Prioritas: a, Kualitas: a

Salat Qashar

Dari WikiShia
Lompat ke: navigasi, cari

Furu'uddin

Salat

Wajib: Salat JumatSalat IdSalat AyatSalat Mayit


Ibadah-ibadah lainnya
PuasaKhumusZakatHajiJihadAmar Makruf dan Nahi MungkarTawalliTabarri


Hukum-hukum bersuci
WudhuMandiTayammumNajasatMuthahhirat


Hukum-hukum Perdata
PengacaraWasiatGaransiJaminanWarisan


Hukum-hukum Keluarga
PerkawinanPerkawinan TemporerPoligamiTalakMaharMenyusuiJimakKenikmatanMahram


Hukum-hukum Yudisial
Putusan HakimBatasan-batasan hukumQishash


Hukum-hukum Ekonomi
Jual Beli (penjualan)SewaKreditRiba


Hukum-hukum Lain
HijabSedekahNazarTaklidMakanan dan MinumanWakaf


Pranala Terkait
BalighFikihHukum-hukum SyariatBuku Panduan Fatwa-fatwaWajibHaramMustahabMubahMakruh

Salat qashar (bahasa Arab: صلاة القصر) atau salat musafir (صَلاةُ المُسافِر) digunakan sebagai lawan dari salat sempurna atau salat tamam. Tugas seorang musafir adalah dengan syarat-syarat tertentu, salat-salat empat rakaatnya didirikan menjadi dua rakaat. Mengqashar salat bagi seorang musafir dalam mazhab Imamiyah hukumnya wajib dan dalam mazhab Islam lainnya hukumnya diperbolehkan(mubah) saja.

Salat Qashar dalam Al-Quran dan Sunnah

Dalil hukum ini, ayat 101 Surah al-Nisa:

وَإِذَا ضَرَ‌بْتُمْ فِي الْأَرْ‌ضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَقْصُرُ‌وا مِنَ الصَّلَاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَن يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُ‌وا
Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu menqashar sembahyang(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu.

Dimuat dalam sumber-sumber Sunni dan Syiah bahwa Nabi saw dalam perjalanan, mendirikan salat-salat empat rakaatnya menjadi dua rakaat. [1]. Pembahasan ini dikhususkan dalam sumber-sumber hadis dan fikih, pada bab-bab tentang pengqasharan salat.

Sudut Pandang Fikih Mazhab-mazhab Islam

Di antara mazhab-mazhab Islam, Imamiyah dan Hanafiyah menganggap pengqasharan salat dalam perjalanan, hukumnya adalah wajib, namun Malikiyah menganggapnya sebagai hal yang sunnah muakkadah (mustahab), sedangkan Syafi'iyah dan Hanbaliyah menganggapnya sebagai hal yang diperbolehkan (mubah) saja yaitu musafir berhak atau berikhtiyar untuk mendirikannya secara tamam atau qashar. [2]

Mereka yang meyakini bahwa tidak ada kewajiban mengqashar salat dalam perjalanan, berdasarkan dalil dari ungkapan ayat «فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ» maka tidak mengapa yaitu tidak ada dosa, namun orang-orang yang meyakininya sebagai suatu hal yang diwajibkan menganggap bahwa ayat tersebut ingin menghilangkan gambaran ilusi bahwa salat qashar adalah salat yang tidak sempurna dan karena itu dilarang. [3] Dalam ayat-ayat Al-Qur'an yang lainnya juga interpretasi semacam itu telah digunakan. [4]

Dari sisi yang lain juga, sebagian orang dengan berdasarkan pada lahiriah ayat meyakini bahwa hukum mengqashar dikhususkan untuk satu perjalanan di mana di sana ada rasa takut dan ketidakamanan, namun hadis nabawi menafsirkan ayat tersebut dalam dua keadaan baik itu ada rasa takut atau tidak dan Nabi saw dalam kedua kasus tersebut, melaksanakan salatnya dengan qashar. Oleh karena itu, tanda atau batasan yang ada dalam ayat tersebut, mengacu pada sebagian besar kasus saja. [5]

Musafir dalam Fikih Islam

Musafir dalam fikih Islam dikategorikan kepada seseorang yang:

  • Perjalanannya mencapai jarak yang telah ditentukan secara syariat, yaitu jarak yang ditempuh (apakah itu hanya rute keberangkatan atau total pulang pergi), setidaknya 8 farsakh syar'i.
  • Dari awal perjalanan, dia berniat untuk meniti perjalanannya sampai 8 farsakh, dan selama belum mencapai jarak itu, dia tidak berpaling dari niatnya.
  • Dia tidak akan melewati tanah kelahirannya sebelum mencapai 8 farsakh atau tinggal di suatu tempat 20 hari atau lebih.
  • Tidak bepergian untuk pekerjaan haram.
  • Bukan termasuk dari orang-orang yang tinggal di gurun atau padang pasir yang berputar-putar di sekelilingnya sebagai tempat tinggalnya.
  • Safar atau mengadakan perjalanan bukan merupakan tugas dan profesinya (orang tersebut selalu dalam perjalanan)
  • Sampai atau tiba pada batas kota (Haddu Tarakkhush).[6]

Hukum-hukum Shalat Qashar

  • Musafir harus mendirikan salat-salat 4 rakaatnya menjadi 2 rakaat. Oleh karena itu, hukum salat musafir tidak mencakup salat fajar dan salat maghrib.
  • Jika seorang musafir telah melaksanakan salatnya dengan cara qashar sebelum sampai ke tempat tinggalnya, setelah dia sampai ke tempat tinggalnya maka dia tidak perlu lagi dia melaksanakan salatnya secara sempurna, namun jika dia belum melaksanakan salatnya, maka dia harus melaksanakannya secara sempurna (tamam).
  • Qadha salat qashar harus dilakukan dengan cara yang sama dalam bentuk qashar.

Filosofi Pengqasharan Salat Musafir

Hukum-hukum Islam mengikuti kemaslahatan (baik) dan kemafsadahan (rusak) yang telah dijelaskan dalam beberapa kasus dan dalam beberapa kasus lainnya hal itu belum dijelaskan. Dalam riwayat-riwayat Islam, pengqasharan salat (dan begitu juga dengan berbuka puasa) dalam perjalanan, dianggap sebagai hadiah dan kortingan atau despensasi dari sisi Allah swt dan begitu juga diyakini adanya syarat-syarat tertentu dan perubahan keadaan, kelelahan dan kesibukan manusia dalam perjalanan.[7]

Dalam sebuah riwayat dari Imam al-Shadiq as yang dikutip dari Nabi saw:

Tuhan telah memuliakanku dan umatku dengan sebuah anugerah yang belum pernah diberikan kepada umat yang lain yaitu dibolehkannya berbuka puasa dan mengqashar salat dalam perjalanan; dengan demikian, siapapun yang tidak melakukannya, berarti dia telah menolak karunia Tuhan. [8]

Catatan Kaki

  1. Shahih Bukhari, jld.2, hlm. 35, Kitab al-Shalah, bab al-Taqshir, Dar al-Fikr; Asad Haidar, al-Imam al-Shadiq wa al-Madzahib al-Arba'ah, jld.3, hlm.345.
  2. Subhani, al-Qashr fi al-Safar, hlm.5-6.
  3. Subhani, al-Qashr fi al-Safar, hlm.13 dinukil dari al-Kasysyaf, jld.1, hlm.294, cetakan Dar al-Makrifah.
  4. QS. Al-Baqarah, 158.
  5. Subhani, al-Qashr fi al-Safar, hlm.12.
  6. Yazdi, al-Urwah al-Wutsqa, jld.3, hlm.414-470.
  7. Al-Hurr al-Amili, Wasail al-Syiah, jld.8, hlm.520, hadis 11337.
  8. Al-Hurr al-Amili, Wasail al-Syiah, jld.8, hlm.520, hadis 11337.

Daftar Pustaka

  • Al-Hurr al-Amili, Wasail al-Syiah, Qum, Muassasah Alul Bait as Li Ihya al-Turats, 1410 H.
  • Haidar, Asad, al-Imam al-Shadiq wa al-Madzahib al-Arba'ah, cetakan kelima, Dar al-Taaruf, 1422 H.
  • Subhani, Ja'far, al-Qashr fi al-Safar, Qum, Muassasah al-Imam al-Shadiq, 1422 H.
  • Thabathabai Yazdi, Sayid Muhammad Kazhim, al-Urwah al-Wutsqa, Qum, Muassasah al-Nasyr al-Islami, 1420 H.