Konsep:Ayat 17 Surah Maryam
| Informasi Ayat | |
|---|---|
| Juz | 16 |
| Informasi Konten | |
| Tentang | Turunnya malaikat Tuhan kepada Sayyidah Maryam (sa) |
Ayat 17 Surah Maryam mengisyaratkan pada turunnya malaikat Tuhan dalam wujud manusia yang sempurna kepada Sayyidah Maryam (sa).[1]
Templat:Qur'an BaruTemplat:SukhTemplat:Qur'an Baru
Maryam mengasingkan diri di tempat yang terletak di sebelah timur[2] dan meletakkan tabir antara dirinya dan orang lain.[3] Al-Qur'an tidak memberikan penjelasan mengenai di mana tempat di sebelah timur ini[4] dan juga apa maksud dari tabir yang diletakkan Maryam antara dirinya dan orang lain[5] dan mengapa ia meletakkan tabir tersebut.[6] Meskipun demikian, sebagian penafsir menganggap maksud dari tempat di sebelah timur adalah bagian timur Masjidilaqsa.[7] Maksud dari tabir pada ayat 17 Surah Maryam dianggap sebagai tirai yang memisahkannya dari orang lain.[8]
Mengenai mengapa Maryam memisahkan dirinya dari orang lain, dua pandangan telah dikemukakan:
Pandangan pertama: Maryam mengasingkan diri dari orang lain untuk melakukan ibadah[9] agar tempat khalwatnya sempurna dari segala aspek.[10] Muhammad Taqi Mudarrisi, seorang penafsir Syiah, berdasarkan ayat ini memberikan kemungkinan bahwa salat perempuan di rumah lebih baik daripada di tempat-tempat lain.[11]
Pandangan kedua: Sebagian orang menukil bahwa Maryam mengasingkan diri dari orang lain untuk melakukan mandi.[12] Allamah Thabathaba'i menganggap perkataan ini tidak memiliki dalil.[13]
Di tempat khalwat Maryam, sesosok malaikat menampakkan diri kepadanya yang dalam Surah Ali 'Imran disebut dengan ungkapan para malaikat[14] dan dalam Surah Maryam disebut dengan ungkapan "Ruhana; ruh Kami".[15] Para penafsir berselisih pendapat mengenai siapa yang dimaksud dari ungkapan ini; meskipun demikian, kebanyakan penafsir menganggapnya sebagai Jibril.[16] Tuhan menyebut Jibril sebagai ruh-Nya untuk memuliakannya.[17]
Di akhir ayat 17 Surah Maryam disebutkan bahwa malaikat menampakkan diri dalam wujud manusia yang telah ditetapkan Tuhan untuknya.[18] Sebagian penafsir meyakini bahwa malaikat tidak benar-benar berubah menjadi manusia, melainkan Tuhan melakukan campur tangan pada diri seseorang agar ia melihat malaikat dalam wujud manusia.[19] Allamah Thabathaba'i meyakini bahwa malaikat bukanlah manusia dan makna dari wujud manusia malaikat adalah bahwa ia terlihat dalam wujud manusia dalam pandangan orang-orang tanpa benar-benar berada dalam wadah manusia.[20]
Penampakan malaikat kepada Maryam menyebabkan ketakutannya[21] dan ia berkata: "Aku berlindung kepada Tuhan Yang Maha Pengasih dari kejahatanmu."[22] Malaikat menyebut dirinya sebagai utusan Tuhan[23] dan menyampaikan kabar gembira dari Tuhan kepadanya[24] bahwa seorang anak akan lahir darinya.[25]
Catatan Kaki
- ↑ Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 13, hlm. 34.
- ↑ Surah Maryam, ayat 16.
- ↑ Surah Maryam, ayat 17.
- ↑ Mughniyah, Tafsir Al-Kasyif, 1424 H, jld. 5, hlm. 175.
- ↑ Mughniyah, Tafsir Al-Kasyif, 1424 H, jld. 5, hlm. 175.
- ↑ Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 13, hlm. 33.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1417 H, jld. 14, hlm. 34.
- ↑ Abu Al-Futuh Razi, Raudh Al-Jinan, 1408 H, jld. 13, hlm. 65.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1417 H, jld. 14, hlm. 35.
- ↑ Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 13, hlm. 33.
- ↑ Mudarrisi, Min Huda Al-Qur'an, 1419 H, jld. 7, hlm. 25.
- ↑ Husaini Syirazi, Tabyin Al-Qur'an, 1423 H, hlm. 318.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1417 H, jld. 14, hlm. 35.
- ↑ Surah Ali 'Imran, ayat 45.
- ↑ Surah Maryam, ayat 17.
- ↑ Fakhrurrazi, Mafatih Al-Ghaib, 1420 H, jld. 21, hlm. 520.
- ↑ Thabarsi, Majma' Al-Bayan, 1372 HS, jld. 6, hlm. 783.
- ↑ Mudarrisi, Min Huda Al-Qur'an, 1419 H, jld. 7, hlm. 25.
- ↑ Kautsar, jld. 6, hlm. 506.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1417 H, jld. 14, hlm. 35.
- ↑ Zuhaili, Tafsir Al-Wasith, 1422 H, jld. 2, hlm. 1468.
- ↑ Najafi Khomeini, Tafsir Asan, 1398 H, jld. 2, hlm. 315.
- ↑ Surah Maryam, ayat 19.
- ↑ Surah Ali 'Imran, ayat 45.
- ↑ Husaini Hamadani, Anwar Derakhsyan, 1404 H, jld. 3, hlm. 78.
Daftar Pustaka
- Abu Al-Futuh Razi, Husain bin Ali. Raudh Al-Jinan wa Ruh Al-Jinan fi Tafsir Al-Qur'an. Penelitian: Muhammad Ja'far Yahaqqi, Dr. Muhammad Mahdi Nasihi. Masyhad, Bunyad-e Pazhuhesy-ha-ye Islami-e Astan-e Quds-e Ridhawi, 1408 H.
- Fakhrurrazi, Muhammad bin Umar. Mafatih Al-Ghaib. Beirut, Dar Ihya' At-Turats Al-'Arabi, cetakan ketiga, 1420 H.
- Husaini Hamadani, Sayyid Muhammad Husain. Anwar Derakhsyan. Penelitian: Muhammad Baqir Behbudi. Tehran, Ketabfurushy Luthfi, cetakan pertama, 1404 H.
- Husaini Syirazi, Sayyid Muhammad. Tabyin Al-Qur'an. Beirut, Dar Al-'Ulum, cetakan kedua, 1423 H.
- Makarem Syirazi, Nashir. Tafsir Nemuneh. Tehran, Dar Al-Kutub Al-Islamiyah, cetakan pertama, 1374 HS.
- Mudarrisi, Sayyid Muhammad Taqi. Min Huda Al-Qur'an. Tehran, Dar Muhibbi Al-Husain, cetakan pertama, 1419 H.
- Mughniyah, Muhammad Jawad. Tafsir Al-Kasyif. Tehran, Dar Al-Kutub Al-Islamiyah, cetakan pertama, 1424 H.
- Najafi Khomeini, Muhammad Jawad. Tafsir Asan. Tehran, Islamiyah, cetakan pertama, 1398 H.
- Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' Al-Bayan fi Tafsir Al-Qur'an. Pengantar: Muhammad Jawad Balaghi. Tehran, Naser Khosrow, cetakan ketiga, 1372 HS.
- Thabathaba'i, Sayyid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir Al-Qur'an. Qom, Daftar Intisyarat Islami, cetakan kelima, 1417 H.
- Zuhaili, Wahbah bin Musthafa. Tafsir Al-Wasith. Damaskus, Dar Al-Fikr, cetakan pertama, 1422 H.