Konsep:Ayat 42 Surah Ar-Rum
Templat:Kotak info Ayat Ayat 42 Surah Ar-Rum memerintahkan Nabi Muhammad saw agar meminta orang-orang melakukan perjalanan dan menyaksikan peninggalan kaum terdahulu untuk mengetahui nasib mereka.[1] Penurunan perintah ini bertujuan untuk memperlihatkan kerusakan yang ditimbulkan oleh tangan manusia di bumi, sebagaimana yang disebutkan dalam ayat sebelumnya.[2] Anjuran untuk melakukan perjalanan ini telah berulang kali disebutkan dalam Al-Qur'an.[3]
Templat:Quran baruTemplat:SakhTemplat:Quran baru
Nasir Makarem Syirazi menganggap bahwa mengambil pelajaran dari peninggalan masa lalu seperti istana yang hancur, harta yang sirna, tulang-belulang yang hancur, dan populasi yang terpencar[4] lebih bermanfaat daripada sekadar membaca sejarah.[5] Allamah Sya'rani juga berkeyakinan bahwa manusia yang menyaksikan peninggalan tersebut akan memiliki iman dan harapan yang lebih besar terhadap Kekuasaan Allah dan runtuhnya kekuatan para zalim di masanya.[6] Sebagian mufasir dengan bersandar pada ayat ini menganggap pariwisata yang bertujuan dan menjaga peninggalan masa lalu sangat diperlukan untuk mengambil pelajaran.[7]
Thabarsi berpendapat bahwa perintah dalam ayat tersebut bukanlah perintah yang sebenarnya, melainkan sebagai bentuk penekanan (mubalaghah) dalam nasihat.[8] Sebagian menafsirkan perintah ini bermakna perintah untuk berpikir dan mengambil pelajaran.[9] Dalam sebuah riwayat dari Imam Shadiq as disebutkan bahwa yang dimaksud dengan melakukan perjalanan adalah membaca Al-Qur'an yang di dalamnya disebutkan berita tentang kaum terdahulu dan nasib akhir mereka.[10] Diriwayatkan juga hal yang serupa dari Ibnu Abbas.[11]
Bagian akhir ayat ini menegaskan bahwa mayoritas kaum terdahulu adalah orang-orang musyrik.[12] Menurut sebagian mufasir, penyebutan banyaknya jumlah kaum musyrik membawa pesan bagi kaum Muslimin agar tidak takut terhadap kerumunan kaum musyrik; karena Allah telah membinasakan kelompok besar orang-orang semacam itu di masa lalu[13] dan berhala-berhala mereka tidak mampu menyelamatkan mereka dari Azab Ilahi.[14] Zamakhsyari dengan bersandar pada fakta bahwa mayoritas yang binasa adalah kaum musyrik, menyatakan bahwa ada minoritas yang tidak musyrik namun ikut binasa. Ia kemudian menyimpulkan bahwa penyebab kehancuran kaum musyrik maupun non-musyrik adalah karena perbuatan Dosa, bukan semata-mata karena syirik.[15] Sebaliknya, sebagian mufasir lain menganggap baik syirik maupun maksiat sebagai faktor kehancuran kaum terdahulu.[16] Dalam pandangan Makarem Syirazi, Allah dalam berbagai ayat Al-Qur'an menganjurkan untuk berkeliling di bumi guna mengambil pelajaran dari masa lalu, di antaranya adalah Ayat 20 Surah Al-Ankabut, Ayat 11 Surah Al-An'am, Ayat 69 Surah An-Naml, Ayat 36 Surah An-Nahl, dan Ayat 137 Surah Ali 'Imran.[17]
Catatan Kaki
- ↑ Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 16, hlm. 452-453.
- ↑ Faidh Kasyani, Tafsir al-Safi, 1415 H, jld. 4, hlm. 135; Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 16, hlm. 452.
- ↑ Sabzawari, Irsyad al-Adzhan, 1419 H, jld. 1, hlm. 414.
- ↑ Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 16, hlm. 453.
- ↑ Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 5, hlm. 163.
- ↑ Sya'rani, Pajuhuhesh-ha-ye Qur'ani, 1386 HS, jld. 2, hlm. 1023-1024.
- ↑ Qara'ati, Mohsen, Tafsir Nur, 1388 HS, jld. 7, hlm. 208.
- ↑ Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 8, hlm. 481.
- ↑ Maturidi, Ta'wilat Ahl al-Sunnah, 1426 H, jld. 8, hlm. 248; Thayyib, Athyab al-Bayan, 1369 HS, jld. 60, hlm. 395.
- ↑ Faidh Kasyani, Tafsir al-Safi, 1415 H, jld. 4, hlm. 135.
- ↑ Kasyani, Manhaj al-Shadiqin, 1336 HS, jld. 7, hlm. 186.
- ↑ Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 16, hlm. 453.
- ↑ Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 16, hlm. 453.
- ↑ Thayyib, Athyab al-Bayan, 1369 HS, jld. 60, hlm. 395.
- ↑ Zamakhsyari, Al-Kasysyaf, 1407 H, jld. 3, hlm. 483.
- ↑ Abu Hayyan, Al-Bahr al-Muhith, 1420 H, jld. 8, hlm. 396; Sabzawari, Irsyad al-Adzhan, 1419 H, jld. 1, hlm. 414.
- ↑ Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 3, hlm. 104.
Daftar Pustaka
- Abu Hayyan, Muhammad bin Yusuf. Al-Bahr al-Muhith fi al-Tafsir. Beirut, Dar al-Fikr, Cetakan Pertama, 1420 H.
- Faidh Kasyani, Muhammad bin Syah-Murtadha. Tafsir al-Safi. Riset: Husain A'lami. Teheran, Maktabah al-Sadr, Cetakan Kedua, 1415 H.
- Kasyani, Fathullah bin Syukrullah. Tafsir Kabir Manhaj al-Shadiqin fi Ilzam al-Mukhalifin. Teheran, Kitabforushi wa Chapkhaneh Muhammad Hasan A'lami, 1336 HS.
- Makarem Syirazi, Nasir. Tafsir Nemuneh. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Cetakan Kesepuluh, 1371 HS.
- Maturidi, Abu Manshur. Ta'wilat Ahl al-Sunnah. Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1426 H.
- Qara'ati, Mohsen. Tafsir Nur. Teheran, Markaz-e Farhangi-ye Darshaye az Quran, Cetakan Pertama, 1388 HS.
- Sabzawari, Muhammad. Irsyad al-Adzhan ila Tafsir al-Qur'an. Beirut, Dar al-Ta'aruf lil-Mathbu'at, Cetakan Pertama, 1419 H.
- Sya'rani, Abul Hasan. Pajuhuhesh-ha-ye Qur'ani-ye Allamah Sya'rani dar Tafasir-e Majma' al-Bayan, Ruh al-Jinan wa Manhaj al-Shadiqin. Riset: Muhammad Reza Ghiyatsi Kermani. Qom, Bustan-e Ketab, Cetakan Kedua, 1386 HS.
- Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Koreksi: Fazhlullah Yazdi dan Hasyim Rasuli. Teheran, Nashir Khusraw, Cetakan Ketiga, 1372 HS.
- Thayyib, Abdul Husain. Athyab al-Bayan. Teheran, Islam, Cetakan Kedua, 1369 HS.
- Zamakhsyari, Muhammad bin Umar. Al-Kasysyaf 'an Haqa'iq Ghawamidh al-Tanzil wa 'Uyun al-Aqa'wil fi Wujuh al-Ta'wil. Beirut, Dar al-Kitab al-Arabi, Cetakan Ketiga, 1407 H.