Prioritas: c, Kualitas: c
tanpa infobox
tanpa navbox

Tajridul I'tiqad (buku)

Dari Wiki Shia
(Dialihkan dari Tajrid al-I'tiqad (buku))
Lompat ke: navigasi, cari
Tajridul I'tiqadhttp://en.wikishia.net
Pengarang Khajah Nashiruddin Thusi (w. 672 H/1273 M).
Bahasa Arab
Subyek Filsafat & Kalam


Tajrid al-I'tiqad (Bahasa Arab:تجرید الاعتقاد) adalah buku dengan pembahasan Ilmu Kalam ditulis dalam bahasa Arab karya Khajah Nashiruddin Thusi (w. 672 H/1273 M). Salah satu hal terpenting dari buku ini adalah penjelasan dan pembuktian akidah Imamiyah. Menurut Agha Buzurg Tehrani [1] Khajah Nashir Nuri menamai karya ini dengan Tahrir al-Aqaid, namun pada masa kemudian kitab ini diberi nama dengan Tajrid al-I'tiqad, Tajrid al-Aqaid dan Tajrid al-Kalam. [2]

Tajrid al-I'tiqad adalah buku yang paling penting dan juga paling singkat. Tipologi ini, membuat buku yang memiliki nama lain Tajrid al-Kalam memiliki ketenaran semenjak ditulis. Para ulama dari berbagai golongan memberi syarah dan catatan yang bermacam-macam baik dengan menulis karya dalam bentuk bahasa Persia maupun Arab.

Tujuan Penulisan

Sebagian percaya bahwa Khajah setelah mengkritik kitab al-Muhasshal karya Fahr al-Razi, menulis Tajrid sehingga orang-orang yang ingin mendapatkan akidah yang hak akan merujuk kitab al-Muhasshal [3] karena Khajah Nashir dalam mukadimah Talkhish al-Muhasshal berkata: "Upaya-upaya besar untuk mencapai kebenaran (haqq) telah hilang dari penelitian dan tidak ada buku yang dapat diandalkan yang mengandung prinsip-prinsip yang pasti, meskipun beberapa kalangan mengira bahwa al-Muhasshal karya Fakhr al-Din al-Razi mengisi kesenjangan ini, namun hal ini tidak benar dan buku ini berisi banyak pikiran yang tidak dapat diandalkan dan palsu. "[4] Setelah melihat pendapat Fakhr al-Din al-Razi dalam masalah Imamah, Nasiruddin Thusi menyadari bahwa untuk menjawab akidah Imamiyah maka ia tidak bisa menjawab permasalahan itu dengan sebuah buku dalam tema filsafat, melainkan ia menulis Tajrid al-I'tiqad.

Kedudukan

Tajrid al-I'tiqad dianggap sebagai tonggak dalam sejarah teologi Islam, karena menggunakan pendekatan khusus dalam bidang filsafat dan teologi. Dalam buku itu, Nashiruddin Thusi telah menyatukan aliran filsafat Peripatetik (filsafat masha'i) dan teolog Syiah dan menjadikan antara filsafat dan teologi menjadi dekat di antara ulama Syiah. [5]

Syahid Muthahhari percaya bahwa Khajah Nashiruddin Thusi dengan menyusun buku ini telah mendekatkan teologi dari dialektika (hikmah jadali) menjadi argumentasi (hikmah burhan). [6] Kitab ini adalah contoh untuk kitab-kitab selanjutnya dalam bidang ini dan para teolog entah itu teolog Asy'ari maupun Muktazilah mengikuti metode-metode yang telah dipakai oleh Khajah Nasharuddin Thusi. [7]

Nashiruddin Thusi mengatakan bahwa kitab karyanya sebagai kitab yang memiliki metode terbaik dan mencakupi semua pendapat dan keyakinan yang membuktikan burhan dengan kuat. [8] Jadi, buku ini berbeda dengan beberapa bukunya yang lain, yang menjelaskan pendapat ulama lainnya seperti karya Ibnu Sina al-Isyarat wa al-Tanbihat dalam menyelesaikan permasalahan Syahrestani dan mempertahankan terhadap kritik dari Fahruraddin Razi; atau Mushari al-Mushari dalam membela pendapat Ibnu Sina terhadap kritik dari al-Shahristani, namun kitab ini menjelaskan tentang akidahnya.

Tajrid al-I'tiqad memiliki 6 bagian: Permasalahan-permasalahan umum, dzat Tuhan dan sifat-sifatnya, pembuktian akan adanya Tuhan dan sifat-sifatnya, nubuwwah, Imamah dan Ma'ad Setelah Khajah Nashiruddin ulama-ulama seperti Qadhi Adhuddin Aiji (w. 756) dalam kitab al-Mawaqif dan Taftazani (w. 792) dalam kitab al-Maqashid mengikuti metode-metode yang telah dilakukan oleh Khajah Nashiruddin. Sebagian pembahasan-pembahasan dalam kitab ini sangat menarik sehingga menjadi salah satu dasar yang penting untuk dapat memahami Hikmah Muta'aliyah (Filsafat Hikmah). [9]

Kandungan

Pembahasan Syiah

Yang dituliskan Khajah dalam Tajrid al-I'tiqad sesuai dengan keyakinan Syiah Imamiyyah meskipun dalam sebagan kitab-kitabnya seperti Talkhish al-Muhasshal [10] bisa dikatakan mengingkari sebagian akidah Imamiyyah di antaranya bada dan oleh karenanya para ulama seperti Shadrudiin Syirazi [11] dan Allamah Majlisi [12] mengkritiknya.

Perhatian Khajah terhadap pembahasan imamah Syiah dalam hal-hal seperti usaha untuk mencari dalil atas imamah Imam Ali as, menjelaskan sisi-sisi kelemahan dalam kehidupan khalifah pertama, ketidak ada kelayakan mereka untuk memegang kursi kekhalifahan setelah wafatnya nabi, dalil kuat atas keimamahan Imam Ali As, adanya dalil khusus dan nash atas imamah para Imam dan hukum bagi orang-orang yang mengganggu para Imam [13] menyebabkan sebagian ulama Sunni mengkritik bagian ini dengan sangat keras bahkan tidak memperhatikan sisi keseimbangan dalam mengkritik. [14] Oleh itu perkataan yang mengatakan bahwa Tajrid Khajah memiliki pengaruh atas Ushul I'tiqadi firkah-firkah selain firkah Syiah Imamiyyah tidaklah benar. [15]

Pendekatan Filosofis

Pendekatan filosofis dan teolog kitab ini adalah titik penghubung dalam ilmu kalam yang mampu dipadukan oleh Khajah antara filsafat Peripatetik dan Kalam Syiah sehingga semakin banyak ilmu filsafat dan kalam Syiah semakin dekat. [16] Dalam pemikiran filsafat tidak benar jika menilai bahwa Khajah pengikut setia Ibnu Sina karena pendapatnya dalam kitab Tajrid banyak yang berseberangan dengan keyakinan Ibnu Sina di antaranya bahwa ia menilai bahwa tempat adalah dimensi bukan permukaan [17] percaya kepada keabadian dunia bukan qidam [18] menilai bahwa dalil-dalil akal yang berbeda tidak benar dan bisa dipermasalahkan [19] percaya bahwa maddah benda mutlak bukan jisim (hyle) dan mengkritik burhan hyle. [20] Demikian juga Khajah sangat tidak setuju dengan adanya pembahasan penghapusan hukuman dan ia juga sangat menentang ulama Mu'tazilah. [21].

Tujuan Penulisan Kitab

Kitabnya memiliki enam bab. Dua bab pertama tentang pembahasan filsafat primer karena pembahasan ini merupakan mukadimah dalam pembahasan-pembahasan kalam. Bab-bab tiga sampai enam membahas tentang tema-tema (Tauhid, Nubuwah, Imamah dan Ma'ad) Bab I Dalam tiga bagian membahas tentang permasalahan-permasalahan umum seperti sebab dan akibat, wujud dzhini, hadits dan qadim, makna nafs al-Amr, asalat wujud (prinsipalitas wujud) dan pengantar perbuatan ikhtiari.

Bagian II Memuat enam bagian seperti jauhar (substansi), ‘aradh (aksiden), bagian-bagian jauhar dan ‘aradh.

Bagian III Pembuktian wajib, pembahasan tentang husn wa qubh aqli (kebaikan dna keburukan akal), qadha, qadar, taklid, dan seterusnya.

Bagian 1V Pembahasan mengenai nubuwah umum seperti ishmah, manfaat dan keniscayaan bi'tsah para nabi, nubuwah khusus seperti mukjizat-mukjizat Nabi Muhammad saw di antaranya tentang saqf al-qamar dan kabar gaib.

Bagian V Pembahasan mengenai imamah. Pembuktian dan keniscayaan imamah dan kaedah lutf, pembuktian ishmah Imam dan dalil-dalil imamah Imam Ali as dan para Imam 12.

Bab Enam

Bab terakhir yang membahas tentang ma'ad, Ma'ad Jasmani, kebatilan ikhbath, azab kubur, makna iman, makna kafir dan pembahasan-pembahasan lainnya dalam ruang lingkup ini.

Burhan Imkan dan Wujub dalam Kitab Tajrid al-I'tiqad

Eksitensi apabila ia wajib maka idealnya tercapai namun apabila tidak maka meniscayakan daur dan tasalsul. [22]

Karakteristik

  • Ciri khas paling menonjol dari kitab ini adalah keringkasan yang luar biasa. Khajah Nashir dalam kitab-kitabnya seperti Qawāid al-Aqāid dan Aushāf al-Asyrāf dan bahkan Syarh Isyārāt dan Asās al-Iqtibās telah menyusun karya-karyanya tersebut dengan sangat ringkas, namun keringkasan kitab Tajrid hingga membuat Syamsuddin Isfahani memasukkan kitab ini ke golongan teka-teki. [23]

Meskipun demikian keringkasan buku itu tidak berdampak terhadap kelengkapannya dan kalimat-kalimat dari buku yang singkat ini tetap merupakan sebuah kitab yang enak dibaca. Kedua faktor kelengkapan dan keringkasan adalah alasan yang paling penting dari perhatian para teolog terhadap buku ini. Kalimat-kalimat yang begitu pendek dan informatif bisa diubah menjadi puisi. Beberapa teolog kontemporer percaya bahwa Hakim Sabzawari memanfaatkan Tajridul I'tiqad dalam bukunya Manzhumah. [24]

  • Penggunaan istilah-istilah dan kaedah-kaedah filsafat dalam pembuktian masalah-masalah kalam, sebagaimana kebanyakan sifat jamal dan jalal Ilahi berdasarkan asas wujub wujud ba dzat dan berkata:

«و وجوب‌الوجود یدل علی سرمدیته و نفی الزائد و الشریک و المثل..... وعلی ثبوت الجود والملک و.....»

Dan untuk membuktikan ilmu Ilahi ia memaparkan tiga argumen dimana argumen ke dua dan ketiga berasal dari pembahasan filsafat, sebagaimana yang dikatakan: والاحکام و التجرد و استناد کل شیء الیه دلائل العلم

  • Khajah Thusi sebelum menulis Tajrid al-I'tiqad menulis kitab Tajrid al-Mantiq terlebih dahulu dan ulama-ulama seperti Allamah Hilli (w. 726) mensyarahnya karena tanpa mengenal mantik yang merupakan cara berargumen dengan benar tidak mungkin akan mempelajari filsafat dan kalam.

Meskipun masuknya pembahasan dalam pembahasan kalam dari cara mengutarakan pembahasan mantiq dan filsafat telah dikenal sebelum masa Khajah sebagaimana yang ada dalam kitab Yaqut karya Abu Ishaq Ismail bin Nubakht pada abad ke-4 H yang juga menggunakan metode ini, namun metode muhaqiq dari sisi keluasan pembahasan dan kekomprehensifannya tidak ada yang mendahului dan merupakan metode yang baru. Oleh itu, Khajah Nashiruddin dengan menggunakan mabani kalam Imamiyah dan yang paling penting adalah kaedah 'husn wa qubh aql' dan dalil-dalil filsafat dan demi supaya ulama-ulama seterusnya menggunakan metode yang digunakan Tajridul I'tiqad maka ia meneliti pembahasan-pembahasan filsafat dan kemudian memasuki pembahasan-pembahasan kalam.

  • Dalam kitab ini, tidak seperti kitab-kitab kalam yang ada sebelumnya, pembahasan tentang ma'ad dibahas setelah pembahasan mengenai nubuwah. Sebelum Khajah pembahasan mengenai permasalahan-permasalahan ma'ad –karena memiliki kaitan pembahasan antara wa'd dan wa'îd da juga pahala dan balasan atau sifat-sifat Allah khususnya keadilan Ilahi- sebelum nubuwah dan imamah namun dalam kitab tajrid pembahasan mengenai nubuwah dan imamah tidak memiliki hubungan yang saling berkaitan dengan pembahasan keadilan Ilahi dan perhatian Khajah dalam hal ini tidak seperti para pendahulunya, yaitu lebih berkaitan dengan luthf Ilahi. [25]

Syarah-syarah

Tajrid al-I'tiqad adalah kitab kalam yang paling penting dan singkat yang melingkupi teks-teks Syiah dan karena memiliki karakteristik ini maka semenjak ditulis menjadi perhatian para ulama dari berbagai firqah . Terdapat banyak syarah dan catatan-catatan baik dalam bahasa Persia maupun Arab. [26]

Penilaian pensyarah tentang kitab ini menunjukkan bahwa Khajah dalam langkah-langkah yang ditempuhnya dalam menulis kitab Tajrid al-Itiqad telah berhasil. [27]

Nampaknya syarah pertama kali atas kitab Tajrid adalah muridnya yang paling terkenal: yaitu Allamah Hilli. Syarah ini diberi judul Kasyf al-Murad fi Syarhi Tajrid al-I'tiqād dan sebagian percaya apabila Allamah tidak menuliskan syarah itu, mungkin maksud detail Khajah dari pembahasan ini tidak akan pernah menjadi jelas. [28] Agha Buzurg Tehrani [29] dan Haji Khalidah [30] dan ulama-ulama lain [31] mengenalkan sejumlah syarah-syarah kitab Tajrid. Dalam sebagian syarah dan catatan-catatan membahas mengenai pendapat-pendapat Khajah.

Syarah-syarah yang terkenal dan syarah-syarah yang klasik diantaranya:

  • Ta'rid al-I'timad fi Syarah Tajridul I'tiqad, karya Syaikh Syamsuddin Muhammad Asfaraini Baihaqi (w. 746)
  • Tasdid atau Tasyyid al-Qawaid fi Syarh Tajrid al-Aqaid, terkenal dengan Syarh Qadim karya Syamsuddin Mahmud bin Abdurahman bin Ahmad ‘Ami Isfahani. Karya ini disebut qadim ketika dibandingkan dengan syarah Fadhil Qusychi bukan karena merupakan syarah yang paling klasik sebagaimana yang telah diisyaratkan sendiri oleh pensyarah dalam permulaan syarah Allamah Hilli dan Asfaraini Baihaqi
  • Syarah Fadhil Qusychi (w. 879) yang dikenal dengan nama syarah baru
  • Syarah Mula Abdul Razaq Lahiji yang disingkat dengan Fayyadh (w. 1051) termasuk syarah yang mutaakhir yang memiliki kekhususan tersendiri dalam hal ketelitian, penjelasan dan penyelarasannya.

Syarah klasik dan kontemporer yang memiliki catatan pinggir dan annotasi penting, diantaranya adalah:

  • Khasyiyah Muhaqiq Jurjani (w. 816) merupakan syarah klasik dengan nama Khasyiyah Tajrid [32]
  • Khasyiyah klasik, khasyiyah kontemporer dan khasyiyah yang lebih baru, ketiganya merupakan karya Jalaluddin Muhammad Dawani (w. 908). [33] dan dua syarah dari Shadruddin Muhammad Dasytki Syirazi (w. 948). [34] Kumpulan tiga khasyiyah Dawani dan dua khasyiyah Shadruddin terkenal dengan nama Thabaqat Jalaliyyah dan Shadriyyah.

Yang menarik adalah bahwa setelah meninggalnya Shadruddin, putranya Mir Ghiyatsuddin Mansur Husaini Dasytki (w. 949) menggantikan ayahnya menjawab persoalah terakhir Dawani dalam khasyiyah yang lain atas Tajrid. [35] Catatan-catatan pinggir yang ditulis atas syarah baru lebih penting dan menjadi perhatian para ulama baik Syiah maupun Sunni dan menyebabkan perdebatan kalam dan bahkan filsafat. Kitab-kitab yang ditulis untuk mengkritik kitab ini juga banyak. [36]

Cetakan-cetakan yang ada pada saat ini

Tajrid al-I'tiqad pertama kali dicetak pada tahun 1311 bersamaan dengan syarah Allamah Hilli [37] Dari kitab ini telah banyak dicetak kitab-kitab Tajrid, dan diantaranya adalah yang diedit oleh Muhammad Jawad Husaini Jalali yang terbit pada tahun 1407 di Qum. Diantara sekian banyak Kasyf al-Murad bisa disebutkan cetakan Hasan Hasan Zadeh Amuli yang juga diterbitkan pada tahun yang sama di Qum. Kitab ini diterjemahkan ke dalam bahasa Persia oleh Abul Hasan Sya'rani.

Bibliografi

Sayid Mahmud Mar'asyi dan Ali Shadrai Khui dengan meneliti naskah tulisan tangan Tajridul I'tiqad dan syarah-syarah serta khawashi-khawasyi yang banyak, menyusun bibliografi yang lengkap tentang karya ini. Karya ini diterbitkan oleh Perpustakaan Umum Ayatullah Mar'asyi Najafi dengan judul Ketab Syinasyi Tajrid al-I'tiqad pada tahun 1382.

Catatan Kaki

  1. Agha Buzurg Tehrani, al-Dzari'ah, jld.3 hlm. 353.
  2. Fikrat, Fehrest Alifbai, hlm. 104; Manzawi wa Danesy Pazuh, Fehresy Ketab Khaneh Madrasah Sepahsalar, jld.3, hlm. 315, Untuk mengkritik pendapat Agha Buzurg Tehrani silahkan lihat Allamah Hilli, Mukadimah Hasan Zadeh Amuli, Kasyf al-Murad fi Syarah Tajridul I'tiqad, hlm. 17-18.
  3. Allamah Hilli, Mukadimah Hasan Zadeh Amuli, Kasyf al-Murad fi Syarah Tajridul I'tiqad, hlm. 4.
  4. Nashiruddin Thusi, Talkhish al-Muhassal, 1359, hlm. 1-2.
  5. Ahmdadi, Ijmali az Sir Falsafah Islami, hlm. 224, Dawari, Peidayesy wa Basath Ilmu Kalam, hlm. 119.
  6. Muthahhari, Asyenai ba Ulum Islami, jld.2, hlm. 68.
  7. Muthahhari, Asyenai ba Ulum Islami, jld.2, hlm. 57.
  8. Allamah Hilli, Muqadimah Hasan Zadeh Amuli, Kasyf al-Murad fi Syarh Tajrid al-I'tiqad, hlm. 20.
  9. Misalnya silahkan lihat: Nashiruddin Thusi, Tajrid al-I'tiqad, hlm. 22-73.
  10. Nashiruddin Thusi, Talkhish al-Muhasshal, hlm. 421.
  11. Shadruddin Syirazi, Syarah Ushul Kafi, hlm. 378.
  12. Majlisi, Bihar al-Anwar, jld.3, hlm. 123.
  13. Nashiruddin Thusi, Tajrid al-I'tiqad, hlm. 367-398.
  14. Silahkan lihat: Haji Khalifah, Kasyf Dzunun, jld.1, bagian 346.
  15. Islam, cet, 2, Thusi, Nashiruddin. 2.
  16. Dairah al-Ma'arif Buzurg Islami, jld.14, madkhal Tajridul I'tiqad.
  17. Nashiruddin Thusi, Tajrid al-I'tiqad, hlm. 152.
  18. Nashiruddin Thusi, Tajrid al-I'tiqad, hlm. 170.
  19. Nashiruddin Thusi, Tajridul I'tiqad, hlm. 176.
  20. Nashiruddin Thusi, Tajrid al-I'tiqad, hlm. 150.
  21. Nashiruddin Thusi, Tajrid al-I'tiqad, hlm. 422-424.
  22. Tajridul I'tiqad, Maktab al-I'lam al-Islami, Tehran, hlm. 189.
  23. Qusyachi, Syarah Tajrid al-Aqaid, hlm. 3, Haji Khalifah, Kasyf Dzunun, a, bag. 346.
  24. Rabani Gulpaigani, Ali, Imamiyyah, Kaihan Andisyeh, No. 54, Khurdad dan Tir, 1373.
  25. Nashiruddin Thusi, Tajridul I'tiqad, hlm. 348-362.
  26. Kanturi, Kasyf al-Hijab wa al-Astar ‘an Asma al-kutub wa al-Asfar, hlm. 97.
  27. Sebagai contoh lihat Qusyachi, Syarah Tajrid al-Aqaid, hlm. 2.
  28. Agha Buzurg Tehrani, al-Dzari'ah, jld.3, hlm. 353, Allamah Hilli, Muqadimah Hasan Zadeh Amuli, Kasyf fi Syarah Tajridul I'tiqad, hlm. 3.
  29. Agha Buzurg Tehrani, al-Dzari'ah, jld.3, hlm. 353-354, jld.6, hlm. 64-70.
  30. Haji Khalifah, Kasyf Dzunun, jld.1, bag. 346-351.
  31. Silahkan lihat Anwar, Fehrest Nuskheh Khathi Ketab Khaneh Meli, jld.7, hlm. 357, jld.8, hlm. 360-361, jld.9, hlm. 308, jld.10, hlm. 290-291, 297-298; Fadhil, Fehrest Nuskhehhai Khathi, jld.2, hlm. 571, 618-619, jld.3, hlm. 767, 774, 807-808, 864-866, 872, 895; Nuskhehhai Khathi, jld.5, hlm. 3, 22, 37, 211, 213, 299, 594-595, Manzawi wa Danesy Pazuh, Fehrest Kitab Khaneh madrasah Ai Sepahsalar, jld.4, hlm. 175-185.
  32. Haji Khalifah, Kasyf Dzunun, jld.1, bag. 347.
  33. Fehrest Nuskhehhai Khathi Ketab Khaneh Danesygah Ilahiyat wa Ma'arif Islami, Masyhad, jld.2, hlm. 571, Nuskheh hai Khathi, jld.5, hlm. 594.
  34. Husaini, Fehrest Nuskheh hai Khathi, jld.3, hlm. 238-239
  35. Silahkan lihat Haji Khalifah, Kasyf al-Dzunun, jld.1, bag. 350
  36. Agha Buzurg Tehrani, jld.6, hlm. 64-71.
  37. Wandik, Kitab Iktifa al-Qunu' bima huwa Mathbu', hlm. 197.


Daftar Pustaka

  • Ahmad Ahmadi, Ijmali az Seir Falsafah Islami ba'daz Ibnu Rusyd, dalam Filsafah dar Iran, Majmu'ah Maqalat Falsafi, Tehran, Hikmat, 1399 H.
  • Abdulah Anwar, Fehrest Naskh Khathi Ketabkhaneh Melli, Tehran, 1384-1399 H.
  • Mas'ud bin Umar Taftazani, Syarah al-Maqashid, cet. Abdurahman Umairah, Qahirah, 1409/1989, cet. Offset Qum, 1411-1412 H.
  • Haji Khalifah
  • Ahmad Husaini, Fehrest Nurkheh hai Khathi Ketabkhaneh Umumi Khadhrat Ayatullah Adhimi Najafi Mar'asyi, Qum, 1385-1395 H.
  • Ridhai Dawari, Peidayesy wa Basath Ilm Kalam, dalam falsafah dar Iran, Majmu'ah Maqalat Falsafi.
  • Hadi bin Mahdi Sabzawari, Asrar al-Hukm, cet. HM Farzad, Tehran, 1402 H.
  • Muhammad Ibrahim Shadruddin Syirazi, Syarah Ushul Kafi, cet. Sanggi, Tehran, 1433 H.
  • Hasan bin Yusuf Allamah Hilli, Kasyf al-Murad fi Syarah Tajrid al-I'tiqad, cet. Hasan Hasan Zade Amuli, Qum, 1407 H.
  • Mahmud Fadhil, Fehrest Nuskheh hai Khathi Ketab Khaneh Danesygah Ilahiyat wa Ma'arif Islami Masyhad, Tehran, 1396-1402 H.
  • Muhammad Fikrat, Fehrest Alifbai Kutu Khathi Ketabkhaneh Markazi Astan Quds Radhawi, Masyhad, 1410 H.
  • Ali bin Muhammad Qusyachi, Syarah Tajrid al-Aqaid, cet. Sanggi, Tehran, 1324 H.
  • I'jaz Husain bin Muhammad Quli Kanturi, Kasyf al-Hijab wa al-Astar an Asma al-Kutub wa al-Asfar, Qum, 1409 H.
  • Majlisi
  • Muhammad Taqi Mudaris Radhawi, Ahwal wa Atsar Khajah Nashruddin Thusi, Tehran, 1395 H.
  • Murtadha Muthahhari, Asyenai ba Ulum Islami, jld.2, Tehran, 1410 H.
  • Ahmad bin Muhammad Muqadas, al-Khasyiyah ala Ilahiyat al-Syarah al-Jadid lil Tajrid, Cet. Ahmad Abidi, Qum, 1417 H.
  • Ali Naqi Manazawi dan Muhammad Danesy Pazuh, Fehrest Ketab Khaneh Madrasah Ali Sepahsalar, jld.3, Tehran, 1381 H, jld.4, Tehran, 1386 H.
  • Nuskhehhai Khathi, Nasyariyah Ketab Khaneh Markazi Danesygah Tehran, jld.5, Muhammad Nadzar Muhammad Taqi Danesy Pazuh, Tehran, 1387 H.
  • Muhammad bin Muhammad Nashiruddin Thusia, Tajrid al-I'tiqad, Kasyf al-Murad fi Syarh Tajrid al-I'tiqad, Allamah Hilli, cet, Hasan Hasan Zadeh Amuli, Qum, 1407 H.
  • Muhammad bin Muhammad al-Din Thusi, Talkhis al-Muhassal, cet. Abdullah Nurani, Tehran, 1400 H.
  • Edwardon Daik, Kitab Iktifa al-Qunu' bima huwa Mathbu', cet. Muhammad Ali Bilawi, Mesir, 1313/1896, cet. Offset Qum, 1409 H.