Lompat ke isi

Konsep:Ayat 97 Surah At-Taubah

Dari wikishia

Templat:Infobox Ayat Ayat 97 Surah At-Taubah menyatakan bahwa kekafiran dan kemunafikan orang-orang munafik Badui (penghuni padang pasir) adalah lebih keras daripada orang-orang munafik kota[1] dan menganggap mereka lebih bodoh dalam memahami hukum-hukum Allah.[2] Penyebab perbedaan ini dijelaskan demikian bahwa orang-orang ini jauh dari pendidikan dan pengajaran, serta dari mendengarkan ayat-ayat Ilahi dan ucapan Nabi (saw)[3] dan karena alasan inilah mereka lebih keras hati dan lebih kasar dibandingkan penduduk kota.[4] Ayat ini datang setelah ayat-ayat yang turun dalam mencela orang-orang munafik penduduk Madinah.[5]

Templat:Al-Qur'an

Ahli bahasa menggunakan kata A'rab untuk orang-orang Arab Badui (penghuni padang pasir)[6] dan menganggapnya sebagai bentuk jamak dari A'rabi, bukan Arab.[7] Kata ini diulang sepuluh kali dalam Al-Qur'an dan dalam sebagian besar kasus, disebutkan dengan celaan.[8] Yang dimaksud dengan "hudud" (batas-batas) juga dianggap sebagai hukum-hukum Ilahi dan hakikat makna-maknanya.[9]

Dalam Tafsir Nur al-Tsaqalain di bawah ayat ini,[10] dinukil sebuah hadis dari Imam Shadiq (as) bahwa barang siapa tidak memiliki tafaqquh (pendalaman) dalam agama dan perenungan serta tidak memahami ajarannya secara mendalam, ia dianggap sebagai seorang A'rabi (Badui).[11]

Sebagian mufasir Al-Qur'an dari ayat 97 Surah At-Taubah mengambil kesimpulan demikian bahwa betapa sering lingkungan sosial dan budaya berpengaruh pada wawasan dan makrifat manusia dan terkadang, orang-orang yang jauh dari budaya menjadi alat bagi orang-orang kafir dan orang-orang munafik.[12] Mereka juga menganggap ayat ini sebagai peringatan bagi kaum muslimin agar tidak berpikir bahwa orang-orang munafik hanyalah kelompok yang berada di kota, melainkan orang-orang munafik Badui lebih kasar daripada mereka dan kaum muslimin berkali-kali menjadi sasaran serangan kelompok ini.[13]

Catatan Kaki

  1. Faiz al-Islam, Tarjumeh va Tafsir-e Qur'an, 1378 HS, jld. 1, hlm. 387.
  2. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1382 HS, jld. 5, hlm. 95.
  3. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1417 H, jld. 9, hlm. 370; Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 8, hlm. 93.
  4. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1382 HS, jld. 5, hlm. 96.
  5. Faiz al-Islam, Tarjumeh va Tafsir-e Qur'an, 1378 HS, jld. 1, hlm. 387.
  6. Raghib Isfahani, Al-Mufradat, 1412 H, hlm. 557; Qurasyi, Qamus-e Qur'an, 1371 HS, jld. 4, hlm. 313.
  7. Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 8, hlm. 93.
  8. Qara'ati, Tafsir Nur, 1383 HS, jld. 3, hlm. 490.
  9. Raghib Isfahani, Al-Mufradat, 1412 H, hlm. 221; Thabathaba'i, Al-Mizan, 1417 H, jld. 9, hlm. 370.
  10. 'Arusi Huwaizi, Tafsir Nur al-Tsaqalain, 1415 H, jld. 2, hlm. 254.
  11. Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 1, hlm. 31.
  12. Qara'ati, Tafsir Nur, 1383 HS, jld. 3, hlm. 491.
  13. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 8, hlm. 93.

Daftar Pustaka

'Arusi Huwaizi, Abd Ali bin Jum'ah. Tafsir Nur al-Tsaqalain. Tahqiq: Sayid Hasyim Rasuli Mahallati. Qom, Intisharat-e Ismailiyan, Cetakan keempat, 1415 H. Faiz al-Islam Isfahani, Sayid Ali Naqi. Tarjumeh va Tafsir-e Qur'an-e Azhim (Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an Agung). Teheran, Faqih, Cetakan pertama, 1378 HS. Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. Al-Kafi. Tahqiq dan koreksi Ali Akbar Ghaffari dan Muhammad Akhundi. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Cetakan keempat, 1407 H. Makarim Syirazi, Nasir. Tafsir Nemuneh. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Cetakan pertama, 1374 HS. Qara'ati, Muhsin. Tafsir Nur. Teheran, Markaz-e Farhangi-ye Darsha-i az Qur'an, Cetakan kesebelas, 1383 HS. Qurasyi, Sayid Ali Akbar. Qamus-e Qur'an (Kamus Al-Qur'an). Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Cetakan keenam, 1371 HS. Raghib Isfahani, Husain bin Muhammad. Al-Mufradat fi Gharib al-Qur'an. Tahqiq: Shafwan Adnan Dawudi. Damaskus, Beirut, Dar al-Qalam, Al-Dar al-Syamiyah, Cetakan pertama, 1412 H. Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Qom, Daftar Intisharat-e Eslami, Cetakan kelima, 1417 H. Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Dengan mukadimah Muhammad Jawad Balaghi. Teheran, Nashir Khusro, Cetakan ketiga, 1382 HS.