Lompat ke isi

Konsep:EKSISTENSI MENTAL

Dari wikishia

EKSISTENSI MENTAL bermakna eksistensi yang tercipta dari objek-objek di dalam pikiran kita.[1]Templat:Y Eksistensi terbagi menjadi dua bagian: eksternal dan mental. Eksistensi eksternal merujuk pada hakikat luar yang independen dari pikiran, seperti gunung dan laut. Eksistensi mental adalah konsepsi atau gambaran dari objek-objek tersebut di dalam pikiran kita.[2] Allamah Thabathaba'i, filsuf Iran, dalam catatannya atas kitab al-Asfar,[3] menganggap eksistensi mental sebagai "mental" karena tidak memiliki hukum-hukum eksistensi eksternal, namun menganggapnya "eksternal" karena memiliki dampak-dampak independen seperti wajah memerah akibat rasa malu.

Menurut para peneliti, masalah eksistensi mental tidak dikemukakan secara independen di Yunani kuno maupun pada awal filsafat Islam, namun berkembang di tangan para filsuf Muslim belakangan.[4] Masalah eksistensi mental dianggap sebagai salah satu masalah penting dalam filsafat yang berkaitan dengan mahiyah, hakikat ilmu (pengetahuan), persepsi, serta nilai representasi realitas dari ilmu tersebut.[5] Motahari, pemikir Syiah, berkeyakinan bahwa mengingkari kesesuaian esensial antara ilmu (pengetahuan) dan yang diketahui (maklum) adalah bentuk pengingkaran terhadap representasi realitas dari ilmu, yang berarti menyamakan ilmu dengan kebodohan majemuk (jahil murakkab) dan akibatnya, memicu keraguan terhadap dunia di luar pikiran. Oleh karena itu, pengingkaran terhadap eksistensi mental sama dengan sofisme dan idealisme.[6]

Allamah Thabathaba'i dalam Nihayah al-Hikmah menyebutkan dua dalil untuk membuktikan eksistensi mental: Pertama, eksistensi perkara-perkara nihilistik (tidak ada); karena subjek dari proposisi nihilistik tidak memiliki eksistensi eksternal, maka ia harus terealisasi di suatu tempat (pikiran) agar hukum tertentu dapat ditetapkan baginya. Kedua, eksistensi subjek-subjek universal; karena hal-hal universal tidak terealisasi secara eksternal, maka mereka harus terealisasi di dalam pikiran.[7]

Mengenai hakikat eksistensi mental, terdapat perbedaan pendapat di antara para filsuf; sebagian menganggapnya sebagai tercetaknya rupa objek di pikiran, sebagian menganggapnya sebagai tegaknya objek pada pikiran melalui cara hulul (inkarnasi) atau shudur (emanasi), sebagian menganggapnya sebagai bayangan atau representasi objek di pikiran, dan sebagian lainnya menganggap eksistensi sebagai perkara yang secara esensial merupakan ciptaan (maj'ul bi al-dzat) yang memiliki tingkatan (eksternal, mental, tekstual, dll) di mana jiwa manusia mampu menciptakan rupa-rupa tersebut.[8]Templat:Y

Catatan Kaki

  1. al-Thabathaba'i, Nihayah al-Hikmah, Muassasah al-Nasyr al-Islami, hlm. 45-46; Motahari, Majmu'eh Atsar (Kumpulan Karya), 1376 HS, jld. 5, hlm. 161.
  2. al-Thabathaba'i, Nihayah al-Hikmah, Muassasah al-Nasyr al-Islami, hlm. 45-46; Motahari, Majmu'eh Atsar (Kumpulan Karya), 1376 HS, jld. 5, hlm. 161.
  3. Asfar, Mulla Sadra, 1981 M, jld. 1, hlm. 264.
  4. Motahari, Majmu'eh Atsar (Kumpulan Karya), 1376 HS, jld. 5, hlm. 223.
  5. Motahari, Majmu'eh Atsar (Kumpulan Karya), 1376 HS, jld. 5, hlm. 222.
  6. Motahari, Majmu'eh Atsar (Kumpulan Karya), 1376 HS, jld. 5, hlm. 224.
  7. al-Thabathaba'i, Nihayah al-Hikmah, Muassasah al-Nasyr al-Islami, hlm. 34-357; Mulla Sadra, Asfar, 1981 M, jld. 1, hlm. 269.
  8. Mulla Sadra, Asfar, 1981 M, jld. 1, hlm. 287 dan 268; al-Sajjadi, Farhang-e Ma'arif-e Islami (Kamus Pengetahuan Islam), 1373 HS, jld. 3, hlm. 2105-2106.

Catatan

Templat:Y

Daftar Pustaka

  • Al-Sajjadi, Sayyid Ja'far. Farhang-e Ma'arif-e Islami (Kamus Pengetahuan Islam). Teheran, Penerbit Universitas Teheran, 1373 HS.
  • Al-Thabathaba'i, Sayyid Muhammad Husain. Bidayah al-Hikmah. Qom, Muassasah al-Nasyr al-Islami, 1419 H.
  • Motahari, Morteza. Majmu'eh Atsar (Kumpulan Karya). Teheran, Penerbit Sadra, 1376 HS.
  • Mulla Sadra, Muhammad bin Ibrahim. al-Hikmah al-Muta'aliyah fi al-Asfar al-Aqliyyah al-Arba'ah. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, dengan catatan pinggir Allamah Thabathaba'i, cetakan ketiga, 1981 M.