Templat:Enote

Dari WikiShia
Lompat ke: navigasi, cari
[melihat] [sunting] [sejarah] [hapus singgahan] Ikon dokumentasi Dokumentasi templat

Menggunakan Templat

Untuk menambah dan penjelasan atau terjemahan dari hadis atau ayat dalam catatan (atau teks bahasa Arab satu riwayat atau ayat), gunakan: {{Enote|contoh}}}

Untuk menunjukkan catatan ini di akhir seksi catatan kaki artikel menggunakan templat {{Catatan Kaki}}
.

Contoh

Peristiwa al-Ghadir

Pada tahun ke-10 H, bulan-bulan Haram yang dirubah sebagai akibat dari tindakan kaum musyrikin, kini sejalan dengan masa-masa permulaannya. [1] Pada tahun ini Nabi Muhammad Saw memutuskan untuk pergi ziarah ke haji baitullah. Haji yang dikerjakan pada masa-masa akhir dari kehidupannya kemudiaan disebut sebagai Haji Wada'. [2] Kemudian kepada kaum Muslimin disampaikan bahwa Nabi Saw mengambil keputusan untuk berhaji tahun ini. [3] Dan kepada masyarakat diumumkan supaya untuk mempersiapkan diri haji pada tahun itu. [4] Pada tahun itu, sangat banyak kaum Muslimin yang berkumpul untuk menyertai Nabi Muhammad Saw dalam menunaikan ibadah haji di Madinah. [5] Ia keluar dari kota Madinah pada 25 Dzulkaidah menuju Mekah. [6] Imam Ali As pada bulan Ramadhan tahun itu juga diutus untuk pergi ke Yaman guna berperang dengan kaum Musyrikin di sebuah tempat bernama Madzhaj. [7] Setelah mencapai kemenangan dan mengumpulkan harta rampasan perang, atas perintah Nabi Saw, mereka pergi ke Mekah untuk melaksanakan ibadah haji. [8]

Pada Hari Arafah, Nabi Muhammad menyampaikan khutbah kepada para haji dan mengingatkan tentang permasalahan seperti: menghormati darah kaum Muslimin, sifat amanah yang harus diemban, pengharaman riba, menunaikan hak-hak wanita dan pelarangan untuk mengikuti bujukan dan rayuan setan kepada para haji. [9]

Setelah selesai menunaikan ibadah haji, mereka keluar dari Mekah dan kembali ke tempat asalnya masing-masing. Kafilah haji itu pada tanggal 18 Dzulhijjah sampai disebuah tempat bernama Ghadir Khum. [10] Ghadir Khum adalah sebuah tempat antara Mekah dan Madinah. Tempat ini berada di antara jarak dua kilo meter (berada di Juhfah dan merupakan persimpangan jalan bagi para haji untuk menuju tujuannya masing-masing). [11] Semenjak kafilah haji Nabi Muhammad Saw sampai ke tempat ini, Malaikat Jibril menurunkan surah al-Maidah ayat 67[Note 1] “Hai rasul, sampaikanlah apa yang di turunkan kepadamu dari Tuhan-mu. Dan jika kamu tidak mengerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan risalah-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (Qs Al-Maidah [5]: 67) dan ayat ke-3[Note 2] Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridai Islam itu menjadi agama bagimu. (Qs Al-Maidah [5]: 3) </ref> surah yang sama dan Nabi Saw berkewajiban untuk mengumumkan wilāyah/kepemimpinan Imam Ali As. [12] Kafilah itu berhenti atas perintah Nabi Saw dan kafilah lain pun bergabung dengan mereka. Setelah selesai menyelesaikan salat Dhuhur, mereka menyiapkan mimbar dan Nabi pun menyampaikan khutbahnya. Dalam khutbah itu, Nabi mengabarkan bahwa sebentar lagi ia akan meninggal dunia. Ia menyampaikan tentang dua pusaka penting yang berada di antara kaum Muslimin dan tentang pengutamaan wilayah dan kepemimpinannya atas kaum Muslimin. [13] Kemudian ia mengangkat tangan Imam Ali dan bersabda, “Barangsiapa yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya, maka ia pun harus menjadikan Ali sebagai pemimpinnya.” [14] Kemudian Nabi Muhammad Saw mendoakan orang-orang yang membela dan menyokong Imam Ali As dan melaknat musuh-musuhnya. [15] Pada saat itu, Hasan bin Tsabit meminta ijin dari Nabi Saw untuk membacakan syair guna menggambarkan peristiwa itu. [16] Setelah itu, Khalifah Kedua (Umar bin Khattab) mengucapkan ucapan selamat atas diangkatnya Imam Ali As sebagai washi setelah Nabi Saw. [17]

Catatan Kaki

  1. Biruni, Al-Atsār al-Bāqiyah, hal. 71; Shaduq, Al-Khishāl, jil. 2, hal. 487; Majlisi, Bihār al-Anwār, jil. 15, hal. 282; Ibnu Atsir, Al-Nihāyah, hal. 140.
  2. Bukhari, Tārih Al-Kabir, jil. 4, hal. 1599; Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, jil. 3, hal. 152; Halabi, Al-Sirah al-Halabiyyah, jil. 3, hal. 360.
  3. Thabari, Tārih Al-Umam wa al-Muluk, jil. 3, hal. 149.
  4. Ibnu Hisyam, Al-Sirah al-Nabawiyyah, jil. 3, hal. 1089; Ibnu Katsir, Al-Bidāya wa al-Nihāya, jil. 5, hal. 110.
  5. Waqidi, Al-Maghazi, jil. 3, hal. 1089; Ibnu Katsir, Al-Bidāyah wa al-Nihāyah, jil. 5, hal. 110.
  6. Thabari, Tārikh al-Umam wa al-Muluk, jil. 3, hal. 149.
  7. Thabari, Tārikh al-Umam wa al-Muluk, jil. 3, hal. 132; Ya’qubi, Tārikh al-Ya’qubi, jil. 2, hal. ; Halabi, Al-Sirah al-Halabiyyah, jil. 3, hal. 289.
  8. Waqidi, Al-Maghāzi, jil. 3, hal. 1079-1080-1081; Halabi, Al-Sirah al-Halabiyyah, jil. 3, hal. 289.
  9. Thabari, Tārikh al-Umam wa al-Muluk, jil. 3, hal. 150-152; Ibnu Hisyam, Al-Sirah al-Nabawiyyah, jil. 2, hal. 603-604.
  10. Ya’qubi, Tārikh al-Ya’qubi, jil. 2, hal. 118.
  11. Yaqut, Mu’jam al-Buldān, jil. 2, hal. 103.
  12. Mufid, Tafsir al-Qurān, jil. 1, hal. 184; ‘Ayasyi, Tafsir ‘Ayāsyi, jil. 1, hal. 3.
  13. Ya’qubi, Tārikh al-Ya’qubi, jil. 2, hal. 1, bag. 12.
  14. Ibnu Atsir, Usd al-Ghābah, jil. 5, hal. 253; Kulaini, Al-Kāfi, jil. 2, hal. 27.
  15. Baladzuri, Ansāb al-Asyrāf, jil, 2, hal. 111; Ibnu Katsir, Al-Bidāyah wa al-Nihāyah, jil. 7, hal. 349; Nasai, jil. 5, hal. 45.
  16. Shaduq, Al-Amāli, hal. 575; Mufid, Aqsām al-Maula, hal. 35; Thusi, Al-Iqtishād, hal. 351; Thusi, Al-Rasāil, hal. 138.
  17. Ibnu Katsir, Al-Bidāyah wa al-Nihāyah, jil. 7, hal. 349.
  1. یا أَیهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ ما أُنْزِلَ إِلَیک مِنْ رَبِّک وَ إِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَما بَلَّغْتَ رِسالَتَهُ وَ اللَّهُ یعْصِمُک مِنَ النَّاسِ إِنَّ اللَّهَ لا یهْدِی الْقَوْمَ الْکافِرینَ
  2. الْیوْمَ یئِسَ الَّذینَ کفَرُوا مِنْ دینِکمْ فَلا تَخْشَوْهُمْ وَ اخْشَوْنِ الْیوْمَ أَکمَلْتُ لَکمْ دینَکمْ وَ أَتْمَمْتُ عَلَیکمْ نِعْمَتی‏ وَ رَضیتُ لَکمُ الْإِسْلامَ دیناً