Konsep:Ayat 29 Surah Al-Fath
Ayat 29 Surah Al-Fath menggambarkan Rasulullah saw dan para sahabatnya dengan lima sifat utama: tegas terhadap orang kafir, penyayang sesama, rajin beribadah, selalu mencari karunia dan keridhaan Allah, serta terpancar bekas sujud di wajah mereka.
Ayat ini juga menyatakan bahwa sifat-sifat tersebut telah disebutkan dalam Taurat dan Injil. Namun, beberapa peneliti berpendapat bahwa akibat perubahan pada kitab-kitab sebelumnya, sulit menemukan kesesuaian yang tepat dengan teks kitab suci yang ada sekarang. Itulah sebabnya, sebagian mufasir hanya menjelaskannya berdasarkan Al-Qur'an.
Para mufasir Ahlusunah menggunakan janji pengampunan dosa dalam ayat ini untuk mendukung doktrin keadilan semua sahabat. Di sisi lain, sebagian berpendapat bahwa generalisasi ini-tanpa mempertimbangkan syarat keberlanjutan iman dan amal saleh—bertentangan dengan prinsip Qur'an yang menekankan tanggung jawab individual.
Berdasarkan riwayat dari Syekh Thusi yang menyandarkannya kepada Rasulullah saw, teladan nyata dari bagian akhir ayat ini adalah Imam Ali as dan para pengikut setianya.
Pengenalan Ayat
Ayat 29 Surah Al-Fath menjelaskan karakteristik khusus Rasulullah saw dan para sahabatnya yang beriman,[1] yang sebelumnya telah dinubuatkan dalam Taurat dan Injil.[2] Ayat ini juga menggambarkan komunitas mukmin bagai tanaman yang subur, yang mengundang kemarahan orang-orang kafir. Menurut Sayyid Muhammad Husain Fadlullah, seorang mufasir kontemporer, ayat ini melukiskan komunitas iman yang anggotanya tumbuh bersama; dengan saling mendukung, mereka menjadi kekuatan besar secara kuantitas dan kualitas, sehingga memicu kemarahan kaum kafir.[3] Ayat diakhiri dengan janji ampunan dan pahala besar dari Allah, dengan syarat iman dan amal saleh. Sebagian mufasir tAhlusunah menggunakan ayat ini untuk membuktikan teori keadilan semua sahabat.
Karakteristik Rasulullah saw dan Para Sahabat
Ayat ini merinci lima sifat Rasulullah saw dan para sahabatnya: tegas pada kaum kafir, lembut pada sesama mukmin, tekun beribadah, mengharap karunia dan ridha Allah, serta memiliki ciri bekas sujud di wajah mereka.[4] Muhammad Husain Fadlullah berpendapat bahwa dengan menyebut Rasulullah saw sebagai utusan Allah, ayat ini menekankan kelanjutan risalah setelah wafatnya beliau melalui keteladanan pada sirahnya dan peran pengikutnya dalam melanjutkan dakwah.[5] Ketegasan pada kaum kafir bukanlah kekerasan, melainkan keteguhan mempertahankan nilai ilahi. Sementara, kasih sayang internal mencerminkan ikatan sosial yang dilandasi rahmat dan empati.[6]
Dalam Tafsir Nemuneh, frasa "tanda mereka terpancar di wajah mereka" ditafsirkan sebagai cahaya kekhusyukan yang tampak dalam kehidupan sehari-hari.[7] Ada juga tafsir yang menyatakan bahwa itu adalah cahaya yang akan bersinar dari tempat sujud mereka di Hari Kiamat.[8] Ath-Thabarsi mengutip 'Atha' al-Khurasani yang menyatakan bahwa sifat ini berlaku bagi setiap muslim yang konsisten menunaikan shalat lima waktu.[9]
Kalimat "Engkau lihat mereka rukuk dan sujud, mengharap karunia dan keridhaan Allah" umumnya ditafsirkan sebagai gambaran atas keseringan mereka shalat dan ketekunannya dalam beribadah.[10]
Ciri-Ciri dalam Taurat dan Injil
Terkait pernyataan Al-Qur'an bahwa sifat-sifat Rasulullah saw dan para sahabatnya telah disebutkan dalam kitab-kitab sebelumnya, para mufasir memiliki pandangan yang berbeda. Sebagian berpendapat bahwa Taurat dan Injil masing-masing menyebutkan sifat-sifat ini secara terpisah,[11] sementara yang lain meyakini bahwa kedua kitab tersebut sama-sama memuat deskripsi ini.[12] Makarim Syirazi, misalnya, membedakan penekanan kedua kitab tersebut: Taurat lebih fokus pada aspek fisik dan spiritual, sedangkan Injil menonjolkan dinamika pertumbuhan mereka dalam berbagai aspek.[13]
Namun, fakta menunjukkan bahwa sifat-sifat ini tidak ditemukan secara eksplisit dalam teks Taurat dan Injil yang ada saat ini.[14] Kondisi ini membuat mufasir seperti Allamah Thabathaba'i dan Makarim Syirazi hanya berpedoman pada sumber-sumber Qur'ani dalam menafsirkan ayat ini.[15] Menurut para peneliti, perubahan yang terjadi pada teks-teks kitab suci sebelumnya selama berabad-abad menyebabkan sulitnya mencocokkan ciri-ciri ini dengan kandungan Taurat dan Injil masa kini.[16]
Apakah Semua Sahabat Tercover Ayat Ini?
Mufasir Syiah berpendapat bahwa ayat ini tidak berlaku umum untuk semua sahabat Nabi saw,[17] tetapi hanya mencakup kelompok mukmin sejati yang konsisten mengikuti Nabi dalam pikiran dan perbuatan.[18] Memperluas cakupan ayat kepada semua sahabat—termasuk kaum munafik—dianggap bertentangan dengan prinsip agama, karena janji ampunan dan pahala besar harus disertai dengan syarat iman dan amal saleh.[19]
Sebaliknya, mufasir Ahlusunah memahami ayat ini mencakup semua sahabat[20] dan menjadikannya dasar untuk doktrin keadilan semua sahabat.[21]
Sebuah riwayat dari Syekh Thusi menyatakan bahwa bagian akhir ayat ini merujuk kepada Imam Ali as dan pengikut setianya. Dalam riwayat itu, Imam Ali as digambarkan bangkit di Hari Kiamat dengan bendera cahaya putih, dikelilingi para pemuka Muhajirin dan Anshar. Beliau bertugas menimbang amal dan menempatkan orang beriman di surga.[22]
Catatan Kaki
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jil.22, hlm.113 dan 114.
- ↑ ‘Allamah Thabathaba’i, Al-Mizan, 1390 H, jil.18, hlm.299.
- ↑ Fadlullah, Min Wahy al-Qur'an, 1419 H, jil.21, hlm.129.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jil.22, hlm.113 dan 114.
- ↑ Fadlullah, Min Wahy al-Qur'an, 1419 H, jil.21, hlm.127.
- ↑ Fadlullah, Min Wahy al-Qur'an, 1419 H, jil.21, hlm.128.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jil.22, hlm.115.
- ↑ Thabrisi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jil.9, hlm.192.
- ↑ Thabrisi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jil.9, hlm.192.
- ↑ Siwasi, ‘Uyun al-Tafasir, 1427 H, jil.4, hlm.131; Thabrisi, Tafsir Jawami' al-Jami', 1412 H, jil.4, hlm.147; Thabrisi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jil.9, hlm.192.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jil.22, hlm.115-116; Thabari, Jami' al-Bayan, 1412 H, jil.26, hlm.72.
- ↑ Fadlullah, Min Wahy al-Qur'an, 1419 H, jil.21, hlm.129; Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jil.18, hlm.300.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jil.22, hlm.117.
- ↑ Purmuhammad, «Rasulullah saw dalam Perjanjian Lama dan Baru», hlm.90; «Nabi Islam dalam Taurat dan Injil», Lembaga Penelitian dan Penerbitan Ma'arif Ahlul Bait.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, jil.22, hlm.115-124; Thabathaba'i, Al-Mizan, jil.18, hlm.299-303.
- ↑ Purmuhammad, «Rasulullah saw dalam Perjanjian Lama dan Baru», hlm.90.
- ↑ Fadlullah, Min Wahy al-Qur'an, 1419 H, jil.21, hlm.130.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jil.22, hlm.116.
- ↑ Fadlullah, Min Wahy al-Qur'an, 1419 H, jil.21, hlm.130.
- ↑ Thanthawi, Al-Tafsir al-Wasith, 1997 M, jil.13, hlm.286; Ibn al-Jazari, Al-Tashil, jil.2, hlm.292.
- ↑ Nikzad, «Keadilan Sahabat dalam Tinjauan Kritis», hlm.25-26.
- ↑ Syekh al-Thusi, Al-Amali, 1414 H, hlm.378.
Daftar Pustaka
- Ibnu al-Jazari, Muhammad ibn Ahmad, Al-Tashil li 'Ulum al-Tanzil, Muhaqqiq, 'Abdullah al-Khalidi, Beirut, Dar al-Arqam ibn Abi al-Arqam, tanpa tahun.
- Purmuhammad, Muhsin, Payambar-e Akram (sh) dar 'Ahdain, Majallah Ma'rifat, no. 25, Tabistan 1377 HS.
- Siwasi, Ahmad ibn Mahmud, 'Uyun al-Tafasir, Muhaqqiq: Baha' al-Din Dartma, Beirut, Dar Shadir, cetakan pertama, 1427 Q.
- Shah 'Abd al-'Aẓimi, Husain, Tafsir Itsna 'Asyari, Tehran, Nashr Miqat, cetakan pertama, 1363 HS.
- Syekh al-Thusi, Muhammad ibn Hasan, Al-Amali, Tashhih: Mu`assasah al-Bi'tsah, Qum, Dar al-Tsaqafah, cetakan pertama, 1414 Q.
- Thabathaba'i, Sayyid Muhammad Husain, Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an, Beirut, Mu`assasah al-A'lami lil-Mathbu'at, cetakan ke-2, 1390 Q.
- Thabrisi, Fadhl ibn Hasan, Tafsir Jawami' al-Jami', Tashhih: Abu al-Qasim Gurgi, Qum, Markaz Mudiriyat Hawzah 'Ilmiyah Qum, cetakan pertama, 1412 Q.
- Thabrisi, Fadhl ibn Hasan, Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an, Tashhih: Fadhl Allah Yazdi Thabathaba'i, Hasyim Rasuli, Tehran, Nashir Khusraw, cetakan ke-3, 1372 HS.
- Thabari, Muhammad ibn Jarir, Jami' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an, Beirut, Dar al-Ma'rifah, cetakan pertama, 1412 Q.
- Thanthawi, Sayid Muhammad, Al-Tafsir al-Wasith lil-Qur'an al-Karim, al-Qahirah, 1997 M.
- Fadhlullah, Muhammad Husain, Min Wahy al-Qur'an, Beirut, Dar al-Malak, cetakan pertama, 1419 Q.
- Makarim Syirazi, Nashir, Tafsir Numunah, Tehran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan ke-10, 1371 HS.
- Nikzad, «'Adalat al-Shahabah fi Mizan al-Tahqiq», Majallah Rawaq Andisyeh, no. 28, Farwardin 1383 HS.
- Payambar-e Islam dar Taurat wa Injil, «Payambar-e Islam dar Taurat wa Injil», Mu`assasah-ye Tahqiqati wa Nashr-e Ma'arif-e Ahl al-Bayt as.