Makkah

Prioritas: aa, Kualitas: b
Dari wikishia
(Dialihkan dari Tanah Suci Mekah)
Panorama kota Makkah dan Masjidil Haram

Makkah (Bahasa Arab: مَکّه) adalah kota suci bagi kaum muslimin dan merupakan tempat kelahiran Islam dan Nabi Muhammad Saw yang terletak di semenanjung Arab. Bakkah, Balad al-Haram, Balad al-Amin dan Umm al-Qura adalah di antara nama-nama lain kota suci ini.

Kota ini menjadi kiblat kaum muslimin lantaran Ka’bah berada di dalamnya dan setiap tahunnya jutaan umat muslimin mengunjungi kota ini guna melaksanakan ritual ibadah haji serta menziarahi tempat-tempat suci kota Makkah. Masjid al-Haram, Arafah, Masy’aril Haram dan Mina adalah di antara tempat-tempat suci religius terpenting kota ini.

Komunitas muslim Syiah Makkah pada abad ke-10 H semakin bertambah. Para ulama Syiah senantiasa hadir di kota ini dalam berbagai periode sejarah. Pada periode pemerintahan keluarga Al Saud di Arab Saudi, melalui kecenderungan-kecenderungan ekstrim anti Syiah kaum Wahabi, masyarakat Syiah Arab Saudi melakukan ritual-ritual religius mereka dengan terbatas serta mengalami tekanan ekonomi.

Nama Populer

Ucapan Nabi Ibrahim as yang dipanjatkan kepada Allah swt:
"Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: "Dan kepada orang yang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali".
QS. Al-Baqarah, 126.

Nama asli dan terkenal kota ini adalah Makkah (Makkah). Nama ini juga terdapat dalam Al-Quran:

وَ هُوَ الّذی کَفّ اَیدیَهُم عَنکُم و اَیدیکُم عَنهُم بِبَطنِ مَکّة مِن بَعدِ أن أظفرَکُم عَلَیهِم [1]

Sebab Penamaan

Menurut sumber-sumber sejarah dan riwayat, penamaan kota ini dengan “Makkah” disebutkan dengan beberapa modus, yang terpenting di antaranya adalah:

  • Makkah atau (مکّه), rangkapan dari kata “Mak(مک)(bermakna rumah) dan Rabb dan Makkah yakni Baitur Rabb(rumah Tuhan) atau Baitullah (rumah Allah);
  • Makkah atau (مکه), rangkapan dari kata “Mak(مک) (bermakna oasis dan lembah) dan Rabb dan Makkah yakni Lembah Tuhan;
  • Makkah atau (مکه) pada asalnya adalah “Makraba(مکرابا)” yang di ambil dari kata Maqrab(مقرب) dan tempat ini bermakna suatu tempat di mana kedekatan kepada Tuhan akan terwujud;
  • Makkah atau (مکه) berasal dari turunan kata Makak(مکک) (bermakna binasa dan berkurang) dan Makkah yakni suatu tempat di mana setiap penguasa zalim yang memiliki niatan buruk terhadap kota ini akan bernasib hancur dan binasa;
  • Makkah atau (مکه) berasal dari akar kata Mak(مک) (bermakna daya tarik) dengan alasan bahwa masyarakat akan tertarik mengunjungi negeri ini dari berbagai penjuru wilayah.[2]

Nama-nama Lain

Sepanjang sejarah, kota Makkah dikenal pula dengan beragam nama. Di antara sebagian nama-nama ini terdapat dalam Al-Quran.

  • Bakkah[3]:إنَّ اوّلَ بَیتٍ وُضِعَ لِلناسِ لَلَّذی بِبَکّةَ مُبارَکاً و هُدی لِلعالَمین
  • Al-Balad al-Amin[4] :وَ التّینِ وَ الزّیتونِ وَ طورِ سینینَ وَ هذا البَلَدِ الأمینَ
  • Umm al-Qura[5]: لِتُنذِرَ اُمَّ القُری وَ مَن حَولَها
  • Al-Balad al-Haram[6]

Begitu pula ada Al-‘Urudh(العروض), al-Siil(السیل), Mukhraju Shidq(مخرج صدق), Ummu Rahm(ام رحم ), Ummu Shubh(ام صبح), al-Balad(البلد), Haramullah ta’ala(حرم الله تعالی), Faadan(فادان), al-Naasih(الناسه), al-Bassah(الباسه), Thayyibah(طیبه), Hathimah(حاطمه)[7]Bait al-Atiq(بیت العتیق), al-Qadisiyah(القادسیه)[8]

Informasi Umum

Peta Makkah dan tempat-tempat sucinya

Letak Goegrafis

Kota terpenting dan tersuci di wilayah Hijaz adalah kota Makkah. Kota ini terletak pada jarak 80 km sebelah timur laut merah, panjang 40 derajat 9 menit dan lebar 31 derajat 28 menit di garis khatulistiwa dan ketinggiannya dari permukaan laut 330 meter.[9]

Sebab Kemunculan

Dikatakan bahwa kemunculan dan perluasan kota Makkah, disebabkan oleh dua faktor utama: Pertama, karena menjadi pusat peribadatan untuk menyembah Tuhan dan kedua, karena menjadi pusat perniagaan dan lalu lintas perdagangan.[10]

Ekonomi Makkah

Pada periode, tidak lama sebelum kemunculan Islam, Makkah menjadi tempat atau sentral perniagaan lantaran posisi penting Ka’bah yang juga terletak di jalur perdagangan menuju Suriah, Palestina dan Mesir. Meskipun pada mulanya kaum Quraisy hanya berdagang di Makkah,[11] namun Hasyim bin Abdu Manaf, telah merintis perniagaan di sekitar Makkah. Dia bersama saudara-saudaranya, Abdu Syams dan Naufal berhasil memperoleh izin untuk berdagang ke Suriah, Yaman, Habasyah dan Iraq dari para penguasa negeri-negeri tersebut dan sejak itu, Makkah berubah menjadi kota perniagaan penting.[12] Tempat berkumpulnya para pedagang Quraisy lebih banyak berlangsung di suatu pasar bernama 'Ukazh, dekat Arafah, selama bulan Dzulkaidah.[13]

Riba adalah salah satu cara masyarakat Makkah mencari penghasilan dan hal itu dipandang sebagai sebuah bentuk perniagaan.[14]

Iklim

Kota Makkah yang terletak pada ketinggian sebelah barat wilayah Hijaz, mempunyai iklim yang panas dan kering. Di musim panas, terasa panas dan di musim dingin dipenuhi dengan guyuran hujan.[15]

Sejarah Makkah

Sebelum Islam

Peristiwa-peristiwa religius penting yang terjadi di kota Makkah sebelum kedatangan Islam, menurut penukilan teks-teks religius, dapat diisyaratkan sebagai berikut:

  • Pembangunan Ka’bah: Berdasarkan perintah Allah Swt kepada Nabi Ibrahim as untuk membangun Ka’bah. Dalam membangun Ka’bah dia dibantu oleh putranya Ismail as.[16] tentunya, mengenai zaman pertama kali Ka’bah dibangun, terdapat beberapa nukilan yang berbeda-beda. Di antara nukilan-nukilan ini bahkan ada yang menyebut pembangunan Ka’bah sebelum penciptaan Nabi Adam as.[17]
  • Penyerangan Abrahah: Abrahah, penguasa Yaman, menyerang Makkah untuk merusak Ka’bah pada tahun 571 M. Ia menuju Makkah dengan tentara pasukan yang menunggangi gajah, tetapi ketika mereka tiba di sana, mereka dihujani batu-batu kecil oleh segerombolan besar dari burung-burung. Batu-batu kecil ini dengan cepat membinasakan setiap orang yang dikenainya.[18]
  • Kelahiran Nabi Muhammad Saw: Nabi Muhammad Saw lahir pada tanggal 17 atau 12 Rabiul Awwal tahun pertama "'Amm al-Fill" (tahun gajah)(sekitar tahun 569-570 M.) di kota Makkah.[19]
  • Kelahiran Ali bin Abi Thalib as di dalam Ka’bah: Imam Ali as lahir di rumah Allah pada hari jumat 13 Rajab tahun 30 "'Amm al-Fill" (tahun gajah). Sang Imam adalah satu-satunya orang yang lahir di dalam Ka’bah.[20] Peristiwa ini dinukil pula dalam sebagian sumber-sumber riwayat Ahlusunnah. Berdasarkan riwayat mutawatir, disebutkan dalam al-Mustadrak ‘ala Shahihain bahwa Amirul Mukminin Ali as dilahirkan oleh ibunya Fatimah binti Asad di dalam Ka’bah.[21]

Dalam periode Islam

  • Pada zaman Nabi Muhammad Saw: Pada masa kehidupan Nabi Saw, Makkah menyaksikan pelbagai peristiwa religius dan sejarah yang penting. Sebagian peristiwa-peristiwa tersebut antara lain adalah:
  1. Kemunculan agama Islam
  2. Berhijrahnya sekelompok kaum muslimin ke Habasyah, dipimpin oleh Ja’far bin Abi Thalib(bulan 5 kenabian)
  3. Embargo dan pemblokiran ekonomi kaum muslimin di lembah/perkampungan Syi’b Abu Thalib (bulan 7 kenabian)
  4. Wafat Abu Thalib(bulan 10 kenabian)
  5. Wafat Khadijah(bulan 10 kenabian)
  6. Hijrah Nabi saw ke Yatsrib
  7. Penaklukan Makkah (9 H.)
  8. Haji Perpisahan (Hajjat al-Wida)(10 H.)
  9. Peristiwa Ghadir Khum(10 H.)
  • Pada zaman dinasti Umawi :
  1. Pemberontakan melawan penobatan Yazid sebagai putra mahkota
  2. Pemberontakan Abdullah bin Zubair di Makkah(62 H.)
  3. Serangan tentara pasukan Yazid ke Ka’bah dan Masjidil Haram(64 H.)
  4. Pemugaran bangunan Ka’bah oleh Abdullah bin Zubair dan perusakan Ka’bah oleh Hajjaj
  5. Penyerangan Hajjaj ke Makkah dengan perintah Abdul Malik bin Marwan serta pembakaran Ka’bah(73 H.)
  1. Kemunculan Nafsu Zakiyyah(145 H.)
  2. Peristiwa Fakh(169 H.)
  3. Peristiwa Ahbash(173 H.)
  4. Kebangkitan(perlawanan) Aftas(199 H.)
  5. Pendudukan kota Makkah oleh kaum Qaramithah(317 H.)
  6. Penghinaan kalangan Qaramithah terhadap Ka’bah serta pencurian Hajar Aswad(317 H.)
  • Pada periode Fatimiyyun dan para pembesar atau bangsawan Makkah :
  1. Pendudukan bangsawan atau para pembesar (syurafa) atas kota Makkah(358 H.)
  2. Infiltrasi dan pengaruh mazhab Syiah di Makkah
  • Pada periode kerajaan-kerajaan dan penguasa-penguasa Usmani :
  1. Penyulitan(konstriksi) atas jamaah haji Iran oleh pemerintah Usmani
  2. Operasi pembantaian kaum Syiah di Makkah dengan dalil penajisan kain penutup Ka’bah oleh kaum Syiah(1088 H.)
  3. Pembunuhan terhadap sebagian ulama Iran di Makkah, seperti Zainul Abidin Kasyani(1040 H.), Sayyid Muhammad Mukmin Razawi(1088 H.)
  4. Pemaksaan kepada para khatib agar melaknat kaum Syiah di mimbar-mimbar resmi(1157 H.)
  5. Keluarnya hukum pengafiran (takfiri) Syiah oleh para ulama Makkah
  • Pada periode Saudi
  1. Pembantaian jamaah haji Yaman di Makkah(1341 H.)
  2. Penyerbuan dan pendudukan kota Makkah serta pembantaian kaum muslimin (1342 H.)
  3. Perusakan pekuburan Makkah, antara lain makam Abu Thalib, Abdul Muthallib, Khadijah dan lain-lain(1342 H.)
  4. Penguasaan keluarga Saud atas kota Makkah(1344 H.)
  5. Pembantaian jamaah haji Mesir di Mina(1344 H.)
  6. Pembantaian jamaah haji Iran di Makkah(1366 H.)[22][23]
  7. Perluasan Masjidil Haram serta pembangunan tempat baru untuk melaksanakan tawaf.

Keutamaan-keutamaan Kota Makkah

Imam Shadiq as : “Bumi yang paling dicintai Tuhan adalah daerah Makkah, bagi Tuhan tidak ada tanah dari tanahnya, tidak ada batu dari batunya, tidak ada pohon dari pohonnya, tidak ada gunung dari pegunungannya dan tidak ada air dari airnya (Makkah) yang lebih di cintai oleh-Nya.” [24] Kota Makkah bagi kaum muslimin merupakan kota yang sangat penting dan berharga. Hal ini lantaran adanya tempat-tempat suci dan penuh berkah seperti Kakbah, Masjidil Haram, pelaksanaan ritual-ritual ibadah haji serta penekanan para penghulu agama atas kesungguhan untuk beribadah di kota ini. Terdapat banyak pula riwayat berkenaan dengan fadilah dan pahala salat di masjid ini. Berdasarkan riwayat dari para Maksum as, pahala satu rakaat salat di Masjidil Haram setara dengan seratus ribu rakaat di masjid-masjid lainnya.[25] Kota ini dikenal pula sebagai haram (tempat Suci) Allah dan Rasul-Nya serta haram Amirul Mukminin.[26]

Tempat-tempat Suci

Masjidil Haram

Panorama Masjidil Haram

Masjidil Haram merupakan masjid paling suci dan masjid paling terkenal Islam, berada di Makkah di negara Arab Saudi di mana Ka’bah terletak di dalamnya. Selain Ka’bah di dalam masjid ini terdapat pula benda-benda, bangunan-bangunan serta tempat-tempat suci lainnya seperti Hajar Aswad, Multazam, Mustajar, Hathim dan Hijr Ismail yang memiliki kedudukan religius dan spiritual tinggi bagi kaum muslimin. Masjidil haram dalam fikih Islam, selain memiliki hukum-hukum umum masjid lainnya, juga mempunyai hukum-hukum khusus. Dalam syariat Islam, hukumnya adalah wajib bagi setiap muslim yang mampu, sekali seumur hidup, untuk melakukan perjalanan ke Makkah dan menunaikan ritual-ritual manasik haji di mana sebagian di antaranya di lakukan di masjid ini.

Ka’bah

[[Main|ka'bah}}

Panorama Ka'bah

Kakbah merupakan kiblat dan tempat ibadah terpenting kaum muslimin di mana bagi setiap muslim yang mampu serta memenuhi syarat adalah wajib mengunjungi dan berziarah sekali seumur hidup. Menurut sebagian riwayat, Ibrahim dan putranya Ismail membangun Ka’bah berdasarkan perintah Allah Swt. Klaim ini juga didukung oleh sebagian ayat-ayat Al-Quran. Sejak tahun kedua Hijriah, kiblat kaum muslimin diubah dari Baitul Muqaddas ke arah Ka’bah.[27]

Masjid-masjid

  • Masjid Khaif, berdasarkan sebagian riwayat, merupakan saksi berlangsungnya khutbah Nabi Muhammad Saw pada Haji Perpisahan (hajjatul widaa') dan menurut anjuran para imam maksum, salat di dalamnya memiliki keutamaan yang banyak.[28]
  • Masjid an-Nahr adalah masjid yang terletak di wilayah Mina dimana di tempat ini Allah mengirimkan seekor domba kepada Ibrahim as untuk disembelih, menggantikan putranya Ismail as[29]
Masjid Khaif di daerah kawasan Mina
  • Masjid Tan’im.
  • Masjid Namirah atau masjid Ibrahim as.
  • Masjid al-Jinn.
  • Masjid al-Ijabah.
  • Masjid al-Insyiqaqul Qamar.
  • Masjid al-Rayah atau Radmul A’la.
  • Masjid (rumah) Ummu Hani
  • Masjid al-Shafa'ih (di ambil dari nama sebuah gunung).[31]

Masya’ir

  • Daerah Arafah, suatu wilayah di mana jamaah haji berhenti (wukuf) di tempat tersebut pada hari arafah dari waktu Zhuhur hingga Magrib.
  • Masy’aril haram atau muzdalifah, terletak di antara daerah Arafah dan Mina, sekembali dari Arafah para jamaah haji berhenti dan melewatkan sebagian malam hingga pagi hari id di tempat ini.
  • Daerah Mina, suatu wilayah di mana jamaah haji tinggal dan menetap di tempat tersebut sejak hari ke -10 hingga hari ke- 12 Dulhijjah. Melontar jumrah, berqurban, mencukur atau memotong rambut serta mabit (bermalam) adalah di antara amalan-amalan di tempat ini.
Masjid Syajarah dekat kota Madinah Miqat bagi penduduk Madinah dan orang-orang Iran

Miqat

  • Masjid Syajarah, masjid ini terletak 10 km dari Madinah, merupakan miqat (tempat berihram) bagi penduduk Madinah serta orang-orang yang datang melakukan haji dari arah ini.
  • Juhfah, merupakan tempat miqat yang ditentukan bagi penduduk Mesir, Suriah, Maroko serta mereka yang datang ke arah Makkah melalui jalan ini.
  • Wadi Aqiq, tempat miqat bagi penduduk Irak, Najd dan orang-orang yang melewatinya.
  • Qarnul Manazil, miqat bagi penduduk Yaman dan Thaif.
  • Yalamlam, merupakan tempat miqat paling terakhir yang ditentukan dalam riwayat bagi penduduk Yaman serta orang-orang yang melaluinya.[32][33]

Peninggalan-peninggalan Religius Bersejarah

  • Tempat kelahiran nabi Islam, terletak di Syi'bi Abu Thalib bersebelahan dengan Suqul Lail dan dalam periode pemerintahan keluarga Saud, diruntuhkan dan diganti dengan bangunan-bangunan lain.
Panorama tempat kelahiran Nabi saw (Maulid Nabi)
  • Rumah Khadijah istri Rasulullah saw merupakan tempat paling penting sesudah tempat kelahiran Nabi saw di antara tempat-tempat yang ada di kota Makkah, pelbagai peristiwa penting terjadi di rumah ini, di antaranya adalah:
  1. Pernikahan Rasulullah saw dengan Khadijah sa.
  2. Kelahiran putri Nabi saw Fatimah az-Zahra.
  3. Kelahiran tiga putri Rasulullah saw lainnya.
  4. Wafat Khadijah.
  5. Peristiwa Lailah al-Mabit.
  6. Di mulainya hijrah nabi ke Madinah.
  • Rumah Arqam bin Abi Arqam, merupakan markas rahasia pertama dalam melaksanakan dakwah dan tablig agama Islam.
  • Rumah Abu Thalib, tempat tinggal Imam Ali as. serta tempat nabi saw tumbuh besar.
  • Rumah Abdullah bin Jud’an, tempat berlangsungnya perjanjian hilful fudhul.
  • Tempat kelahiran Hamzah, terletak di bagian bawah Makkah di suatu daerah bernama Bazaan.
  • Rumah Harits bin Abdul Muthallib, merupakan tempat pertama kali agama Islam di sampaikan secara terbuka oleh Nabi saw dan sekaligus mengajak keluarganya untuk memeluk agama Islam.
  • Rumah Ummu Hani di mana mi’raj nabi di mulai dari tempat ini.
Pemakaman Ma'la (Pemakaman Abu Thalib)
  • Tempat kelahiran Imam Shadiq as dimana beliau lahir di suatu rumah yang dikenal dengan Daru Abi Sa'id berdekatan dengan Darul Ajalah. Dikatakan bahwa Ja’far Thayyar lahir di rumah ini pula.[34]
  • Pemakaman Ma’la, di kalangan orang-orang Iran populer dengan pemakaman Abu Thalib. Di pemakaman ini telah dikuburkan orang-orang seperti Abdul Muththalib, Abu Thalib dan Khadijah al-Kubra sa.
  • Makam syuhada Fakh, tempat syahid dan dikuburnya para syuhada perlawanan Fakh yang berjuang melawan pasukan Bani Abbas.[35]

Tempat-tempat Ziarah antara Makkah dan Madinah

  • Pemakaman syuhada perang Badar: Tempat yang merupakan saksi bisu perang badar ini terletak 150 km selatan barat kota Madinah dan sejumlah empat belas orang yang syahid dalam perang ini dikuburkan di tempat ini.
  • Masjid al-Arisy: Masjid ini dibangun di dekat pemakaman syuhada badar dan merupakan tempat ibadah dan salat malam Rasulullah saw di malam perang badar.
  • Rabazah: Daerah yang terletak di timur Madinah serta berdampingan dengan pantai laut merah ini adalah tempat dikuburkannya Abu Dzar al-Ghifari.
  • Ghadir khum: Merupakan nama suatu daerah yang berdekatan dengan Juhfah, terletak 156 km utara barat Makkah dan merupakan saksi bisu atas peristiwa Ghadir khum.
  • Tempat ziarah Abwa’: Sebuah tempat ziarah yang terletak 45 km kearah Juhfah di mana kuburan Aminah binti Wahb, ibu mulia rasulullah saw berada di tempat ini.[36]

Pegunungan penting

  • Abu Qubais: Berdasarkan riwayat-riwayat, gunung ini adalah gunung paling utama di antara pegunungan Makkah, dengan ketinggian 420 m, terletak di utara timur Masjidil Haram. Lantaran bersebelahan dengan Ka’bah dikenal sebagai gunung suci. Disebutkan bahwa dalam peristiwa topan Nabi Nuh as, gunung ini menjadi penjaga amanah Hajar Aswad, dengan alasan ini pula disebut dengan Amin. Pengumuman pertama kali risalah Nabi Muhammad Saw adalah dari atas gunung ini.[37] Bukit shafa yang ditempatkan di permulaan jalan untuk melakukan sa’i, terletak di lembah gunung ini.
  • Jabal Nur atau Hira: Gunung ini berada pada 4 km. utara timur Makkah dan bersebelahan dengan jalan Mina dan Arafah. Dengan ketinggian 634 m terletak di utara timur Makkah. Gua Hira yang berada di titik terpuncak gunung ini, merupakan tempat ibadah dan iktikaf Nabi saw. pada bulan-bulan suci Ramadhan di setiap tahunnya sebelum beliau diutus. Imam Ali as pun menyertai Nabi saw pada hari-hari ini. [38] Begitupula, dari ayat Al-Quran yang pertama kali diwahyukan kepada Nabi saw adalah turun di gua ini pula.[39]
Panorama Jabal Nur dan gua Hira
  • Tsaur: Gunung ini dengan ketinggian 759 m, terletak 3 km di sebelah selatan Makkah. Nabi saw ketika berhijrah ke Madinah, guna mengelirukan musuh, selama beberapa hari bersembunyi di sebuah gua dalam gunung ini.[40]
  • Perkampungan Abu Thalib: Perkampungan atau lembah Abu Thalib yang sekarang ini dinamakan pula dengan lembah Ali as,[41] merupakan tempat berlindung kaum muslimin dari gangguan kaum musyrik selama tiga tahun.[42]
  • Gunung-gunung lain kota Makkah di antaranya adalah: Hujun, Quaiqa’an atau Jabal hindi, Khandamah, ‘Umar, Tsubair.[43]

Kondisi Komunitas Syiah di Makkah

Syaikh Badar Āl Thalib ulama kritis Syiah di Makkah

Kehadiran Syiah (tasyayyu) di Makkah, dalam bentuk perorangan atau kelompok kembali pada masa-masa kehadiran pertama kali Islam di kota ini. Munculnya silsilah kekuasaan daerah otonom keluarga Syiah Bani Āl Hasan, menunjukkan secara jelas posisi Syiah di kota ini.[44]

Makkah abad ke-10, merupakan salah satu pusat utama Syiah di mana Ibnu Hajar al-Haitami menyatakan tujuannya menulis as-Shawaiqul Muhriqah sebagai bentuk perluasan dan perkembangan kaum Syiah di kota ini.[45]Ibnu Jubair (540-614 H. / 1145-1217 M.) pelancong muslim terkenal, dalam catatan perjalanannya menjelaskan bahwa di tahun perjalanannya ke Makkah, amir Makkah menetapkan hilal bulan Ramadhan berdasarkan mazhab Syiah alawi.[46] Ia mengabarkan bahwa di Masjidil Haram, terdapat suatu tempat khusus yang diperuntukkan bagi kaum Syiah Zaidiyah untuk melaksanakan salat jamaah dan para bangsawan dan pembesar Makkah disebutnya sebagai seorang Zaidiyah, ia mengatakan; dalam azan mereka menambahkan kalimat “hayya ‘ala khairil amal”.[47]Sebagian buku catatan perjalanan berbicara tentang kehadiran kaum Syiah yang tidak menonjol di Makkah pada abad-abad selanjutnya.

Muhammad Husain Farahani yang berangkat haji pada tahun 1302 H/1264 HS, menyebut populasi penduduk Syiah kota Makkah sangat sedikit dan tidak berarti, ia mengatakan bahwa sebagian besar mereka berprofesi sebagai penuntun jamaah haji Syiah.[48] Haj Iyaz khan Qasyqai yang berkunjung ke Makkah pada tahun 1341 H / 1922 M melaporkan bahwa kaum Syiah dalam menunaikan kewajiban mereka di Jeddah, Makkah dan Madinah tidak perlu bertaqiyyah serta bebas mengungkapkan dirinya sebagai Syiah.[49]

Para pembesar Makkah secara resmi, setidaknya hingga permulaan abad ke-15 M, mendukung Syiah Zaidiyah.[50] Sebagian penulis catatan perjalanan mengklaim bahwa bangsawan Makkah adalah orang-orang Syiah namun menyembunyikan akidah mereka.[51] Pada abad ke-15, dalam batas tertentu dengan alasan tekanan raja-raja, para pembesar Makkah perlahan-lahan beralih kepada mazhab syafi’i serta memutus hubungan dengan Zaidiyah.[52] Walaupun demikian, berdasarkan laporan sebagian sumber-sumber, hingga akhir pemerintahannya mereka senantiasa menghendaki toleransi dan sikap lunak terhadap kaum Syiah.[53]

Kehadiran pemerintahan keluarga Saud, menjadikan komunitas Syiah yang hidup terpencar dan terbatas di Makkah berada dalam suatu kondisi religius yang sangat terbatas dan melalui fatwa-fatwa ulama dan mufti wahabi, acap kali jiwa dan harta mereka jadi terusik dan terganggu. Gangguan dan tindakan merugikan ini menyebabkan kaum Syiah sedapat mungkin melakukan taqiyyah di negara ini, khususnya di kota Makkah, kaum Syiah dengan terpaksa menjalankan ritual-ritual mazhab mereka di rumah-rumah yang jauh dari pantauan serta di dalam ruangan-ruangan tertutup dan di acara-acara umum mereka memperlihatkan diri sebagai sunni.[54] Pada akhir tahun 2012 M pihak keamanan keluarga Saud menangkap Syaikh Badr Ali Thalib dan Syaikh Muhammad al-Athiyah, dua ulama Syiah di kota Makkah dan Jeddah. [55]

Rencana perluasan Masjidil Haram

Bangunan-bangunan Baru

Pembangunan tempat baru untuk tawaf

Dalam beberapa tahun terakhir, dengan semakin bertambahnya peziarah Ka’bah, hotel-hotel baru mulai dibangun di sekitar Masjidil Haram. Di antaranya adalah proyek pembangunan 26 hotel baru yang menyiapkan 13 ribu kamar untuk menambah kapasitas kota. Pada tahun 1389 H, pengoperasian monorel Makkah diresmikan sebagai penghubung antara kota Makkah dan tempat-tempat suci Mina, Arafah dan Muzdalifah. Menara Jam (royal clock tower) adalah satu di antara bagunan baru lainnya yang merupakan menara jam terbesar dunia yang menampilan empat bagian sisi jam. Pembangunan gedung dan hotel-hotel di sekitar masjidil haram ini dihadapkan pula dengan protes dan kritikan dunia Islam. Menurut keyakinan orang-orang ini, bangunan-bangunan mewah mempengaruhi perwajahan spiritual masjidil haram.[56]

Di penghujung tahun 2013, desain baru perluasan Masjidil Haram mulai dikerjakan dan saat ini telah didirikan bagunan dua lantai di sekitar Ka’bah untuk pelaksanaan tawaf. Lantai pertama memiliki ketinggian sekitar 3 sampai 4 meter dan lantai kedua memiliki ketinggian 13 meter. Pembuatan gedung ini menyebabkan munculnya serangkaian pembahasan fiqih terkait dengan kebolehan atau kebenaran melakukan tawaf di lantai-lantai ini. Menurut pendapat fuqaha Syiah, pelaksanaan tawaf di lantai pertama dibenarkan tetapi pelaksanaan tawaf di lantai dua, menurut pandangan sebagian, hanya dibolehkan bagi orang-orang yang tak mampu(lemah) serta mereka yang mempunyai uzur (alasan yang dimaafkan) untuk bertawaf di halaman Masjidil Haram atau di lantai pertama.[57]

Rerensi-referensi Studi

Karya-karya tulis tentang kota Makkah sangatlah banyak. Kota ini merupakan salah satu kota yang banyak ditulis tentangnya. Subjek karya-karya ini berupa geografi, sejarah dan peristiwa kota Makkah, raja-raja dan penguasa, ulama-ulama dan tokoh-tokohnya yang terkenal, kejadian-kejadian penting alami dan non-alami serta kondisi religius dan budaya kota Makkah dan selainnya.

Karya-karya historis dan geografis

Beberapa karya-karya kuno yang di tulis terkait dengan studi tentang sejarah dan geografi Makkah tidak sampai ke tangan kita, meskipun kebanyakan dari tema-tema bahasan yang di kutip dari karya-karya ini terdapat dalam karya-karya selanjutnya. Karya-karya tersebut antara lain:

Nama Buku Penulis Tanggal Penulisan Penerbit Tanggal Terbit
Akhbar Makkah wa Ma Jaa Fiiha mi al-Atsar Muhammad bin Abdullah Azraqi Abad ke-2 dan 3 H Darul Andalus 1983M
Akhbar Makkah fii Qadimid Dahri wa Haditsihi Muhammad bin Ishaq Faqihi Abad ke- 3 H Maktabatul Asadi 1414H
Al-Aqd al-Tsamin fii Tarikh al-Balad al-Amin Muhammad bin Ahmad al-Fasi Abad ke-8 dan 9 H Muassasat al-Risalah 1406 H
Ittihaf al-Wara bi Akhbari Umm al-Qura Umar bin Fahad bin Muhammad Abad ke-9 H Jamiah Umm al-Qura 1410 H
Gayat al-Maram bi Akhbari Saltanat al-Balad al-Haram Abdul Aziz bin Umar Abad ke-9 dan 10 H Jamiah Umm al-Qura 1410 H
Al-I’lam bi I’lam Baitullah al-Haram Muhammad bin Ahmad Nahrawani Abad ke-11 H Al-Maktabat al-Tijariah 1416 H
Tarikh Makkah al-Musyarrafah wa al-Masjid al-Haram wa al-Madinat al-Syarifah Muhammad bin Muhammad Makki abad Abad 9 H Al-Maktabat al-Tijariah 1416 H
Al-Araj al-Miski fii al-Tarikh al-Makki Ali bin Muhammad Abdul Qadir Thabari Abad Abad 11 H Al-Maktabat al-Tijariah 1416 H
Tahniah Ahlul Islam bi Tajdidi Baitullah al-Haram Ibrahim bin Muhammad Abad 11 H Al-Maktabat al-Tijariah 1418 H
Mana'ihul Kiram fii Akhbari Makkah wa al-But wa Wulat al-Haram Ali bin Tajuddin Sanjari Abad 12 H Jamiah Ummul Qura 1419 H
Tarikh Umara Makkah Arif Abdul Gani kontemporer Damaskus 1992M
Tarikh Makkah, Dirasat fii al-Siyasah wa al-Ilm wa al-Ijtima wa al-Umran Ahmad al-Siba’i kontemporer 1414H
Al-Tarikh al-Qawim Li Makkah wa Baitullah al-Karim Muhammad Thahir Kurdi Makki kontemporer Dar Hidr 1420 H

Pentingnya kota Makkah dari aspek religius dan politik, telah menjadikan kota ini banyak dikunjungi para pelancong. Di samping itu, setiap tahunnya kaum muslimin dari berbagai penjuru dunia, berdatangan ke kota ini untuk berziarah dan menunaikan ibadah haji. Sebagian dari para musafir ini menuliskan keterangan perjalanan mereka dalam bentuk sebuah catatan perjalanan. Catatan-catatan ini menyuguhkan informasi-informasi bermanfaat tentang kota ini dalam berbagai periode sejarah. Sebagian pengetahuan-pengetahuan sejarah kita tentang kota Makkah diperoleh melalui catatan-catatan perjalanan ini.

Dua di antara catatan-catatan perjalanan haji tertua dan terpenting adalah Tazkirun bil Akhbar ‘an Ittifaqatil Amshar ditulis oleh Ibnu Jubair (540-614 H. / 1145-1217 M.) dan Tuhfatun Nuzhzhar dari Ibnu Bathuthah (wafat 779 H / 1369 M).

Kalangan Syiah Iran dalam catatan-catatan perjalanan mereka, menuliskan pula banyak hal tentang Masjidil Haram. Karya terpenting dalam ranah ini antara lain adalah Safar Nameh Nashir Khosro (wafat 481 H/1088 M), Safar Nameh Farhad Mirza Mu’tamid Daulah (wafat 1305 H) dan Dalilul Anam fi Sabili Ziarah Baitillahil Haram wal Qudsis Syarif wa Madinatil Islam ditulis oleh Hisyam al-Saltanah (wafat 1300 H). Dalam beberapa tahun terakhir cukup banyak catatan-catatan perjalanan haji kalangan Syiah di abad-abad sebelumnya yang ditulis dalam bahasa Persia, dicetak dalam bentuk buku serta kumpulan-kumpulan tulisan. Di antara kumpulan tulisan yang paling penting ialah Panjah Safar Nameh Haj Qajari yang dirampungkan oleh Rasul Ja’farian pada tahun 2010 M dan diterbitkan oleh penerbit Ilm Tehran.

Catatan Kaki

  1. QS. Fath: 24.
  2. Ja’fari, hlm.205
  3. Qs. Ali Imran, Ayat 96
  4. Qs. al-Tiin, Ayat 1-3
  5. Qs. al-An’am, Ayat 92
  6. Ja’fari, hlm.205-222
  7. Fasi al-Makki, hlm.76
  8. Nahrawani al-Makki, hlm.18
  9. Ja’farian, Ātsāre Islāmi, hlm.32 dan 33
  10. Ja’farian, hlm.33
  11. Ya’qubi, hlm.242
  12. Jawad Ali, hlm.21; Ya’qubi, hlm.242; Thabari, jld.2, hlm.251-252
  13. Azraqi, jld.1, hlm.382; Qazwini, hlm.85
  14. Al-Syarif, hlm.213
  15. Qaidan, hlm.44
  16. Ibnu Atsir, jld.1, hlm.81 dan 82; Ibnu Katsir, jld.1, hlm.378; Thabari, Tarikh al-Thabari, jld.1, hlm.251
  17. Azraqi, jld.1, hlm.68
  18. Sa’ad bin Husain Usman dan Abdul Mun’im Ibrahim al-Jami’i, hlm.18-24; Ibnu Atsir, jld.1, hlm.342-345
  19. Syahidi, hlm.37; Ayati, hlm.43
  20. Mufid, al-Irsyad fi Ma’rifati Hujajullah ‘alal Ibad, jld.1, hlm.5
  21. Hafiz Nisyaburi, jld.3, hlm.593
  22. Ja’farian, hlm.50-62
  23. Hukumate Wahabi Saudi
  24. Man La Yahdhuruh al-Faqih, jld.2, hlm.228
  25. Kulaini, jld.4, hlm.526
  26. Majlisi, Muhammad Taqi, hlm.207
  27. Ibnu Atsir, al-Kamil fii al-Tarikh, jld.1, hlm.81 dan 82; Ibnu Katsir, al-Bidayah wan Nihayah, jld.1, hlm.378; Thabari, Tarikhut Thabari, jld.1, hlm.251
  28. Kulaini, jld.4, hlm.519
  29. Kardi, jld.6, hlm.28
  30. Ja’farian, hlm.142-144
  31. Ja’farian, hal.141-148
  32. Najafi, jld.18, hlm.133
  33. Khui, jld.1, hlm.72-73
  34. Qaidan, hlm.144-153.
  35. Ja’farian, hlm.161-168.
  36. Ja’farian, hlm.194-200.
  37. Qaidan, hlm.110
  38. Hazrate Ali dar Gare Hira (Persia)
  39. Qaidan, hlm.108.
  40. Faqihi, jld.4, hlm.80-83.
  41. Qaidan, hlm.113-114
  42. Ibnu Hisyam, jld.1, hlm.375-376.
  43. Ja’farian, hlm.37 dan 38.
  44. Mortel, hlm.455-472.
  45. Marco Salti, hlm.66.
  46. Ibnu Jubair, Tazkirun bil Akhbar 'an Ittifaqatil Amshar, hlm.187.
  47. Ibnu Jubair, Tazkirun bil Akhbar 'an Ittifaqatil Amshar, hlm.138 dan 138 dan 140.
  48. Ja’farian, Panjah Safarnameh Haj Qajar, “Safar nameh Makkeh”, jld.5, hlm.203
  49. Ja’farian, Panjah safar nameh haj Qajar, “Safar nameh Haj Iyaz khan Qasyqai”, jld.5, hlm.395, 409
  50. Dahlan, jld.2, hlm.461
  51. Ja’farian, Panjah safar nameh haj Qajar, “Guzaresy safar haj newesyte newisande nasyenakhte sal-e 1299 H”, jld.4, hlm.776
  52. Mortel, hlm.467 dan 468
  53. Sebagai contoh: Ja’farian, Panjah safar nameh haj Qajar, “Safar nameh tuhfat al-haramain wa Sa’adatud Darain”, jld.5, hlm.441
  54. hhtp://www.rohama.org/fa/content/1839
  55. Situs Syiahnews
  56. Proyek-proyek pembangunan yang tidak lazim di Makkah tetap berlanjut
  57. Jawaban para marja taklid tentang tawaf di dalam bangunan-bangunan baru Masjidil Haram

Daftar Pustaka

  • Ibnu Atsir, al-Kamil fii al-Tarikh, Tahkik: Abi al-Fada Abdullah al-Qadhi, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1407 H.
  • Ibnu Jubair, Safar nameh Ibnu Jubair, Terjemah: Parwiz Atabaki, Intisyarat Astan qudsi Razawi, Masyhad, 1370 Sh.
  • Ibnu Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, Tahkik: Doktor Abdullah bin Abdul Muhsin al-Turki, Mesir, Hijr littiba’ah wa al-Nasyr wa al-Tauzi’ wa al-I’lan, 1997 M.
  • Azraqi, Muhammad bin Abdullah, Akhbar Makkah, Rawai’ al-Tirats al-Arabi.
  • Ayati, Muhammad Ibrahim, Tarikh Payambar Islam, Tajdid Nazar wa Izafat : Abu al-Qasim Gurji, Tehran, Intisyarat Danesygah Tehran,1378 Sh.
  • Ja’farian, Rasul, Atsar Islami Makkeh wa Madineh, Qom, Nasyr Musy’er, 1384 Sh. Cetakan ketiga.
  • Ja’farian, Rasul, Panjah Safar Nameh Haj Qajari, Nasyr Elm, Tehran, 1389 Sh.
  • Ja’fari, Ya’qub, Namhae Syahr Makkeh, Majaleh Mikat haj, Musim dingin 1371 Sh., Nomor 2, hlm. 205-222.
  • Jawad Ali, al-Mufasshal fii Tarikh al-Arab qabl al-Islam, Beirut, Dar al-Ilm lilmalayin wa Maktabat al-Nahdhah Bagdad, 1970 M.
  • Khui, Abu al-Qasim, Manasik al-Haj, Qom, Muassasah Ihya Atsar al-Imam Khui, Tanpa tanggal.
  • Zeini Dahlan, Khulasat al-Kalam fii Bayani Umara al-Balad al-Haram, Kairo, 1305 H.
  • Syarif, Ahmad Ibrahim; Makkah wa al-Madinah fii al-Jahiliyah wa Ahd al-Rasul, Kairo, Dar al-Fikr al-Arabi, Cetakan kedua.
  • Syahidi, Sayyid Ja’far, Tarikh Tahlili Islam, Tehran, Markaz Nasyr Danesygahi, 1390 H.
  • Thabari, Tarikh al-Thabari, Tahkik: Muhammad Abu al-Fadhl Ibrahim, Mesir, Dar al-Maarif, 1968 H.
  • Pasi al-Makki, Muhammad bin Ahmad, Syifa al-Guram bi Akhbari al-Balad al-Haram, Tahkik: Umar Abdussalam Tadmari, Beirut, Dar al-Kitab al-Arabi, 1405 H.
  • Fakihi, Muhammad bin Ishaq, Akhbar Makkah fii Qadim al-Dahr wa Haditsuhu, Tahkik: Abdul Malik bin Abdullah, Makkah, Maktabat al-Nahdhah al-Haditsah, 1407 H.
  • Qaidan, Ashgar, Tarikh wa Atsar Islami Makkeh wa Madineh, Qom, Nasyr Musy’er, 1381 Sh., Cetakan keempat.
  • Qazwini, Zakariya bin Muhammad, Atsar al-Balad wa Akhbar al-Ibad, Beirut, Dar Shadir, Tanpa tanggal.
  • Kurdi, Muhammad Thahir, al-Tarikh al-Qawim li Makkah wa Baitullah al-Karim, Maktabat al-Nahdhah al-Haditsah, 1412 H.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya’qub, al-Kafi, Tashih: Ali Akbar Gaffari, Tehran, Dar al-Kutub al-Salamiyah, 1367 Sh. Cetakan ketiga.
  • Majlisi, Muhammad Taqi, Lawami’ shahib Qarani, Qom, Dar al-Tafsir, 1416 H.
  • Mufid, al-Irsyad fii Ma’rifah Hujajullah ‘ala al-‘Ibad, Qom, Muassasah Alil bait li Ihyai al-Tirats, 1416 H.
  • Nahrawani al-Makki, Quthbuddin, al-I’lam bi I’lam Baitullah al-Haram, Beirut, Dar al-Raiq al-Tirats al-Arabi, Tanpa tanggal.