Lompat ke isi

Konsep:Hibah

Dari wikishia

Hibah adalah salah satu dari Akad Islam di mana seseorang memberikan hartanya secara cuma-cuma ke dalam kepemilikan orang lain. Pihak yang memindahkan kepemilikan disebut wahib, pihak yang menerima harta disebut mutahib, dan harta yang menjadi objek hibah disebut mauhub. Sebagian pihak juga memaknai hibah secara umum yang mencakup hadiah, penghargaan, dan athiyyah (pemberian).
Hibah mu'awwadhah dan ghairu mu'awwadhah adalah di antara pembagian hibah; dalam hibah mu'awwadhah wahib mensyaratkan bahwa sebagai ganti dari hadiahnya, mutahib juga harus menghibahkan hartanya secara cuma-cuma kepadanya. Dalam kitab-kitab fikih, hibah memiliki bab tersendiri di mana hukum-hukum dan syarat-syarat hibah dijelaskan di dalamnya.
Memiliki ijab dan kabul, balig dan berakalnya wahib dan mutahib, serta penyerahan mauhub termasuk di antara syarat-syarat keabsahan akad hibah. Sebagian fukaha berdasarkan riwayat-riwayat khusus, menganggap hibah sebagai akad jaiz (yang dapat dibatalkan), meskipun demikian mereka menganggap penarikannya kembali sebagai perbuatan yang makruh. Tentu saja, hibah dalam beberapa kasus berubah menjadi akad lazim dan wahib tidak dapat menarik kembali mauhub dalam kasus-kasus ini; di antaranya: hibah kepada kerabat, kematian wahib atau mutahib setelah penyerahan mauhub, dan perubahan kepemilikan atau perubahan pada mauhub itu sendiri.
Menurut para fukaha, jika mauhub menjadi cacat atau muncul manfaat yang dapat dipisahkan darinya, wahib pada saat membatalkan hibah, tidak memiliki hak untuk menuntutnya.

Definisi dan Kedudukan

Templat:احکام Hibah termasuk dari Akad Islam di mana dengannya seseorang memberikan hartanya secara cuma-cuma ke dalam kepemilikan orang lain.[1] Pihak yang memindahkan kepemilikan disebut wahib, pihak yang menerima harta disebut mutahib, dan harta yang menjadi objek hibah disebut mauhub.[2] Sebagian fukaha dalam definisi umumnya, menganggap hibah sebagai pemindahan kepemilikan harta tanpa ganti [dan tidak mengisyaratkan bahwa hal itu adalah sebuah akad],[3] yang dalam hal ini bersinonim dengan kata athiyyah (pemberian) dan mencakup hadiah, penghargaan, nihlah (pemberian harta tak bergerak kepada kerabat), sedekah, dan wakaf.[4] Muhaqqiq Hilli dalam mendefinisikan hibah juga menyertakan batasan "tanpa niat"[5] di mana dengan batasan ini sedekah dan wakaf dikeluarkan dari cakupan hibah.[6] Secara bahasa, hibah berasal dari akar kata "wahaba" dan berarti memberikan sesuatu kepada orang lain.[7]
Dalam kitab-kitab fikih, hibah memiliki bab tersendiri dan para fukaha Syiah maupun Ahlusunah di bawahnya telah menjelaskan hukum-hukum dan syarat-syarat hibah.[8] Undang-undang perdata Republik Islam Iran juga, dari pasal 795 hingga 807, telah membahas peraturan yang berkaitan dengan hibah.[9]

Hibah Mu'awwadhah dan Ghairu Mu'awwadhah

Beberapa pembagian telah disebutkan untuk hibah dan alasan mengapa sebagian fukaha menyebut hibah dengan "hibat" (bentuk jamak dari kata hibah)[10] adalah karena hal ini.[11] Di antara pembagian tersebut adalah pembagiannya menjadi hibah mu'awwadhah dan ghairu mu'awwadhah;[12] seperti pemberi hibah (wahib) dalam memberikan hibah rumahnya, mensyaratkan bahwa penerima hibah (mutahib) harus menyerahkan kebunnya kepadanya.[13]
Menurut beberapa peneliti, meskipun dalam definisi hibah terdapat batasan "gratis/cuma-cuma", hal ini tidak berarti bahwa dalam hibah tidak dapat diletakkan syarat "ganti/imbalan";[14] karena itu Shahib Jawahir dari kalangan fukaha Syiah meyakini, maksud dari adam al-'iwadh (tanpa ganti/cuma-cuma) dalam definisi hibah adalah bahwa hibah tidak diharuskan memiliki ganti, bukan berarti tidak boleh memiliki ganti.[15] Pada kenyataannya, ganti yang ditentukan dalam hibah mu'awwadhah, bukanlah imbalan untuk harta yang dihibahkan, melainkan syarat dalam pemberian kepemilikan yang cuma-cuma dan hibah di hadapan hibah;[16] oleh karena itu, tidak ada bedanya apakah apa yang dijadikan sebagai ganti dalam akad hibah tersebut dari segi nilai sama, lebih besar, atau lebih kecil dari barang yang dihibahkan.[17]

Syarat-syarat Hibah

Para fukaha telah menyatakan beberapa syarat untuk hibah; sebagian darinya berkaitan dengan akad hibah, sebagian berkaitan dengan kedua belah pihak, dan sebagian lainnya berkaitan dengan harta objek hibah.[18]

  • Syarat-syarat akad: 1. Ijab dan kabul; dalam hibah, ijab dari pihak pemberi hibah (wahib) dan kabul dari pihak penerima hibah (mutahib) harus terjadi dan lafaz jenis apa pun yang menunjukkan hal itu sudah cukup.[19] Bahkan sebagian fukaha seperti Shahib Jawahir dan Sayyid Yazdi meyakini bahwa mu'athat dan melakukan suatu perbuatan yang menunjukkan adanya hibah juga sudah cukup.[20] 2. Qabdh (penerimaan mauhub); hibah adalah sah jika mutahib telah menerimanya.[21] 3. Tanjiz; akad harus bersifat munajjaz (pasti) dan tidak digantungkan pada sesuatu;[22] seperti wahib mengatakan, "Setelah kematianku, aku menghibahkan rumahku kepada istriku."
  • Syarat-syarat pihak yang berakad: Wahib dan mutahib harus balig, berakal, dan memiliki hak pilih. Selain itu, wahib tidak boleh berstatus mahjur dan harus memiliki wewenang untuk bertindak atas hartanya.[23]
  • Syarat-syarat harta objek hibah: 1. Mauhub harus berupa barang nyata (ain); oleh karena itu, hibah dalam bentuk manfaat tidak sah;[24] seperti wahib ingin menghadiahi orang lain hak untuk tinggal di rumahnya. Demikian pula, hibah utang kepada orang selain yang berutang tidaklah sah; [misalnya seseorang menghibahkan utang yang menjadi tanggungan Zaid kepada Amru]; karena penyerahan (qabdh) tidak dapat terjadi dalam kasus itu.[25] 2. Mauhub harus ada; maka hibah atas sesuatu yang baru akan ada di kemudian hari -seperti buah dari pohon yang belum berbuah- tidaklah sah.[26] 3. Sebagian meyakini bahwa mauhub harus diketahui dan ditentukan; misalnya, mereka menganggap tidak sah hibah salah satu perabotan rumah secara tidak jelas.[27]

Kasus-kasus Kelaziman Akad Hibah

Mengenai apakah "hibah" itu merupakan akad lazim [dan kedua belah pihak tidak dapat membatalkannya] atau jaiz? Terdapat perbedaan pendapat di antara para fukaha;[28] sebagian dengan bersandar pada dalil-dalil seperti ayat "أَوْفُوا بِالْعُقُودِ"[29] dan tidak batalnya hibah dengan kematian salah satu pihak yang berakad -yang merupakan kekhususan dari akad lazim- meyakini bahwa hibah adalah akad lazim.[30] Sebaliknya, sekelompok pihak dengan berpegang pada beberapa hadis khususTemplat:یاد menetapkan prinsip dasar pada kebolehan (jawaz) akad hibah dan mengecualikan beberapa kasus darinya;[31]Templat:جعبه نقل قولyakni wahib tidak dapat menarik kembali mauhub dalam kasus-kasus berikut:

  1. Hibah kepada kerabat (arham), setelah menyerahkan mauhub kepada mereka; seperti orang tua, anak-anak, dan lain-lain.[32]
  2. Hibah mu'awwadhah; meskipun nilai gantinya sangat sedikit.[33]
  3. Pemberi hibah (wahib) atau penerima hibah (mutahib) meninggal dunia setelah penyerahan mauhub.[34]
  4. Wahib telah memberikan harta tersebut "qurbatan ilallah", yang mana ini sama dengan sedekah.[35]
  5. Mauhub telah berpindah tangan ke orang lain dan pemiliknya telah berubah.[36]
  6. Seluruh atau sebagian dari mauhub telah rusak atau bentuknya telah berubah; misalnya kain telah dijahit atau makanan telah dimakan.[37]

Beberapa Hukum Hibah

Beberapa hukum hibah yang telah dijelaskan dalam kitab-kitab fikih adalah sebagai berikut:

  • Hibah pada dasarnya dianggap sebagai akad jaiz dan pemberi hibah (wahib) memiliki hak untuk rujuk dan mengambil kembali mauhub,[38] akan tetapi para fukaha menganggap hal ini makruh.[39]
  • Jika wahib ingin mengambil kembali mauhub, manfaat-manfaat yang muncul pada mauhub dan dapat dipisahkan adalah milik penerima hibah (mutahib); seperti: buah-buahan dari pohon.[40]
  • Jika wahib datang untuk mengambil kembali mauhub dan mendapati bahwa mauhub telah menjadi cacat, wahib tidak berhak mengambil ganti rugi.[41]
  • Mengenai khumus harta yang dihibahkan, mayoritas marja taklid meyakini, apabila harta yang diberikan tersebut tersisa pada akhir tahun khumus, maka wajib dibayarkan khumusnya.[42] Tentu saja sebagian marja seperti Imam Khomeini dan Sayyid Ali Khamenei tidak mewajibkan khumus atas hadiah.[43]
  • Harta hadiah apabila benar-benar sedikit maka khumus tidak berlaku padanya.[44]

Catatan

Templat:Catatan

Catatan Kaki

  1. Taheri, Huquq-e Madani, 1418 H, jld. 4, hlm. 552; Masykini, Musthalahat al-Fiqh, 1392 Sy, hlm. 552.
  2. Imami, Huquq-e Madani, Intisyarat-e Islamiyyah, jld. 2, hlm. 373.
  3. Muhaqqiq Hilli, Syara'i al-Islam, 1408 H, jld. 3, hlm. 138; Imam Khomeini, Tahrir al-Wasilah, Mu'assasah Mathbu'at Dar al-'Ilm, jld. 2, hlm. 56.
  4. Mahmud, Mu'jam al-Musthalahat, 1419 H, jld. 4, hlm. 444; Imami, Huquq-e Madani, Intisyarat-e Islamiyyah, jld. 2, hlm. 373.
  5. Muhaqqiq Hilli, Syara'i al-Islam, 1408 H, jld. 2, hlm. 179.
  6. Najafi, Jawahir al-Kalam, 1404 H, jld. 28, hlm. 108.
  7. Taheri, Huquq-e Madani, 1418 H, jld. 4, hlm. 552
  8. Syaikh Thusi, Al-Khilaf, 1407 H, jld. 3, hlm. 554; Allamah Hilli, Tahrir al-Ahkam, 1420 H, jld. 3, hlm. 273; Jaziri, dkk., Al-Fiqh 'ala al-Madzahib al-Arba'ah, jld. 3, hlm. 343.
  9. "Qanun-e Madani", Samaneh-ye Melli-ye Qawanin wa Muqarrarat-e Jumhuri-ye Islami-ye Iran.
  10. Muhaqqiq Hilli, Syara'i al-Islam, 1408 H, jld. 2, hlm. 179; Allamah Hilli, Tahrir al-Ahkam, 1420 H, jld. 3, hlm. 271.
  11. Taheri, Huquq-e Madani, 1418 H, jld. 4, hlm. 552.
  12. Mughniyyah, Fiqh al-Imam as-Shadiq (as), 1421 H, jld. 4, hlm. 221; Taheri, Huquq-e Madani, 1418 H, jld. 4, hlm. 553.
  13. Imami, Huquq-e Madani, Intisyarat-e Islamiyyah, jld. 2, hlm. 389.
  14. Taheri, Huquq-e Madani, 1418 H, jld. 4, hlm. 561
  15. Najafi, Jawahir al-Kalam, 1404 H, jld. 28, hlm. 160.
  16. Masykini, Musthalahat al-Fiqh, 1392 Sy, hlm. 552; Imami, Huquq-e Madani, Intisyarat-e Islamiyyah, jld. 2, hlm. 389.
  17. Imami, Huquq-e Madani, Intisyarat-e Islamiyyah, jld. 2, hlm. 389.
  18. Taheri, Huquq-e Madani, 1418 H, jld. 4, hlm. 554.
  19. Mughniyyah, Fiqh al-Imam as-Shadiq (as), 1421 H, jld. 4, hlm. 223
  20. Najafi, Jawahir al-Kalam, 1404 H, jld. 28, hlm. 159; Thabathaba'i Yazdi, Takmilah al-'Urwah al-Wutsqa, 1414 H, jld. 1, hlm. 160.
  21. Imam Khomeini, Tahrir al-Wasilah, Mu'assasah Mathbu'at Dar al-'Ilm, jld. 2, hlm. 57.
  22. Allamah Hilli, Tadzkirah al-Fuqaha, 1388 H, hlm. 415.
  23. Mughniyyah, Fiqh al-Imam as-Shadiq (as), 1421 H, jld. 4, hlm. 223.
  24. Muhammadi Khorasani, Syarh Tabsyirah al-Muta'allimin, 1376 Sy, jld. 2, hlm. 126.
  25. Najafi, Jawahir al-Kalam, 1404 H, jld. 28, hlm. 163.
  26. Mughniyyah, Fiqh al-Imam as-Shadiq (as), 1421 H, jld. 4, hlm. 223.
  27. Taheri, Huquq-e Madani, 1418 H, jld. 4, hlm. 558.
  28. Taheri, Huquq-e Madani, 1418 H, jld. 4, hlm. 562.
  29. Surah Al-Maidah, ayat 5.
  30. Jawahir al-Kalam, 1362 Sy, jld. 28, hlm. 192.
  31. Mughniyyah, Fiqh al-Imam as-Shadiq (as), 1421 H, jld. 4, hlm. 226.
  32. Huseini Amili, Miftah al-Karamah, Jami'ah Mudarrisin, jld. 22, hlm. 173.
  33. Mughniyyah, Fiqh al-Imam as-Shadiq (as), 1421 H, jld. 4, hlm. 227.
  34. Thabathaba'i Yazdi, Takmilah al-'Urwah al-Wutsqa, 1414 H, jld. 1, hlm. 173.
  35. Huseini Amili, Miftah al-Karamah, Jami'ah Mudarrisin, jld. 22, hlm. 188.
  36. Mughniyyah, Fiqh al-Imam as-Shadiq (as), 1421 H, jld. 4, hlm. 228.
  37. Imam Khomeini, Tahrir al-Wasilah, Mu'assasah Mathbu'at Dar al-'Ilm, jld. 2, hlm. 58.
  38. Mughniyyah, Fiqh al-Imam as-Shadiq (as), 1421 H, jld. 4, hlm. 226.
  39. Thabathaba'i Yazdi, Takmilah al-'Urwah al-Wutsqa, 1414 H, jld. 1, hlm. 177; Kasyif al-Ghitha', Syarh as-Syaikh Ja'far 'ala Qawa'id al-'Allamah, 1420 H, hlm. 125.
  40. Imam Khomeini, Tahrir al-Wasilah, Mu'assasah Mathbu'at Dar al-'Ilm, jld. 2, hlm. 59.
  41. Muhaqqiq Hilli, Syara'i al-Islam, 1408 H, jld. 2, hlm. 181.
  42. Bani Hasyimi Khomeini, Taudhih al-Masa'il-e Maraji', 1424 H, jld. 2, hlm. 8, di bawah masalah 1753.
  43. Bani Hasyimi Khomeini, Taudhih al-Masa'il-e Maraji', 1424 H, jld. 2, hlm. 8, masalah 1753; Khamenei, Ajwibah al-Istifta'at, hlm. 177.
  44. Baleegh.ir

Daftar Pustaka

  • Imam Khomeini, Sayyid Ruhollah, Tahrir al-Wasilah, Qom, Mu'assasah Mathbu'at Dar al-'Ilm, Cetakan Pertama, Tanpa Tahun.
  • Imami, Sayyid Hasan, Huquq-e Madani, Intisyarat-e Islamiyyah, Taheran, Tanpa Tahun.
  • Bani Hasyimi Khomeini, Sayyid Muhammad Husein, Taudhih al-Masa'il-e Maraji', Qom, Daftar-e Intisyarat-e Islami, Cetakan Kedelapan, 1424 H.
  • Jaziri, Abdurrahman, dkk., Al-Fiqh 'ala al-Madzahib al-Arba'ah wa Madzhab Ahlulbait Wifqan li Madzhab Ahlulbait (as), Beirut, Dar ats-Tsaqalain, Cetakan Pertama, 1419 H.
  • Huseini Amili, Sayyid Jawad, Miftah al-Karamah fi Syarh Qawa'id al-'Allamah, Muhaqqiq dan Mushahhih: Muhammad Baqir Khalishi, Qom, Daftar-e Intisyarat-e Islami, Cetakan Pertama, 1419 H.
  • Khamenei, Sayyid Ali, Ajwibah al-Istifta'at, Daftar-e Mu'azhzham Lahu, Qom, Cetakan Pertama, 1424 H.
  • Syaikh Thusi, Abu Ja'far Muhammad bin Hasan, Al-Khilaf, Muhaqqiq dan Mushahhih: Ali Khorasani dkk., Daftar-e Intisyarat-e Islami, Qom, Cetakan Pertama, 1407 H.
  • Taheri, Habibullah, Huquq-e Madani, Qom, Daftar-e Intisyarat-e Islami, Cetakan Kedua, 1418 H.
  • Thabathaba'i Yazdi, Sayyid Muhammad Kadzim, Takmilah al-'Urwah al-Wutsqa, Muhaqqiq dan Mushahhih: Sayyid Muhammad Husein Thabathaba'i, Qom, Kitabfurushi Dawari, Cetakan Pertama, 1414 H.
  • Allamah Hilli, Hasan bin Yusuf, Tahrir al-Ahkam as-Syar'iyyah 'ala Madzhab al-Imamiyyah, Muhaqqiq dan Mushahhih: Ibrahim Bahaduri, Qom, Mu'assasah Imam Shadiq (as), Cetakan Pertama, 1420 H.
  • Allamah Hilli, Hasan bin Yusuf, Tadzkirah al-Fuqaha, Qom, Mu'assasah Alu al-Bait (as), Cetakan Pertama, 1388 H.
  • "Qanun-e Madani", Samaneh-ye Melli-ye Qawanin wa Muqarrarat-e Jumhuri-ye Islami-ye Iran, Tanggal Akses: 9 Mehr 1402 Sy.
  • Kasyif al-Ghitha', Ja'far bin Khidhr, Syarh as-Syaikh Ja'far 'ala Qawa'id al-'Allamah Ibnu al-Muthahhar, Mu'assasah Kasyif al-Ghitha', adz-Dzakha'ir, 1420 H.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya'qub, Al-Kafi, Muhaqqiq dan Mushahhih: Ali Akbar Ghaffari dan Muhammad Akhundi, Taheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, Cetakan Keempat, 1407 H.
  • Muhaqqiq Hilli, Najmuddin Ja'far bin Hasan, Syara'i al-Islam fi Masa'il al-Halal wa al-Haram, Muhaqqiq dan Mushahhih: Muhammad Ali Baqqal, Qom, Mu'assasah Isma'iliyan, Cetakan Kedua, 1408 H.
  • Muhammadi Khorasani, Ali, Syarh Tabsyirah al-Muta'allimin, Qom, Dar al-Fikr, Cetakan Kedua, 1376 Sy.
  • Mahmud, Abdurrahman, Mu'jam al-Musthalahat wa al-Alfadh al-Fiqhiyyah, Kairo, Dar al-Fadhilah, 1419 H.
  • Masykini Ardabili, Ali, Musthalahat al-Fiqh, Qom, Dar al-Hadits, 1392 Sy.
  • Mughniyyah, Muhammad Jawad, Fiqh al-Imam as-Shadiq (as), Qom, Mu'assasah Anshariyan, Cetakan Kedua, 1421 H.
  • Najafi, Muhammad Hasan, Jawahir al-Kalam fi Syarh Syara'i al-Islam, Muhaqqiq dan Mushahhih: Abbas Quchani dan Ali Akhundi, Dar Ihya' at-Turats al-'Arabi, Beirut, Cetakan Ketujuh, 1404 H.