Ayat-Ayat Setan (Buku)

tanpa navbox
Dari wikishia
(Dialihkan dari Ayat-ayat Setan (Buku))
Ayat-ayat Setanhttp://en.wikishia.net
Judul Asli The Satanic Verses
Pengarang Salman Rusydi
Bahasa Inggris


Buku Ayat-ayat Setan (bahasa Inggris: The Satanic Verses) adalah novel yang berisi penghinaan kepada Nabi Islam saw dan Alquran yang ditulis oleh Salman Rusydi (lahir 1947 M), seorang penulis India-Inggris. Judul novel tersebut merujuk pada legenda Gharaniq yang ditolak dan dianggap tidak sah oleh umat Islam. Menurut legenda Gharaniq, Nabi saw saat membacakan ayat ke-19 dan ke-20 dari surah An-Najm, mengungkapkan sebuah tema yang berasal dari godaan setan.

Dalam novel Ayat-ayat Setan, menurut banyak kritikus dan para pembaca, menyebutkan Nabi Muhammad saw dengan gelar penghinaan, menganggap Alquran sebagai sekedar campuran cerita, legenda dan gagasan setan, dalam novel ini pun dengan penuh penghinaan menyebutkan beberapa nama dari sahabat Nabi, dan menuduh istri-istri dari Nabi saw telah melakukan penyimpangan moral.

Penerbitan novel tersebut dilakukan pada 26 September 1988, telah memicu banyak protes dari kalangan Muslim, Kristen, dan Yahudi. Saat mengadakan aksi unjuk rasa menentang Rusydi dan bukunya, umat Islam di India, Pakistan, Italia, Kanada, dan Mesir, membakar beberapa toko buku yang mendistribusikan buku tersebut, begitu pula surat kabar resmi Vatikan juga mengutuk Salman Rusydi dan novelnya. Ephraim Shapira, rabi Yahudi Ashkenazi, menyerukan pelarangan penerbitan buku Ayat-ayat Setan di Israel.

Imam Khomeini, pemimpin Revolusi Islam di Iran, pada 14 Februari 1989, menghukum mati penulis buku tersebut dan menyatakan siapa saja yang terbunuh dalam perjalanan menuju eksekusi Salman Rusydi sebagai syahid. Dalam pengumuman lain, pertobatan Salman Rusydi dianggap tidak dapat diterima. Setelah hukuman Imam Khomeini, Salman Rusydi terpaksa hidup bersembunyi, dan permintaan maafnya karena telah membuat marah umat Islam tidak membebaskannya dari konsekuensi hukuman mati.

Buku yang mengkritik konspirasi Ayat – Ayat Setan telah ditulis oleh ‘Athâullah Muhâjirâni, begitu juga dalam sebuah artikel dari Nasrullah Pourjavadi dan dua buklet dari Muhammad Shâdiqi Tehrâni dan Musthafa Huseini Thabâthabâi sebagai karya tulis yang berisi bantahan terhadap buku Ayat-ayat Setan.

Penulis

Salman Rusydi lahir pada tahun 1947 di Mumbai (Bombay), India.[1] Dia menyelesaikan pendidikan dasarnya di sekolah yang dikelola oleh misionaris Kristen berbahasa Inggris, dan setelah keluarganya pindah ke Inggris, dia mulai belajar di King's College, Cambridge. Pada tahun 1968, Rusydi pergi ke Pakistan, untuk memulai bekerja di saluran televisi, tetapi setelah satu tahun, dia kembali ke Inggris, dan memperoleh kewarganegaraan Inggris.[2]

Salman Rusydi, lahir di keluarga Muslim, telah menulis tiga novel lain sebelum buku Ayat-ayat Setan: Midnight's Children, Shame dan Grimus.[3] Keempat karya tersebut dianggap terkait dengan budaya dan sejarah orang-orang di anak benua India.[4] Mahdi Sahâbi (meninggal 2009 M) menerjemahkan novel Shame yang ditulis oleh Salman Rusydi ke dalam bahasa Farsi, yang memenangkan hadiah novel asing terbaik tahun ini di Republik Islam Iran pada tahun 2004. [5] Karena fatwa hukuman mati Imam Khumeini, Salman Rusydi tinggal di tempat penampungan yang berbeda dan jauh dari keluarganya selama bertahun-tahun.[6]

Penerbitan Buku

Buku Ayat- Ayat Setan karya Salman Rusydi pertama kali diterbitkan dalam bahasa Inggris pada 26 September 1988 oleh Penguin Books di Inggris dalam 547 halaman.[7] Sampai saat ini, sudah 140 kali dicetak kembali di berbagai belahan dunia dalam bahasa seperti Arab, Spanyol, Jerman, Cina, Rusia, dan Persia.[8] Pada tahun yang sama, Buku Ayat - Ayat Setan memenangkan penghargaan Costa Book Awards,[9] sebagai salah satu dari lima finalis Booker Prize yang kredibel pada tahun 1988, tetapi mereka gagal memenangkan hadiah tersebut.[10]

Menurut Spiegel, sebelum buku itu diterbitkan, Salman Rusydi menerima 1,5 juta mark sebagai uang muka dari penerbitnya, yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah hingga saat itu.[11]

Kandungan Buku

Pada dasarnya buku Ayat-ayat Setan telah meniru Mitos Gharaniq. Menurut narasi tersebut, ketika Nabi saw sedang membaca ayat ke- 19 dan ke- 20 dari surat An-Najm, mengenai ayat-ayat syafa’at dari berhala. Di malam itu juga, Jibril menampakkan diri kepadanya, dan memperingatkan bahwa ayat-ayat itu adalah godaan setan.[12] Banyak ulama Syiah dan Sunni percaya bahwa kisah gharaniq adalah mitos yang dibuat-buat.[13]

Buku Ayat - Ayat Setan terdiri dari sembilan pasal;

  • Malaikat Jibril
  • Mahound
  • Ellowen Deeowen
  • Aisyah
  • Kota yang tampak dan kota tak terlihat
  • Kembali ke Jahiliah
  • Malaikat Izrâil
  • Terbelahnya Laut Arab
  • Lampu yang Menakjubkan.[14]

Di dalam novel ini, Nabi saw disebut sebagai Mahound, sebuah nama yang berarti perwujudan setan, yang digunakan para penentang Islam abad pertengahan untuk menuduh Muhammad saw sebagai nabi palsu.[15] Selain itu, Ayat-ayat Setan menggambarkan Alquran sebagai campuran cerita, mitos, dan isapan jempol setan.[16] Di bagian lain dalam buku ini, istri Nabi dituduh telah melakukan penyimpangan moral.[17] Penulis menggambarkan thawaf Ka'bah sebagai antrean panjang pelanggan rumah bordil.[18] Juga, buku ini memperkenalkan beberapa sahabat Nabi, seperti Bilal dan Salman Farsi sebagai monster hitam atau fenomena dunia manusia yang lebih rendah.[19]

Reaksi

Penerbitan novel Ayat - Ayat Setan menuai banyak reaksi, mulai dari protes umat Islam di seluruh dunia, pelarangan penerbitan buku, ancaman pembunuhan terhadap penerjemah buku, penghukuman Salman Rusydi oleh uskup agung New York, oleh surat kabar resmi di Vatikan, dan para rabi Yahudi berpangkat tinggi. Reaksi lain termasuk dikeluarkannya hukuman mati oleh Imam Khumeini, hadiah untuk eksekusi Rusydi oleh 15 Khordad Foundation, dan publikasi buku-buku bantahan terhadap novel Ayat – Ayat Setan.

Protes Umat Islam

Muslim di seluruh dunia, termasuk India, Pakistan, Kashmir, Thailand, Jerman Barat, Italia, Kanada, Sudan, dan Mesir mengadakan protes terhadap Salman Rusydi, dan membakar beberapa toko buku yang menjual Buku Ayat – Ayat Setan,[20] serta banyak dari pengunjuk rasa dalam peristiwa demonstrasi tewas dan luka-luka. [21] Pada tanggal 5 Oktober 1988, penerbitan novel tersebut dilarang di India, karena pemerintah India mengumumkan bahwa buku tersebut berbahaya karena isinya yang mengandung unsur anti agama. [22]

Penerbitan terjemahan Ayat – Ayat Setan seputar buku tersebut memicu reaksi umat Islam. Misalnya, Barmak Behdad, penerjemah Kurdi dari buku tersebut, mengklaim bahwa dia menerima ancaman pembunuhan, dan jurnal Khalq, yang diterbitkan di Sulaymaniyah Kurdistan Irak, menolak untuk melanjutkan penerbitan terjemahan Kurdi lainnya setelah diterbitkan bagian awal darinya.[23] Aziz Nesin (penerjemah Turki novel), Hitoshi Igarashi (penerjemah Jepang), dan Davoud Nemati (penerbit Persia buku di Jerman) diancam atau dibunuh.

Kecaman dari Umat Kristen dan Yahudi

Kardinal O'Conner, Uskup Agung New York dan seorang tokoh Katolik terkemuka di Amerika Serikat, mengecam buku Ayat - Ayat Setan, dan mereka mengatakan tidak pernah membacanya dan tidak akan pernah membacanya.[25] Surat kabar resmi pemerintah Vatikan mengutuk Salman Rusydi dan novelnya.[26] Lord Hartley Shawcross, seorang pengacara Inggris, menuduh Salman Rushdie telah menyalahgunakan hak atas kebebasan.[27] Avraham Shabira, seorang rabi Ashkenazi di Israel, mengutuk buku Ayat – Ayat Setan dari perspektif agama dan non-agama, meminta pelarangannya di negaranya.[28]

Selain itu, Immanuel Jacobwitz, rabi kelompok Ibrani, meminta persetujuan undang-undang yang melarang penghinaan terhadap sebuah keyakinan agama dan kepercayaan.[29] Selain itu, Ayat-ayat Setan dikecam oleh United States Conference of Catholic Bishops, American Baptist Churches of the South, United Methodist Church of America, Senator Presbyterian Church of America, dan Jerry Falwell, pemimpin gerakan Moral Majority di Amerika Serikat.[30]

Hukuman Mati

Fatwa Imam Khomeini bahwa Salman Rusydi harus dibunuh

Dengan Nama-Nya Yang Maha Tinggi

Inna lillâhi wa inna ilaihi râji'ûn

Saya ingin menginformasikan kepada umat Islam yang memiliki ghirah Islam di seluruh dunia bahwa penulis buku Ayat-ayat Setan yang telah dicetak dan diterbitkan dan mengandung isi yang melawan dan menghina Islam, Nabi dan Al-Qur'an, dan penerbit yang mengetahui isinya juga dihukum mati. Saya meminta umat Islam yang memiliki ghirah Islam untuk segera mengeksekusi mereka di mana pun mereka menemukannya, sehingga tidak ada yang berani menghina hal-hal yang disucikan umat Islam, dan siapa pun yang terbunuh di jalan ini adalah syahid, insya Allah. Selain itu, jika seseorang memiliki akses ke penulis buku tetapi tidak memiliki kekuatan untuk mengeksekusinya, dia harus memperkenalkannya kepada orang-orang sehingga dia akan dihukum atas perbuatannya. Assalâmu'alaikum warahmatullâhi wabarakâtuh.[31]

Pada tanggal 14 Februari 1989 M (7 Rajab 1409 H) , Imam Khomeini mengeluarkan fatwa hukuman mati terhadap penulis Ayat - Ayat Setan dan penerbit yang mengetahui isinya, meminta umat Islam di seluruh dunia untuk mengeksekusi mereka di mana pun mereka menemukan mereka sehingga tidak ada yang berani menghina hal-hal yang disucikan umat Islam.[32] Menurut fatwa ini, orang yang terbunuh di jalan ini dihitung sebagai seorang yang syahid.[33]

Setelah putusan Imam Khumeini, beberapa media internasional berbicara tentang kemungkinan pencabutan hukuman mati Salman Rusydi jika dia menyatakan tobat, tetapi kemudian pengumuman lain ditolak oleh kantor Imam Khumeini pada 18 Februari 1989 yang menyatakan bahwa “bahkan jika Salman Rusydi benar-benar bertaubat dan menjadi orang yang paling zuhud pada masanya, tetap menjadi kewajiban bagi setiap muslim untuk mengusahakan yang terbaik dengan jiwa dan hartanya untuk memasukkannya ke dalam kegelapan.”[34] Bagian lain dari pengumuman itu berbunyi bahwa jika seorang non-Muslim mengetahui tempat persembunyian Salman Rusydi dan mengeksekusinya, maka umat Islam wajib memberinya hadiah atau imbalan.[35]

Fatwa hukuman mati dari Imam Khumeini terhadap Salman Rusydi banyak disambut di berbagai negara, termasuk Iran, Lebanon, orang-orang Islam di Inggris,[36] dan Turki dan mereka mengadakan demonstrasi untuk mendukung fatwa tersebut.[37] Seperti halnya Mustafa Mahmud Mâzih, pemuda Lebanon berusia 21 tahun, mencoba melakukan aksi pembunuhan Salman Rusydi setelah fatwa Imam Khumeini dikeluarkan pada 14 Agustus 1368. Namun sebelum sampai di kediaman Salman Rusydi, ia tewas akibat ledakan bahan peledak yang dibawanya.[38]

Setelah Imam Khumeini menjatuhkan hukuman mati, Salman Rusydi harus tinggal di tempat persembunyian, dan seperti yang ia tulis dalam buku pengalamannya, hubungan pribadinya dengan istri dan anak-anaknya terputus karena adanya fatwa hukuman mati,[39] bahkan permintaan maafnya pun tidak meringankan perasaan umat Islam.[40]

Namun, pusat "Râbithat al-Âlam al-Islâmi" di Mekkah, meskipun menganggap buku Ayat - Ayat Setan mengandung hujatan dan ejekan terhadap Islam, namun tidak menanggapi perihal masalah hukuman mati terhadapnya.[41]Juga, Abdullah Mursyidi, kepala departemen Badan Fatwa Masjid Al-Azhar, dalam keterangannya, menilai pertumpahan darah penulis buku Ayat-ayat Setan itu bertentangan dengan kaidah dan prinsip Islam.[42] Syeikh Muhammad Sayyid Thanthâwi menilai cara terbaik menghadapi Salman Rusydi adalah membaca bukunya dan menulis karya untuk mengklarifikasi dan membantah kesalahan yang ada di dalamnya.[43]

Penetapan Hadiah

Setelah dikeluarkannya fatwa hukuman mati dari Imam Khomeini terhadap Salman Rusydi, Lembaga 15 Khordad menetapkan hadiah dua juta dolar bagi siapa saja yang berhasil mengeksekusi hukuman mati penulis Ayat-ayat Setan.[44] Saat menanggapi film yang menghina Nabi saww, Hassan Sâni'i, perwakilan dari Wali Faqih dan kepala Lembaga 15 Khordad, meningkatkan hadiah eksekusi Salman Rusydi menjadi tiga juta tiga ribu dolar.[45] Menurutnya, eksekusi hukuman mati bisa mengakhiri berbagai penghinaan terhadap Islam dan Nabi saw baik dalam bentuk kartun, artikel, ataupun film.

Hubungan Iran-Inggris Putus

Ketika tersebarnya fatwa hukuman mati dari Imam Khumeini terhadap Salman Rusydi, pemerintah Inggris memanggil para diplomatnya dari Iran sebagai protes terhadap keputusan fatwa hukuman mati terhadap warga negaranya, dan kemudian dua belas anggota Masyarakat Ekonomi Eropa, termasuk Spanyol, Prancis, dan Italia, memanggil duta besar Iran di negara mereka. Apalagi, pada Februari 1989, Parlemen Iran menyetujui proposal untuk memutuskan semua hubungan diplomatik dengan Inggris.[47]

Namun, hubungan dilanjutkan pada 27 September 1990 setelah Perdana Menteri Inggris dan Menteri Luar Negeri menyatakan perlunya menghormati Islam.[48]

Karya-karya Tulis Bantahan

Buku Naqd Tawthe'eh Âyât Syaithâni (Bantahan Terhadap Konspirasi ayat-ayat setan) oleh Athâ'illah Muhâjirâni adalah buku terlengkap dan terlaris dalam membantah buku Ayat – Ayat Setan.[49] Buku tersebut diterbitkan pada tahun 1989 oleh penerbit Muassasah Etthelaât,[50] dan hingga tahun 2007 telah dicetak ulang sebanyak 25 kali.[51] Pada tahun 1992, buku tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Menurut Muhajirâni, Salman Rusydi mempertanyakan keaslian Alquran dengan mendukung mitos Gharaniq, seperti empat orientalis terkenal sebelumnya: Theodor Nöldeke, William Muir, Montgomery Watt, dan Ignac Goldziher. Nasrullah Pourjavady, seorang profesor filsafat di Iran, mengatakan pada musim semi 1989 bahwa novel Ayat – Ayat Setan sangat membosankan dan menjijikkan, dan banyak mengandung ejekan kepada para malaikat, penghinaan terhadap para nabi, khususnya Nabi Islam saw, para sahabatnya, dan istri-istrinya.[52] Dengan memperhatikan pada bagian-bagian dari buku Ayat - Ayat Setan, Pourjavâdy percaya bahwa buku tersebut juga mengandung isyarat pada penghinaan terhadap Revolusi Islam Iran.[53]

Muhammad Shâdeqi Tehrâni menulis buklet setebal empat puluh halaman pada tanggal 26 Ramadhan 1409 H, di mana dia menggambarkan Salman Rusydi sebagai Setan kontemporer.[54] Shâdeqi Tehrâni percaya bahwa Salman Rusydi melakukan penistaan dan tuduhan yang mengada ada, tidak hanya terhadap Nabi saw, tetapi juga terhadap Jibril, para sahabat Nabi saw, dan istri-istrinya.[55]

Pada musim gugur 1989, Musthafa Husaini Thabâtabâi menulis buklet setebal empat puluh halaman di bawah judul "Kehinaan Salman Rusydi", di mana dia percaya bahwa karya Salman Rusydi adalah konspirasi politik, yang jauh dari warna ilmiah dan penelitian. Husaini Thabâthabâ'i menegaskan bahwa buku Ayat - Ayat Setan adalah kelanjutan dari permusuhan lama terhadap Islam, setelah Perang Salib, di mana orang-orang Kristen mengarang mitos-mitos keji terhadap Nabi Islam saww untuk mendistorsi wajah Islam dan budaya umat Islam.[57]

Catatan Kaki

Daftar Pustaka