Lompat ke isi

Konsep:Ayat 26 Surah Maryam

Dari wikishia
Ayat 26 Surah Maryam
Berkas:26 مریم.png
Informasi Ayat
Juz16
Informasi Konten
DeskripsiMemberikan ketenangan dan harapan kepada Sayyidah Maryam (sa)


Ayat 26 Surah Maryam adalah firman yang ditujukan kepada Sayyidah Maryam (sa)[1] agar ia memakan kurma, meminum air, dan bersuka cita atas anak yang telah dikaruniakan Tuhan kepadanya.[2] Dan di hadapan orang lain ia melakukan Puasa Diam.[3] Seruan ini terjadi pada saat Maryam menghadapi banyak masalah dan bahkan mengharapkan kematian. Maryam diminta untuk bergembira, melepaskan kesedihan[4] dan hidup di bawah naungan inayah Tuhan.[5] Ia berada di hadirat Tuhan dan dalam pengawasan-Nya, dan Tuhan akan menjaganya.[6]

Templat:Qur'an BaruTemplat:SukhTemplat:Qur'an Baru

Kepada Maryam dikatakan agar memakan kurma dan meminum dari air yang telah dialirkan untuknya.[7] Ungkapan "wa qarri 'aina; dan sejukkanlah mata"[8] dimaknai demikian bahwa ia hendaknya bersuka cita atas anak yang telah dikaruniakan Tuhan kepadanya.[9] Hendaknya ia tidak menyibukkan pikirannya tentang bagaimana kisah Isa (as) yang baru lahir nantinya.[10] Perkataan dan tuduhan orang lain seputar anaknya tidak akan menjadi masalah baginya dan hendaknya ia yakin kepada Tuhan.[11]

Maryam diminta untuk tenang dari segala aspek dan menjauhkan kesedihan serta duka dari dirinya, ia tidak perlu memikirkan untuk membela diri dari perkataan orang lain melainkan pembelaan terhadapnya adalah tanggung jawab Zat yang telah mengaruniakan anak ini kepadanya.[12] Sebagian mufasir meyakini bahwa dari ayat-ayat Al-Qur'an dipahami bahwa Maryam karena suatu maslahat diperintahkan untuk diam agar bayinya, Isa (as), yang berbicara, membela kesuciannya, dan hal ini lebih efektif dan memikat.[13]

Dari ungkapan "fa lan ukallima al-yauma insiyya; maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini"[14] dan konteks ayat-ayat lainnya diperoleh kesimpulan bahwa maksudnya adalah Puasa Diam Maryam.[15] Maryam diminta untuk mengatakan kepada orang-orang bahwa ia sedang melakukan puasa diam dan tidak dapat berbicara. Maksud dari "mengatakan" adalah memahamkan dengan isyarat.[16] Bukannya dengan berbicara langsung; karena berbicara itu sendiri akan membatalkan puasanya.[17] Puasa diam merupakan hal yang dikenal di kalangan audiens Maryam dan mereka tidak mengkritik Maryam karena melakukan puasa diam.[18] Jenis puasa ini dilarang dalam Syariat Islam.[19]

Catatan Kaki

  1. Ja'fari, Kautsar, 1376 HS, jld. 6, hlm. 510.
  2. Qara'ati, Tafsir Nur, 1383 HS, jld. 7, hlm. 259.
  3. Qurasyi, Tafsir Ahsan Al-Hadits, 1377 HS, jld. 6, hlm. 317.
  4. Thabathaba'i, Al-Mizan fi Tafsir Al-Qur'an, 1417 H, jld. 14, hlm. 44.
  5. Fadhlullah, Tafsir Min Wahy Al-Qur'an, 1419 H, jld. 15, hlm. 37.
  6. Fadhlullah, Tafsir Min Wahy Al-Qur'an, 1419 H, jld. 15, hlm. 37.
  7. Qara'ati, Tafsir Nur, 1383 HS, jld. 7, hlm. 259.
  8. Surah Maryam, ayat 26.
  9. Mughniyah, Tafsir Al-Kasyif, 1424 H, jld. 5, hlm. 177.
  10. Mudarrisi, Min Huda Al-Qur'an, 1419 H, jld. 7, hlm. 34.
  11. Fadhlullah, Tafsir Min Wahy Al-Qur'an, 1419 H, jld. 15, hlm. 37.
  12. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 13, hlm. 43.
  13. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 13, hlm. 45.
  14. Surah Maryam, ayat 26.
  15. Thabathaba'i, Al-Mizan fi Tafsir Al-Qur'an, 1417 H, jld. 14, hlm. 44.
  16. Qurasyi, Tafsir Ahsan Al-Hadits, 1377 HS, jld. 6, hlm. 317.
  17. Mudarrisi, Min Huda Al-Qur'an, 1419 H, jld. 7, hlm. 35.
  18. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 13, hlm. 45.
  19. Mudarrisi, Min Huda Al-Qur'an, 1419 H, jld. 7, hlm. 35.

Daftar Pustaka

  • Fadhlullah, Sayyid Muhammad Husain. Tafsir Min Wahy Al-Qur'an. Beirut, Dar Al-Malak, cetakan kedua, 1419 H.
  • Ja'fari, Ya'qub. Kautsar. Qom, Hijrat, cetakan pertama, 1376 HS.
  • Makarem Syirazi, Nashir. Tafsir Nemuneh. Tehran, Dar Al-Kutub Al-Islamiyah, cetakan pertama, 1374 HS.
  • Mudarrisi, Sayyid Muhammad Taqi. Min Huda Al-Qur'an. Tehran, Dar Muhibbi Al-Husain, cetakan pertama, 1419 H.
  • Mughniyah, Muhammad Jawad. Tafsir Al-Kasyif. Tehran, Dar Al-Kutub Al-Islamiyah, cetakan pertama, 1424 H.
  • Qara'ati, Muhsin. Tafsir Nur. Tehran, Markaz Farhangi Darsha-yi Az Qur'an, cetakan kesebelas, 1383 HS.
  • Qurasyi, Sayyid Ali Akbar. Tafsir Ahsan Al-Hadits. Tehran, Bunyad Be'tsat, cetakan ketiga, 1377 HS.
  • Thabathaba'i, Sayyid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir Al-Qur'an. Qom, Daftar Intisyarat Islami, cetakan kelima, 1417 H.