Konsep:Ayat 35 Surah Shad
Ayat 35 Surah Shad mengutip doa Nabi Sulaiman as yang isinya adalah permohonan untuk memiliki pemerintahan yang tidak layak bagi siapa pun setelahnya. Pemerintahan ini dianggap sebagai tanda kenabian dan karunia Allah baginya.
Sulaiman as menginginkan sebuah pemerintahan yang berbeda dari pemerintahan-pemerintahan lain yang tidak akan terulang dan tidak ada tandingannya dalam benak masyarakat. Permintaan Sulaiman akan pemerintahan semacam itu, bukan untuk kesenangan duniawi melainkan untuk menegakkan pemerintahan Allah di bumi, membantu orang-orang mukmin dan memberikan petunjuk kepada orang-orang yang tertindas pemikirannya (mustadhaf) menuju kebenaran. Allah mengabulkan doa Sulaiman dan menundukkan angin serta jin di bawah perintahnya.
Para mufasir Syiah dan Ahlusunah telah memberikan jawaban-jawaban terhadap keberatan ini bahwa permintaan Sulaiman berasal dari sifat bakhil dan hasad. Di antaranya adalah bahwa Sulaiman meminta kepada Allah sebuah pemerintahan yang berbeda dari pemerintahan-pemerintahan lainnya; karena pemerintahan dan kekuasaan ini adalah mukjizatnya; sama seperti nabi-nabi lain yang memiliki mukjizat-mukjizat yang tidak terulang dan khusus bagi mereka sendiri.
Allah menganugerahkan sebuah pemerintahan yang unik kepada Sulaiman yang bahkan pada pemerintahan Imam Zaman aj tidak akan terulang; karena pemerintahan ini disertai dengan mukjizat-mukjizat khusus. Meskipun demikian, pemerintahan Imam Zaman aj dari segi keluasan dan keuniversalannya, akan melampaui pemerintahan Sulaiman. Sebagian orang meyakini bahwa Nabi Akram saw dan Ahlulbait as memiliki keunggulan sempurna atas Sulaiman, namun karena mereka tidak ditugaskan untuk pemerintahan jenis ini, mereka menahan diri darinya. Namun kedudukan ini setelah kemunculan Imam Zaman dan pada masa raj'ah (kebangkitan kembali) akan tampak bagi mereka.
"Anugerahkanlah Kepadaku Kerajaan yang Tidak Dimiliki oleh Siapa Pun Sesudahku"[1]
Sulaiman berdasarkan ayat 35 Surah Shad mengajukan permintaan khusus kepada Allah[2] agar menganugerahkannya sebuah kerajaan dan pemerintahan yang tidak layak bagi siapa pun setelahnya.[3] Muhammad Jawad Mughniyah seorang mufasir Syiah meyakini bahwa Sulaiman memohon sebuah pemerintahan kepada Allah yang disertai dengan hal-hal luar biasa seperti menundukkan angin dan jin serta tidak ada tandingannya dari segi kuantitas dan kualitas bahkan di masa depan sekalipun.[4]
Sulaiman menginginkan pemerintahan yang melampaui pemerintahan-pemerintahan biasa agar menjadi mukjizat[5] dan tanda atas kebenaran kenabiannya.[6] Sulaiman menginginkan pemerintahan yang berbeda dari pemerintahan-pemerintahan lain dan memiliki ciri-ciri yang tidak akan terulang dan tidak ada tandingannya dalam benak masyarakat.[7] Pemerintahan semacam itu merupakan bukti atas karunia Allah kepada Sulaiman.[8] Sayid Muhammad Taqi Mudarrisi seorang ulama dan mufasir Syiah meyakini bahwa permintaan Sulaiman untuk pemerintahan semacam itu bukan untuk kesenangan duniawi melainkan untuk menegakkan pemerintahan Allah di bumi, membantu orang-orang mukmin dan memberikan petunjuk kepada orang-orang yang tertindas menuju kebenaran.[9]
Bagian awal ayat "Ya Tuhanku, ampunilah aku" berkaitan dengan ayat sebelumnya (34 Shad)[10] di mana Sulaiman memohon ampunan dari peristiwa di mana sesosok tubuh diletakkan di atas singgasananya.[11] Sebagian mufasir yang menganggap ayat sebelumnya berkaitan dengan anak-anak Sulaiman, meyakini bahwa ia sebagai ganti dari anak-anak yang tidak dianugerahkan kepadanya, mengajukan permintaan khusus untuk dirinya sendiri kepada Allah.[12]
Dianggap sebagai bagian dari adab doa bahwa di akhir doa disebutkan Asmaul Husna dan yang terbaik dari nama-nama itu adalah "Wahhab; Maha Pemberi" di mana kebanyakan para nabi menggunakan nama ini dalam doa-doa mereka.[13] Di akhir ayat ini juga melalui lisan Sulaiman disebutkan ungkapan "إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ; Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi".[14]
Pengabulan Doa
Allah mengabulkan doa Sulaiman[15] dan ayat-ayat selanjutnya adalah tanda diterimanya doa Sulaiman.[16] Allah pada ayat-ayat selanjutnya menjelaskan bahwa Dia telah mengabulkan permintaan Sulaiman[17] dan menundukkan setan-setan[18] dan angin[19] di bawah kekuasaannya.
Templat:Quran jadid|Templat:Quran jadid
Motif Sulaiman dalam Berdoa
Para mufasir Syiah[20] dan Ahlusunah[21] telah memberikan berbagai jawaban terhadap keberatan ini bahwa permintaan Sulaiman berasal dari sifat bakhil dan hasad serta mengapa ia meminta kepada Allah agar tidak memberikan kerajaan seperti miliknya kepada siapa pun setelahnya. Sayid Murtadha seorang mutakalim (ahli kalam) Syiah meyakini bahwa para nabi tidak mengajukan suatu permintaan kecuali jika Allah telah memberi mereka izin untuk permintaan tersebut. Dan Allah juga mengetahui bahwa permintaan Sulaiman akan menjadi kebaikan baginya dan jika orang lain memiliki permintaan seperti itu, Allah tidak akan mengabulkannya karena hal itu tidak baik bagi mereka.[22] Syekh Thusi[23] dan Thabarsi[24] dari kalangan ulama dan mufasir Syiah juga meyakini bahwa Sulaiman dengan izin Allah mengajukan permintaan ini dan Allah mengetahui bahwa permintaan Sulaiman akan menjadi karunia baginya, berbeda dengan orang lain yang jika memiliki permintaan seperti itu akan membawa keburukan-keburukan (mafsadah) bagi mereka.
Terdapat pandangan lain dalam menolak sifat bakhil Sulaiman di mana Makarim Syirazi, seorang mufasir Syiah, menganggapnya "yang paling tepat dan logis di antara semuanya".[25] Berdasarkan pandangan ini, Sulaiman meminta kepada Allah sebuah pemerintahan yang disertai dengan mukjizat-mukjizat khusus agar pemerintahannya berbeda dari pemerintahan-pemerintahan lainnya, serupa dengan mukjizat-mukjizat khusus para nabi yang dikhususkan untuk masing-masing dari mereka. Sulaiman juga seperti para nabi lainnya meminta sebuah mukjizat dari Allah yang khusus baginya dan tidak diberikan kepada orang lain, di mana mukjizat ini mencakup penundukan angin dan jin.[26]
Pemerintahan Sulaiman dan Imam Zaman aj
Allah mengabulkan doa Sulaiman dan memberinya sebuah pemerintahan yang bahkan tidak akan terulang setelahnya.[27] Dalam membandingkan Pemerintahan Sulaiman dengan Pemerintahan Imam Zaman aj, Makarim Syirazi, seorang mufasir Syiah, meyakini bahwa pemerintahan Sulaiman memiliki ciri-ciri yang khusus baginya dan tidak akan ada pada pemerintahan lainnya, bahkan pemerintahan Imam Zaman sekalipun. Ciri-ciri ini dikarenakan pemerintahan Sulaiman adalah sebuah mukjizat darinya dan harus berbeda dari pemerintahan-pemerintahan lain.[28] Meskipun demikian, pemerintahan Imam Zaman meskipun tidak memiliki ciri-ciri pemerintahan Sulaiman, namun akan menjadi pemerintahan yang universal dan luas yang akan lebih luas dari pemerintahan-pemerintahan lain, termasuk pemerintahan Sulaiman.[29]
Tentu saja sebagian orang meyakini bahwa jika Nabi Akram saw dan Ahlulbait as menginginkannya, mereka pasti memiliki pemerintahan yang lebih unggul dari pemerintahan Sulaiman, namun karena mereka tidak ditugaskan untuk hal ini, mereka menahan diri; akan tetapi kedudukan ini setelah kemunculan Imam Zaman dan pada masa raj'ah akan tampak bagi mereka.[30] Sebagian riwayat juga menekankan bahwa apa yang dimiliki dan tidak dimiliki Sulaiman telah diberikan kepada Ahlulbait as.[31]
Catatan Kaki
- ↑ Surah Shad, ayat 35.
- ↑ Qurasyi, Tafsir Ahsan al-Hadits, 1377 HS, jld. 9, hlm. 229.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 19, hlm. 282.
- ↑ Mughniyah, Tafsir al-Kasyif, 1424 H, jld. 6, hlm. 379.
- ↑ Husaini Syah Abdul Azhimi, Tafsir Itsna 'Asyari, 1363 HS, jld. 11, hlm. 197.
- ↑ Thabarsi, Tafsir Jawami' al-Jami', 1377 HS, jld. 3, hlm. 437.
- ↑ Sayid Quthb, Fi Zhilal al-Qur'an, 1412 H, jld. 5, hlm. 3020.
- ↑ Husaini Syirazi, Tabyin al-Qur'an, 1423 H, hlm. 467.
- ↑ Mudarrisi, Min Huda al-Qur'an, 1419 H, jld. 11, hlm. 360.
- ↑ Qurasyi, Tafsir Ahsan al-Hadits, 1377 HS, jld. 9, hlm. 229.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an, 1417 H, jld. 17, hlm. 204.
- ↑ Mudarrisi, Min Huda al-Qur'an, 1419 H, jld. 11, hlm. 360.
- ↑ Mudarrisi, Min Huda al-Qur'an, 1419 H, jld. 11, hlm. 361.
- ↑ Surah Shad, ayat 35.
- ↑ Husaini Hamadani, Anwar-e Derakhsyan, 1404 H, jld. 14, hlm. 127.
- ↑ Mughniyah, Tafsir al-Kasyif, 1424 H, jld. 6, hlm. 379.
- ↑ Syekh Thusi, Al-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an, Beirut, jld. 8, hlm. 564.
- ↑ Surah Shad, ayat 37.
- ↑ Surah Shad, ayat 36.
- ↑ Fadhlullah, Tafsir Min Wahy al-Qur'an, 1429 H, jld. 19, hlm. 264.
- ↑ Fakhrurrazi, Mafatih al-Ghaib, 1420 H, jld. 26, hlm. 395- 396.
- ↑ Sayid Murtadha, Tanzih al-Anbiya' alaihimussalam, 1377 HS, hlm. 97.
- ↑ Syekh Thusi, Al-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an, Beirut, jld. 8, hlm. 563.
- ↑ Thabarsi, Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an, 1372 HS, jld. 8, hlm. 743.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 19, hlm. 282.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 19, hlm. 282.
- ↑ Mudarrisi, Min Huda al-Qur'an, 1419 H, jld. 11, hlm. 361.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 19, hlm. 283.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 19, hlm. 283.
- ↑ Thayyib, Athyab al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an, 1378 HS, jld. 11, hlm. 244.
- ↑ Bahrani, Al-Burhan fi Tafsir al-Qur'an, 1416 H, jld. 4, hlm. 655.
Daftar Pustaka
- Bahrani, Sayid Hasyim. Al-Burhan fi Tafsir al-Qur'an. Taheran, Bonyad-e Bi'tsat, cetakan pertama, 1416 H.
- Fadhlullah, Sayid Muhammad Husain. Tafsir Min Wahy al-Qur'an. Beirut, Penerbit Dar al-Malak li al-Thiba'ah wa al-Nasyr, cetakan kedua, 1419 H.
- Fakhrurrazi, Muhammad bin Umar. Mafatih al-Ghaib. Beirut, Penerbit Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, cetakan ketiga, 1420 H.
- Husaini Hamadani, Sayid Muhammad Husain. Anwar-e Derakhsyan. Penelitian: Muhammad Baqir Behbudi. Taheran, Toko Buku Luthfi, cetakan pertama, 1404 H.
- Husaini Syah Abdul Azhimi, Husain bin Ahmad. Tafsir Itsna 'Asyari (Tafsir Dua Belas). Taheran, Penerbit Miqat, cetakan pertama, 1363 H.
- Husaini Syirazi, Sayid Muhammad. Tabyin al-Qur'an. Beirut, Penerbit Dar al-'Ulum, cetakan kedua, 1423 H.
- Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir Nemuneh (Tafsir Teladan). Taheran, Penerbit Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan pertama, 1374 HS.
- Mudarrisi, Sayid Muhammad Taqi. Min Huda al-Qur'an. Taheran, Penerbit Dar Muhibbi al-Husain, cetakan pertama, 1419 H.
- Mughniyah, Muhammad Jawad. Tafsir al-Kasyif. Taheran, Penerbit Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan pertama, 1424 H.
- Qurasyi, Sayid Ali Akbar. Tafsir Ahsan al-Hadits. Taheran, Bonyad-e Bi'tsat, cetakan ketiga, 1377 HS.
- Sayid Murtadha, Ali bin Husain. Tanzih al-Anbiya' alaihimussalam. Qom, Penerbit Dar al-Syarif al-Radhi, cetakan pertama, 1377 HS.
- Sayid Quthb, Ibrahim Husain Syadzili. Fi Zhilal al-Qur'an. Beirut, Kairo, Penerbit Dar al-Syuruq, cetakan ketujuh belas, 1412 H.
- Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an. Dengan pengantar: Syekh Agha Buzurg Tehrani, penelitian: Ahmad Qashir Amili. Beirut, Penerbit Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, t.t.
- Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Pengantar: Muhammad Jawad Balaghi. Taheran, Penerbit Nashir Khusraw, cetakan ketiga, 1372 HS.
- Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Tafsir Jawami' al-Jami'. Taheran, Entisyarat-e Danesyghah-e Tehran, Mudiriyat-e Hauzeh Ilmiyah Qom, cetakan pertama, 1377 H.
- Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Qom, Daftar Entisyarat Eslami, cetakan kelima, 1417 H.
- Thayyib, Sayid Abdul Husain. Athyab al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Taheran, Penerbit Islam, cetakan kedua, 1378 HS.