Lompat ke isi

Konsep:Ayat 27 Surah An-Nur

Dari wikishia
Ayat 27 Surah An-Nur
Informasi Ayat
NamaAyat 27 Surah An-Nur
SurahAn-Nur
Ayat27
Juz18
Informasi Konten
Sebab
Turun
Ada


Ayat 27 Surah An-Nur mengisyaratkan pada pentingnya menghormati privasi orang lain dan menganjurkan orang-orang mukmin agar meminta izin sebelum memasuki rumah orang lain, dan masuk dengan Salam dan penghormatan.[1]

Templat:Qur'an Baru Templat:Qur'an Baru

Kata "tasta'nisu" dalam ayat tersebut dimaknai sebagai izin yang disertai dengan kasih sayang, keakraban, dan kejujuran.[2] Menurut Makarem Syirazi, seorang penafsir, kata ini menunjukkan perlunya adab dan persahabatan pada saat meminta izin untuk memasuki rumah.[3]

Memasuki rumah orang lain tanpa izin dan secara tiba-tiba adalah salah satu tradisi Jahiliah,[4] yang mana turunnya ayat ini disebabkan oleh pengaduan seorang perempuan dari kaum Ansar kepada Nabi (saw) karena ayah atau anaknya memasuki ranah privasinya.[5] Turunnya ayat ini menjadi penyebab ketenangan dan hilangnya kekhawatiran kaum Muslimin.[6] Dalam tafsir Thabarsi, terdapat beberapa riwayat dari Nabi (saw) yang menyatakan bahwa seseorang dengan mengucapkan Tasbih, hamd, dan Takbir dapat menarik perhatian penghuni rumah akan kehadirannya.[7] Demikian juga dianjurkan bahwa bahkan untuk memasuki rumah ibu juga harus meminta izin agar tidak terlihat dalam keadaan yang tidak pantas.[8]

Dalam tafsir Thabarsi, dinukil sebuah riwayat dari Nabi (saw) bahwa ucapkanlah salam sebelum memasuki rumah orang lain.[9] Menurut Qara'ati dalam Tafsir Nur, berdasarkan riwayat-riwayat, meminta izin untuk memasuki rumah orang lain harus dilakukan sebanyak tiga kali agar penghuni rumah memiliki kesempatan untuk bersiap-siap, tentu saja dalam kondisi darurat seperti kebakaran, meminta izin tidak diperlukan.[10]

Catatan Kaki

  1. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 14, hlm. 427.
  2. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 14, hlm. 427.
  3. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 14, hlm. 427.
  4. Quthb, Fi Zhilal Al-Qur'an, 1425 H, jld. 4, hlm. 2507.
  5. Haqqi Burusuwi, Tafsir Ruh Al-Bayan, Beirut, jld. 6, hlm. 137.
  6. Quthb, Fi Zhilal Al-Qur'an, 1425 H, jld. 4, hlm. 2507.
  7. Thabarsi, Majma' Al-Bayan, 1431 H, jld. 7, hlm. 213.
  8. Thabarsi, Majma' Al-Bayan, 1431 H, jld. 7, hlm. 213.
  9. Thabarsi, Majma' Al-Bayan, 1431 H, jld. 7, hlm. 213.
  10. Qara'ati, Tafsir Nur, 1388 HS, jld. 6, hlm. 168.

Daftar Pustaka

  • Haqqi Burusuwi, Ismail bin Musthafa. Tafsir Ruh Al-Bayan. Beirut, Dar Al-Fikr, cetakan pertama, tanpa tahun.
  • Makarem Syirazi, Nashir. Tafsir Nemuneh. Tehran, Dar Al-Kutub Al-Islamiyah, cetakan kesepuluh, 1371 HS.
  • Qara'ati, Muhsin. Tafsir Nur. Tehran, Markaz Farhangi Darsha-yi Az Qur'an, cetakan pertama, 1388 HS.
  • Quthb, Sayyid Ibrahim Husain Syadzili. Fi Zhilal Al-Qur'an. Beirut, Dar Asy-Syuruq, cetakan ketiga puluh lima, 1425 H.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' Al-Bayan fi Tafsir Al-Qur'an. Beirut, Dar Al-'Ulum, 1426 H.

Templat:Ayat-ayat Akhlak Al-Qur'an