Estefadeh az An dar Darman-e Nabarvari". hlm. 11.
  36. Makarim asy-Syirazi. Istifta'at Jadid. 1427 H. jld. 2. hlm. 609.
  37. Tabataba'i & Jalili. "Huquq-e Mali wa Ghair-e-Mali-e Kudakan-e Mutawallid az Ravesh-e Rahim-e Jaygozin". hlm. 40.
  38. al-Khoei. Taudhih al-Masa'il. 1422 H. hlm. 561.
  39. Fadhil Lankarani. Jami' al-Masa'il. 1425 HS. hlm. 564.
  40. Al-Barqi. Al-Mahasin. 1371 H. jld. 1. hlm. 106.
  41. Karimi & Mehtari. "Hukm-e Fiqhi-e Rahim-e Ejareh-i". hlm. 90-91.
  42. Karimi & Mehtari. "Hukm-e Fiqhi-e Rahim-e Ejareh-i". hlm. 91.
  43. Mu'min. "Sokhani Darbareh-e Talqih". hlm. 65-66.
  44. Yazdi. "Barvari-haye Masnu'i wa Hukm-e Fiqhi-e An". hlm. 104-105.
  45. Karimi & Mehtari. "Hukm-e Fiqhi-e Rahim-e Ejareh-i". hlm. 91-92.
  46. Husaini Khamenei. Ahkam-e Pezeshki. 1395 HS. hlm. 34 & 36-37; Karimi & Mehtari. "Hukm-e Fiqhi-e Rahim-e Ejareh-i". hlm. 92-93; Husaini & Mohammadi. Ahkam-e Pezeshki wa Bimaran. 1394 HS. hlm. 153.
  47. Khomeini. Tahrir al-Wasilah. 1392 HS. jld. 2. hlm. 665; Husaini Khamenei. Ahkam-e Pezeshki. 1395 HS. hlm. 36-37; Husaini & Mohammadi. Ahkam-e Pezeshki wa Bimaran. 1394 HS. hlm. 153; Mazhahiri. Taudhih al-Masa'il. 1389 HS. hlm. 318.
  48. Yazdi. "Barvari-haye Masnu'i wa Hukm-e Fiqhi-e An". hlm. 105.
  49. Subhani Tabrizi. Istifta'at. 1389 HS. jld. 2. hlm. 416.
  50. Sekelompok Peneliti. Masa'il-e Mustahdasah-e Pezeshki. 1386 HS. jld. 1. hlm. 110.
  51. Makarim asy-Syirazi. Al-Fatawa al-Jadidah. 1385 HS. jld. 1. hlm. 427.
  52. Sekelompok Peneliti. Masa'il-e Mustahdasah-e Pezeshki. 1386 HS. jld. 1. hlm. 111-112.
  53. Makarim asy-Syirazi. Al-Fatawa al-Jadidah. 1385 HS. jld. 1. hlm. 427.
  54. Fadhil Lankarani. Jami' al-Masa'il. 1425 H. hlm. 561; Rohani. Istifta'at. 1383 HS. jld. 7. hlm. 372.
  55. Sekelompok Peneliti. Masa'il-e Mustahdasah-e Pezeshki. 1386 HS. jld. 1. hlm. 112-113.
  56. Khajezadeh. "Mahiyat-e Huquqi-e Qarardad-e Rahim-e Jaygozin dar Fiqh wa Qanun-e Iran". hlm. 122.
  57. Meshkini Ardabili. Musthalahat al-Fiqh. 1392 HS. hlm. 41; Hashemi Shahroudi. Farhang-e Fiqh. 1382 HS. jld. 1. hlm. 234-235.
  58. Mazhahiri & Pour Rasoul. "Tabyin-e Mahiyat-e Qarardad-e Rahim-e Jaygozin". hlm. 105.
  59. Salehi. "Mahiyat-e Huquqi-e Qarardad-haye Rahim-e Jaygozin". hlm. 38; Mazhahiri & Pour Rasoul. "Tabyin-e Mahiyat-e Qarardad-e Rahim-e Jaygozin". hlm. 105-106.
  60. Meshkini Ardabili. Musthalahat al-Fiqh. 1392 HS. hlm. 41; Hashemi Shahroudi. Farhang-e Fiqh. 1382 HS. jld. 1. hlm. 234-235.
  61. Mazhahiri & Pour Rasoul. "Tabyin-e Mahiyat-e Qarardad-e Rahim-e Jaygozin". hlm. 106.
  62. Salehi. "Mahiyat-e Huquqi-e Qarardad-haye Rahim-e Jaygozin". hlm. 38-39; Mazhahiri & Pour Rasoul. "Tabyin-e Mahiyat-e Qarardad-e Rahim-e Jaygozin". hlm. 110-111.
  63. Makarim asy-Syirazi. Al-Fatawa al-Jadidah. 1385 HS. jld. 2. hlm. 471; Hamdallahi & Roshan. Barresi-e Tathbiqi-e Fiqhi-Huquqi-e Qarardad-e Estefadeh az Rahim-e Jaygozin. 1388 HS. hlm. 146.
  64. Sekelompok Peneliti. Mausu'ah al-Fiqh al-Islami. 1423 H. jld. 4. hlm. 331; Batha'i Golpayegani. Tahqiqi Piramun-e Tawallud-e Bedun-e Munakahat. 1382 HS. hlm. 384.
  65. Meshkini Ardabili. Musthalahat al-Fiqh. 1392 HS. hlm. 195.
  66. Mazhahiri & Pour Rasoul. "Tabyin-e Mahiyat-e Qarardad-e Rahim-e Jaygozin". hlm. 112.
  67. Salehi. "Mahiyat-e Huquqi-e Qarardad-haye Rahim-e Jaygozin". hlm. 40; Mazhahiri & Pour Rasoul. "Tabyin-e Mahiyat-e Qarardad-e Rahim-e Jaygozin". hlm. 113.
  68. Meshkini Ardabili. Musthalahat al-Fiqh. 1392 HS. hlm. 590.
  69. Na'ibzadeh. Barresi-e Huquq-e Ravesh-haye Novin-e Barvari-e Masnu'i. 1380 HS. hlm. 156.
  70. Meshkini Ardabili. Musthalahat al-Fiqh. 1392 HS. hlm. 385.
  71. Mazhahiri & Pour Rasoul. "Tabyin-e Mahiyat-e Qarardad-e Rahim-e Jaygozin". hlm. 115.
  72. Na'ibzadeh. Barresi-e Huquq-e Ravesh-haye Novin-e Barvari-e Masnu'i. 1380 HS. hlm. 157.
  73. Salehi. "Mahiyat-e Huquqi-e Qarardad-haye Rahim-e Jaygozin". hlm. 41-42; Mazhahiri & Pour Rasoul. "Tabyin-e Mahiyat-e Qarardad-e Rahim-e Jaygozin". hlm. 116.
  74. Nourizadeh. "Chalesh-haye Akhlaqi-e Rahim-e Jaygozin dar Iran". hlm. 169.
  75. Nourizadeh. "Chalesh-haye Akhlaqi-e Rahim-e Jaygozin dar Iran". hlm. 171.
  76. Jahani Shourab & Latifnejad Roudsari. "Muroori bar Janbeh-haye Huquqi, Qanuni, Akhlaqi wa Fiqhi-e Rahim-e Jaygozin dar Iran ba Ta'kid bar Janbeh-e Mosavereh-i-e An". hlm. 39.
  77. Asghari. "Mulahazhat-e Akhlaqi dar Ravesh-e Komak-e Barvari-e Rahim-e Jaygozin". hlm. 31.
  78. Nourizadeh. "Chalesh-haye Akhlaqi-e Rahim-e Jaygozin dar Iran". hlm. 172.
  79. Nourizadeh. "Chalesh-haye Akhlaqi-e Rahim-e Jaygozin dar Iran". hlm. 33.
  80. Huseini Hujjatabadi. Barresi-e Fiqhi-e Rahim-e Ejareh-i. 1396 HS. Identitas buku.
  81. Khalqi. Rahim-e Ejareh-i. 1398 HS. Identitas buku.
  82. Qaheri. Ahkam wa Atsar-e Ejareh-e Rahim dar Fiqh-e Fariqain. 1402 HS. Identitas buku.
  83. Abbas-Abadi. Barresi-e Fiqhi-e Tathbiq-e Shurut-e Ejareh bar Qarardad-e Ejareh-e Rahim dar Fiqh-e Ahlulbait (as). 1402 HS. Identitas buku.

Daftar Pustaka

  • Abbas-Abadi, Ali. Barresi-e Fiqhi-e Tathbiq-e Shurut-e Ejareh bar Qarardad-e Ejareh-e Rahim dar Fiqh-e Ahlulbait (as). Qom, Markaz Nasyr Ketab, 1402 HS.
  • Akhundi, Mohammad Mehdi & Mohammad Rasekh. "Muqaddameh". dalam Rahim-e Jaygozin: Barresi-e Rahim-e Jaygozin az Manzar: Pezeshki, Huquqi, Fiqhi, Akhlaqi-Falsafi, Rawan-shenakhti. Teheran, SAMT, 1387 HS.
  • Akhundi, Mohammad Mehdi & Zohreh Behjaty Ardekani. "Rahim-e Jaygozin wa Zarurat-e Estefadeh az An dar Darman-e Nabarvari". Nasriyah Barvari wa Nabarvari, Syomareh 1, Piyapi 34, Bahar 1387 HS.
  • Asghari, Fariba. "Mulahazhat-e Akhlaqi dar Ravesh-e Komak-e Barvari-e Rahim-e Jaygozin". Nasriyah Barvari wa Nabarvari, Syomareh 1, Piyapi 34, Bahar 1387 HS.
  • Al-Barqi, Ahmad bin Muhammad. Al-Mahasin. Qom, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1371 H.
  • Batha'i Golpayegani, Hasyim. Tahqiqi Piramun-e Tawallud-e Bedun-e Munakahat, Ravesh-haye Novin-e Towlid Misl-e Ensani az Didgah-e Fiqh wa Huquq. Teheran, Sazman Mutala'eh wa Tadwin Ulum Ensani (SAMT), 1382 HS.
  • Bahjat, Muhammad Taqi. "Ravesh-haye Bardari ke az Rah-e Tazriq be Amal Mi-ayad, az Nazar-e Syar'i Cheh Hukmi Darad?". Markaz Tanzhim wa Nasyr Atsar Ayatullah Bahjat. Tanggal Akses: 15 Dey 1403 HS.
  • Fadhil Lankarani, Muhammad. Jami' al-Masa'il. Qom, Amir Qalam, 1425 H.
  • Fadhil Lankarani, Muhammad. Jami' al-Masa'il. Tanpa Tempat, Tanpa Penerbit, 1383 HS.
  • Fadhil Lankarani, Muhammad Jawad. Barresi-e Fiqhi-e Talqih-e Masnu'i. Qom, Markaz Fiqhi A'immah Athar (as), 1389 HS.
  • Fadhil Lankarani, Muhammad Jawad. Makasib Muharramah. Qom, Markaz Fiqhi A'immah Athar (as), 1396 HS.
  • Hamdallahi, Asef & Mohammad Roshan. Barresi-e Tathbiqi-e Fiqhi-Huquqi-e Qarardad-e Estefadeh az Rahim-e Jaygozin. Teheran, Intisyarat Majd, 1388 HS.
  • Hashemi Shahroudi, Sayyid Mahmud. Farhang-e Fiqh Mutabaq-e Mazhab Ahlulbait (Alaihimus Salam). Qom, Mu'assasah Da'irah al-Ma'arif Fiqh Islami bar Mazhab Ahlulbait (as), 1382 HS.
  • Huseini Hujjatabadi, Malihe Sadat. Barresi-e Fiqhi-e Rahim-e Ejareh-i. Teheran, Sukhanwaran, 1396 HS.
  • Husaini Khamenei, Sayyid Ali. Ahkam-e Pezeshki. Teheran, Inqilab Islami, 1395 HS.
  • Husaini, Mujtaba & Sayyid Muhammad Taqi Mohammadi. Ahkam-e Pezeshki wa Bimaran. Qom, Daftar Nasyr Ma'arif, 1394 HS.
  • Jahani Shourab, Nahid & Robab Latifnejad Roudsari. "Muroori bar Janbeh-haye Huquqi, Qanuni, Akhlaqi wa Fiqhi-e Rahim-e Jaygozin dar Iran ba Ta'kid bar Janbeh-e Mosavereh-i-e An". Majalah Zanan, Mamayi wa Nazayi Iran, Syomareh 40, Esfand 1395 HS.
  • Jannati, Muhammad Ibrahim. Tathawwur-e Ijtihad dar Hauzah-e Istinbath. Teheran, Amirkabir, 1386 HS.
  • Karimi & Mehtari. "Hukm-e Fiqhi-e Rahim-e Ejareh-i". Majalah Mutala'at Fiqhi wa Falsafi, Syomareh 21, Sal-e 3, Zemestan 1391 HS.
  • Khajezadeh, Amir. "Mahiyat-e Huquqi-e Qarardad-e Rahim-e Jaygozin dar Fiqh wa Qanun-e Iran". Faslnameh Fiqh wa Tarikh-e Tamaddun, Syomareh 3, Pa'iz 1397 HS.
  • Khalafi, Muslim. "Ehda-e Janin dar Partov-e Fiqh wa Huquq". Majalah Mutala'at Rahbordi-e Zanan, Syomareh 33, Pa'iz 1385 HS.
  • Khalqi, Thayyibah. Rahim-e Ejareh-i. Qom, Wasef Lahiji, 1398 HS.
  • Kharrazi, Sayyid Muhsin. Al-Buhuts al-Hamah fi al-Makasib al-Muharramah. Qom, Mu'assasah dar Rah-e Haq, 1423 H.
  • al-Khoei, Sayyid Abu al-Qasim. Taudhih al-Masa'il. Qom, Mu'assasah Ihya' Atsar al-Imam al-Khoei, 1422 H.
  • Makarim asy-Syirazi, Nashir. "Hukm-e Ejareh-e Rahim-e Maharem". Situs Kantor Marja Agung Ayatullah al-Uzhma Makarim asy-Syirazi. Tanggal Akses: 15 Dey 1403 HS.
  • Makarim asy-Syirazi, Nashir. Al-Fatawa al-Jadidah. Qom, Madrasah al-Imam Ali bin Abi Thalib (as), 1385 HS.
  • Makarim asy-Syirazi, Nashir. Da'irah al-Ma'arif-e Fiqh-e Muqaran. Qom, Madrasah al-Imam Ali bin Abi Thalib (as), 1385 HS.
  • Makarim asy-Syirazi, Nashir. Istifta'at Jadid. Qom, Madrasah al-Imam Ali bin Abi Thalib (as), 1427 H.
  • Mazhahiri, Husain. Taudhih al-Masa'il. Isfahan, Mu'assasah Farhangi Mutala'ati az-Zahra (as), 1389 HS.
  • Mazhahiri, Ma'sumeh & Nayyereh Pour Rasoul. "Tabyin-e Mahiyat-e Qarardad-e Rahim-e Jaygozin". Majalah Huquqi Dadgostari, Syomareh 95, Sal-e 80, Pa'iz 1395 HS.
  • Meshkini Ardabili, Ali. Musthalahat al-Fiqh. Qom, Mu'assasah Ilmi Farhangi Darul Hadits, Sazman Chap wa Nasyr, 1392 HS.
  • Mohajeri, Alimorad. "Ejareh-e Rahim". Nasriyah Pajuhesh-haye Fiqhi ta Ijtihad, Syomareh 1, Syomareh Piyapi 1, Syahrivar 1396 HS.
  • Mu'min Qomi, Muhammad. Kalimat Sadidah fi Masa'il Jadidah. Qom, Jama'ah al-Mudarrisin fi al-Hauzah al-'Ilmiyyah bi Qom, Mu'assasah an-Nasyr al-Islami, 1415 H.
  • Mu'min, Muhammad. "Sokhani Darbareh-e Talqih". Penerjemah: Musa Danesh (Jafarzadeh). Majalah Fiqh Ahlulbait, Syomareh 4, Zemestan 1374 HS.
  • Na'ibzadeh, Abbas. Barresi-e Huquq-e Ravesh-haye Novin-e Barvari-e Masnu'i. Teheran, Intisyarat Majd, 1380 HS.
  • Nourizadeh, Ruqaiyah. "Chalesh-haye Akhlaqi-e Rahim-e Jaygozin dar Iran". Faslnameh Akhlaq-e Pezeshki, Syomareh 10, Sal-e 3, Zemestan 1388 HS.
  • Nuri Hamadani, Husain. Hezar wa Yek Mas'aleh-e Fiqhi. Qom, Mahdi Mau'ud (aj), 1388 HS.
  • Qaheri, Ruqaiyah. Ahkam wa Atsar-e Ejareh-e Rahim dar Fiqh-e Fariqain. Qom, Hajar, 1402 HS.
  • Ramezani, Sa'di. "Tahlil-e Fiqhi wa Huquqi-e Rahim-e Jaygozin az Manzar-e Zan-e Saheb-e Rahim". Do-Faslnameh Mutala'at Tathbiqi-e Fiqh wa Usul-e Mazaheb, Syomareh 1, Farvardin 1400 HS.
  • Rezvantalab, Mohammad Reza dkk. "Barresi-e Masru'iyat-e Ravesh-e Darmani-e Enteqal-e Mitokondri". Majalah Pajuhesh-haye Fiqhi, Syomareh 4, Dey 1399 HS.
  • Rezvantalab, Mohammad Reza & Marzieh Maleki. "Barresi-e Fiqhi-e Kudakan-e Seh Waledi bar Asas-e Nazarat-e Imam Khomeini (ra)". Pajuhesh-nameh Matin, Syomareh 92, Sal-e 23, Pa'iz 1400 HS.
  • Rohani, Sayyid Shadiq. Istifta'at. Qom, Hadits-e Del, 1383 HS.
  • Salehi, Hamid Reza. "Mahiyat-e Huquqi-e Qarardad-haye Rahim-e Jaygozin". Faslnameh Fiqh-e Pezeshki, Syomareh 13 wa 14, Sal-e 4 wa 5, Zemestan 1391 HS wa Bahar 1392 HS.
  • Sekelompok Peneliti. Masa'il-e Mustahdasah-e Pezeshki. Qom, 1386 HS.
  • Sekelompok Peneliti. Mausu'ah al-Fiqh al-Islami Tibqan li Madzhab Ahlulbait Alaihimus Salam. Qom, Mu'assasah Da'irah al-Ma'arif Fiqh Islami bar Mazhab Ahlulbait (as), 1423 H.
  • Sistani, Sayyid Ali. "Porsesh wa Pasokh-e Laqah-e Masnu'i". Situs Resmi Kantor Ayatullah Sistani. Tanggal Akses: 15 Dey 1403 HS.
  • Subhani Tabrizi, Ja'far. Istifta'at. Qom, Mu'assasah Imam Shadiq (as), 1389 HS.
  • Tabataba'i, Sayyid Mohammad Sadeq & Mahdi Jalili. "Huquq-e Mali wa Ghair-e-Mali-e Kudakan-e Mutawallid az Ravesh-e Rahim-e Jaygozin". Faslnameh Huquq-e Pezeshki, Syomareh 30, Sal-e 8, Pa'iz 1393 HS.
  • Yahyazadeh Ardestani, Wajiheh. Qarardad-e Rahim-e Ejareh-i wa Ehda-e Gamet. Teheran, Sanjesh wa Danesh, 1398 HS.
  • Yazdi, Muhammad. "Barvari-haye Masnu'i wa Hukm-e Fiqhi-e An". Majalah Fiqh Ahlulbait, Syomareh 5 wa 6, Bahar wa Tabestan 1375 HS.