Konsep:Haramain Syarifain

Haramain Syarifain (Dua Tanah Suci yang Mulia) mengacu pada dua tempat suci bagi umat Muslim, yaitu Haram Makkah dan Haram Madinah.[1] Dikatakan bahwa Haram Makkah, yang juga disebut dengan ungkapan seperti Haramullah dan Haram Makkah, memiliki urgensi paling besar bagi umat Muslim karena keberadaan Kakbah dan Masjidil Haram di dalamnya. Haram Madinah, yang juga dikenal dengan nama-nama seperti Haramur Rasul, Haram Nabawi, dan Haram Nabi, berada di posisi urgensi berikutnya bagi umat Muslim karena merupakan tempat pemakaman Nabi Muhammad saw dan keberadaan Masjid Nabawi.[2] Meskipun ungkapan "Haramain Syarifain" juga digunakan untuk dua tanah suci Najaf dan Karbala, atau dua tanah suci Baitul Maqdis dan Al-Khalil,[3] namun manifestasi yang paling masyhur dan menonjol darinya adalah Makkah dan Madinah.[4]
Penggunaan istilah Haramain Syarifain mengenai Makkah dan Madinah, secara konseptual dilakukan dalam dua bentuk: terbatas dan luas. Dalam konsep khusus, istilah ini tertuju pada Masjidil Haram itu sendiri di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah;[5] namun dalam konsep luasnya, ia mengacu pada kota Makkah dan Madinah.[6] Sebagai contoh, ungkapan "Khadimul Haramain Syarifain" (Pelayan Dua Tanah Suci), sebagai salah satu gelar kehormatan bagi raja-raja Arab Saudi,[7] mengacu pada makna khusus dan yang dimaksud darinya adalah pelayan, juru kunci, dan penjaga dua masjid suci tersebut. Sebaliknya, ungkapan-ungkapan seperti "Qamus al-Haramain al-Syarifain",[8] Danisynameh-ye Hajj wa Haramain Syarifain (Ensiklopedia Haji dan Haramain Syarifain)[9] atau "Proyek Pengembangan Haramain Syarifain", mengacu pada kota Makkah dan Madinah, di mana makna luasnya yang dimaksudkan.[10]
Menurut Hasan al-Basysya' dari kalangan peneliti sejarah, gelar "Khadimul Haramain Syarifain" telah digunakan oleh berbagai dinasti raja-raja Islam, dan Shalahuddin al-Ayyubi adalah orang pertama yang memilih gelar ini untuk dirinya demi pendekatan diri kepada Allah.[11] Maluk Sultan al-Asyraf, pada periode Mamluk Mesir, adalah sultan kedua yang menggunakan gelar ini, dan di antara para Sultan Utsmaniyah, Selim I adalah orang pertama yang memilih gelar tersebut.[12] Di Arab Saudi, Raja Faisal adalah orang pertama yang menggunakan gelar Khadimul Haramain Syarifain, namun setelahnya Raja Khalid tidak disebut dengan gelar ini. Raja Fahd bin Abdulaziz ketika naik takhta pada tahun 1982 M, memilih gelar "Khadimul Haramain Syarifain" sebagai pengganti gelar "Yang Mulia" (Wala Hazrat), dan para penerusnya, Raja Abdullah serta Raja Salman, juga menggunakan gelar ini.[13]
Catatan Kaki
- ↑ Pakatchi, "Haram", 1391 HS, hlm. 355.
- ↑ Huseini Ahaq, "Haram", 1388 HS, hlm. 57.
- ↑ Huseini Ahaq, "Haram", 1388 HS, hlm. 57.
- ↑ Qa'edan, "Tose'eh-ye Haramain Syarifain", 1388 HS, hlm. 93.
- ↑ "Al-Sirah al-Dzatiyyah li Khadim al-Haramain al-Syarifain al-Malik Salman bin Abdulaziz Alu Saud", Wukalah al-Anba' al-Saudiyyah.
- ↑ Qa'edan, "Tose'eh-ye Haramain Syarifain", 1388 HS, hlm. 93.
- ↑ "Al-Sirah al-Dzatiyyah li Khadim al-Haramain al-Syarifain al-Malik Salman bin Abdulaziz Alu Saud", Wukalah al-Anba' al-Saudiyyah.
- ↑ "Qamus al-Haramain al-Syarifain", Kitabkhwan-e Qa'emiyyah.
- ↑ "Danisynameh-ye Hajj wa Haramain Syarifain", Noormags.
- ↑ Qa'edan, "Tose'eh-ye Haramain Syarifain", 1388 HS, hlm. 93.
- ↑ Arab news: "Story behind the king’s title".
- ↑ Arab news: "Story behind the king’s title".
- ↑ Arab news: "Story behind the king’s title".
Daftar Pustaka
- "Al-Sirah al-Dzatiyyah li Khadim al-Haramain al-Syarifain al-Malik Salman bin Abdulaziz Alu Saud" (Biografi Pelayan Dua Tanah Suci Raja Salman bin Abdulaziz Alu Saud). Wukalah al-Anba' al-Saudiyyah. Tanpa Tahun.
- "Arab news: Story behind the king’s title". Tanpa Tahun.
- "Danisynameh-ye Hajj wa Haramain Syarifain" (Ensiklopedia Haji dan Haramain Syarifain). Pangkalan Majalah Spesialis Noormags. Tanpa Tahun.
- Huseini Ahaq, Maryam. "Haram". Danisynameh-ye Jahan-e Eslam (Ensiklopedia Dunia Islam). Jld. 13. Teheran: Bonyad-e Da'irat al-Ma'arif-e Eslami. 1388 HS.
- Pakatchi, Ahmad. "Haram". Da'irat al-Ma'arif-e Bozorg-e Eslami (Ensiklopedia Besar Islam). Jld. 20. Teheran: Markaz-e Da'irat al-Ma'arif-e Bozorg-e Eslami. 1391 HS.
- Qa'edan, Asghar. "Tose'eh-ye Haramain Syarifain" (Pengembangan Haramain Syarifain). Jurnal Triwulanan Miqat-e Hajj. Nomor 69. Musim Gugur 1388 HS.
- "Qamus al-Haramain al-Syarifain". Pangkalan Kitabkhwan-e Qa'emiyyah. Tanpa Tahun.