Konsep:Al-Aswad bin Quthbah al-Tamimi
|| ||
|| - ||
|| - || || ||
Al-Aswad bin Quthbah al-Tamimi (bahasa Arab: أسود بن قطبه تمیمی) dianggap sebagai salah satu tokoh fiktif dalam sejarah Islam.[1]
Dalam sumber-sumber Ahlusunah, Al-Aswad digambarkan sebagai penyair epos dan memiliki keutamaan yang hadir dalam beberapa penaklukan Islam.[2] Ibnu Asakir (W. 571 H), sejarawan Ahlusunah, dalam kitab Tarikh Dimasyq, memperkenalkan Abu Mufarriz Al-Aswad bin Quthbah al-Tamimi sebagai penyair terkenal dan menyebutkan contoh-contoh syairnya. Menurut laporannya, Al-Aswad berpartisipasi dalam perang seperti Perang Yarmuk dan Qadisiyah.[3] Selain itu, Dar Quthni (wafat: 385 H) juga dalam kitab Al-Mu'talif, mengutip dari Saif bin Umar, melaporkan bahwa Al-Aswad, atas nama Sa'ad bin Abi Waqqash, membawa tawanan perang dan kabar gembira kemenangan Pertempuran Jalula kepada Umar bin Khattab dan menggubah banyak syair yang memuji penaklukan-penaklukan tersebut.[4] Menurut Tarikh al-Thabari (disusun: 303 H), Al-Aswad hadir dalam penaklukan kota Bahrasir pada tahun 16 H dan membawa seperlima dari harta rampasan Ray kepada Umar.[5] Juga, pada tahun 32 H, ia berpartisipasi dalam salat jenazah Abu Dzar al-Ghifari.[6]
Namun, menurut Sayid Murtadha Askari (W. 1386 S/2007), peneliti sejarah Syiah, dalam kitab Yek Sad o Panjah Shahabi Sakhtegi (Seratus Lima Puluh Sahabat Palsu), Al-Aswad bin Quthbah al-Tamimi berbeda dengan Al-Aswad bin Quthbah yang menjadi penerima surat Imam Ali as dalam Nahjul Balaghah.[7] Menurutnya, Saif bin Umar menciptakan tokoh fiktif dalam benaknya yang memiliki nama yang sama dengan pejabat Imam Ali as, sebagaimana ia juga melakukan hal serupa terhadap orang lain.[8] Askari menganggap laporan-laporan mengenai keberadaan seorang sahabat bernama "Abu Mufarriz Al-Aswad bin Quthbah al-Tamimi" dan hal-hal seperti kehadirannya dan penggubahan syair epos dalam penaklukan, peran efektif dalam penaklukan kota seperti Bahurasir, dan partisipasi dalam salat jenazah Abu Dzar al-Ghiffari sebagai tidak benar.[9] Askari memperkenalkan Saif bin Umar sebagai satu-satunya perawi berita semacam itu dan menisbatkan kepalsuan peristiwa-peristiwa ini kepadanya.[10] Dalam membantah berita-berita Saif bin Umar, ia meneliti sanad perkataannya dan juga membandingkannya dengan laporan sejarah lainnya.[11]
Catatan Kaki
- ↑ Askari, Yek Shado Panjah Shahabi Sakhtegi, 1387 HS, jld. 2, hlm. 53.
- ↑ Hammudi al-Qaisi, "Min Syu'ara' al-Futuh; Abu Mufarriz al-Aswad bin Quthbah", hlm. 46.
- ↑ Ibnu Asakir, Tarikh Dimasyq, 1415 H, jld. 9, hlm. 68.
- ↑ Dar Quthni, Al-Mu'talif wa al-Mukhtalif, 1406 H, jld. 4, hlm. 2139.
- ↑ Thabari, Tarikh al-Thabari, Beirut, jld. 4, hlm. 7 dan 150.
- ↑ Thabari, Tarikh al-Thabari, Beirut, jld. 4, hlm. 309.
- ↑ Askari, Yek Shado Panjah Shahabi Sakhtegi, 1387 HS, jld. 2, hlm. 53.
- ↑ Askari, Yek Shado Panjah Shahabi Sakhtegi, 1387 HS, jld. 2, hlm. 73.
- ↑ Askari, Yek Shado Panjah Shahabi Sakhtegi, 1387 HS, jld. 2, hlm. 53, 68.
- ↑ Askari, Yek Shado Panjah Shahabi Sakhtegi, 1387 HS, jld. 2, hlm. 53.
- ↑ Askari, Yek Shado Panjah Shahabi Sakhtegi, 1387 HS, jld. 2, hlm. 63, 65, dan 67.
Daftar Pustaka
- Askari, Sayyid Murtadha. Yek Shado Panjah Shahabi Sakhtegi. Qom: Daneshkadeh-ye Usul-e Din, 1387 HS.
- Dar Quthni, Ali bin Umar. Al-Mu'talif wa al-Mukhtalif. Investigasi: Muwaffaq bin Abdullah bin Abdul Qadir. Beirut: Dar al-Gharb al-Islami, cetakan pertama, 1406 H/1986 M.
- Hammudi al-Qaisi, Nuri. "Min Syu'ara' al-Futuh; Abu Mufarriz al-Aswad bin Quthbah". Dalam Fashlnamah Al-Maurid, No. 3, Musim Gugur 1983 M.
- Ibnu Asakir, Ali bin Hasan. Tarikh Dimasyq. Beirut: Dar al-Fikr, 1415 H/1995 M.
- Thabari, Muhammad bin Jarir. Tarikh al-Umam wa al-Muluk. Beirut: n.p., n.d.