Konsep:Ayat 97 Surah At-Taubah
| Informasi Ayat | |
|---|---|
| Surah | At-Taubah |
| Ayat | 97 |
| Juz | 11 |
| Informasi Konten | |
| Tempat Turun | Madinah |
| Tentang | Kekafiran dan kemunafikan sebagian orang Badui |
| Ayat-ayat terkait | Ayat 98 Surah At-Taubah dan Ayat 99 Surah At-Taubah |
Ayat 97 Surah At-Taubah menyatakan bahwa kekafiran dan kemunafikan orang-orang munafik Badui (penghuni padang pasir) adalah lebih keras daripada orang-orang munafik kota[1] dan menganggap mereka lebih bodoh dalam memahami hukum-hukum Allah.[2] Penyebab perbedaan ini dijelaskan demikian bahwa orang-orang ini jauh dari pendidikan dan pengajaran, serta dari mendengarkan ayat-ayat Ilahi dan ucapan Nabi Muhammad saw[3] dan karena alasan inilah mereka lebih keras hati dan lebih kasar dibandingkan penduduk kota.[4] Ayat ini datang setelah ayat-ayat yang turun dalam mencela orang-orang munafik penduduk Madinah.[5]
| “ | ٱلْأَعْرَابُ أَشَدُّ كُفْرًا وَنِفَاقًا وَأَجْدَرُ أَلَّا يَعْلَمُوا۟ حُدُودَ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
|
” |
Orang-orang A'raab lebih keras kufurnya dan sikap munafiknya, dan sangatlah patut mereka tidak mengetahui batas-batas (dan hukum-hukum Syarak) yang diturunkan oleh Allah kepada RasulNya. Dan (ingatlah) Allah Maha Mengetahui, lagi Maha Bijaksana.
Ahli bahasa menggunakan kata A'rab untuk orang-orang Arab Badui (penghuni padang pasir)[6] dan menganggapnya sebagai bentuk jamak dari A'rabi, bukan Arab.[7] Kata ini diulang sepuluh kali dalam Al-Qur'an dan dalam sebagian besar kasus, disebutkan dengan celaan.[8] Yang dimaksud dengan "hudud" (batas-batas) juga dianggap sebagai hukum-hukum Ilahi dan hakikat makna-maknanya.[9]
Dalam Tafsir Nur al-Tsaqalain di bawah ayat ini,[10] dinukil sebuah hadis dari Imam Shadiq as bahwa barang siapa tidak memiliki tafaqquh (pendalaman) dalam agama dan perenungan serta tidak memahami ajarannya secara mendalam, ia dianggap sebagai seorang A'rabi (Badui).[11]
Sebagian mufasir Al-Qur'an dari ayat 97 Surah At-Taubah mengambil kesimpulan demikian bahwa betapa sering lingkungan sosial dan budaya berpengaruh pada wawasan dan makrifat manusia dan terkadang, orang-orang yang jauh dari budaya menjadi alat bagi orang-orang kafir dan orang-orang munafik.[12] Mereka juga menganggap ayat ini sebagai peringatan bagi kaum muslimin agar tidak berpikir bahwa orang-orang munafik hanyalah kelompok yang berada di kota, melainkan orang-orang munafik Badui lebih kasar daripada mereka dan kaum muslimin berkali-kali menjadi sasaran serangan kelompok ini.[13]
Catatan Kaki
- ↑ Faiz al-Islam, Tarjumeh va Tafsir-e Qur'an, 1378 HS, jld. 1, hlm. 387.
- ↑ Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1382 HS, jld. 5, hlm. 95.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1417 H, jld. 9, hlm. 370; Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 8, hlm. 93.
- ↑ Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1382 HS, jld. 5, hlm. 96.
- ↑ Faiz al-Islam, Tarjumeh va Tafsir-e Qur'an, 1378 HS, jld. 1, hlm. 387.
- ↑ Raghib Isfahani, Al-Mufradat, 1412 H, hlm. 557; Qurasyi, Qamus-e Qur'an, 1371 HS, jld. 4, hlm. 313.
- ↑ Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 8, hlm. 93.
- ↑ Qara'ati, Tafsir Nur, 1383 HS, jld. 3, hlm. 490.
- ↑ Raghib Isfahani, Al-Mufradat, 1412 H, hlm. 221; Thabathaba'i, Al-Mizan, 1417 H, jld. 9, hlm. 370.
- ↑ 'Arusi Huwaizi, Tafsir Nur al-Tsaqalain, 1415 H, jld. 2, hlm. 254.
- ↑ Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 1, hlm. 31.
- ↑ Qara'ati, Tafsir Nur, 1383 HS, jld. 3, hlm. 491.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 8, hlm. 93.
Daftar Pustaka
- 'Arusi Huwaizi, Abd Ali bin Jum'ah. Tafsir Nur al-Tsaqalain. Tahqiq: Sayid Hasyim Rasuli Mahallati. Qom, Intisharat-e Ismailiyan, Cetakan keempat, 1415 H.
- Faiz al-Islam Isfahani, Sayid Ali Naqi. Tarjumeh va Tafsir-e Qur'an-e Azhim (Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an Agung). Teheran, Faqih, Cetakan pertama, 1378 HS.
- Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. Al-Kafi. Tahqiq dan koreksi Ali Akbar Ghaffari dan Muhammad Akhundi. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Cetakan keempat, 1407 H.
- Makarim Syirazi, Nasir. Tafsir Nemuneh. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Cetakan pertama, 1374 HS.
- Qara'ati, Muhsin. Tafsir Nur. Teheran, Markaz-e Farhangi-ye Darsha-i az Qur'an, Cetakan kesebelas, 1383 HS.
- Qurasyi, Sayid Ali Akbar. Qamus-e Qur'an (Kamus Al-Qur'an). Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Cetakan keenam, 1371 HS.
- Raghib Isfahani, Husain bin Muhammad. Al-Mufradat fi Gharib al-Qur'an. Tahqiq: Shafwan Adnan Dawudi. Damaskus, Beirut, Dar al-Qalam, Al-Dar al-Syamiyah, Cetakan pertama, 1412 H.
- Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Qom, Daftar Intisharat-e Eslami, Cetakan kelima, 1417 H.
- Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Dengan mukadimah Muhammad Jawad Balaghi. Teheran, Nashir Khusro, Cetakan ketiga, 1382 HS.