Tabarruk

Dari Wiki Shia
Lompat ke: navigasi, cari
Prioritas: a, Kualitas: c
Rukun Yamani dalam keyakinan Syiah adalah tempat masuknya Fatimah binti Asad ke dalam Ka'bah yang menjadi tempat kelahiran Imam Ali bin Abi Thalib

Tabarruk (Bahasa Arab:التَبَرُّک) bermakna mencari berkah dan kebaikan Ilahi yang terdapat pada sesuatu atau hal-hal lain karena Allah Swt memberikan keunggulan dan keistimewaan khusus terhadapnya. Salah satu hal paling penting yang dijadikan tabarruk adalah para nabi, para imam, orang-orang saleh dan peninggalan-peninggalannya.

Di samping terdapat data tentang hal ini, kepercayaan terhadap fondasi-fondasi teologis dan psikologis dapat dijelaskan melalui bukti-bukti Al-Quran, hadis dan sirah para imam maksum As. Pada sebagian besar agama samawi hal ini juga telah berkembang. Sebagai contoh, sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Quran adalah tabarruk dari kemeja Nabi Yusuf As yang dilakukan oleh Nabi Yakub As dan tabut Nabi Musa As.

Kebolehan bertabarruk telah disepakati oleh semua mazhab dalam agama Islam dan hanya kaum Wahabi yang mengingkari hal ini -yang baru muncul pada abad terakhir- karena mengikuti pandangan dan pendapat Ibnu Taimiyah. Berdasarkan pemikiran ini, mereka menilai musyrik kepada orang-orang yang bertabarruk kepada Nabi Muhammad Saw dan para pemuka agama. Untuk mencegah perbuatan ini, mereka merusak kuburan pemuka agama, para pemimpin dan para sahabat. Padahal tidak ada satu pun dari mazhab Islam yang menganggap dan melarang perbuatan ini, bahkan para pembesar dan pemuka mazhab fikih Islam dalam sebagian hal, bertabarruk dari benda-benda yang bukan berasal dari para maksum.

Terminologi

Makna Leksikal

Akar kata tabarruk merupakan bab tafā’ul berasal dari akar ba-ra-ka. Arti kata ini adalah kebaikan yang banyak, nilai tambah, dada unta, kebahagiaan dan stabilitas. [1] Dikatakan bahwa kata-kata ini pada mulanya berasal dari bahasa Semit dan berarti kedekatan. Tabarruk termasuk kata-kata impor yang menjadi bahasa Arab.[2]

Kita dapat mengatakan bahwa makna secara umum kata ini adalah manfaat yang tetap dan makna-makna yang lain akan kembali ke makna ini. [3]Secara leksikal tabarruk adalah diberkati dan terberkatinya sesuatu.[4]

Makna Teknikal

Menurut teks-teks agama, tabarruk adalah mencari berkat dan kebaikan Allah Swt yang terdapat pada suatu hal dan Allah Swt memberikan kelebihan-kelebihan dan kedudukan-kedudukan istimewa kepada mereka entah berkah itu bersifat duniawi seperti bertambahnya rezeki atau bersifat ukhrawi seperti kemuliaan derajat dan juga entah berkah itu materi atau spiritual. [5]

Manusia berusaha mencari keberkahan dengan cara memanfaatkan peninggalan-peninggalan yang merupakan sumber keberkahan untuk memperoleh rahmat dan kekuatan Ilahi. Berkah adalah anugerah Ilahi yang turun kepada manusia dan alam yang merupakan kebaikan dan manfaat materi dan maknawi yang berasal dari rahmat Ilahi.Sebagian ulama berpendapat bahwa tabarruk adalah pengaruh positif yang berasal dari entitas suci dan berderajat tinggi atas unsur-unsur alam yang tidak suci bersamaan dengan manifestasi hal-hal suci dalam bentuk rahmani. [6]

Dalam proses ini terdapat tiga hal yang akan terjadi:

  1. Terjadinya jalinan dengan dunia supranatural Ilahi
  2. Berpindahnya kekuatan suci ke benda lain
  3. Peningkatan kualitas eksistensial sebuah entitas yang ada atau yang telah diberkati. [7]

Kaitan Tabarruk dengan Tawassul

Tabarruk dan tawassul menurut pengertiannya merupakan hal yang mempunyai banyak kemiripan antara yang satu dengan yang lain terutama bahwa manusia yang mencari berkah berusaha untuk mendapatkan kebaikan maknawi. Sebagian berkeyakinan karena hakikat tabarruk adalah tawassul, maka tidak ada perbedaan diantara keduanya. Namun kedua hal ini mempunyai makna yang berbeda antara yang satu dengan yang lain. Tawasul adalah menempatkan pemuka agama ke hadapan Allah Swt untuk memenuhi sebuah keinginan sedangkan tabarruk adalah mencari kebaikan dan keberkahan material-spiritual yang diletakkan Tuhan pada manusia-manusia tertentu. [8]

Tabarruk dalam Alkitab

Latar belakang mencari keberkahan dalam teks agama:

  • Dalam Taurat dikemukakan tentang keadaan Nabi Ya’kub As yang bertabarruk dengan kemeja Nabi Yusuf As.
  • Para Yahudi berdoa pada makanan-makanan mereka dan mengambil berkah darinya kemudian makan darinya.
  • Dalam Injil Matius, Nabi Isa As juga dikenal memberi keberkahan.
  • Pada Injil Barnabas dijelaskan bahwa ciptaan-ciptaan Tuhan memperoleh berkah dari Rasulullah Saw.
  • Pada kaum Bani Israel dengan tujuan mengambil berkah dari minyak zaitun, mereka mengoleskan minyak zaitun pada tubuh mereka.
  • Dikatakan bahwa sebab penamaan Masih (Nabi Isa As) karena ia diolesi dengan minyak zaitun.

Tabarruk dalam Ayat dan Riwayat

Kosa kata tabarruk tidak ada dalam Al-Quran. Namun klausul tabarruk berulang sebanyak 34 kali dalam bentuk lafaz-lafaz seperti: barik, barakna, burak, tabarak, barkat, barkatah, mubarak, mubarakah. Mubarakah dalam Al-Quran merupakan sifat manusia, benda-benda, tempat-tempat dan waktu-waktu tertentu.

Tabut Perjanjian, Tempat Penyimpanan Barang-barang Nabi Musa dan Nabi Harun

Orang-orang dan Benda-benda yang diberkati

  • Nabi Nuh As dan pengikutnya, قیلَ یا نُوحُ اهْبِطْ بِسَلامٍ مِنَّا وَ بَرَکاتٍ عَلَیک وَ عَلی‏ أُمَمٍ مِمَّنْ مَعَک وَ أُمَمٌ سَنُمَتِّعُهُمْ ثُمَّ یمَسُّهُمْ مِنَّا عَذابٌ أَلیمٌ[9]
  • Nabi Ibrahim As dan Nabi Ishak As, وَ بارَکنا عَلَیهِ وَ عَلی‏ إِسْحاق [10]
  • Nabi Musa As, فَلَمَّا جَاءَهَا نُودِی أَن بُورِ ک مَن فِی النَّارِ وَمَنْ حَوْلَهَا[11]
  • Nabi Isa As,و جَعَلَنی مُبارکاً اَینَ ما کُنتُ[12]
  • Keluarga Nabi Ibrahim As,رَحْمَتُ اللَّهِ وَ بَرَکاتُهُ عَلَیکمْ أَهْلَ الْبَیت[13]
  • Al-Quran al-Karim, هذا کتابٌ اَنزلناهُ مُبارَک[14]
  • Malaikat, فَلَمَّا جاءَها نُودِی أَنْ بُورِک مَنْ فِی النَّارِ وَ مَنْ حَوْلَها[15]
  • Air hujan, وَ نَزَّلْنا مِنَ السَّماءِ ماءً مُبارَکاً [16]
  • Pohon zaitun, مِنْ شَجَرَةٍ مُبارَکةٍ زَیتُونَةٍ لا شَرْقِیةٍ وَ لا غَرْبِیةٍ[17]

Tempat-tempat yang Berkah

  • Ka’bah, إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا[18]dan Masjidil Haram[19]
  • Masjid Nabawi[20]
  • Kota Madinah[21]
  • Kota suci Thur,فَلَمَّا أَتَاهَا نُودِی مِن شَاطِئِ الْوَادِ الْأَیمَنِ فِی الْبُقْعَةِ الْمُبَارَ کةِ[22]
  • Palestina[23]
  • Masjid al-Aqsha dan sekitarnya, الْمَسْجِدِ الْأَقْصَی الَّذی بارَکنا حَوْلَهُ[24]
  • Mesir[25] dan Suriah,[26] وَأَوْرَ ثْنَا الْقَوْمَ الَّذِینَ کانُوا یسْتَضْعَفُونَ مَشَارِقَ الْأَرْضِ وَمَغَارِبَهَا الَّتِی بَارَکنَا فِیهَا[27]
  • Yaman[28]
  • Kota-kota yang berada di sekeliling sungai Eufrat, Palestina sampai Arisy salah satu kota di Mesir. Tempat ini diberkahi dengan kenikmatan materi yang melimpah. [29]dan karena diangkatnya kebanyakan nabi dari tempat itu, lahirnya agama-agama dan kitab-kitab samawi[30] bermukimnya para nabi[31] adanya kuburan para nabi seperti Nabi Ibrahim As, Nabi Ishak As, dan orang-orang saleh lain yang memberikan keberkahan. [32]

Kebolehan Tabarruk

Jumhur Ulama Islam

Berdasarkan pandangan kebanyakan kaum Muslimin, entah menurut sudut pandang keyakinan maupun teologis ziarah kubur kepada pembesar agama dan bertabarruk kepada karya-karya mereka merupakan amal yang baik dan dapat diterima. Berkah dan maghfirah Ilahi akan turun melalui sebagian nabi dan para wali. [33] Dalam hal ini, para mediator telah ditempatkan oleh Allah Swt sebagai sumber keberkahan dan sumber asli keberkahan itu adalah Allah Swt. [34] Dan urusan-urusan di mana kaum muslimin mengambil berkah dari mereka, tidak mempunyai kekuatan secara mandiri dan terlepas dari Allah Swt. Kekuatan itu sejatinya berasal dari Allah Swt, oleh itu tabarruk kepada mereka tidak meniscayakan adanya kesyirikan. [35]

Fukaha Syiah

Menurut pandangan fukaha Syiah, tabarruk merupakan suatu hal yang menurut aturan agama baik dari sisi kesakralan maupun kesucian merupakan perbuatan yang diperbolehkan bahkan umum dilakukan dan dianjurkan. [36] Menurut mereka dianjurkan bertabarruk dengan nama para Imam As, menulis nama mereka pada kain kafan, pada dua potong kayu kecil[37] dan juga pemberian nama dengan nama-nama para imam As[38] tabarruk dengan melihat dan turbah pusara para maksum As, meletakkan turbah dikuburan dengan maksud memperoleh berkah[39] tabaruk dengan Al-Quran dengan menuliskannya pada kain kafan[40] dan mengusap kalimat dan hurufnya. [41] Dasar hukum syariat atas diperbolehkannya tabarruk adalah Al-Quran, Sunah Rasulullah Saw, dan sirah orang-orang yang menjalankan syariat yang berkelanjutan. Di samping itu, prinsip segala sesuatunya itu boleh (ashl al-ibāhah) dan kebolehan terkait dengan tabarruk itu diragukan dan tidak ada dalil pasti yang melarangnya, maka hal itu menunjukkan kebolehannya.

Fukaha Ahlusunah

Ulama dan fukaha Ahlusunah, berbeda pendapat tentang mustahab atau makruhnya bertabaruk kepada kuburan Rasulullah Saw. Tentu saja hukum makruh ini berdasarkan kalimat-kalimat yang dijelaskan oleh mereka tentang hal ini. Tampaknyakarena takut dari adanya pertentangan antara kedekatan dengan kuburan dan menempelnya badan Nabi dengan memelihara adab kepada Rasululullah Saw. [42]

Hanafi

Ahmad bin Hanbal membolehkan untuk bertabarruk kepada mimbar dan kuburan Rasulullah Saw serta menciumnya. [43] Syahabuddin Khafaji Hanafi salah seorang bermazhab Hanafi membolehkan namun makruh untuk mengusapkan tangan, mencium dan menempelkan dada ke pusara Rasulullah Saw. [44]

Syafi’i

Sebagian fuqaha Mazhab Syafi’i seperti Ramla Syafi’i membolehkan mengusap kuburan nabi, wali atau seorang alim juga membolehkan mencium gerbang pintu masuk kuburan para wali dengan maksud untuk mengambil berkah. Muhibin Thabari Syafi’i juga membolehkan mengusap kuburan dan menciumnya dan hal itu diketahui sejalan dengan sirah ulama dan orang saleh. [45]

Maliki

Zurqani Maliki juga berkeyakinan bahwa tidak ada masalah mencium kuburan Rasululullah Saw dengan maksud untuk bertabaruk. [46]

Wahabi

Bertentangan dengan pendapat yang ada, menurut pandangan Wahabi, tabarruk tidak diperbolehkan. Dalam hal ini akan dipaparkan pendapat ekstrim mereka dan akan dikemukakan dalil untuk menyanggah pendapatnya.

Pendapat Pertama

Sebagian dari mereka menjelaskan karena pada zaman Nabi Muhammad Saw para sahabat bertabarruk kepada Rasulullah Saw, maka tabaruk pada masa itu diperbolehkan. [47]Namun setelah kepergian Nabi Muhammad Saw tabarruk hanya diperbolehkan pada karya-karya dan peninggalannya yang bersesntuhan dengan badan Rasulullah Saw. [48] Untuk membenarkan klaim ini, mereka mengetengahkan dua dalil:

  1. Tabarruk meniscayakan syirik dan termasuk perkara-perkara yang dilakukan oleh para penyembah patung dan termasuk ikut serta dalam menyembah patung. Dari sisi lain, tidak ada riwayat yang membenarkan dan memperbolehkan pekerjaan ini. [49]
  2. Tabarruk jenis ini adalah bid’ah karena dari sisi bahwa tabarruk merupakan salah satu bentuk ibadah dan intidari ibadah itu bersifat taufiqi (seperti yang telah ditentukan oleh Allah Swt), karena itu menentukansuatu amal sebagai bentuk ibadah tanpa adanya contohantara dari kaum salaf dan sahabat, adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah haram. [50] Oleh itu, mengusap dan bertabaruk dengan pintu dan dinding Masjid Nabi dan Masjidil Haram dan Raudhah Nabawi, [51] dua rukun Ka’bah, sekitar Hajar Aswad, tembok-tembok Ka’bah dan batu Baitul Muqadas, kuburan para nabi dan orang-orang saleh adalah perbuatan bid’ah dan tidak benar. [52]

Pendapat Kedua

Sebagian lainnya berpendapat bahwa bertabarruk kepada Rasulullah Saw hanya dibenarkan terhadap Nabi Muhammad Saw dan itu pun hanya diperbolehkan selama dalam masa hidupnya. Setelah Rasulullah Saw wafat, tidak diperbolehkan walaupun bertabarruk dengan anggota badannya dan segala sesuatu yang ada kaitannya dengan Rasulullah Saw. [53] Dalil atas klaim ini adalah tabarruk kepada sahabat dan Nabi Muhammad Saw dengan alasan bahwa Allah Swt menempatkan kekuasaan-Nya pada kaum Mukminin dan karena wilayah mereka hanya terkhusus pada zaman kehidupan mereka, oleh itu setelah mereka wafat, tidak memiliki wilayah lagi atas kaum Mukminin sehingga tabarruk menjadi terlarang. [54]

Pendapat Ketiga

Sebagian yang lain berkeyakinan bahwa tabarruk yang diperbolehkan hanya tabarruk kepada Nabi Muhammad Saw karena Allah Swt hanya memberi keberkahan kepada Nabi Muhammad Saw oleh itu tidak boleh bertabarruk kepada orang lain selain Nabi Muhammad Saw. [55] Dalil atas klaim ini adalah karena para sahabat dan para tabiin tidak bertabarruk kepada selain Nabi Muhammad Saw. Dengan alasan demi menghindari perbuatan syirik dan mengagung-agungkan secara berlebihan. [56]

Kritik atas Pendapat Wahabi

Akidah Syiah
‌Ma'rifatullah
Tauhid Tauhid Dzati • Tauhid sifat • Tauhid Af'al • Tauhid Ibadah
Furu' Tawasul • Syafa'at • Tabarruk •
Keadilan Ilahi
Kebaikan dan keburukan • Bada' • Amru bainal Amrain •
Kenabian
Keterjagaan • Penutup Kenabian Nabi Muhammad Saw • Ilmu Gaib  • Mukjizat • Tiada penyimpangan Al-Quran
Imamah
Keyakinan-keyakinan Kemestian Pelantikan Imam • Ismah Para Imam • Wilayah Takwini • Ilmu Gaib Para Imam • Kegaiban Imam Zaman Ajf (Ghaibah Sughra, Ghaibah Kubra), Penantian Imam Mahdi, Kemunculan Imam Mahdi • Raj'ah
Para Imam Imam Ali As • Imam Hasan As • Imam Husain As • Imam Sajjad As • Imam Baqir As • Imam Shadiq As • Imam Kazhim As • Imam Ridha As • Imam Jawad As • Imam Hadi As  • Imam Hasan Askari As  • Imam Mahdi Ajf
Ma'ad
Barzakh • Ma'ad Jasmani • Kebangkitan • Shirat • Buku-buku Beterbangan • Mizan
Permasalahan Terkemuka
Ahlulbait • Empat Belas Manusia Suci • Taqiyyah • Marja Taklid

Kritik atas Pendapat Pertama

Kritik atas Dalil Pertama: Tentang anggapan syirik terhadap tabarruk, terdapat beberapa poin kelemahan:

  1. Ibadah adalah suatu pekerjaan dengan niat untuk menyembah Allah Swt, namun seseorang yang bertabarruk kepada peninggalan orang-orang terkemuka agama sama sekali tidak memiliki kedudukan ketuhanan dan uluhiyah. Orang yang bertabarruk tidak ada niat sedikit pun untuk beribadah. Oleh itu, amalannya bukan merupakan objek ibadah sehingga bertentangan dengan tauhid uluhiyah atau mengagungkan secara berlebihan.[57] Buktinya adalah beberapa kali hal ini dilakukan para sahabat dan tabiin atas pengetahuan Rasulullah Saw[58]namun Rasulullah Saw tidak pernah melarang perbuatan itu dan tidak menyebutnya sebagai syirik, dan jelas bahwa Rasul melarang sebagian lafaz yang tercampuri dengan syirik dan pengagungan yang berlebihan.[59]
  2. Menghormati para nabi dan wali, menghormati peninggalan-peninggalan mereka merupakan salah satu contoh untuk memperingati dan menghormati tanda-tanda (sya’āir) Ilahi dan dianjurkan oleh al-Quran untuk menaruh perhatian dalam bertabarruk kepada para sahabat menunjukkan bahwa disamping mencari berkah, juga menghormati manusia-manusia besar itu. Hal-hal seperti peletakan turbah di atas mata, peletakan rambut Nabi Muhammad Saw oleh Ahmad bin Hanbal di atas mata, demikian juga pelarangan naik kuda Imam Syafi’i di atas bumi Madinah karena tempat itu bekas langkah-langkah Rasululullah Saw menunjukkan tentang hal ini. [60]
  3. Bukan hanya tidak ada larangan untuk menghormati kuburan Nabi Muhammad Saw dan wali-wali Allah, bahkan terdapat dalil atas kebolehannya. Fatwa Ahmad bin Hanbal[61] yang juga diketahui oleh Ibnu Taimiyah, [62] demikian juga sirah ulama Syiah dan Ahlusunah tentang diperbolehkannnya menghormati dan bertabarruk kepada kuburan, raudhah nabawi dan mimbarnya menunjukkan lemahnya pendapat ini. .[63] Wasiat khalifah pertama dan kedua tentang letak kuburan mereka supaya dikubur di dekat makam Nabi Muhammad Saw hanya karena ingin bertabarruk dengan kuburan Nabi Muhammad Saw. [64] Hal ini menjadi dalil lain atas diperbolehkannya bertabarruk kepada makam Rasulullah Saw.

Kritik atas Dalil Kedua: Tentang tabarruk dianggap sebagai bid’ah, terdapat beberapa persoalan:

  1. Dengan adanya dalil-dalil dan bukti-bukti tentang diperbolehkannya bertabarruk, maka tidak dapat diberi hukum sebagai amal perbuatan bid’ah.
  2. Jika diasumsikan amal perbuatan ini atau bentuk khusus perbuatan ini merupakan amal perbuatan baru yang tidak pernah ada pada masa Nabi Muhammad,setiap bid’ah tentu bukan sesuatu yang jelek atau tidak boleh namun bid’ah yang tidak dapat diterima dan dan haram adalah amal perbuatan baru yang masuk ke ajaran agama dan tidak ada dalil atas kebolehannya dan juga tidak sesuai dengan Sunnah. [65]Tabarruk tidak dapat disebut sebagai bid’ah yang tidak dapat diterima karena mempunyai dalil dan bukti-bukti banyak yaitu sunah dan sirah kaum Muslimin, bahkan menurut pendapat Imam Syafi’i merupakan bid’ah yang diterima. [66]
  3. Dalam sebagian hal, dalam nash yang tidak ada peruntukannya dan tidak ada dalil atas kebolehan dalam hal ini, kecuali menurut pendapat Wahabi, dapat berpegang kepada dalil kemubahan. Berdasarkan prinsip kemubahan, setiap amal perbuatan yang tidak mempunyai dalil pasti atas keharamannya, maka amal perbuatan itu boleh dan mubah.[67]

Kritik atas Pendapat Kedua

Pendapat ini juga tidak dapat diterima dengan alasan:

  1. Nabi Muhammad Saw mempunyai kehidupan yang bersifat barzakhi[68] dan wilayahnya tidak hanya pada masa kehidupannya saja namun setelah wafatnya pun masih ada.[69]
  2. Bukti-bukti sejarah menunjukkan bahwa mencari keberkahan setelah wafatnya Nabi Muhammad Saw juga merupakan tindakan yang dilakukan oleh para sahabat dan para tabi’in.[70]

Kritik atas Pendapat Ketiga

Pendapat ini juga tidak benar karena dua alasan berikut:

  1. Mencari berkah tidak khusus hanya ketika Rasulullah Saw hidup saja dan bertabarruk kepada peninggalan orang-orang saleh adalah diperbolehkan.[71] Pada pembahasan selanjutnya akan dibahas tentang tabarruk-nya para sahabat dan tabiin kepada orang lain (selain Rasululullah Saw).
  2. Sebab Rasulullah Saw dan sahabat meninggalkan suatu pekerjaan bukan hanya karena keharaman pekerjaan itu tapi juga karena banyak faktor. Seperti lupa, takut jika orang lain mengira hal itu sebagai kewajiban, mempersulit orang lain, takut jika sebagian orang yang lemah akidahnya akan kehilangan keimanannya atau tidak terbiasa untuk mengerjakan hal itu.[72]

Dalil-dalil Dibolehkannya Tabarruk

Al-Quran

Al-Quran, di samping beberapa ayat mengisyaratkan tentang tabarruk juga tidak melarang tabarruk sama sekali dan tidak menganggap hal itu sebagai perbuatan syirik juga sebagiannya dilakukan atas sepengetahuan Rasululullah Saw sehingga hal ini menunjukkan kebolehan perbuatan ini.

Tabarruk Nabi Yakub As terhadap kemeja Nabi Yusuf As adalah salah satu tabarruk yang diisyaratkan oleh Al-Quran. Ketika Nabi Yusuf As berkata kepada saudaranya letakkan kemeja itu pada kedua mata ayah kalian, “Pergilah kamu dengan membawa baju gamisku ini, lalu letakkanlah baju itu ke wajah ayahku, nanti ia akan melihat kembali; dan bawalah keluargamu semuanya kepadaku.”Rahmat Allah Swt turun dari kemeja Nabi Yusuf kepada kedua mata Nabi Ya’qub As dan ia dengan mengambil berkah dari kemeja itu mendapatkan penglihatannya kembali atas matanya yang telah buta.” [73]

Rahmat Tuhan yang berasal dari kemeja Nabi Yusuf As turun ke mata Nabi Ya’qub dan ia mengambil berkah dari kemeja itu[74] dan atas berkah kemeja itu, ia dapat melihat kembali.[75] Contoh lain tabarruk Bani Israel kepada Tabut Nabi Musa. Peti yang didalamnya tersimpan sesuatu yang berkaitan dengan keluarga Nabi Musa As dan Nabi Harun sertakitab Taurat, yang diberikan Nabi Musa kepada Yusya’ bin Nun. [76]

Bani Israel menganggap Tabut ini sebagai barang suci dan membawa Tabut itu ke medan peperangan guna mendatangkan ketenangan. [77]Dan Nabi mereka berkata kepada mereka, “Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja adalah kembalinya Tabut (perjanjian) kepadamu, di dalamnya terdapat ketentraman dari Tuhan-mu dan sisa peninggalan keluarga Musa dan Harun; Tabut itu dipikul oleh malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda (yang jelas) bagimu, jika kamu orang yang beriman.” [78] dan bertabarruk terhadapnya. [79]

Perbuatan ini di samping untuk bertabarruk juga dapat bertujuan untuk menghormati dan memuliakan benda itu, sehingga maksud ini tidak bertentangan dengan tujuan tabarruk. Disamping itu, membawa tabut khususnya pada saat perang tidak ada tujuannya kecuali untuk mencari pertolongan dan bertabarruk kepadanya. [80]

Maqam Nabi Ibrahim As yang berada di samping Ka’bah di mana orang-orang melakukan salat di sana. [81]Dan (ingatlah) ketika Kami menjadikan rumah (Ka’bah) itu tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim sebagai tempat salat.” [82] Dan karena sentuhan kaki Nabi Ibrahim As dengan batu itu menjadi tempat untuk dijadikan tabarruk.” [83]Oleh itu, tabarruk di tempat duduk dan tempat salat Nabi Muhammad Saw juga diperbolehkan. [84]Dalam riwayat, tempat antara Hajar Aswad dan Maqam Ibrahim dikenal sebagai tempat dikuburkannya para nabi dan karena itu, menjadi tempat yang berkah. [85]

Hadis

Nabi Muhammad Saw sendiri mendukung dilakukannya tabarruk. Sebagian dari riwayat menunjukkan bahwa Nabi Saw memotivasi para sahabat untuk bertabarruk kepadanya. Bukti-bukti sejarah dan hadis baik yang berasal dari Syiah maupun Sunni meriwayatkan sebagian dari hadis ini. [86]

Titah Nabi Saw kepada para sahabat untuk bertabaruk terhadap sumur unta Nabi Saleh As juga merupakan dalil atas diperbolehkannya tabarruk atas peninggalan-peninggalan para nabi dan orang-orang saleh, walaupun mereka telah meninggal dunia. [87]

Pada malam pernikahan Sayidah Fatimah Sa, setelah berwudhu, Rasulullah Saw menyiramkan air bekas wudhunya itu ke kepala, wajah dan badan putri kinasihnya kemudian Rasululullah Saw memohon keberkahan bagi Sayidah Zahra Sa dan keturunannya. [88] Imam Ali As mengatakan matanya tidak lagi sakit berkat sentuhan yang diberikan oleh Nabi Muhammad Saw atas matanya pada perang Khaibar. [89] Telah diriwayatkan pula bahwa Nabi Muhammad Saw menuangkan air bekas wudhunya kepada salah seorang yang sakit, kemudian si sakit itu pun sembuh. [90]

Dalam beberapa riwayat diceritakan bahwa Imam Ali As setelah melaksanakan amalan haji, mencukur rambutnya kemudian membagikannya kepada kaum Muslimin. [91]

Pada malam Mikraj, mereka melaksanakan salat pada sebuah tempat yang berkaitan dengan kepada Nabi Muhammad Saw. [92] Dan salat pada tempat itu nilainya tidak berbeda kecuali karena tempat itu sudah diberkati dengan keberadaan para nabi.

Pada peristiwa dikuburkannya Fatimah binti Asad, Ibunda Imam Ali As, Nabi Muhammad Saw mengkafaninya dengan bajunya sendiri. [93]Sebelum diletakkan ke liang lahat, Nabi Muhammad Saw terlebih dahulu tidur di kuburan itu dengan maksud dengan perantara Nabi Muhammad Saw, siksa kubur baginya akan lebih ringan. [94]

Fatimah binti Asad juga meminta supaya dikuburkan dengan baju yang dikenakan Nabi Muhammad Saw. Hal dimaksudkan supaya bertabarruk dengan baju Nabi Muhammad Saw dan mencegah azab Ilahi. [95] Utusan Quraisy dalam peristiwa Perjanjian Hudaibiyah menceriterakan bahwa para sahabat nabi sangat menghormati Nabi Muhammad Saw sehingga tidak mendiamkan walaupun hanya setetes air wudhu itu jatuh ke tanah dan setiap kali Nabi Muhammad Saw berwudhu, para sahabat mengoleskan air bekas wudhu Rasulullah Saw ke wajahnya. [96]

Meskipun hal ini dikerjakan di depan Rasulullah Saw dan atas pengetahuannya namun Rasul Saw tidak melarang hal itu. Oleh itu perbuatan ini dapat dikatakan sebagai taqrir (perbuatan para maksum yang dapat dijadikan sebagai sandaran hukum) maksum dan sebagai landasan hukum akan kebolehan dan mubahnya hal ini. Sebagaimana bahwa tabarruk dengan bekas air wudhu Rasulullah Saw tidak hanya tidak dilarang oleh Rasulullah Saw, bahkan pada sebagian peristiwa Rasul sendiri bersabda supaya bertabarruk dengan air bekas wudhu itu.

Sirah Ahlubait As

Dalam teks-teks riwayat dan sejarah, banyak diriwayatkan tentang tabarruk Ahlulbait kepada Nabi Muhammad Saw. Fatimah Zahra Sa, putri Nabi Muhammad Saw setelah Rasul wafat mendatangi pusaranya kemudian ia mengambil tanah dari pusara itu untuk bertabarruk kemudian mengoleskan di kepala dan wajahnya. [97]

Mengambil berkah kepada pusara Nabi Muhammad Saw merupakan sirah para imam As yang berlangsung secara terus menerus. Menurut sumber riwayat tabaruk Imam Husain As, [98] Imam Shadiq As,[99] Imam Ridha As, [100] dan Imam Jawad As, [101] merupakan contoh-contoh jenis pengambilan berkah dari para imam As pada pusara Nabi Muhammad Saw.

Imam Hasan As berwasiat apabila memungkinkan dan tidak menyebabkan percekcokan, supaya dikubur di samping pusara Nabi Muhammad Saw karena keberkahan yang ada pada kuburan Nabi Muhammad Saw. [102] Bukti lain dari sirah ini adalah tabarruk Imam Shadiq As terhadap tongkat Nabi Muhammad Saw, [103] tabarruk Imam Ali As kepada sisa-sisa balsem (hanuth) Rasulullah Saw. [104]

Sirah Sahabat dan Tabi’in

Para sahabat pada masa Rasulullah Saw dan masa setelahnya bertabarruk kepada Rasululullah Saw. Dengan meneliti kehidupan Rasulullah Saw dan perilaku sahabatnya akan menunjukkan bahwa kaum Muslimin pada masa awal Islam, menaruh perhatian kepada masalah tabarruk dari diri Rasulullah Saw dan segala sesuatu yang merupakan milik Nabi Saw. [105][106]

Oleh itu, para sahabat mengambil langkah untuk memelihara peninggalan-peninggalan Rasulullah Saw. Bahkan sebagian dari sahabat itu berlebihan dalam melakukan hal itu sehingga orang lain mengiranya mereka telah gila.

Tabarruk kepada Rasulullah Saw mempunyai dua sisi, disamping memperoleh sisi spiritual dari pribadi Nabi Saw juga sebagai ungkapan bentuk pengabdian dan cinta kepada Nabi Muhammad Saw dan Ahlulbait As. Dari sisi bahwa menghormati para nabi dan para wali serta peninggalan-peninggalan mereka merupakan manifestasi dari pengabdian dan penghormatan sya’air Ilahi dan tindakan para sahabat terkait dengan tabarruk menunjukkan bahwa tindakan ini disamping untuk mengambil keberkahan dari pribadi Rasul Saw juga untuk memperingati kepribadiannya dan merupakan ungkapan kasih sayang kepada mereka. Terdapat 3 bentuk tabarruk kaum Muslimin kepada Nabi Muhammad Saw: Tabarruk terhadap anggota badan Nabi Saw, tabarruk terhadap sesuatu berkaitan dengannya dan tabarruk terhadap tempat-tempat berkaitan dengannya.

Wadah Tempat Menyimpan Rambut Nabi Saw

Tabarruk ke Badan Nabi Muhammad Saw

Salah satu yang menjadi perhatian bagi kaum Muslimin dalam bertabarruk kepada Rasulullah Saw adalah tabarruk terhadap rambut Nabi. Para sahabat bertabarruk dengan menyimpan rambut Nabi Muhammad Saw. [107][108] Menurut laporan sejarah dan kitab-kitab hadis diterangkan bahwa ketika berlangsung perjanjian Hudaibiyah, Rasululullah mencukur rambutnya, kemudian para sahabat mengelilingi Nabi Saw dan mengambil setiap helai rambut Nabi yang jatuh untuk ditabarruki. [109] Khalid bin Walid ketika berperang, bertabarruk dengan ikat kepala yang didalamnya terdapat beberapa helai rambut Rasul Saw dengan harapan memperoleh kemenangan dalam peperangan. [110]

Tabarruk dengan keringat Nabi Saw juga merupakan bentuk tabarruk yang dilakukan oleh para sahabat. Tabaruk yang dilakukan oleh Anas bin Malik[111] dan Ummu Salamah[112] terhadap keringat Nabi Saw adalah jenis tabarruk ini.

Contoh-contoh barang-barang yang dijadikan tabarruk oleh para sahabat adalah kuku Nabi Saw yang kadang-kadang dibagikan kepada para sahabat oleh Nabi sendiri dengan maksud tabarruk, [113] sisa air minum Nabi Saw, [114] tempat air minum Nabi Saw[115]air sumur yang ada di wilayah Hudaibiyah yang menjadi berkah karena Nabi Muhammad Saw, [116] demikian juga air wudhu Nabi Saw. [117] Bahkan dalam sebagian hal, sahabat meminum air wudhu Rasulullah Saw. [118] Menurut sebuah riwayat dijelaskan bahwa sahabat merobek bibir tempat minum di mana Rasul meminum dari tempat minum itu dan mengambil untuk dirinya guna ditabarruki. [119]

Menurut sumber-sumber sejarah, terdapat 20 nama-nama mata air dan sumur yang pernah digunakan oleh Rasul Saw dan memberikan keberkahan dan sahabat menaruh perhatian khusus terhadapnya. [120]

Wadah Tempat Menyimpan Turbah Nabi Muhammad Saw

Tabarruk terhadap Peralatan Rasulullah Saw

Peralatan-peralatan Rasulullah Saw termasuk hal-hal yang mendatangkan keberkahan. Tongkat[121]pakaian, [122]jubah, [123]amamah (semacam sorban), [124] sepatu, [125]sajadah, [126]gagang pedang, [127] bendera, [128] tempat tidur, [129]merupakan contoh-contoh peralatan Rasul yang mendatangkan keberkahan.

Raudhah dan Pusara Suci Rasulullah Saw Yang Menjadi Tempat Ziarah Kaum Muslimin

Tabarruk Terhadap Tempat-tempat yang berkaitan dengan Rasulullah Saw

Kaum Muslimin pada masa-masa awal Islam menaruh perhatian khusus terhadap tempat-tempat yang ada kaitannya dengan Nabi Muhammad Saw, seperti tempat-tempat yang digunakan untuk salat[130] atau tempat yang digunakan untuk duduk selama beberapa waktu[131] atau bahkan tempat-tempat yang dilewatinya. [132] Nama tempat-tempat ini ditulis oleh akihi dalam Al-Mawādhi’ allati Dakhalha Rasulullah Saw.” [133] Abdullah bin Umar adalah salah seorang yang menaruh perhatian khusus terhadap tempat-tempat yang berkaitan dengan Nabi Muhammad Saw.[134] Perhatian luar biasa Abdullah bin Umar terhadap tempat-tempat yang diberkahi ini sangat kental. Hal ini menunjukkan bahwa amal perbuatan itu merupakan amalan yang berkembang dan umum dilakukan masyarakat pada masa awal Islam. Sebagian para penentang amalan tabarruk berkata bahwa dasar diperbolehkannya tabarruk adalah perbuatan yang dilakukan oleh Abdullah bin Umar dan hal itu dianggap sebagai ijtihad pribadinya, bukan atas dasar dalil syar’i, padahal menurut sebagian yang lain tabarruk dengan menghormati peninggalan-peninggalan Rasulullah Saw dan bertabarruk kepadanya merupakan amalan yang dianjurkan atas dasar riwayat ini dan riwayat-riwayat yang lain. [135]

Gambar Tempat Kelahiran Nabi Muhammad Saw

Sebagian Tempat yang berada di Mekah

Tempat kelahiran Nabi Muhammad Saw, [136] tempat penyembelihan hewan kurban setelah manasik haji[137] tempat terjadinya baiat ridwān[138] sebuah Gua di mana Rasulullah Saw memulai hijrah dari sana[139]Masjid al-Ghamama tempat baiat Nabi dengan kaum Musyrikin setelah Fathu Mekah,[140] Masjid Khaif tempat khutbah Haji Wada [141] dan tempat salat tujuh ratus nabi serta sangat dianjurkan untuk mengerjakan salat di tempat ini, [142] Masjid Radam al-A’la, Masjid Makhfati, rumah Ummu Hani, Masjid ‘Uraidh, [143] rumah Hadhrat Khadijah yang merupakan tempat kelahiran Sayidah Fatimah Zahra, [144] rumah Arqam bin Abi Arqam yang merupakan tempat persembunyian kaum Muslimin dari serangan kaum Musyrikin Mekah [145] Masjid al-Ghadir yang merupakan tempat dibacakan khutbah al-Ghadir, [146] ranjang batu didekat Kubah Wahyu yang berada di Masjidil Haram, dikatakan bahwa batu ini mengucapkan salam kepada Nabi Saw[147] batu di dekat Mekah yang diduduki dan jadikan tempat istirahat Nabi Saw sekembalinya dari perjalanan Haji dan Umrah[148] batu di sudut Masjidil Haram di mana bekas kaki Nabi Saw ada di sana. [149]

Tempat-tempat Berkah di Madinah Mimbar [150] dan Raudhah Nabawi di mana membaca doa di antara Raudhah Nabawi dan mimbar Nabi Muhammad Saw merupakan salah satu adab yang sangat dianjurkan untuk dilakukan di tempat ini dan disepakati oleh kaum Muslimin. [151] Kaum Muslimin demi mengambil tanah untuk mendapatkan berkah dari sana. Amalan ini sangat populer diantara kaum Muslimin sehingga Aisyah memerintahkan supaya membangun tembok di depan kuburan Nabi Muhammad Saw. [152] Tempat-tempat lain yang diberkahi adalah Gua Tsur dan Gua Hira, [153] Masjid Syajarah yang merupakan tempat ihram Nabi Saw[154] Masjid al-Ijabah yang merupakan tempat salat Nabi ketika ia kembali dari umrah dan kaum Muslimin mengambil berkah dari tempat itu. Masjid Quba di mana salat ditempat itu akan mendapat pahala yang banyak. [155]

Tabarruk kepada selain Nabi Muhammad Saw

Kaum Muslimin, disamping bertabarruk kepada Rasulullah Saw, mereka juga bertabarruk kepada selain Rasulullah Saw. Amalan sudah ada pada sepanjang sejarah, semenjak zaman Rasul Saw sampai dengan zaman sekarang. Berdasarkan bukti riwayat bahwa Rasulullah Saw bertabarruk kepada keringat dahi Imam Ali As. [156] Bertabarruk ke kuburan para nabi-nabi terdahulu dan orang-orang saleh juga telah merupakan sirah ulama dan kaum Muslimin. [157]

Contoh-contoh Tabarruk kepada selain Nabi Muhammad Saw

  • Al-Quran al-Karim dan Hajar Aswad[158]
  • Bendera Imam Hasan As dan Imam Husain As
  • Pedang Ja’far Thayyar
  • Al-Quran yang dinisbatkan kepada Imam Ali As
  • Kain penutup Ka’bah [159]
  • Sisa makanan Ahlulbait Nabi As [160]
  • Tabarruk Mus’ab bin Zubair kepada Imam Husain As
  • Tabarruk Umar bin Khattab kepada Abbas bin Abdul Muththalib
  • Tabarruk Abbas kepada Imam Ali As [161]
  • Bekas makanan seorang Mukmin[162]
  • Air Furat[163]
  • Air Zam-Zam[164]
  • Tanah Madinah, mahkota Uwais, pedang Khalid bin walid dan Syarjil bin Hasanah [165]
  • Rumah Hadhrat Fatimah Sa, rumah Aqil bin Abi Thalib[166]
  • Masjid Kufah. [167]

Tabarruk ke Kuburan Para Wali dan Orang-orang Saleh

Kaum Muslimin tidak hanya bertabarruk dari kuburan Rasulullah Saw saja namun juga kuburan sahabat, tabiin dan orang-orang saleh. [168] Subki berkata: Berdasarkan ajaran-ajaran agama dan sirah salafu saleh, diperbolehkan untuk tabarruk kepada orang-orang saleh yang telah meninggal meninggal.[169]

Objek-objek Tabarruk dari kalangan Sahabat

Di Asqalan juga terdapat sebuah tempat yang diyakini sebagai tempat dikuburkannya kepala Imam Husain As, dharih (pagar yang mengelilingi kuburan)dan masjid di mana dikatakan bahwa kepala Imam Husain As berada disana. Oleh karenanya menjadi tempat yang ditabarruki olehorang-orang yang berasal dari tempat lain. [177]

Buku-buku Tentang Tabarruk

Pembahasan tentang tabarruk di samping tersebar pada literatur-literatur di atas juga terdapat pada kitab-kitab berikut ini yang ditulis secara khusus dan dengan penjelasan yang rinci:

  • Al-Tabarruk al-Shahābah bi Atsār Rasulullah Saw karya Muhammad Thahiri Kurdi Makki
  • Al-Tabarruk al-Shahābah karya Ali Ahmadi Miyaniji
  • Al-Tabarruk al-Masyru’ wa al-Tabarruk al-Mamnu’, karya Ali bin Nafi’ Alyani
  • Al-Tabarruk Anwā’uhu wa Ahkāmuhu karya Nashir bin Abdurahman Jadi’
  • Tabaruk wa Qubur karya Sayyid Husain Thahiri Khuram Abad
  • Al-Tawassul bi al-Nabi wa al-Tabarruk bi Atsāruhu karya Murtadha Askari
  • Iqnā’ al-Mukminin bi-Tabarruk al-Shālihin karya Utsman bin Syaikh Syafi’i
  • Wahābiyah wa Tabarruk karya Ali Asghar Ridhwani
  • Al-Barakah karya Muhammad bin Abdurahman Washabi

Catatan Kaki

  1. Ibnu Manzhur, jld. 10, hlm. 395 (ba-ra-ka); Raghib, jlm. 44, (ba-ra-ka); Ibn Faris, jld. 1, jld. 227, Jauhari, hlm. 1574, (ba-ra-ka).
  2. Wāzyehāi Dakhil, hlm. 126.
  3. Qarasyi, jld. 1, hlm. 190 (ba-ra-ka).
  4. Ibnu Manzur, jld. 10, hlm. 396, Dehkhuda, jld. 5, hlm. 302.
  5. Hamadah al-Jibrin, jld. 1, hlm. 287; Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, jld. 10, hlm. 69, jld. 7, hlm. 488; Ridhwani, hlm. 434; Al-Jadi’, hlm. 43.
  6. The Encyclopedia of Religion, IV/ p. 182.
  7. Silahkan lihat, ibid, II/82
  8. Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, jld. 10, hlm. 69.
  9. QS Hud [11]: 48.
  10. QS Al-Shafat [37]: 113.
  11. QS Al-Naml [27]: 8.
  12. QS Maryam [19]:31.
  13. QS Hud [11]: 73.
  14. QS Al-An’am [6]: 155.
  15. QS Al-Naml [27]: 8.
  16. QS Al-Qaf [50]: 9.
  17. QS Al-Nur [24]: 35.
  18. Qurthubi, jld. 4, hlm. 139.
  19. QS Ali Imran [3]: 96.
  20. Bukhari, jld. 3, hlm. 78.
  21. Bukhari, jld. 4, hlm. 528.
  22. QS Al-Qashash [28]: 30.
  23. Thabathabai, jld. 8, hlm. 228.
  24. QS Al-Isra [17]: 1.
  25. Andalusi, jld. 5, hlm. 155.
  26. Bukhari, jld. 2, hlm. 452.
  27. (QS Al-A’raf [7]:137)
  28. Bukhari, jld. 17, hlm. 592.
  29. Syaukani, jld, 3, hlm. 246.
  30. Fakhr al-Razi, jld. 22, hlm. 160.
  31. Thabathabai, jld. 5, hlm. 228.
  32. Qurthubi, jld. 11, hlm. 212.
  33. QS Al-Dukhan [44]: 3.
  34. Muthahhari, hlm. 284.
  35. Muthahhari: hlm. 284.
  36. Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, jld. 10, hlm. 70-74.
  37. Farhang Figh, jld. 2, , jld, 1, hlm. 335.
  38. Shaduq, hlm. 143; Najafi, jld, 4, hlm. 225-241.
  39. Najafi, jld. 31, hlm. 254.
  40. Hilli, jld. 5, hlm. 241.
  41. Najafi, jld. 31, hlm. 254.
  42. Amin, hlm. 345-346.
  43. Ibn Hanbal, Al-Ilal wa Ma’rifah al-RIjal, jld. 2, hlm. 492, No. 3243.
  44. Sesuai nukilan Samhudi, jld. 4, hlm. 404.
  45. Kanz al-Mathālib, jld. 33, hlm. 219.
  46. Zurqani, jld. 8, hlm. 315.
  47. Al-Jadi’, hlm. 329, 343, 401.
  48. Al-Jadi’, hlm. 252.
  49. Amin, hlm. 341.
  50. Ibnu Taimiyah, Al-Bid’ah, jld. 2, hlm. 193.
  51. Najar, hlm. 40.
  52. Ibnu Taimiyah, Ziyārah al-Qubur, jld. 1, hlm. 31.
  53. Syatibi, jld. 2, hlm. 8; Salami, hlm. 55.
  54. Syatibi, hlm. 310-313.
  55. Ibn Hajar, Fath al-Bari, jld. 3, hlm. 130, Syarh: Abdul Aziz bin Baz, Syarh 1, hlm. 144.
  56. Syatibi, jld. 2, hlm 8; Al-Jadi’, hlm. 268.
  57. Khomeini, jld. 1, hlm. 147.
  58. Al-Jadi’, hlm. 244.
  59. Al-Fauzān, hlm. 104.
  60. Tartib al-Madārik, jld. 1, hlm. 93.
  61. Al-Ilal wa Ma’rifah al-Rijal, hlm. 492, No. 3243.
  62. Lihat: Fath al-Maqal, hlm. 329.
  63. Ibnu Atsir, jld. 4m hlm. 75.
  64. Samarqandi, hlm. 21.
  65. Zainuddin, jld. 2, hlm. 127.
  66. Zainuddin, jld. 2, hlm. 131.
  67. Amin, hlm. 182.
  68. Subki, hlm. 171-201.
  69. Risālah al-Hidāyah al-Siniyah, hlm. 41 menurut Amin, hlm. 110.
  70. Bukhari, Bab Ma Dzukira min Dir’a al-Nabi wa ‘Ashahu wa Sifahu wa…mimma Tabarraka Ashhabahu wa gharahum ba’d wafatihi, jld. 4, hlm. 46.
  71. Nawawi, jld. 3, hlm. 3, jld. 14, hlm. 44; Ibn Hajar, Fath al-Bari, jld. 3, hlm. 129-130, 144.
  72. Kalimah Hadiah fi al-Bid’ah, hlm. 28-30.
  73. QS Al-Yusuf [12]: 93.
  74. Jawadi Amuli, hlm. 534.
  75. Andalusi, jld. 2, hlm. 626.
  76. Makarim, jld. 3, hlm. 240.
  77. Thabarsi, jld. 2, hlm. 614-615.
  78. QS Al-Baqarah [2]: 248.
  79. Qumi, jld. 1, hlm. 82.
  80. Subhani, Fi Dzilal al-Tauhid, hlm. 294.
  81. Thabarsi, jld. 1, hlm. 383; Balaghi, jld. 1, hlm. 125.
  82. QS Al-Baqarah [2]: 125.
  83. Amin, hlm. 341.
  84. Al-Jadi’, hlm. 352.
  85. Qarasyi, jld. 1, hlm. 244.
  86. Ahmadi, hlm, 62-64.
  87. Qurthubi, jld. 11, hlm. 47.
  88. Qunduzi, hlm. 174-175 dan 196-197.
  89. Qunduzi, hlm. 286.
  90. Bukhari, jld. 1, hlm. 201.
  91. Baihaqi, jld. 7, hlm. 68; Ibn Katsir: jld. 5, hlm. 189.
  92. Al-Syami, jld. 3, hlm. 80 & 81.
  93. Hakim, jld. 10, hlm. 375.
  94. Suyuthi, jld. 42, hlm. 32.
  95. Samarqandi, jld. 2, hlm. 255.
  96. Bukhari, jld. 105, hlm. 389 dan jld. 14, hlm. 233.
  97. Mar’asyi, jld. 10, hlm. 436; Samhudi, jld. 4, hlm. 217;Ibnu Sabbagh, hlm. 132.
  98. Ibnu A’tsam, hlm. 26-27; Majlisi, jld. 44, hlm. 328.
  99. Majlisi, jld, 100, hlm. 157-158.
  100. Qumi, Al-Anwar al-Bahiyyah, hlm. 110.
  101. Kulaini, jld. 1, hlm. 353; Majlisi, jld. 50, hlm. 68.
  102. Majlisi, jld. 44, hlm. 156.
  103. Qumi, Al-Kuni wa al-Alqāb, jld. 1, hlm. 25.
  104. Hakim Nisyaburi, jld. 1, hlm. 361.
  105. Ahmadi, hlm. 17.
  106. Dzahabi, jld. 3, hlm. 213.
  107. Nawawi, jld. 15, hlm. 82.
  108. Muslim, jld. 7, hlm. 79; Ibn Hajar, Fath al-Bāri, jld. 6, hlm. 213.
  109. Majlisi, jld. 17, hlm. 32.
  110. Shalihi Syami, jld. 2, hlm. 16.
  111. Bukhari, jld. 1, hlm 177.
  112. Ibid, jld. 16, hlm. 2.
  113. Zurqani, jld. 4, hlm. 450.
  114. Ahmad, jld. 10, hlm. 391.
  115. Bukhari, jld. 8, hlm. 115.
  116. Maliki, hlm. 127.
  117. Majlisi, jld. 17, hlm. 33.
  118. Bukhari, jld. 6, hlm. 561.
  119. Ibnu Abdul Barr, jld. 4, hlm. 1907.
  120. Samhudi, jld. 3, hlm. 948.
  121. Halabi, jld. 3, hlm. 187.
  122. Ahmad Hanbal, Musnad, jld. 3, hlm. 436.
  123. Bukhari, jld. 8, hlm. 114.
  124. Ibnu Hisyam, jld. 4, hlm. 157.
  125. Ibnu Waqidi, jld. 3, hlm. 1096.
  126. Bukhari, jld. 8, hlm. 113.
  127. Zurqani, jld. 5, hlm. 86.
  128. Biruni, hlm. 40, 42 dan 50.
  129. Zurqani, jld. 5, hlm. 96.
  130. Bukhari, jld. 1, hlm. 493.
  131. Bukhari, jld. 1, hlm. 493.
  132. Ibnu Syaibah, jld. 1, hlm. 57.
  133. Fakihi, jld. 5, hlm. 91.
  134. Bukhari, jld. 1, hlm. 471.
  135. Ibnu Hajar, jld. 2, hlm. 91.
  136. Zurqani, jld. 1, hlm. 289.
  137. Bukhari, jld. 4, hlm. 289.
  138. Muttaqi Hindi, jld. 17, hlm. 104.
  139. Ibn Nathutah, jld. 1, hlm. 187.
  140. Azraqi, jld. 4, hlm. 137.
  141. Kulaini, jld. 1, hlm. 403.
  142. Kulaini, jld. 1, hlm. 403.
  143. Ja’fariyan, hlm. 285.
  144. Ibid, hlm. 175.
  145. Azraqani, jld. 4, hlm. 14.
  146. Shaduq, jld. 1, hlm. 229.
  147. Ibnu Bathuthah, jld, 1, hlm. 379.
  148. Ibid, jld. 1, hlm. 185.
  149. Nasir Khusruw, hlm. 128.
  150. Ibn Taimiyyah, Al-Jawab al Bahar, jld. 1, hlm. 73; Kulaini, jld. 4, hlm. 553. Samhudi, jld. 1, hlm. 544.
  151. Hurr Amili, jld. 14, hlm. 343.
  152. Samhudi, jld. 1, hlm. 544.
  153. Samhudi, jld. 1, hlm. 108.
  154. Kulaini, jld. 4, hlm. 248.
  155. Hurr Amili, jld. 5, hlm. 285.
  156. Ibn Abil Hadid, jld. 18, hlm. 242.
  157. Subki, hlm. 130.
  158. Azraqi, jld. 1, hlm. 330.
  159. Kulaini, jld. 8, hlm. 118.
  160. Nuri, jld. 16, hlm. 329.
  161. Ahmad, Al-Sujud ‘alal Arhi, hlm. 59.
  162. Hurr Amili, jld. 5, hlm. 263.
  163. Hurr Amili, jld. 14, hlm. 404.
  164. Muslim, jld. 7, hlm. 152.
  165. Biruni, hlm. 40-51.
  166. Samhudi, jld. 1, hlm. 89.
  167. Majlisi, hlm. 97, hlm. 396.
  168. Bayati, jld. 5, hlm. 11.
  169. Sabki, hlm. 96.
  170. Ahmadi, Al-Tabarruk, hlm. 162.
  171. Ibnu Hajar, Tahdzib al-Tahdzib, hlm. 7, hlm. 339.
  172. Ibnu Khallakan, jld. 5, hlm. 310.
  173. Samhudi, jld. 1, hlm. 133.
  174. Ibnu Hajar, hlm. 226.
  175. Ibnu Atsir, jld. 2, hlm 82.
  176. Zurqani, jld. 2, hlm. 688.
  177. Qazwini, hlm. 278.


Daftar Pustaka

  • Al-Quran al-Karim
  • Ibnu Abil hadid, Abdul Majid, Syarh Nahj al-Balāgha, Qum, Maktabah Ayatullah Mar’asyi Najafi, 1404, Cet. pertama.
  • Ibnu Atsir, Ali bin Muhamad, Usd al-Ghābah fi Ma’rifah al-Shahābah, Al-Maktabah al-Islamiyah, Tehran.
  • Ibnu A’tsam, Ahmad, Al-Futuh, Hid Abad, 1388 S.
  • Ibnu Bathuthah, Rihlah Ibnu Bithuthah, Teheran, Penerbit Agah, 1376, Cet. ke-6.
  • Ibnu Taimiyah, Ahmad bin Abdul Halim, Al’Ubudiyah, Riset: Muhammad Zuhair Al-Syawisy, Al-Maktab Islami, Beirut, 1426 (2005)
  • Ibnu Jubair, Muhammad bin Ahmad, Al-Rihlah, Maktabah al-Hilal, Beirut.
  • Ibnu Khallakan, Ahmad bin Muhammad, Wafyāt al-A’yan wa Anbā Abnā al-Zāmān, Riset: Ihsan, Abbas, Dar Shadir, Beirut
  • Ibnu Khallakan, Ahmad bin Muhammad, Ziyārah al-Qubur, Idarah al-Amah lithaba’m Riyadh, 1410.
  • Ibnu Hajar ‘Asqalani, Ahmad bin Ali, Ishābah fi Tamyiz al-Shahābah, Beirut, Dar Shadir, Cet. pertama.
  • Ibnu Hajar ‘Asqalani, Ahmad bin Ali, Tahdzib al-Thahdzib, Dar al-Fikr, Beirut, Cet. pertama, 1404.
  • Ibnu Hajar ‘Asqalani, Ahmad bin Ali, Fath al-Bāri fi Syarh Shahih, Riset: Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz dan Muhibbin al-Khatib, Cet. Dar al-Fikr, Beirut, Dar Shadir, Cet, 1.
  • Ibnu Hanbal, Ahmad, Musnad al-Imām Ahmad bin Hanbal, Qahirah, 1313, Cet. Beirut, Tanpa tahun.
  • Ibnu Hanbal, Ahmad, Al-Ilal wa Ma’rifah al-Rijāl, Mathbu’ah Silik, Ankara.
  • Ibnu Sa’ad, Muhammad, Al-Thabaqāt al-Kubrā, Al-Fushul fi Ma’rifah Ahwāl Aimah As, Najaf, Al-Maktabah al-Haidariyah, 1381.
  • Ibnu Syaibah Namiri, Umar, Tārikh al-Madinah al-Munawarah (Akhbār al-Madinah al-Munawarah), Beirut, Dar al-Kitab Ilmiyah, 1996.
  • Ibnu Abdul Barr, Yusf, Isti’āb fi Asmā al-Ashhāb, Beirut, Dar al-Fikr.
  • Ibnu Faris Zakariya, Abul Husain Ahmad, Mu’jam Maqāyis al-Lughah, Riset: Abdulsalam Muhammad Harun, Maktabah al-I’lam al-Islami, 1404.
  • Ibnu Katsir, Al-Bidāyah wa al-Nihāyah, Cet. Ahmad Mulham dkk, Beirut, 1407/1987.
  • Ibnu Manzhur, Lisān al-‘Arab, Cet. Adab al-Hauzah, 1405.
  • Ibnu Waqa, Muhammad bin Umar, Al-Maghāzi, Beirut, Muasasah al-A’la lil Mathbu’at
  • Ibnu Hisyam Humairi, Al-Sirah al-Nabawiyah, Beirut, Dar al-Ma’rifah.
  • Ahmadi, Ali, Al-Tabarruk, Beirut, 1403.
  • Ahmadi, Ali, Al-Sujud ala Ardhi.
  • Arzaqi, Muhammad bin Abdullah bin Ahmad, Akhbār Makah wa Mā Jā fiha minal al-Atsār, Beirut, Dar al-Andalusi, 1416.
  • Amin, Sayid Muhsin, Kasyf al-Irtiyāb fi Atbā’ Muhammad bin Abdul Wahāb, Dar al-Kitab Islami.
  • Amuli, Muhammad Taqi, Mishbāh al-Huda fi Syarh al-‘Urwah al-Wutsqa, Tehran, 1380.
  • Andalusi, Muhammad bin Yusf, Tafsir Al-Bahr al-Muhith, Beirut, Dar al-Fikr, 1420.
  • Batnawani, Muhammad Labib, Al-Rihlah al-Hijāziyah, Qahirah, Al-Tsaqafah al-Diniyyah.
  • Bukhari, Ja’fi, Muhammad Ismail, Shahih Bukhari, Istanbul, 1401/1981.
  • Balaghi, Muhammad Jawad, Ala al-Rahman fi Tafsir al-Quran, Bunyad Bi’tsat, Qum, 1420, Cet. Pertama.
  • Balaghi, Muhammad Jawad, Al-Radd ‘ala al-Wahhābiyah, Cet. Muhammad Ali Hakim, Tahun ke-9, No. 2-3 (Rabi’ul Akhar-Ramadhan 1414)
  • Bulukabasyi, Ali, Nahl Gardāni, Tehran, 1383.
  • Bayati, Salah, Al-Tabarruk, Markaz al-Ibhats al-Aqaidiyyah (Software Al-Syamilah)
  • Biruni, Abu Raihan, Al-Athār al-Bāqiyah ‘an al-Qurun al-Khāliyah, Tehran, Markaz Mirats Maktub, Tehran, 1422.
  • Baihaqi, Ahmad bin Husain, Al-Sunan al-Kubra, Haidar Abad, Dairah al-Maarif al-Islamiyah, 1355.
  • Al-Jadi’, Nashir ‘Abdurrahman, Al-Tabarruk Anwā’uhu wa Ahkāmuhu, Riyadh, Maktabah Al-Rusyd.
  • Jauhari, Al-Shihāh, Riset: Ahmad Abdul Ghafur al’Athar, Dar al-Ilm lil Malayin, Beirut, Libanon, Cet. ke-4, 1407-1987
  • Ja’fariyan, Rasul, Atsār Islāmi Makkah wa al-Madinah, Masy’ar, 1380, Cet. ke-2.
  • Hakim Nisyaburi, Muhammad bin Abdullah, Al-Mustadrak ‘ala al-Shahihain, Riset: Musthafa Abdul Qadir ‘Atha, Be Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1422.
  • Hur Amili, Muhammad bin Hasan, Wasāil Syiah, Muasasah Ali al-Bait, Qum, 1409, Cet. 1.
  • Halabi, Abul Faraj, Al-Sirah al-Halabiyah (Insān al ‘Uyun fi Sirah al-Amin al-Ma’mun), Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1427, Cet. 2.
  • Hilli, Hasan bin Yusf, Mukhtalif al-Syiah fi Ahkām al-Syari’ah, 1413.
  • Hamadah Al-Bahrain, Abdullah bin Abdul Aziz, Dar al-‘Ashimi.
  • Hamzawi, Kanz al-Mathālib.
  • Khomeini, Sayid Ruhullah, Tahdzib al-Ushul, Riset: Ja’far Subhani, Qum, Dar al-Fikr, 1382.
  • Dekhuda, Lughat Nameh Dekhudā.
  • Dehlawi, Syah Waliyullah, Izālah al-Khafā, Lahore, Akademi Sahil. 1396.
  • Dzahabi, Siyar A’lam al-Nubala’i, Beirut, Muasasah Al-Risalah, 1413.
  • Raghib Isfahani, Mufradāt Gharib al-Qurān, Daftar Nasyar Kitab, Cet. ke-3, 1404.
  • Zarqani, Muhammad Abdul Baqi, Syarh al-Zarqani ‘ala al-Mawāhib al-Laduniyah bi al-Manh al-Muhammadiyah, Dar al-Kitab al-Ilmiyah, Al-Thab’ah, Cet. 1, 1417-1996.
  • Zamakhsyari, Mahmud, Al-Kasyāf ‘an Haqāiq Ghawāmidh al-Tanzil, Beirut, Dar al-Kitab al-Arabiyah, 1407.
  • Zainuddin Islami, Jāmi’ al-Ulum wa al Hukmu fi Syarh Khamais Haditsā min Jawāmi’ al-Kalam, Beirut, Muasassah Al-Risalah, Cet. ke-7, 1422, 2001.
  • Subhani, Ja’far, Al-Bid’ah: Mafhumuhā, Haddihā wa Atsāruhā, Qum, 1416.
  • Subhani, Fi Dzilal Ushul al-Islam, Riset: Ja’far al-Hadi, Qum, 1414
  • Subhani, Al-Wahhabiyah fi al-Mizān, Tehran, 1417.
  • Subki, Taqyuddin, Syafā fi Riyārah Khair al-Nām, 1419.
  • Salami, Abdurahman bin Ahmad, Al-Hukm al-Jadidah bi Idzā’ah min Qauli al-Nabi Saw Bi’tsa bi al-Saif baina Yadi al-Sā’ah, Riset: Abdul Qadir al-Arnauth, Damaskus, Dar al-Ma’mun, Damaskus, 1990.
  • Samarqandi, Tafsir Samarqandi (Bahrul Ulum), Riset: Muhammad Muawwadh, Ahmad Abdul Maujud et al, Beirut, Dar al-Kitab al-Ilmiyah, 1993.
  • Samhudi, Wafā al-Wafā bi Akhbār Dār al-Musthafa, Dar al-Kitab al-Islamiyah, Beirut.
  • Suyuthi, Jāmi’ al-Ahādis,Yordania, Dar al-Manar.
  • Syathibi, Abu Ishaq, Al-I’tisham, Riset: Dar al-Ma’rifah, Beirut, 1420.
  • Syaukani, Muhammad bin Ali, Fath al-Qadir, Damaskus, Dar Ibn Katsir, 1414.
  • Al-Shami, Muhammad bin Yusuf al-Shalihi, Subul al-Hudā wa al-Rusyād fi Sirah Khair al ‘Ibād, Beirut, Dar al-Kitab al-Ilmiyah, 1414.
  • Shaduq (Ibn Babuwaih), Muhammad bin Ali, Man Lā Yahdhuruhu al-Faqih, Riset: Ali Akbar Ghifarim Daftar Intisyarat Islami, Qum, 1413, Cet. ke-2.
  • Thabathabai, Sayid Muhammad Husain, Al-Mizān fi Tafsir al-Quran, Qum, Nasyar Islami, Qum, Nasyar Islami, 1417.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan, Majma’ al-Bayān fi Tafsir al-Quran, Riset: Nashir Khasra, Tehran, 1372, Cet. ke-3.
  • Thabasi, Najmuddin, Al-Wahābiyah; Da’āwi wa Rudud, Tehran, 1420.
  • Thanthawi, bin Jauhari, Al-Jawāhir fi Tafsir al-Quran al-Karim, Beirut, Tanpa Tempat.
  • Fakhr al-Razi, Muhammad bin Umar, Al-Tafsir al-Kabir, Qahirah, Tanpa Tahun, Cet. Offset Tehran, Tanpa Tahun.
  • Al-Fauzan, Sāleh bin Fauzān, Al-Tauhid, Wizarah al-Syuun al-Islamiyah wa al-Qaf wa Al-Dakwah wa al-Irsyad, Al-Mamlikah al-Arabiyah, Cet. ke-4.
  • Fath al-Maqāl
  • Qashimi, Jamaluddin, Tafsir al-Qashimi, Al-Masma Mahāsin al-Ta’wil, Cet. Muhammad Fuad Abdul Baqi, Beirtu, 1398, 1978.
  • Qarasyi, Sayid Ali Akbar, Qāmus al-Quran, Dar al-Kitab al-Islami, Tehran, 1371, Cet. 6.
  • Qurthubi, Muhammad bin Ahmad, Al-Jāmi’ li Ahkām al-Quran, Tehran, Nasir Khasra, 1364 S.
  • Qazwini, Zakariya bin Muhammad, Atsaār al Bilād wa Akhbār a, ‘Ibād, Amir Kabir, Tehran, 1373, Cet. pertama.
  • Qummi, Abbas, Al-Anwār al-Bahiyyah fi Tārikh al-Hujaj Ilahiyyah, Riset: Muhammad Kadzim al-Khurasani Syanehchi, Qum, Mansyurat al-Radhi, 1364 S.
  • Qunduzi, Sulaiman bin Ibrahim, Yanāyi’al-Muwaddah, Dar al-Araqiyyah, 1385.
  • Kitab Muqadas (Alkitab).
  • Kalimah Hāidah fi al-Bid’ah.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya’qub, Ushul al-Kāfi, Riset: Ali Akbar Ghifari dan Muhamman Akhundi, Tehran, Dar al-Kitab al-Islami, 1407, Cet. ke-44.
  • Maliki, Muhammad bin Alawi, Mafāhim Yajibu an Tashhihu, Dubai, Dairah al-Auqaf wa al-Syuun al-Islami, 1995.
  • Muttaqi Hindi, Ali bin Hisam, Kanzul Amāl (Al-Mursyid ila Kanz al-Amāl fi Sunan al-Afwāl wa al-Af’āl), Beirut, Al-Risalah.
  • Majlisi, Muhammad Baqir, Bihār al-Anwār, Beirut, Dar Ihya al-Tsurats al-Arabi, Beirut, 1403.
  • Maraghi, Ahmad Musthafa, Tafsir al-Marāghi, Beirut, 1985.
  • Mar’asyi, Qadhi Nurullah, Ahqāq al-Haq wa Azhāq al-Bāthil, Maktabah Ayatullah al-Mar’asyi al-Najafi, 1409.
  • Muslim bin Hajjaj, Shahih Muslim, Istanbul, 1401/1981.
  • Maqra, Ahmad bin Muhammad, Fath al-Muta’ āl fi Madah al-Ni’al, Haidar Abad Dukan, 1334.
  • Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah, jld. 10, Kuwait, Wizarah al-Auqaf wa al-Syaun Islamiyah, 1407/1986.
  • Najar, Fathullah bin Taqi, Al-Tabarruk wa al-Tawassul wa Sulh ma’a al-‘Adu al-Shahyuni, Masy’ar, Tehran.
  • Najafi, Muhammad Hasan, Jawāhir al-Kalām fi Syarh Syarāyi’ al-Islām, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, Beirut, Cet. ke-7.
  • Nuri, Husain bin Muhammad, Mustadrak al-Wasāil wa Mustanbath al-Masāil, Muasassah Ali al-Bait, Qum, 1408, Cet. pertama.
  • Nuri, Yahya bin Syaraf, Al-Minhāj Syarh Shahih Muslim bin Hijāj, Dar Ihya Al-Turats al-Arabi, Beirut, 1392, Cet. ke-2.
  • Wazehhāi Dakhil
  • Al-Yahshabi, ‘Ayadh bin Musa, Tartib al-Madārik wa Taqrib al-Masālik li Ma’rifah I’lām Madzhab Mālik, Beirut, Dar al-Kitab Ilmiyah, 1418-1998.
  • Dāneshnameh Jahān Islām, Madkhal Tabarruk.
  • Dāirah al-Ma’ārif Islāmi, Madkhal Tabarruk.

Daftar Pustaka Bahasa Inggris

  • The Encyclopedia of Religion , ed, Mireca Eliade, New York, Macmilan Publishing Company, 1987, vol 1-16.