Konsep:Ayat 22 Surah As-Sajdah
Templat:Kotak info AyatAyat 22 Surah As-Sajdah membahas tentang penyebab azab Ilahi dan menyatakan bahwa kaum kafir tidak memedulikan ayat-ayat Allah sehingga menjadikan diri mereka layak menerima azab. Allamah Thabathaba'i menganggap ayat ini sebagai kelanjutan dari ayat-ayat sebelumnya yang berbicara mengenai azab.[1] Mohsen Qara'ati juga meyakini bahwa ayat ini merupakan titik lawan dari ayat 15 surah yang sama, di mana ayat tersebut mengacu pada penyerahan diri kaum mukminin, sedangkan di sini mengacu pada berpalingnya kaum kafir dari ayat-ayat Ilahi.[2]
Templat:Quran baruTemplat:SakhTemplat:Quran baru
Beberapa mufasir berpendapat bahwa peringatan Ilahi kepada kaum kafir dapat dilakukan baik melalui ayat-ayat tasyri'i (bimbingan para nabi) maupun melalui ayat-ayat takwini (kesulitan hidup dan juga alam semesta sebagai tanda keberadaan Tuhan);[3] namun Banoo Amin, seorang mujtahidah dan mufasir Syiah, berkeyakinan bahwa apa yang diisyaratkan dalam ayat 22 Surah As-Sajdah berkaitan dengan ayat-ayat tasyri'i.[4]
Akibat Ketidakpedulian terhadap Ayat-Ayat Ilahi
Menurut Mohammad Ali Reza'i Isfahani, seorang ulama dan peneliti Al-Qur'an Syiah, ayat 22 Surah As-Sajdah tertuju pada orang-orang yang sarana penyadaran Ilahi tidak berpengaruh pada mereka dan mereka bersikap tidak peduli terhadap peringatan-peringatan Allah.[5] Akibatnya, melalui tindakan berpaling ini, mereka telah melakukan kezaliman terburuk terhadap diri mereka sendiri.[6] Mohsen Qara'ati, dengan memperhatikan konsep ayat tersebut, menganggap ketidakpedulian para pendosa terhadap peringatan Ilahi lebih buruk daripada dosa mereka sendiri.[7] Mohammad Javad Najafi Khomeini, salah satu mufasir Syiah, dalam Tafsir Asan menyatakan bahwa orang yang berpaling dari peringatan bermanfaat orang lain adalah orang yang zalim, dan orang yang berpaling dari peringatan Ilahi adalah orang yang paling zalim; karena ia telah mengabaikan keagungan Ilahi dan membuat dirinya layak masuk Neraka Jahanam.[8] Nasir Makarem Syirazi, fakih dan mufasir Syiah, menganggap maksud dari "al-mujrumin" (para pendosa) dalam ayat ini adalah para pengingkar asal-usul penciptaan atau hari kebangkitan dan para pendosa yang tidak beriman.[9]
Makna dan Waktu Pembalasan Tuhan
Konsep intiqam (pembalasan/balas dendam) dalam penggunaan urf membawa semacam bentuk pelampiasan rasa sakit hati; namun para mufasir berkeyakinan bahwa makna intiqam dalam hal Tuhan kembali pada makna leksikalnya yaitu menghukum,[10] dan Allah melakukan hukuman-Nya berdasarkan hikmah, bukan karena ingin memuaskan perasaan.[11] Beberapa mufasir, dengan memperhatikan ungkapan "tsumma" dalam ayat 22 Surah As-Sajdah yang biasanya digunakan untuk menyatakan jarak waktu, menjelaskan poin bahwa Allah memberikan kesempatan yang cukup kepada para pendosa untuk belajar dan meneliti, dan penentangan awal mereka tidak akan pernah menyebabkan pembalasan Ilahi. Akibatnya, jika hujah telah sempurna atas mereka dan kesempatan mereka telah berakhir, pada akhirnya mereka akan terjerat oleh pembalasan Ilahi.[12]
Penanganan Kejahatan oleh Pemerintah
Beberapa pihak dengan bersandar pada ayat 22 Surah As-Sajdah, menganggap penanganan kejahatan sebagai tugas pemerintah dan berargumen pada hal-hal seperti kata "inna" (sesungguhnya Kami); karena menurut mereka "inna" berbentuk jamak dan menunjukkan bahwa pembalasan Allah dilakukan melalui perantara yaitu penguasa dan pemerintah Ilahi.[13] Mereka berkeyakinan bahwa menurut ayat tersebut, hukum pertama-tama harus disampaikan secara lengkap, dan sebelum itu hukuman tidak memiliki makna.[14]

Implementasi Politik Ayat
Bagian kedua dari ayat 22 Surah As-Sajdah yang menekankan pada pembalasan Ilahi terhadap para pendosa, telah banyak digunakan sebagai reaksi atas pembunuhan tokoh-tokoh berpengaruh di Republik Islam Iran, baik dalam pernyataan, karya grafis, maupun pesan-pesan lembaga dan otoritas politik, di antaranya adalah:
- Bagian awal teks pengumuman Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengenai Operasi Janji Setia 1;[16]
- Bagian awal pernyataan dewan pimpinan Majelis Para Ahli Kepemimpinan menyusul gugurnya Qasem Soleimani;[17]
- Bagian awal pernyataan Pangkalan Pertahanan Udara Khatam al-Anbiya saw dalam mendukung serangan rudal IRGC terhadap posisi ISIS di Suriah;[18]
- Bagian dari mural Alun-Alun Palestina di Teheran, pada hari pertama Operasi Badai Al-Aqsa dengan judul "Awal Operasi Besar Pembebasan".[19]
Catatan Kaki
- ↑ Allamah Thabathaba'i, Tafsir al-Mizan, 1417 H, jld. 16, hlm. 264.
- ↑ Qara'ati, Tafsir Nur, 1383 HS, jld. 7, hlm. 316.
- ↑ Amin, Tafsir Makhzan al-Irfan dar Ulum-e Quran, 1361 HS, jld. 10, hlm. 182; Mughniyah, Tafsir al-Kasyif, 1386 HS, jld. 6, hlm. 307.
- ↑ Amin, Tafsir Makhzan al-Irfan dar Ulum-e Quran, 1361 HS, jld. 10, hlm. 182.
- ↑ Reza'i Isfahani, Tafsir-e Quran-e Mehr, 1387 HS, jld. 16, hlm. 289.
- ↑ Reza'i Isfahani, Tafsir-e Quran-e Mehr, 1387 HS, jld. 16, hlm. 289.
- ↑ Qara'ati, Tafsir Nur, 1383 HS, jld. 7, hlm. 316.
- ↑ Najafi Khomeini, Tafsir Asan, 1398 H, hlm. 49.
- ↑ Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 17, hlm. 160.
- ↑ Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 17, hlm. 160; Reza'i Isfahani, Tafsir-e Quran-e Mehr, 1387 HS, jld. 16, hlm. 289; Najafi Khomeini, Tafsir Asan, 1398 H, hlm. 49.
- ↑ Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 17, hlm. 160.
- ↑ Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 17, hlm. 160; Reza'i Isfahani, Tafsir-e Quran-e Mehr, 1387 HS, jld. 16, hlm. 289.
- ↑ Dars-e Tafsir-e Ostad Alamolhoda, Situs Madrasah Feqahat.
- ↑ Dars-e Tafsir-e Ostad Alamolhoda, Situs Madrasah Feqahat.
- ↑ Situs Asr-e Entezar.
- ↑ "Wa'deh-ye Sadeq-e Rahbar-e Mo'azzam-e Enqelab-e Eslami Mohaqqaq Syod", Situs Berita Mashregh.
- ↑ Biyaniye-ye Mohem-e Hey'at-e Ra'iseh-ye Majles-e Khobregan-e Rahbari, Situs Berita Mehr.
- ↑ Biyaniye-ye Qarargah-e Padafand-e Hava'i dar Hemayat az Hamleh-ye Musyaki-ye Sepah, Situs Berita Mehr.
- ↑ Hamaseh-ye Hamas dar Honar, Situs Berita Mashregh.
Daftar Pustaka
- Amin, Nusrat Begum. Tafsir Makhzan al-Irfan dar Ulum-e Quran. Teheran: Nahzat-e Zanan-e Mosalman, 1361 HS.
- Allamah Thabathaba'i, Sayyid Muhammad Husain. Tafsir al-Mizan. Cetakan Kelima. Qom: Maktabah al-Nasyr al-Islami, 1417 H.
- Najafi Khomeini, Mohammad Javad. Tafsir Asan. Teheran: Penerbit Islamiyah, Cetakan Pertama, 1398 H.
- Qara'ati, Mohsen. Tafsir Nur. Teheran: Markaz-e Farhangi Dars-ha-ye az Quran, Cet. 11, 1383 HS.
- Makarem Syirazi, Nasir. Tafsir Nemuneh. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, Cet. 1, 1374 HS.
- Reza'i Isfahani, Mohammad Ali. Tafsir-e Quran-e Mehr. Qom: Pajuhuhesh-ha-ye Tafsir wa Ulum-e Quran, 1387 HS.
- Mughniyah, Mohammad Javad. Tafsir al-Kasyif. Qom: Bustan-e Ketab, 1386 HS.
- "Biyaniye-ye Qarargah-e Padafand-e Hava'i dar Hemayat az Hamleh-ye Musyaki-ye Sepah", Situs Berita Mehr, Tanggal Posting: 30 Khordad 1396 HS, Tanggal Akses: 2 Khordad 1403 HS.
- "Biyaniye-ye Mohem-e Hey'at-e Ra'iseh-ye Majles-e Khobregan-e Rahbari", Situs Mashregh, Tanggal Posting: 16 Dey 1398 HS, Tanggal Akses: 2 Khordad 1403 HS.
- "Dars-e Tafsir-e Ostad Alamolhoda", Situs Madrasah Feqahat, Tanggal Posting: 90 Ordibehesht 1401 HS, Tanggal Akses: 2 Khordad 1403 HS.
- "Hamaseh-ye Hamas dar Honar", Situs Berita Mashregh, Tanggal Posting: 24 Mehr 1402 HS, Tanggal Akses: 2 Khordad 1403 HS.
- "Qalibaf: INNA MINAL MUJRIMINA MUNTAQIMUN", Situs Berita Mashregh, Tanggal Posting: 7 Azar 1399 HS, Tanggal Akses: 2 Khordad 1403 HS.
- "Wa'deh-ye Sadeq-e Rahbar-e Mo'azzam-e Enqelab-e Eslami Mohaqqaq Syod", Situs Berita Mashregh, Tanggal Posting: 26 Farvardin 1403 HS, Tanggal Akses: 2 Khordad 1403 HS.