Lompat ke isi

Konsep:Imkan Faqri

Dari wikishia

Imkan Faqri bermakna kebutuhan dan ketergantungan eksistensial akibat terhadap sebab, adalah sebuah istilah filosofis dalam Hikmah Muta'aliyah yang dikemukakan oleh Mulla Sadra untuk mendeskripsikan keberadaan (wujud) akibat. Imkan Faqri berlawanan dengan teori huduts dan teori imkan mahuwi, serta menganggap kebutuhan akibat terhadap sebab bersumber dari kemiskinan eksistensial (fakr wujudi) akibat tersebut.

Menurut Murtadha Mutahhari, imkan faqri adalah hasil dari prinsip-prinsip Hikmah Muta'aliyah dan didasarkan pada pandangan Mulla Sadra di bidang Asalat al-Wujud, tasykik al-wujud, dan Prinsip Kausalitas. Mulla Sadra menggunakan imkan faqri dalam memformulasikan Argumen Siddiqin dan menyelesaikan Masalah Keburukan. Sekelompok mufasir juga menafsirkan kata "al-fuqara" dalam ayat "Wahai manusia, kamulah yang memerlukan (al-fuqara) Allah" sebagai imkan faqri.

Terminologi

"Imkan Faqri" (Kemungkinan Eksistensial) adalah salah satu istilah filosofis dalam Hikmah Muta'aliyah yang bermakna "identitas kemiskinan, identitas ketergantungan, dan identitas relasionalitas wujud akibat terhadap sebab".[1] Menurut keyakinan Mulla Sadra, sebab dan akibat bukanlah dua maujud independen yang memiliki hubungan kausalitas; melainkan wujud akibat adalah identitas kebutuhan dan ketergantungan kepada sebab. Kebutuhan dan ketergantungan eksistensial akibat terhadap sebab ini disebut "Imkan Faqri".[2]

Kata "imkan" sebelum masa Mulla Sadra dianggap sebagai konsekuensi dari esensi (mahiyyah) dan bermakna "kesetaraan nisbah esensi terhadap dua sisi keberadaan (wujud) dan ketiadaan ('adam)"; artinya esensi dengan sendirinya tidak menuntut untuk menjadi ada maupun tiada, yang mana hal ini disebut dengan istilah "imkan mahuwi". Namun, Mulla Sadra dalam Hikmah Muta'aliyah, dikarenakan pengajuan Asalat al-Wujud dan penjelasan khusus yang ia miliki mengenai prinsip kausalitas, menganggap imkan bukan sebagai konsekuensi esensi, melainkan sebagai identitas keberadaan dan wujud dari akibat tersebut.[3]

Sekelompok mufasir, dengan terinspirasi dari Hikmah Muta'aliyah, menafsirkan kata "al-fuqara" dalam ayat "Wahai manusia, kamulah yang memerlukan (al-fuqara) Allah" (Terjemahan: Wahai manusia, kamulah yang memerlukan Allah)[4] sebagai "imkan faqri".[5] Mulla Sadra menganggap syair: Templat:Puisi sebagai terjemahan dari hadis Nabawi al-faqru sawad al-wajh fi al-darain Templat:Catatan.[6]

Latar Belakang

Salah satu pembahasan yang berkaitan dengan Prinsip Kausalitas adalah masalah mengapa akibat membutuhkan sebab, yang mana dalam menjawabnya telah terbentuk berbagai pandangan. Teori "imkan faqri" (kemiskinan eksistensial) adalah salah satu dari pandangan tersebut yang menurut Murtadha Mutahhari, merupakan hasil dari prinsip-prinsip Hikmah Muta'aliyah dan didasarkan pada pandangan Mulla Sadra di bidang Asalat al-Wujud, tasykik al-wujud, dan prinsip kausalitas.[7]

Sayid Muhammad Baqir al-Sadr merangkum teori-teori yang ada dalam bidang mengapa akibat membutuhkan sebab ke dalam empat kategori:[8]

  1. Teori Wujud: Segala sesuatu dari sisi wujudnya membutuhkan sebab; kebutuhan ini adalah esensi dari wujud. Walhasil, setiap wujud adalah akibat. Sayid Muhammad Baqir al-Sadr menisbatkan teori ini kepada sekelompok Marxis.[9]
  2. Teori Huduts: Segala sesuatu agar muncul dari ketiadaan menjadi ada pada suatu waktu (huduts zamani),Templat:Catatan membutuhkan sebab, dan jika suatu maujud selalu ada dan tidak didahului oleh ketiadaan (qadim zamani), maka ia tidak butuh sebab.[10] Teori ini dinisbatkan kepada para mutakallim.[11]
  3. Teori Imkan Mahuwi (Imkan Dzati): Segala sesuatu dari sisi esensinya yang setara terhadap keberadaan dan ketiadaan, dalam keberadaan atau ketiadaannya membutuhkan sebab.[12] Mayoritas filsuf sebelum Mulla Sadra dianggap sebagai pendukung teori ini.[13]
  4. Teori Imkan Faqri (Imkan Wujudi): Segala sesuatu dari sisi wujudnya yang merupakan identitas kebutuhan dan ketergantungan kepada sebab, membutuhkan sebab;[14] karena wujud akibat tidak independen dari sebab, melainkan dianggap sebagai salah satu dari urusan (syu'un)-nya.[15] Mulla Sadra dan para pengikutnya adalah pendukung teori ini.[16]

Sekelompok filsuf kontemporer, sebagai lawan dari pandangan-pandangan di atas, mengajukan teori "Imkan Ma'nawi"[17] dan teori "Huduts Dzati".[18]

Perbedaan Imkan Faqri dan Imkan Mahuwi

Dalam menjelaskan perbedaan antara imkan faqri dan imkan mahuwi, poin-poin berikut telah disebutkan:

No. Imkan Faqri Imkan Mahuwi
1 Maknanya bersifat eksistensial (ketergantungan eksistensial akibat terhadap sebab) Maknanya bersifat negasi (penafian keniscayaan keberadaan dan ketiadaan dari esensi)[19]
2 Sifat bagi wujud Sifat bagi esensi (mahiyyah) dan secara majas dinisbatkan kepada wujud-wujud kontingen[20]
3 MusaawiqTemplat:Catatan dengan wujud, bukan konsekuensi darinya Konsekuensi dari esensi (mahiyyah)[21]
4 Sesuai dengan Asalat al-Wujud Sesuai dengan Asalat al-MahiyyahTemplat:Catatan[22]
5 Identik dengan wujud eksternal, dan walhasil, lebih kuat daripada kategori primer (ma'qulat awwaliyah) dan sekunder Lebih rendah daripada kategori primer dan termasuk dalam jajaran kategori filosofis sekunder (ma'qulat tsaniyah)[23]
6 Pembagian maujud menjadi dua jenis: independen (seperti Wajib Ta'ala) dan relasional (segala sesuatu selain Wajib Ta'ala) Pembagian maujud menjadi empat jenis: fi nafsihi linafsihi binafsihi (seperti Wajib Ta'ala), fi nafsihi linafsihi bighairihi (seperti substansi kontingen), fi nafsihi lighairihi (seperti aksiden kontingen), dan fi ghairihi (seperti makna huruf/relasional)[24]
7 Hanya berfungsi dalam pembahasan filsafat Berfungsi dalam pembahasan filsafat dan logika (seperti proposisi modal/moajjahat) (Proposisi modal adalah proposisi yang menegaskan moda proposisi dan hubungan antara subjek, predikat, konsekuen, dan anteseden.[25])[26]

Pengaruh Imkan Faqri dalam Burhan Siddiqin

Burhan Siddiqin adalah istilah yang pertama kali digunakan oleh Ibnu Sina untuk salah satu formulasi dari Burhan Imkan wa Wujub;[27] sebuah argumen yang dengan memperhatikan prinsip wujud dan dengan penekanan pada imkan mahuwi, membuktikan Wajib al-Wujud (Tuhan).[28]

Mulla Sadra dengan mengkritik imkan mahuwi dan mengajukan imkan faqri,Templat:Catatan menyampaikan sebuah formulasi Burhan Siddiqin yang: pertama, didasarkan pada Asalat al-Wujud;[29] kedua, tidak butuh pada pembuktian kemustahilan sirkularitas (daur) dan tasalsul;[30]Templat:Catatan dan ketiga, selain pembuktian eksistensi Tuhan, juga membuktikan sifat-sifat kesempurnaan-Nya.[31]

Dikarenakan penggunaan "imkan faqri" oleh Mulla Sadra dalam menyusun Burhan Siddiqin, formulasi Mulla Sadra mengenai argumen ini juga disebut sebagai "Burhan Imkan Faqri".[32] Mulla Sadra dalam berbagai karyanya menjelaskan argumen ini: Jika Anda menerima prinsip wujud, maka ada dua keadaan; ia adalah Kaya (Wajib al-Wujud) atau identitas relasi dan identitas kebutuhan kepada Yang Kaya. Maka dalam kedua keadaan tersebut, eksistensi Wajib terbukti.[33]

Efektivitas Imkan Faqri dalam Menyelesaikan Masalah Keburukan

Karena segala sesuatu yang ada di alam semesta adalah perbuatan dan pengaruh Tuhan, maka sejak dahulu muncul pertanyaan bagaimana Tuhan yang merupakan kebaikan murni bisa menjadi sumber kemunculan keburukan.[34]

Menurut pandangan Mulla Sadra, dengan memperhatikan Asalat al-Wujud serta kemiskinan dan ketergantungan eksistensial seluruh maujud selain Allah, keburukan tidak bersumber dari Tuhan, melainkan bersumber dari sisi kekurangan, kebutuhan, dan ketergantungan eksistensial para makhluk.[35] Dari sudut pandangnya, semakin besar imkan (kemiskinan eksistensial), maka keburukan dan ketiadaan semakin banyak, dan kerusakan pun semakin besar.[36]

Catatan Kaki

  1. Mulla Sadra, al-Hikmah al-Muta'aliyah fi al-Asfar al-Aqliyyah al-Arba'ah, 1981 M, jld. 1, hlm. 412-413 dan jld. 3, hlm. 253.
  2. Gharawiyan, "Imkan-e Wujudi-ye Faqri dar Falsafe", hlm. 76 dan 77.
  3. Mutahhari, Majmu'e Atsar, 1389 HS, jld. 13, hlm. 263; Ubudiyat, Daramadi bar Nidzam-e Hikmat-e Sadrayi, 1388 HS, hlm. 107.
  4. Surah Fatir, ayat 15.
  5. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 18, hlm. 221-222; Javadi Amoli, Towhid dar Qur'an, 1387 HS, hlm. 29.
  6. Mulla Sadra, al-Asfar, 1981 M, jld. 1, hlm. jld. 2, hlm. 341; Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 72, hlm. 30.
  7. Mutahhari, Majmu'e Atsar, 1389 HS, jld. 6, hlm. 668-669; Ushul-e Falsafe wa Ravesy-e Realism, jld. 3, hlm. 219.
  8. Sadr, Falsafatuna, 1402 H, hlm. 316-319.
  9. Sadr, Falsafatuna, 1402 H, hlm. 316.
  10. Sadr, Falsafatuna, 1402 H, hlm. 318.
  11. Tabataba'i, Nihayah al-Hikmah, catatan Gholamreza Fayyazi, 1386 HS, jld. 1, hlm. 245; Taftazani, Syarh al-Maqashid, 1409 H, jld. 2, hlm. 13.
  12. Al-Farabi, Fushush al-Hikmah, 1381 HS, hlm. 51.
  13. Nabaviyan, Jostojou-ha-yi dar Falsafe-ye Eslami: Mosytamel bar Ara-ye Ekhteshashi-ye Ayatullah Fayyazi, 1396 HS, jld. 2, hlm. 250.
  14. Mulla Sadra, al-Hikmah al-Muta'aliyah fi al-Asfar al-Aqliyyah al-Arba'ah, 1981 M, jld. 1, hlm. 412-413 dan jld. 3, hlm. 253.
  15. Ubudiyat, Daramadi bar Nidzam-e Hikmat-e Sadrayi, 1388 HS, hlm. 107.
  16. Nabaviyan, Jostojou-ha-yi dar Falsafe-ye Eslami: Mosytamel bar Ara-ye Ekhteshashi-ye Ayatullah Fayyazi, 1396 HS, jld. 2, hlm. 252.
  17. Nabaviyan, Jostojou-ha-yi dar Falsafe-ye Eslami: Mosytamel bar Ara-ye Ekhteshashi-ye Ayatullah Fayyazi, 1396 HS, jld. 2, hlm. 254.
  18. Sa'idi Mehr, "Huduts-e Dzati wa Niyaz-mandi be Illat", hlm. 59-61.
  19. Gharawiyan, "Imkan-e Wujudi-ye Faqri dar Falsafe", hlm. 77.
  20. Javadi Amoli, Rahiq-e Makhtum, 1386 HS, jld. 1-4, hlm. 485; Gharawiyan, "Imkan-e Wujudi-ye Faqri dar Falsafe", hlm. 77.
  21. Javadi Amoli, Rahiq-e Makhtum, 1386 HS, jld. 1-4, hlm. 483.
  22. Mutahhari, Majmu'e Atsar, 1389 HS, jld. 6, hlm. 668-669.
  23. Javadi Amoli, Rahiq-e Makhtum, 1386 HS, jld. 1-4, hlm. 485.
  24. Javadi Amoli, Rahiq-e Makhtum, 1386 HS, jld. 1-4, hlm. 484-485.
  25. Khansari, Farhang-e Istilahat-e Mantiqi, 1376 HS, hlm. 171
  26. Javadi Amoli, Rahiq-e Makhtum, 1386 HS, jld. 1-4, hlm. 485.
  27. Ibnu Sina, al-Isyarat wa al-Tanbihat, 1375 HS, hlm. 102; Sadeqi, "Taqrir-ha-ye Ibn Sina az Burhan-e Imkan wa Wujub", hlm. 43.
  28. Ibnu Sina, al-Isyarat wa al-Tanbihat, 1375 HS, hlm. 98.
  29. Mulla Sadra, al-Hikmah al-Muta'aliyah fi al-Asfar al-Aqliyyah al-Arba'ah, 1981 M, jld. 6, hlm. 16.
  30. Javadi Amoli, Tabyin-e Barahin-e Isbat-e Khuda, 1388 HS, hlm. 195.
  31. Mutahhari, Majmu'e Atsar, 1389 HS, jld. 5, hlm. 517-518.
  32. Purhasan, "Tsamarat-e Tafkik-e Imkan-e Mahuwi wa Imkan-e Wujudi dar Hikmat-e Muta'aliyeh", hlm. 46-47; Abdiyan, "Barresi-ye Tathbiqi wa Arziyabi-ye Burhan-e Siddiqin-e Mulla Sadra wa Burhan-e Imkan wa Wujub-e Ibn Sina wa Thomas Aquinas", hlm. 109-110.
  33. Mulla Sadra, al-Hikmah al-Muta'aliyah fi al-Asfar al-Aqliyyah al-Arba'ah, 1981 M, jld. 6, hlm. 16.
  34. Purhasan, "Tsamarat-e Tafkik-e Imkan-e Mahuwi wa Imkan-e Wujudi dar Hikmat-e Muta'aliyeh", hlm. 50.
  35. Mulla Sadra, al-Hikmah al-Muta'aliyah, 1981 M, jld. 2, hlm. 350.
  36. Mulla Sadra, al-Hikmah al-Muta'aliyah, 1981 M, jld. 1, hlm. 234.

Catatan

Templat:Catatan

Daftar Pustaka

  • Abdiyan, Malek dkk, "Barresi-ye Tathbiqi wa Arziyabi-ye Burhan-e Siddiqin-e Mulla Sadra wa Burhan-e Imkan wa Wujub-e Ibn Sina wa Thomas Aquinas". Jurnal Ilmiah Hikmat-e Sadrayi, Musim Gugur dan Musim Dingin 1399 HS, nomor 17.
  • Gharawiyan, Mohsen. "Imkan-e Wujudi-ye Faqri dar Falsafe". Jurnal Keyhan-e Andisye, nomor 50, 1372 HS.
  • Ibnu Sina, Husain bin Abdullah. al-Isyarat wa al-Tanbihat. Qom, Penerbit al-Balaghah, 1375 HS.
  • Javadi Amoli, Abdullah. Rahiq-e Makhtum. Qom, Penerbit Isra, 1386 HS.
  • Javadi Amoli, Abdullah. Tabyin-e Barahin-e Isbat-e Khuda. Qom, Penerbit Isra, 1388 HS.
  • Javadi Amoli, Abdullah. Towhid dar Qur'an. Qom, Penerbit Isra, 1387 HS.
  • Khansari, Mohammad. Farhang-e Istilahat-e Mantiqi. Penerbit: Lembaga Penelitian Ilmu Humaniora dan Studi Kebudayaan. Teheran, cetakan kedua, 1376 HS.
  • Mutahhari, Murtadha. Majmu'e Atsar. Teheran, Penerbit Sadra, 1389 HS.
  • Makarem Syirazi, Naser. Tafsir Nemuneh. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1374 HS.
  • Mulla Sadra, Mohammad bin Ibrahim. al-Hikmah al-Muta'aliyah fi al-Asfar al-Aqliyyah al-Arba'ah. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1981 M.
  • Nabaviyan, Sayid Muhammad Mahdi. Jostojou-ha-yi dar Falsafe-ye Eslami: Mosytamel bar Ara-ye Ekhteshashi-ye Ayatullah Fayyazi. Jld. 2. Qom, Penerbit Hikmat-e Eslami, 1396 HS.
  • Nabaviyan, Sayid Muhammad Mahdi. Jostojou-ha-yi dar Falsafe-ye Eslami: Mosytamel bar Ara-ye Ekhteshashi-ye Ayatullah Fayyazi. Jld. 3. Qom, Penerbit Hikmat-e Eslami, 1397 HS.
  • Purhasan, Qasem dan Mohammad Rasid-zadeh, "Tsamarat-e Tafkik-e Imkan-e Mahuwi wa Imkan-e Wujudi dar Hikmat-e Muta'aliyeh". Jurnal Pezhuhesy-ha-ye Falsafi Kalami, nomor 71, Musim Semi 1396 HS.
  • Sa'idi Mehr, Mohammad, "Huduts-e Dzati wa Niyaz-mandi be Illat". Jurnal Name-ye Mofid, 1382 HS, nomor 39.
  • Sadeqi, Aflaton, "Taqrir-ha-ye Ibn Sina az Burhan-e Imkan wa Wujub". Jurnal Jostojou-ha-yi dar Falsafe wa Kalam, nomor 100, Musim Semi dan Musim Panas 1397 HS.
  • Sadr, Muhammad Baqir. Falsafatuna. Lebanon, Dar al-Ta'aruf, 1402 H.
  • Tabataba'i, Sayid Mohammad Husain. Nihayah al-Hikmah, catatan Gholamreza Fayyazi. Qom, Lembaga Pendidikan dan Penelitian Imam Khomeini, 1386 HS.
  • Taftazani, Sa'duddin. Syarh al-Maqashid. Qom, al-Syarif al-Radhi, 1409 H.
  • Ubudiyat, Abdurrasul. Daramadi bar Nidzam-e Hikmat-e Sadrayi. Teheran, Penerbit Samt, 1388 HS.
  • Al-Farabi, Muhammad bin Muhammad. Fushush al-Hikmah. Teheran, Asosiasi Karya dan Tokoh Budaya, 1381 HS.
  • Dzabihi, Mohammad. Falsafe-ye Masysya ba Tekye bar Aham-e Ara-ye Ibn Sina. Teheran, Penerbit Samt, 1390 HS.