Malam-malam di Peshawar (buku): Perbedaan antara revisi
imported>E.amini Tidak ada ringkasan suntingan |
imported>E.amini Tidak ada ringkasan suntingan |
||
| Baris 40: | Baris 40: | ||
'''Malam-malam Peshawar''' (bahasa Arab: {{ia|ليالي بيشاور}}) dalam membela dan melindungi kehormatan [[Syiah]], sebuah buku yang berisi dialog ulama Syiah Sultan al-Wa'izhin Syirazi (1896-1971), dengan para ulama Sunni. | '''Malam-malam Peshawar''' (bahasa Arab: {{ia|ليالي بيشاور}}) dalam membela dan melindungi kehormatan [[Syiah]], sebuah buku yang berisi dialog ulama Syiah Sultan al-Wa'izhin Syirazi (1896-1971), dengan para ulama Sunni. | ||
Buku ini telah diterbitkan dalam bahasa yang sederhana, bahasa Persia asli dan di beberapa jurnal lokal di Peshawar, Pakistan. Sultan al-Wa'izhin dalam pembahasannya, menggunakan buku-buku muktabar [[Ahlusunah]] seperti, [[ | Buku ini telah diterbitkan dalam bahasa yang sederhana, bahasa Persia asli dan di beberapa jurnal lokal di Peshawar, Pakistan. Sultan al-Wa'izhin dalam pembahasannya, menggunakan buku-buku muktabar [[Ahlusunah]] seperti, ''[[Shihah al-Sittah]]'' dan ''[[Musnad Ahmad bin Hanbal]]''. | ||
==Penulis== | ==Penulis== | ||
Sultan | {{main|Sultan al-Wa'izin Syirazi}} | ||
Sultan al-Wa'izin Syirazi (1314 H/1896-[[1391 H]]/1971) dalam berbicara nasehat, berkhotbah, dan berdebat merupakan seorang yang terampil. | |||
Dia lahir di Teheran pada hari ketujuh bulan Dzulkaidah 1314, dan kemudian pergi ke Atabat untuk belajar mendalami ilmu dan pelajaran-pelajaran Islam. Dia juga banyak melakukan perjalanan ke luar Iran seperti perjalanan ke Mesir, Suriah, Lebanon, Yordania, Palestina dan India, dari semua perjalanan yang ia lakukan, perjalannya ke Peshawar adalah kunjungannya yang terpenting, dimana debat dialognya yang terkenal terjadi di sana dan hal itu menyebabkan peningkatan pada reputasinya. | Dia lahir di Teheran pada hari ketujuh bulan Dzulkaidah 1314, dan kemudian pergi ke Atabat untuk belajar mendalami ilmu dan pelajaran-pelajaran Islam. Dia juga banyak melakukan perjalanan ke luar Iran seperti perjalanan ke Mesir, Suriah, Lebanon, Yordania, Palestina dan India, dari semua perjalanan yang ia lakukan, perjalannya ke Peshawar adalah kunjungannya yang terpenting, dimana debat dialognya yang terkenal terjadi di sana dan hal itu menyebabkan peningkatan pada reputasinya. | ||
Dia di dalam perjalan-perjalanan yang ia lakukan selain berdakwah dan berbicara tentang nasehat dan peringatan ia juga mengadakan dialog dengan para ulama aliran dan mazhab; dia juga berdialog dengan ulama India di hadapan Gandi. Dia akhirnya meninggal di Teheran pada tanggal 8 Oktober 1971/1391 H di usianya yang ke-75 dan dimakamkan di pemakaman Abu Hussein, Qom. | Dia di dalam perjalan-perjalanan yang ia lakukan selain berdakwah dan berbicara tentang nasehat dan peringatan ia juga mengadakan dialog dengan para ulama aliran dan mazhab; dia juga berdialog dengan ulama India di hadapan Gandi. Dia akhirnya meninggal di Teheran pada tanggal 8 Oktober 1971/1391 H di usianya yang ke-75 dan dimakamkan di pemakaman Abu Hussein, Qom. | ||
Revisi per 3 Oktober 2017 10.44
| Judul Asli | Syabhaye Peshawar |
|---|---|
| Pengarang | Sultan al-Wa'izhin Syirazi |
| Bahasa | Persia |
| Subyek | Dialog antara Sunni dan Syiah |
| Seri | 1 jilid |
| Diterbitkan oleh | Darul Kutub al-Islamiyah • Lembaga Internasional Sibthain |
| Tanggal Penerbitan | 1375 H |
| Cetakan | Tehran |
Malam-malam Peshawar (bahasa Arab: ليالي بيشاور) dalam membela dan melindungi kehormatan Syiah, sebuah buku yang berisi dialog ulama Syiah Sultan al-Wa'izhin Syirazi (1896-1971), dengan para ulama Sunni.
Buku ini telah diterbitkan dalam bahasa yang sederhana, bahasa Persia asli dan di beberapa jurnal lokal di Peshawar, Pakistan. Sultan al-Wa'izhin dalam pembahasannya, menggunakan buku-buku muktabar Ahlusunah seperti, Shihah al-Sittah dan Musnad Ahmad bin Hanbal.
Penulis
Sultan al-Wa'izin Syirazi (1314 H/1896-1391 H/1971) dalam berbicara nasehat, berkhotbah, dan berdebat merupakan seorang yang terampil. Dia lahir di Teheran pada hari ketujuh bulan Dzulkaidah 1314, dan kemudian pergi ke Atabat untuk belajar mendalami ilmu dan pelajaran-pelajaran Islam. Dia juga banyak melakukan perjalanan ke luar Iran seperti perjalanan ke Mesir, Suriah, Lebanon, Yordania, Palestina dan India, dari semua perjalanan yang ia lakukan, perjalannya ke Peshawar adalah kunjungannya yang terpenting, dimana debat dialognya yang terkenal terjadi di sana dan hal itu menyebabkan peningkatan pada reputasinya. Dia di dalam perjalan-perjalanan yang ia lakukan selain berdakwah dan berbicara tentang nasehat dan peringatan ia juga mengadakan dialog dengan para ulama aliran dan mazhab; dia juga berdialog dengan ulama India di hadapan Gandi. Dia akhirnya meninggal di Teheran pada tanggal 8 Oktober 1971/1391 H di usianya yang ke-75 dan dimakamkan di pemakaman Abu Hussein, Qom. Menurut pernyataan penulis, banyak dari ulama, seperti Sayed Husain Thabathabai Burujerdi memuji penulis karena menulis buku malam-malam Peshawar. [1]
Motif Penulisan
Argumennya untuk menerbitkan perdebatan ini, membela Syiah melawan pecahnya intelektual seperti Kasravi dan lainnya. [2]
Penulis berulang kali menegaskan bahwa buku itu ditulis dengan motif mempromosikan Imamah dan menghilangkan keraguan yang telah ditinggalkan para musuh selama berabad-abad di dalam akal Sunni. Dia mengatakan bahwa dia telah menerbitkan buku ini tanpa ada keuntungan material. [3]
Daftar Isi
Buku malam-malam Peshawar mencakup 10 pertemuan dialog Sultan al-Wa'izhin dengan para ulama Ahlusunah; pertemuan dialog ini telah berlangsung di Peshawar dan di rumah Mirza Ya'qub Ali Khan Qazalbasy salah seorang tokoh penting Pakistan dan pertemuan ini berlangsung selama 10 malam. Menurut penuturan Sultan al-Wa'izhin, dalam proses dialog ini dan di penghujung malam terakhir 6 orang dari para tokoh penting dan terkenal Ahlusunah memilih dan menyatakan Syiah sebagai mazhabnya. [4]
- pertemuan pertama mencakup topik-topik seperti penentuan hubungan keluarga, alasan-alasan mengapa anak-anak Fatimah adalah keturunan Nabi, malapetaka tindakan-tindakan Bani Umayyah, tersingkapnya makam Imam Ali as dan Sadat Shirazi di Teheran.
- Penulis pada pertemuan kedua membahas arti Syi'ah dan hakikat ajaran Syiah. Dan juga menyinggung Syiahnya orang-orang Iran pada masa Khalifah, Dialamah, Ghazan Khan dan Shah Khudabandeh.
- Pertemuan ketiga mencakup penjelasan akidah Zaidiyah, Keissaniyah, Syiah Imamiyah dan juga menyinggung hadis dari kalangan Ahlusunah tentang Rukyatullah (bahwa Allah dapat dilihat).
- Pertemuan keempat dialog ini membahas permasalahan-permasalahan seperti mengenal Imamah, mengungkap hakikat empat mazhab Ahlusunah, tidak adanya dalil untuk mengikuti empat mazhab, perbedaan antara para nabi, dan sebagainya.
- Pada pertemuan kelima, telah disampaikan pembahasan-pembahasan seperti kesamaan-kesamaan hal Amirul Mukminin as dengan Harun, hadis-hadis yang dengan jelas menjelaskan tentang kekhilafahan Ali as, kebohongan-kebohongan dan fitnah serta tuduhan ulama Ahlusunah kepada orang-orang Syiah, keikutsertaan Abu Hurairah dengan Basr bin Arathath dalam pembunuhan kaum muslim, tuduhan-tuduhan Ibnu Taimiyyah dan lain-lain.
- Pertemuan keenam membahas tentang keutamaan Imam Ali as, yang di antaranya penjelasan ayat mengenai Ali as, didikan Nabi saw atasnya, keterdahuluan Ali as dalam memeluk Islam, menjawab tanggapan kritik terhadap keimanan Ali as di masa kanak-kanak, pengakuan Umar akan keunggulan Ali as atas dirinya, tindakan-tindakan Imam Ali as yang menyebabkan keselamatan khalifah dan ...
- Kesatuan sensual Nabi saw dan Ali as, pengambilan saksi pada ayat Mubahalah, penjelasan Ganji Syafi'i mengenai hadis Tasybih, kritik atas perkataan Umar yang berkata bahwa: Kenabian dan kekuasaan tidak dapat berkumpul di satu tempat; kritik Zamakhshri terhadap Sunni, artikel Madame Inggris dalam keteraniayaan Imam Husain as dan karya-karya ziarah para imam termasuk di antara diskusi pertemuan ketujuh.
- Perbedaan antara Islam dan iman, tingkat keimanan, makam dan derajat Imam Ja'far Shadiq (as), mengacu pada kematian Thabari, menghina Ali sama dengan menghina Nabi, dan lain-lainnya adalah termasuk hal-hal yang dibahas pada pertemuan kedelapan.
- Pada pertemuan kesembilan, kasus-kasus seperti tuduhan pelacuran terhadap Aisyah, dijamin masuk nerakanya istri Nabi Luth dan Nabi Nuh, dijamin masuk surganya istri Firaun, pelecehan Aisyah terhadap Nabi, penolakan Aisyah dari penguburan Imam Hasan di sisi Nabi saw, sujud syukur dan kegembiraan Aisyah pada kesyahidan Amirul Mukminin adalah hal-yang dikaji pada pertemuan ini.
- Pertanyaan tentang posisi keilmuan Umar, pernyataan Umar setelah wafatnya Nabi saw bahwa Nabi tidak meninggal dunia, kesalahan Umar dalam menghukum rajam lima orang yang telah melakukan perzinahan, perintah Umar untuk merajam seorang wanita hamil dan Ali as melarangnya untuk melakukan hal tersebut, perintah Umar untuk merajam seorang wanita gila dan Ali as mencegahnya, seluruh ilmu pengetahuan ada pada Ali as, pembelaan Muawiyah kepada makam Ali as, dan topik-topik lainnya yang dibahas pada pertemuan terakhir. [5]
Metode
Sulthan al-Wa’izin menyusun dan mencetak buku ini dari laporan dan keterangan yang dicetak dalam koran-koran. [6] Dalam buku Syabhaye Pisyawar, pertemuan-pertemuan dimuat berdasarkan urutan waktu. Penulis menyebut dirinya dalam buku ini sebagai seorang da’i.[7] Menurut penuturan penulis, apa saja yang dibahas dalam dialog ini adalah deduksi dari ayat-ayat dan riwayat-riwayat yang valid dan muktabar, ungkapan dan ucapan para peneliti dan cendekiawan agama dan bantuan-bantuan alam gaib.[8]
Sumber-sumber
Penulis dalam buku ini menggunakan buku-buku sumber Ahlusunah yang valid dan muktabar.[9] Dia mengklaim bahwa seluruh argumentasi yang digunakan dalam buku ini, dikeluarkan dari buku-buku Ahlusunah yang valid dan rujukan-rujukan yang ia lakukan adalah teks-teks dari dalam. Dia berkata:
- Salah satu keistimewaan buku ini adalah dari lembaran pertama sampai lembaran terakhir diambil dari referensi Ahlusunah kecuali beberapa riwayat yang dinukil dari ulama Syiah dan itupun juga merupakan hal yang di terima oleh mereka dan sesuai dengan kontrak yang ada (sebagaimana yang Anda lihat di halaman-halaman pertama buku ini) sama sekali saya tidak mengambil bukti dari riwayat-riwayat Syiah dan saya menjawab mereka dari lisan ulama mereka sendiri. [10]
Sebagian dari sumber-sumber buku ini adalah sebagai berikut:
- Shahah Sittah
- Syarh Nahjul Balāghah Ibnu Abil Hadid
- Khasāish Amirul Mukminin
- Manaqib al-Imam Ali bin Abi Thalib as (buku)
- Mathālib al-Su’ul fi Manāqib Āli al-Rasul
- Kifāyah al-Thalib fi Manāqib Ali bin Abi Thālib
- Muruj al-Dzahab
- Al-Ishābah
- Fadhail al-Shahabah Abu Naim Isfahani
- Al-Isti’ab Ibnu Abdul Bar
- Thabaqat Ibnu Sa’ad
- Mustadrak Hakim Nisyaburi
- Kanzul Ummal Muttaqi Hindi
- Yanabiul Mawaddah li Dzawil Qurba
- Musnad Ahmad Hanbal
- Mawaddah al-Qurba
- Fathul Bari
- Syarh al-Maqashid.[11]
Percetakan-percetakan
Penjelasan dialog Sultan al-Wa'izhin dengan para ulama Sunni dicetak pada tahun 1375 H di bawah pengawasan Ayatullah Burujerdi, dan sampai saat ini banyak penerbit yang telah berkali-kali menerbitkan buku ini. Baru-baru ini, lembaga internasional Sibthain menerbitkan buku ini dengan karakter huruf-huruf Cina baru. Buku ini diringkas dengan judul Syahabi dar Syab (Meteor di malam hari). [12]
Kumpulan (buku) Malam-malam Peshawar diambil dari buku Shahabi dar Shab (meteor di malam hari), yang telah disiarkan sebagai wacana radio. [13] [14] Buku Malam-malam Peshawar, cetakan ke-35, 1993 penerbit Darul Kitab al-Islamiyah, terdiri dari empat prolog dari Sultan al-Wa'izhin, setebal 1059 halaman. 92 halaman pembuka buku ini mencakup pengantar pengarang, dan topik utama pembahasan buku ini dimulai dari halaman 93 sampai 1016 dan di 45 halaman terakhir buku ini dikhusukan untuk surat ijazah dari para ulama Syiah yang diberikan kepada Sultan al-Wa'izhin dan daftar isi.
Terjemahan
Buku ini telah diterjemahkan pada tahun 141 9 H, oleh Hossein Mousavi ke dalam bahasa Arab yang fasih dan sederhana dengan judul "Layali Bisyāwar, Munāzarāt wa Hiwār". Buku ini memiliki prolog-prolog dari penerjemah, sebuah pengantar tentang perjalanan ke Sialkot, tentang Peshawar, topik pembahasan dan berkat-berkat mimbar yang selanjutnya membahas tentang terjemahan majelis pertemuan Sultan al-Wa'izhin selama 10 malam dari malam-malam Syakban.
Catatan Kaki
- ↑ Syabhaye Peshawar, Mukaddimah cetakan kedua, hlm.5.
- ↑ Syabhaye Peshawar, hlm.44.
- ↑ Syabhaye Peshawar, Muqaddimah cetakan kedua, hlm.5, Muqaddimah cetakan keempat, hlm.2.
- ↑ Syabhaye Peshawar, Pendahuluan, hlm.44.
- ↑ Syabhaye Peshawar, Daftar Isi, hlm.1037-1059.
- ↑ Syabhaye Peshawar, Pendahuluan, hlm.10.
- ↑ Syabhaye Peshawar, Pendahuluan, hlm.94.
- ↑ Syabhaye Peshawar, Pendahuluan, hlm.94.
- ↑ Syabhaye Peshawar, Pendahuluan, hlm.45.
- ↑ Syabhaye Peshawar, Pendahuluan, hlm.45.
- ↑ Syabhaye Peshawar, hlm.302, seluruh buku.
- ↑ Syahabi dar Syab (Persia)
- ↑ Kumpulan Audio Syabhaye Peshawar (Persia)
- ↑ Situs Syahid Awini (Persia)
Daftar Pustaka
- Sultan al-Wa'izhin Syirazi, Syabhaye Peshawar, Darul Kutub al-Islamiyah, cetakan ke-35, Tehran, 1993.