Prioritas: a, Kualitas: b

Salat Jum'at

Dari WikiShia
Lompat ke: navigasi, cari
Salat Jumat di Masjid Al-Quds

Salat Jumat (bahasa Arab:صلاة الجمعة) adalah salat dua rakaat yang dilaksanakan secara berjamaah pada zuhur di hari Jumat serta memiliki dua khutbah sebelum salat. Mayoritas para marja memberikan hukum takhyiri (yaitu hukum yang kita bisa memilih antara salat Zuhur dan salat Jumat) pada masa kegaiban Imam.

Allah swt menjelaskan urgensi salat ini dalam surah al-Jumu'ah dan riwayat-riwayat yang ada mengenalkannya sebagai haji orang-orang yang tidak mampu dan dapat menyebabkan pengampunan dosa-dosa. Begitu pula orang yang meninggalkannya juga bisa menyebabkan kemunafikan dan kesulitan hidup.

Penggelaran salat Jumat dianggap sebagai simbol-simbol solidaritas kaum muslimin dan wajib dikerjakan secara berjamaah. Dengan memperhatikan masalah-masalah sosial-politik khotbah-khotbah yang disampaikan, salat Jumat juga dikenal dengan salat ibadah politik.

Salat Jumat di Lapangan El-Tahrir- Kairo
Salat Jumat di India-Masjid Fatih Poor

Urgensi dan Kedudukan Salat Jumat

Dalam surah al-Jumu'ah, Allah swt secara tegas mengajak kaum mukminin untuk hadir dalam salat Jumat dan berfirman:

﴾يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنُوا إِذا نُودِيَ لِلصَّلاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلى‏ ذِكْرِ اللَّهِ وَ ذَرُوا الْبَيْعَ ذلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُون﴿
"Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan salat Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu". [1]

Dan dalam riwayat juga dijelaskan akan urgensitas dan kedudukan salat Jumat dengan ungkapan-ungkapan sebagai berikut:

  1. Pengampunan dosa-dosa yang telah berlalu. [2]
  2. Hadir dalam salat Jumat secara berkesinambungan adalah haji orang-orang fakir. [3]
  3. Peringan kesulitan-kesulitan pada hari kiamat. [4]
  4. Pahala yang melimpah di setiap langkah menuju salat Jumat. [5]
  5. Allah mengharamkan jasadnya dari api neraka. [6]
  6. Orang yang bergegas menuju salat Jumat akan tergolong para pendahulu ke surga. [7]
  7. Meninggalkan salat Jumat dengan keimaman para Imam Maksum [8]
  8. Selama tiga minggu berturut-turut (dengan tanpa halangan) menyebabkan kemunafikan. [9]
  9. Meremehkannya menyebabkan kesengsaraan dan ketidak berkahan. [10]

Imam Ali as membebaskan sebagian orang-orang yang dipenjara guna berpartisipasi dalam salat Jumat [11] , demikian juga para fakih mazhab Islam dengan memperhatikan ayat-ayat salat Jumat menganggap perlu meninggalkan tindakan-tindakan yang menyebabkan keterlambatan dalam melaksanakan salat atau kehilangan salat Jumat.

Dalam referensi-referensi komprehensif fikih mazhab-mazhab Islam telah mengkhususkan masalah salat Jumat sejak permulaan bab pertama pembahasan salat (Kitāb Shalāt). [12]

Sejatinya, tulisan karya-karya fikih dan artikel-artikel independen tentang salat Jumat karena kedudukan penting ibadah ini dalam fikih Islam sudah sangat jamak sekali sejak abad-abad pertama. [13] Akibat maraknya pelaksanaan salat Jumat di Iran pada masa Safawiyah, penulisan artikel para fakih Syiah dalam masalah ini menjadi lebih serius. [14] Banyak sekali para fakih pemilik nama sebuah risalah yang menulis tentang salat Jumat dalam bahasa Arab dan Persia, dimana sebagian dari mereka membantah atau membela artikel-artikel lainnya. [15]

Artikel-artikel ini berdasarkan aspek proses fikih terbagi menjadi empat bagian: Risalah-risalah yang menetapkan wajib aini salat Jumat, risalah yang menetapkan kebolehan melaksanakan salat Jumat atau wajib takhyiri di masa kegaiban (Imam Mahdi Ajf), risalah yang membuktikan keharaman salat Jumat dan risalah yang pendapat para penulisnya tidaklah terlalu jelas. [16]

Hikmah Salat Jumat

Terdapat empat perkumpulan besar dan penting dalam agama Islam: Pertemuan-pertemuan harian yang diperoleh dalam salat berjamaah; perkumpulan mingguan yang diraih dalam acara-acara salat Jumat; perkumpulan dalam salat hari raya Idul Qurban dan hari raya Idul Fitri; dan perkumpulan haji yang dilakukan di samping Kakbah setiap tahun sekali.

Dengan memperhatikan penuturan masalah-masalah penting politik, sosial dan ekonomi, salat Jumat memiliki dampak-dampak sebagai birikut:

  • Penyadaran dalam ranah pengetahuan-pengetahuan (ma'arif) Islam dan fenomena penting sosial dan politik.
  • Menciptakan solidaritas dan koherensi lebih antar kaum muslimin.
  • Memperbaharui spirit religi dan kegembiraan spiritual.
  • Menarik kerjasama untuk menyelesaikan problem.

Kewajiban Salat Jumat

Untuk menetapkan kewajiban salat Jumat, para fakih Syiah dan Ahlussunnah bersandar pada ayat 9 Surah Al-Jumu'ah, pelbagai riwayat [17] dan Ijma' serta mereka menganggap orang-orang yang meninggalkannya layak untuk mendapatkan balasan. [18]

Sebagian para fakih menyanggah dalam bersandar pada ayat 9 surat al-Jumu'ah untuk kewajiban melaksanakan salat Jumat dan mengatakan bahwasanya ayat ini bukan dalam rangka melegalisasikan dan menetapkan kewajiban melaksanakan salat Jumat, namun menganggap kelaziman berpartisipasi dalam salat Jumat yang dilaksanakan secara benar dan dalam rangka mencela orang-orang yang tidak hadir dengan adanya salat Jumat yang benar dan malah melakukan perniagaan atau urusan-urusan lainnya. [19]

Salat Jumat tidak diwajibkan bagi semua orang dan sebagian orang yang tidak diwajibkan baginya adalah sebagai berikut:

  • Para wanita.
  • Para musafir (orang-orang yang bepergian).
  • Orang-orang sakit dan orang yang tidak memiliki kemampuan untuk berpartisipasi dalam salat Jumat, seperti tunanetra, tunawisma dan orang-orang tua.
  • Hamba sahaya.
  • Orang yang memiliki kekhawatiran atas bahaya harta dan jiwa, dengan berpartisipasi dalam salat Jumat.
  • Orang yang memiliki jarak dua Farsakh dari tempat pelaksanaan salat Jumat. [20]

Hukum Salat Jumat di Masa Kegaiban Imam Zaman Af

Diperbolehkan atau tidaknya melakukan salat Jumat di masa kegaiban Imam Maksum termasuk permasalahan konflik di kalangan para fakih Syiah dan ada beberapa perspektif yang diketengahkan dalam hal ini: Haram, Wajib Ta'yini(yang ditentukan) dan Wajib Takhyiri (dapat memilih). [21]

Haram

Sebagian para fakih terdahulu Syiah seperti Sallar Dailami [22], Ibn Idris Hilli [23] dan banyak para ulama terkini yang mengikuti mereka seperti Fadhil Hindi menganggap legalitas salat Jumat disyaratkan dengan kehadiran Imam Maksum as atau kehadiran seseorang yang diangkat dan ditunjuk olehnya untuk menjadi imam Jumat. [24] Para pengikut fatwa haram salat Jumat dengan dalil bahwa hadir atau izin imam merupakan syarat sahnya dan di masa gaib tidak ada izin semacam ini, maka menurut mereka melaksanakan salat Jumat di masa sekarang ini tidak diperbolehkan. [25]

Demikian juga, sebagian mengatakan bahwa wali fakih tidak memiliki perwakilan dari pihak maksum dalam perbuatan-perbuatan yang membutuhkan kekuatan ekstensif seperti pelaksanaan salat Jumat dan memerintahkan jihad. [26] Di antara argumentasi-argumentasi yang dijadikan sandaran para pengklaim keharaman adalah hadis-hadis yang dituturkan dengan ungkapan-ungkapan seperti Imam, Imam Adil suci dan dikatakan bahwasanya menentang imam mengenai salat Jumat menyebabkan kebinasaan atau melaksanakan salat Jumat tidak benar kecuali dengan dihadiri oleh Imam Adil dan suci. [27]

Imam Sajjad as dalam Sahifah Sajjadiah [28] juga menganggap imam Jumat adalah sebagai sebuah kedudukan khusus pilihan Allah. Sebagian para fakih kontemporer menganggap maksud ungkapan tersebut dalam hadis ini adalah bukanlah Imam Maksum dan mereka menafsirkannya dengan maksud yang lebih luas, yang mencakup juga imam jamaah. Menurut mereka, dalam hadis-hadis ini penegasan utama adalah kelaziman penyelenggaraan secara berjamaah. [29]

Wajib Ta'yini

Dari sisi lain, dalam kebanyakan referensi-referensi fikih terdahulu Syiah yang ada, meskipun ditegaskan mengenai sandaran hadis-hadis tentang kewajiban salat Jumat, namun tidak disyaratkan dengan gamblang akan kepemimpinan imam maksum ataupun wakilnya. [30] Dengan ini semua, para fakih Imamiah abad-abad berikutnya menyebut diantara syarat pelaksanaan salat Jumat adalah hadir, izin penguasa adil [31] atau imam adil. [32] Syarat adil bagi imam Jumat hanya diketengahkan oleh para fakih Syiah semata dan Ahlussunnah tidak meyakininya. [33]

Meskipun fatwa wajib Ta'yini kurang lebih sudah diketengahkan di kalangan para fakih sejak awal permulaan kegaiban besar (Ghaibah Kubra) [34], namun Syahid Tsani pada abad kesepuluh mengetengahkan wajib Aini[35] secara serius. [36] Sebagian para fakih seperti cucunya, penulis buku Madārik juga mengikutinya [37] dan pendapat ini sangat marak sekali pada masa Safawi, khususnya dengan memperhatikan ranah-ranah sosial yang ada. [38] Menurut pendapat sebagian para fakih, apabila syarat-syarat pelaksanaan salat Jumat seperti era hadirnya imam sudah terpenuhi, maka pelaksanaannya adalah wajib dan hal ini tidak membutuhkan lagi pengangkatan secara umum atau khsusus imam maksum lagi. Demikian juga, dikatakan bahwa salat Jumat sebagaimana difatwakan dan dihukumi itu termasuk tugas dan kewajiban dan menjadi urusan para fakih di masa kegaiban. Mayoritas yang mengklaim kewajiban pelaksanaan salat Jumat di masa kegaiban memiliki tendensi Akhbari[39], meskipun Syahid Tsani dan sejumlah lainnya dari pakar Ushuli[40] juga mengikuti pendapat ini. [41]

Wajib Takhyiri

Mayoritas para fakih masa pertengahan dan akhir Syiah mengklaimkan fatwa wajib takhyiri, seperti Muhaqqiq al-Hilli [42], Allamah Hilli [43], Ibnu Fahd Hilli [44], Syahid Awwal [45] dan Muhaqqiq al-Karaki. [46] Adapun yang dimaksud dengan wajib takhyiri salat Jumat adalah seseorang dapat memilih antara melaksanakan salat Jumat atau salat zuhur, ketika dia melakukan salat jumat, maka kewajibannya untuk melaksanakan salat zuhur pun gugur begitu pula sebaliknya. [47] Demikian juga, dalil lain seperti sirah para sahabat Imam dan juga para fakih terdahulu yang mendasarkan tidak melaksanakan salat Jumat, seperti dalil-dalil tidak wajib ta'yini salat Jumat. [48] Pendapat wajib takhyiri sangat diterima di tengah-tengah para fakih kontemporer yakni sejak abad ke 13 dan seterusnya. [49] Secara global, di kalangan para fakih Ushuli, tendensi terhadap pendapat wajib takhyiri salat Jumat itu lebih spektakuler, meskipun sejumlah dari mereka juga mengklaimkan keharamannya. [50]

Syarat-syarat Salat

Dalam salat Jumat, selain harus menjaga pendahuluan dan syarat-syarat yang ada dalam semua salat berjamaah, juga diperlukan syarat-syarat lain untuk wajib atau sahnya salat Jumat.

Jumlah Minimal Jama'ah

Para fakih mazhab Islam berselisih pendapat terkait minimnya jumlah orang yang hadir dalam pelaksanaan salat Jumat. Mayoritas para fakih Syiah [51] mensyaratkan minimal lima orang [52] dan sebagian lainnya mensyaratkan tujuh orang. Para pengikut Hanafi mensyaratkan kehadiran para jamaah salat Jumat minimal tiga orang ditambah dengan imam Jumat, menurut pengikut Syafi'i dan Hambali minimalnya adalah salat tersebut dihadiri 40 orang dan menurut Maliki, setidaknya dihadiri oleh 12 orang dari penduduk kota. [53]

Jarak Minimal antara Dua Tempat Salat Jumat

Syarat lain yang menjadikan sahnya salat Jumat yang dituturkan oleh para fakih Syiah dan mayoritas mazhab-mazhab Ahlussunnah adalah menjaga jarak tempat yang tepat di antara salat-salat Jumat atau ketidakberagamannya dalam satu kota. Menurut pendapat para fakih Imamiah, minimal jarak diantara dua salat Jumat adalah satu farsakh dan jika syarat ini tidak diindahkan, maka salat Jumat yang selesai lebih akhir akan batal. [54]

Tempat Penyelenggaraan

Biasanya salat Jumat diselenggarakan di masjid Jami' di setiap kota, yang terkadang dengan nama-nama seperti, masjid raya, masjid jamaah, masjid jumat dan masjid hari Jumat. [55] Masjid ini dinamakan jami' dikarenakan perkumpulan-perkumpulan seperti salat Jumat diselenggarakan di tempat tersebut. [56]

Terkadang, faktor-faktor seperti perkembangan dan pertumbuhan kota, adanya pelbagai mazhab dalam satu kota dan pertimbangan-pertimbangan politik serta keamanan para pejabat menyebabkan penyelenggaraan beberapa salat Jumat dalam satu kota. [57] Menurut penuturan Ibnu Batutah pada abad ke tujuh dilaksanakan salat Jumat di 11 masjid Baghdad, pada masa kerajaan, karena banyaknya masyarakat, salat Jumat juga diselenggarakan di masjid-masjid setempat dan sekolah-sekolah. [58]

Pendahuluan

Salat Jumat disyariatkan sebelum hijrah dan pada tahun 12 bi'tsah di Mekah. Di tahun ini, Rasulullah saw ketika tidak memungkinkan untuk menyelenggarakan salat Jumat di Mekah, dalam sebuah surat meminta kepada Mush'ab bin Umair supaya melaksanakan salat Jumat di Madinah. [59] Menurut penuturan lain [60], As'ad bin Zurarah adalah orang yang pertama kali melaksanakan salat Jumat di Madinah.

Dengan masuknya Rasulullah saw ke Madinah, salat Jumat diselenggarakan dengan dipimpin oleh beliau sendiri. [61] Setelah kota Madinah, tempat pertama kali diselenggarakan salat Jumat adalah kampung Abdul Qais di Bahrain. [62] Setelah masa Nabi, menurut penuturan-penuturan sejarah, pelaksanaan salat Jumat di masa para khalifah pertama dan juga pada masa pemerintahan Imam Ali as (tahun 35 H/655-40 H/660) dan Imam Hasan as (tahun 40 H/660) sangatlah jamak. [63] Sebagian riwayat-riwayat Syiah seperti Khutbah Sya'baniyah Rasulullah saw dan sebagian khotbah-khotbah Nahjul Balaghah Imam Ali as merupakan kenangan dari salat-salat ini.

Pada masa pemerintahan Bani Umayyah (41 H/661-132 H/749) dan Bani Abbasiah (132 H/749-656 H/1258) juga para khalifah dan para pengikutnya melaksanakan salat Jumat, yang diiringi dengan khutbah dengan nama khalifah waktu itu atau mendoakan untuknya. [64] Para khalifah mengangkat para imam Jumat pusat kekhilafahan [65] dan pemilihan para khatib Jumat kota-kota lainnya diemban oleh para pemimpin atau para penguasa setempat. [66]

Partisipasi Para Imam dalam Salat Jumat

Menurut perspektif Syiah, para penguasa lalim dan para imam Jumat atau jaamah yang dilantik oleh mereka tidak memiliki legalitas dan tidak dapat melaksanakan salat menjadi makmum dibelakang mereka. Dengan demikian, berdasarkan sebagian hadis, para Imam Syiah as dan para pengikutnya jika terlihat ikut berpartisipasi dalam salat Jumat, hal itu dalam rangka taqiyyah atau dikarenakan dalil-dalil lainnya [67], demikian juga terkadang para penentang pemerintah tidak ikut berpartisipasi dalam salat Jumat guna mengungkapkan penentangannya. [68] Tidak hadir dalam salat Jumat dikategorikan sebagai pendahuluan yang tidak baik bagi seseorang. [69]

Pelaksanaan Salat Jumat Syiah

Di antara penuturan-penuturan terkuno yang ada terkait salat Jumat di kalangan masyarakat Syiah adalah pelaksanaan salat Jumat di masjid Buratsa (masjid Syiah di Baghdad) pada tahun 329 H/941, dengan kepemimpinan Ahmad bin Fadhl Hashimi. [70] Bahkan, dalam fitnah 349 yang meliburkan salat Jumat Baghdad, belum pernah terjadi pemberhentian dalam pelaksanaan salat Jumat di Buratsa [71], namun pada tahun 420 dengan dilantiknya seorang khatib Ahlussunnah oleh pihak khalifah sementara, maka salat Jumat pun dihentikan. [72] Demikian juga, salat Jumat diselenggarakan di masjid Jami' Ibn Thulun pada tahun 359 dan di masjid Jami' Azhar pada tahun 361. [73] Indikasi-indikasi [74] juga menunjukkan akan pelaksanaan salat Jumat pada abad-abad pertama hijriah di kota-kota ini. [75]

Salat Jumat di Iran

Masa Safawiyah Salat Jumat sejak masa pemerintahan Shah Ismail 1 Safawi (905-930) lambat laun menyebar di tengah-tengah masyarakat Syiah Iran. Sebab hal ini adalah dari satu sisi, kritikan pemerintah Utsmani terhadap Syiah dikarenakan tidak melaksanakan salat Jumat dan dari sisi lain upaya para ulama Syiah, khususnya Muhaqqiq al-Karaki (M, 940 H/1533) untuk menyebarkan salat Jumat di Iran. [76] Dengan adanya kebersamaan sejumlah para fakih seperti sejumlah para ulama Jabal Amul dengan Muhaqqiq al-Karaki dan dukungan pemerintah Safawi kepada mereka, dikarenakan tradisi salat Jumat tidaklah terlalu marak dikalangan Syiah dan adanya penentangan serius dari kalangan para ulama [77], peresmian salat jumat lambat laun akhirnya merebak di masyarakat Syiah Iran. [78] Pembahasan dan pertentangan terkait hukum salat Jumat pada masa ghaibah Imam maksum dan kewajiban serta keharamannya pada masa Shah Sulaiman 1 Safawi (pemerintahan 1077/1078-1105) sampai pada batas dimana dia mengadakan sebuah majlis dari para fakih dengan dihadiri menteri agungnya, sehingga sampai pada kesimpulan terkait hukum salat Jumat. [79]

Shah Tahmasp 1 (pemerintahan: 930 H/1524-984 H/1576) dengan anjuran Muhaqqiq al-Karaki supaya memilih imam Jumat di setiap kota. [80] Pada masa Shah Abbas 1 (pemerintahan: 996-1038) diadakan pengangkatan imam Jumat secara resmi. [81] Biasanya, Syaikh al-Islam di setiap kota memiliki kedudukan ini, namun terkadang seorang ulama yang bukan dari Syaikh al-Islam, seperti Mulla Faidh Kasyani (M 1091) mengemban keimamahan salat Jumat atas titah raja. [82]

Salat Jumat pertama dilaksanakan oleh Muhaqqiq al-Karaki, pada masa Safawi, di masjid Jami' Atik Isfahan. Termasuk para imam Jumat penting lainnya pada masa ini adalah Syaikh Bahai (M 1030 H/1621 atau 1031 H/1622), Mir Damad (M 1041 H/1632), Muhammad Taqi Majlisi (M 1070 H/1660), Muhammad Bagir Majlisi (M 1110 H/1698 atau 1111 H/1699), Mulla Hadi Sabzawari (M 1090 H/1679) dan Syaikh Lutfullah Isfahani (M 1032 H/1623). [83] Pada masa Safawi, sangatlah marak sekali tulisan-tulisan buku yang memuat tentang khotbah-khotbah salat Jumat, dimana yang paling populer adalah Basatin al-Khutaba karya Mirza Abdullah Affandi (M 1130 H/1718). [84]

Muhaqqiq Karaki pada tahun 921 H/1515 menulis sebuah buku untuk membuktikan bolehnya melaksanakan salat Jumat di masa ghaibah Imam Maksum, dimana sejatinya merupakan sebuah risalah dalam topik Wilayatul Faqih. Sebagian para kontemporer dan murid Karaki menulis sebuah risalah-risalah dalam mengkritik pendapatnya dan untuk membuktikan keharamannya atau menolak kewajiban aini salat Jumat di masa ghaibah. [85]

Masa Qajar Imam Jumat pada masa dinasti Qajar (1210 H/1795-1344 H/1925) - sebagaimana masa Safawi - dikategorikan sebagai sebuah jebatan pemerintah. [86] Jabatan ini pada masa tersebut - sejalan dengan menurunnya kredibilitas kedudukan mazhab, lambat laun - kehilangan urgensitas keagamaan dan politiknya. Di akhir-akhir masa Qajar, sebagian para imam Jumat menentang para ulama konstitusional yang menentang pemerintah lalim. [87] Memperhatikan banyak nama dari para imam jumat kota-kota besar pada masa Afshariyah (1148 H/1735-1210 H/1795) dan Qajariyah menunjukkan bahwa kedudukan imam Jumat pada masa ini merupakan sebuah front warisan dan sebagian keluarga mengemban kedudukan tersebut, seperti keluarga Khatun Abadi di Tehran, Keluarga Majlisi di Isfahan dan Muhammad Muqim Yazdi di Yazd. [88]

Masa Pahlevi Pada masa-masa Pahlawi (1304-1357 s), para imam Jumat, khususnya di kota-kota seperti Tehran, dikarenakan memiliki hubungan resmi dengan pemerintah, mayoritas mereka tidak mendapatkan kecintaan masyarakat dan pelaksanaan salat Jumat juga tidaklah terlalu marak. [89] Disebutkan bahwa sebagian para ulama melaksanakan salat Jumat berdasarkan fatwa wajib takhyiri atau ta'yini salat Jumat, dimana dikarenakan tidak terkait dengan pemerintah, maka mendapat sambutan masyarakat umum. [90] Di antara salat-salat tersebut adalah salat Jumat Ayatullah Araki, yang dilaksanakan di masjid Imam Hasan Askari as di Qom, sejak tahun 1336 S sampai kemenangan Revolusi Islam Iran.

Masa Republik Islam

Gambar foto Salat Jumat pertama Ayatullah Khamenei di Universitas Tehran
Fanorama Salat Jumat diimami oleh Ayatullah Uzma Sayid Ali Khamenei, Universitas Tehran

Setelah kemenangan Revolusi Islam (1357 S), penyelenggaraan salat Jumat di Iran kembali semarak. Salat Jumat pertama pada masa ini, dipimpin oleh Ayatullah Sayid Mahmud Thaliqani (m 1358 S) – dimana Imam Khomeini ra memilihnya secara resmi – yang diselenggarakan pada tanggal 5 Murdad (Penanggalan bulan Iran) di Universitas Tehran.

Imam Jumat kedua Tehran adalah Ayatullah Muntazeri, yang mana dalam waktu singkat setelah pengangkatannya, dia pergi ke Qom dan mengundurkan diri dari keimaman Jumat Tehran dan Ayatullah Sayid Ali Khamenei yang mengemban keimaman salat Jumat Tehran. [91]

Masyarakat kota-kota lainnya juga meminta penentuan imam Jumat. Dengan menyebarnya pelaksanaan salat Jumat di Iran, Imam Khomeini dengan saran Ayatullah Khamenei, dimana pada waktu itu beliau adalah seorang Presiden memasrahkan tanggung jawab koordinasi dan kepengurusan masalah terkait salat Jumat ke sebuah markas di Qom dan pada tahun 1371 S, dengan ketetapan Ayatullah Khamenei dalam kedudukannya sebagai pemimpin tertinggi Republik Islam, membentuk sebuah dewan syura yang beranggotakan Sembilan orang dari para rohaniawan, dengan nama Dewan Kebijaksanaan para Imam Jumat mengemban tugas ini. [92]

Salat Jumat pada bulan Ramadhan diselenggarakan dengan diikuti oleh banyak masyarakat dan di akhir Jumat bulan Ramadhan juga diselenggarakan demo-demo al-Quds sebelum melaksanakan salat. Disamping demo hari Quds, dalam pelbagai urusan lainnya juga para pelaksana salat Jumat setelah salat, melakukan unjuk rasa dan demonstrasi guna menunjukkan penentangan terhadap masalah-masalah seperti penistaan terhadap Rasulullah saw dan kejahatan-kejahatan rezim Zionis terhadap warga Palestina.

Pemilihan Imam Jumat

Syiah dan kebanyakan para fakih mazhab Ahlussunnah untuk keabsahan salat Jumat (seperti ibadah-ibadah jasmani lainnya) tidak mensyaratkan kehadiran atau izin penguasa setempat, dan bersandar dengan keimamanan Imam Ali (As) dalam salat Jumat, saat Utsman berada dalam pengepungan para penentangnya. [93] Dengan ini semua, dalam sepanjang sejarah Islam, imam jumat senantiasa merupakan sebuah jabatan pemerintahan. [94] Hanafi dari Ahlussunnah meyakini kelaziman hadirnya pengusa (raja) untuk mengimami salat Jumat atau wakilnya atau seseorang yang telah mendapatkan izin dari penguasa untuk melaksanakan salat Jumat; meskipun pengusa tersebut adalah seorang zalim.

Tata cara Salat Jumat

Pertama-tama dilaksanakan dua Khotbah (ceramah) dan setelah itu melaksanakan dua rakaat salat secara berjamaah dengan niat salat Jumat. Dua rakaat ini memiliki dua qunut mustahab, salah satunya sebelum rukuk pada rakaat pertama dan lainnya adalah setelah rukuk pada rakaat kedua.

Dua Khotbah

Salat Jumat dimulai dengan dua khotbah, dimana sejatinya merupakan pengganti dua rakaat pertama salat Dhuhur. [95]

Khatib Jumat disamping harus memiliki syarat-syarat lazim untuk menjadi imam jamaah [96], juga harus memiliki syarat-syarat lain, seperti menggunakan ucapan mudah, berani, tegas dalam menjelaskan dan pengetahuan terhadap kemaslahatan-kemaslahatan Islam dan kaum muslimin. Demikian juga, lebih baik jika seorang imam Jumat dipilih dari orang-orang yang paling alim dan paling mulia. [97]

Imam Ridha as berkata, dalil disyariatkannya khotbah pada hari Jumat adalah Allah swt memberikan kepada penguasa muslim supaya memberikan petuah kepada masyarakat dan mensuport mereka menuju ketaatan Allah, mewanti-wanti maksiat Ilahi dan mengenalkan mereka terhadap kemaslahatan agama, dunia mereka dan berita serta menginformasikan peristiwa-peristiwa penting dari pelbagai penjuru yang telah sampai kepadanya dan berpengaruh terhadap takdir mereka. Diberikan dua khutbah, dimana salah satunya adalah sanjungan dan pengkultusan Ilahi dan di lainnya adalah mengumumkan kebutuhan, peringatan, doa, perintah yang berhubungan dengan kemaslahatan dan kerusakan masyarakat Islam. [98]

Waktu dan Isi Khotbah

Menurut pendapat kebanyakan para marja taqlid, khotbah Jumat harus diketengahkan setelah dhuhur syar'i. [99] Menurut pendapat masyhur para fakih Syiah, khotbah kurang lebih harus mencakup pujian Allah, shalawat kepada Rasulullah saw, nasihat dan anjuran akan takwa serta bacaan surat pendek Alquran. [100]

Mendengarkan Khotbah

Para pelaksana salat harus meninggalkan segala kegiatan yang menghalangi mereka dari mendengarkan khotbah, seperti berbicara atau melaksanakan salat. [101]

Amirul Mukminin (As) berkata: para partisipan salat Jumat terdiri dari tiga kelompok: kelompok yang berpartisipasi sebelum imam dalam salat Jumat, sementara dia diam dan mendengarkan khotbah-khotbah, keikut sertaan mereka dalam salat Jumat adalah kaffarah sepuluh hari dosa-dosa mereka. Kelompok lainnya adalah orang-orang yang ikut berpartisipasi dalam salat Jumat, sementara mereka sibuk berbicara dan bergerak. Manfaat mereka dari salat Jumat adalah berbicara dengan teman dan duduk dengan mereka. Kelompok ketiga, saat imam Jumat sibuk berkhotbah, mereka sibuk melaksanakan salat, mereka juga beramal dengan menyalahi sunnah, mereka termasuk orang-orang yang meminta sesuatu dari Allah, jika Allah menghendaki maka akan memberi dan jika menghendaki, maka Dia tidak akan memberi mereka. [102]

Dua Rakaat Salat

Setelah menyampaikan dua khotbah, juga dilaksanakan dua rakaat salat Jumat. Pembacaan surah Al-Jumu'ah pada rakaat pertama dan surah Al-Munafiqun pada rakat kedua atau surah Al-A'la pada rakaat pertama dan surah Al-Ghasyiyah pada rakaat kedua setelah Surah Al-Fatihah adalah hal yang disunnahkan. Demikian juga disunnahkan untuk membaca surat dengan suara Jahr (keras). [103]

Salat dengan Dua Qunut

Menurut pendapat para fakih Syiah, disunnahkan membaca qunut di rakaat pertama sebelum rukuk dan di rakaat kedua setelah rukuk. [104]

Dapat bermakmum (mengikuti imam) pada rakaat kedua salat Jumat, yakni dapat melaksanakan satu rakaat salat Jumat secara berjamaah dan melakukan rakaat lainnya secara furada (tidak berjamaah). [105]

Galeri

Catatan Kaki

  1. Q.S. Al-Jumu'ah: 9.
  2. Rasulullah saw bersabda, "Empat orang memulai amal (kehidupan) dari awal (baru): 1. Orang sakit saat mendapatkan kesembuhan, 2. Orang musyrik saat memeluk Islam, 3. Orang yang melakukan haji saat menyelesaikan manasik hajinya, 4. Saat kembali dari melaksanaan salat Jumat." Bihār al-Anwār, jild. 86, hlm. 197.
  3. Ketika Rasulullah saw tengah berbicara kepada kaum mukminin, tiba-tiba ada seorang yang menengahinya dan berkata: Saya berkali-kali berhasrat hendak pergi menunaikan ibadah haji, namun saya belum mendapatkan taufik, maka bersabda Rasulullah saw: "Beruntunglah bagi kamu yang senantiasa hadir dalam salat Jumat, karena hal itu adalah hajinya orang-orang yang tidak mampu." Wasāil al-Syiah, jild. 5, hlm. 5.
  4. Rasulullah saw bersabda: "Setiap kali seorang mukmin pergi ke salat Jumat, Allah swt akan mengurangi kecemasan-kecemasan hari kiamat baginya dan akan membimbingnya menuju surga (Wasāil al-Syiah, jild. 7, hlm. 9390); Rasulullah saw bersabda, Jumat adalah suatu hari dimana Allah swt di situ mengumpulkan seluruh manusia, maka tidak ada seorang mukmin pun yang pada hari tersebut pergi menuju salat Jumat, kecuali Allah swt mempermudahkan baginya pada hari kiamat dan memerintahkannya supaya masuk ke surga." (Man Lā Yahdhur al-Faqih, jild. 1, hlm. 427).
  5. Rasulullah saw bersabda, "Barang siapa yang mandi pada hari Jumat dan melangkah menuju salat Jumat serta mendengarkan khotbah-khotbah imam, maka Allah akan mengganjar setiap langkahnya dengan ganjaran ibadah satu tahun dimana siang harinya dilalui dengan berpuasa dan malamnya dengan ibadah." Mustadrak al-Wasāil, jild. 2, hlm. 504.
  6. Imam Shadiq as bersabda: "Barang siapa yang melangkah menuju salat Jumat, Allah akan mengharamkan jasadnya dari api neraka." Man Lā Yahdhur al-Faqih, jild. 1, hlm. 247.
  7. Imam Shadiq as bersabda: "Allah swt melebihkan hari Jumat di atas hari-hari lainnya dan sesungguhnya hari Jumat adalah surga bagi orang-orang yang bergegas menuju salat Jumat, berhiaskan gelang-gelang dan perhiasan dan sesungguhnya kalian menuju surga sekadar bergegas kalian menuju salat Jumat dan ssesungguhnya pintu-pintu langit terbuka untuk menjulangkan amalan-amalan para hamba." Wasāil al-Syiah, jld. 5, hlm. 70.
  8. Imam Bagir as bersabda: "Salat Jumat wajib dan wajib mendatanginya dengan keimaman imam maksum. Apabila seseorang meninggalkan tiga Jumat tanpa adanya udzur, maka ia telah meninggalkan perintah wajib dan seseorang yang meninggalkan perintah wajib dengan tanpa dalil, kecuali orang tersebut adalah seorang munafik." Wasāil al-Syiah, jild. 5, hlm. 4.
  9. Amirul Mukminin Ali as bersabda: "Orang yang meninggalkan salat Jumat selama tiga minggu berturut-turut dengan tanpa adanya udzur, ia termasuk orang-orang munafik." Mustadrak al-Wasāil, jild. 2, hlm. 6291.
  10. Rasulullah saw bersabda, "Allah telah mewajibkan salat Jumat bagi kalian. Barang siapa yang melepaskannya di masa hidup saya atau sepeninggal saya dikarenakan meremehkan atau mengingkarinya, maka Allah akan menyengsarakannya dan tidak memberikan keberkahan terhadap pekerjaannya. Ketahuilah! Salatnya tidak diterima. Ketahuilah! Zakatnya tidak diterima! Hajinya tidak diterima! Perbuatan-perbuatan baiknya tidak diterima sampai dia bertobat dan tidak meninggalkan salat Jumat lagi, tidak meremehkannya dan tidak mengingkarinya." Wasāil al-Syiah, jild. 5, hlm.7.
  11. Mustadrak al-Wasāil, jld. 6, hlm. 27.
  12. Malik ibn Anas, jild. 1, hlm. 101-112; Muhammad bin Idris Syafi'i, Al-Umm, jild. 1, hlm. 188-209; al-Kāfi, jild. 3, hlm. 418-428; al-Muqni' Ibn Babawaih 1415, hlm. 144-148; Fathul Bāri Fi Syarh Shahih al-Bukhāri, jild. 2, hlm. 450-544.
  13. Di antara karya-karya ini adalah sebagai berikut: Kitāb Al-Jum'ah, karya Muhammad Idris Syafi'i (M 204); kitāb Al-Jum'ah wa al'Idain, Ahmad bin Musa Asy'ari (M 300); Kitāb Al-Jum'ah, karya Abdul Rahman Nasa'i (M 303); Kitāb Salāti al-Jum'ah, karya Muhammd bin Ahmad Ju'fi, yang populer dengan Shabuni (M setelah 339); Kitāb Salāti Yaum al-Jum'ah, karya Muhammad bin Mas'ud Ayashi (M setelah 340); Kitāb Al-Jum'ah wa Al-Jamā'ah, karya Abul Qasim Ja'far bin Muhammad Qulawaih (M 369); Kitāb Al-Jum'ah wa Al-'Idain, karya Ahmad bin Abi Zuhr; Kitāb Al-Jum'ah wa Al-Jamā'ah, karya Syaikh Shaduq (M 381); Kitāb 'Amali al-Jum'ah, karya Ahmad bin Abdul Wajib (M 423); Al-Fehrest, Ibn Nadim, hlm. 215, 244, 264, 281; Fehrest Asma Mushannif al-Syiah, Fehrest Asma Mushannif al-Syiah Najāsyi, hlm. 87-88, 101, 123, 347, 352, 389, 398.
  14. Namāze Jum'eh: Zaminehhāye Tārikhi 1372 S, hlm. 37.
  15. Namāze Jum'eh: Zaminehhāye Tārikhi 1372 S, hlm. 37-38; Shafawiyyah dar 'Arsheye Din 1379 S, jild. 3, hlm. 251.
  16. Namāze Jum'eh: Zaminehhāye Tārikhi 1372 S, hlm. 58, 92.
  17. Ibn Hanbal, jild. 3, hlm. 424-425; Nasā'i, jild. 3, hlm. 85, 89; Wasāil al-Syiah, jild. 7, hlm. 295-302; Mustadrak al-Wasāil, jild. 6, hlm. 10.
  18. Nail al-Authar li al-Syaukani, jild. 3, hlm. 254-255; Al-Khalaf li al-Syaikh al-Thusi 1407-1417, jild. 1, hlm. 593; al-Mu'tabar fi Syarh al-Mukhtashar, jild. 2, hlm. 274.
  19. Al-Badr al-Zāhir fi Salat al-Jum'ah wa al-Musāfir, hlm. 6; Al-Tanqih fi Syarh al-'Urwah al-Wutsqā, Gharawi Tabrizi, jild. 1, hlm. 16-17.
  20. Al-Muqni'ah, Syaikh Mufid; Miftāh al-Karāmah fi Syarh Qawāid al-'Allāmah, jild. 8, hlm. 463-483; Al-Fiqh al-Islāmi wa Adillatihi, Zuhaili, jild. 2, hlm. 265-268.
  21. Untuk pendapat-pendapat lainnya, Shalāt al-Jum'ah, Reza Nejad, hlm. 28.
  22. Shalāt al-Jum'ah, Reza Nejad, hlm. 77.
  23. Al-Sarāir, jild. 1, hlm. 304.
  24. Fadhil Hindi, jild. 1, hlm. 246-248; Thabathabai, jild. 4, hlm. 73-75; Mustanad al-Syiah, Naraqi, jild. 6, hlm. 60; Ahmad Khansari, jild. 1, hlm. 524.
  25. Ibid.
  26. Al-Badr al-Zāhir fi Shalāt al-Jum'ah wa al-Musāfir, hlm. 57-58.
  27. Qadhi Nu'man, jild. 1, hlm. 234; Mustadrak al-Wasāil, jild. 6, hlm. 13-14.
  28. Hlm. 474.
  29. Semisalnya, Wasāil al-Syiah, jild. 7, hlm. 310.
  30. Semisalnya, Al-Kāfi, jild. 3, hlm. 418-419; Al-Amāli, Ibn Babuwaih 1417, hlm. 573.
  31. Al-Muqni'ah, Syaikh Mufid, hlm. 676; Alamul Huda 1417, hlm. 265; Thusi 1387, jild. 1, hlm. 143.
  32. Alamul Huda 1405-1410, jild. 1, hlm. 272, jild. 3, hlm. 41.
  33. Al-Mu'tabar fi Syarh al-Mukhtashar, jild. 2, hlm. 279-280.
  34. Shalāt al-Jum'ah, Reza Nejad, hlm. 29-65.
  35. kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap mukallaf. (pen).
  36. Rasāil, Syahid al-Tsani, hlm. 197.
  37. Madārik al-Ahkām fi Syarh Syarā'i al-Islām, jild. 4, hlm. 25.
  38. Muhammad Muqim Yazdi, Muqaddimah Mudarrisi, hlm. 35-54.
  39. Sekelompok orang yang hanya meyakini bahwa riwayat paling benarnya penafsiran. (Pen).
  40. sekelompok orang moderat yang mengakui semua cara penentuan argumentasi tidak hanya dengan riwayat. (Pen).
  41. Pendapat-pendapat lain dan rincian-rincian argumentasi Syahid Tsani 1403, jild. 1, hlm. 299-301; Al-Syahāb al-Tsāqib fi Wujub Shalāt al-Jum'ah al-'Aini, hlm. 47-102; Al-Dzāriat ilā Tashānif al-Syiah 1403, jild. 15, hlm. 63, 67, 73; Jabiri, hlm. 54-55.
  42. Syarā'i al-Islām, jild. 1, hlm. 76.
  43. Mukhtalaf al-Syiah, jild. 2, hlm. 238-239.
  44. Al-Muhadzab al-Bāri' fi Syarh al-Mukhtashar al-Nāfi', jild. 1, hlm. 414.
  45. Al-Durus al-Syar'iyyah, jild. 1, hlm. 186.
  46. Rasāil, Al-Muhaqqiq Al-Karaki, jild. 1, hlm. 158-171.
  47. ajwibatu al-Istiftaat, no 606-607; Taudhih al-Masail Maraji', jild. 1, hlm. 871-872.; Tadzkirah al-Fuqoha, jild. 4, hlm. 27; Rasail al-Muhaqqiq Al-Karaki, hlm. 163; Miftāh al-Karāmah fi Syarh Qawāid al-'Allāmah, jild. 8, hlm. 216.
  48. Untuk lebih rinci,Adelleye Muballighi, hlm. 211-216.
  49. Kasyf al-Ghithā an Mubhamāt al-Syari'at, jild. 3, hlm. 248; Jawāhir al-Kalāam, jild. 11, hlm. 151; Imam Khomeni, jild. 1, hlm. 205; untuk para pengkalim lain pendapat tersebut, jild. 14, hlm. 3604.
  50. Namāze Jum'eh, Zaminehhaye Tarikhi 1372 S, hlm. 37.
  51. Alamul Huda 1405-1410, jild. 1, hlm. 222; Al-Sarāir, Ibn Idris Hilli, jild. 1, hlm. 290; Fadhil Hindi, jild. 4, hlm. 215.
  52. Tahdzib al-Ahkām, hlm. 103.
  53. Kitab Badā'i al-Shanā'i fi Tartib al-Syarā'i, jild. 1, hlm. 266.
  54. Miftāh al-Karāmah fi Syarh Qawāid al-Allāmah, jild. 2, hlm. 130-135; Jawahir al-Kalam, jild. 11, hlm. 245.
  55. Kāfi, jild. 4, hlm. 176; Mawardi, hlm. 164.
  56. Kitab Badā'i al-Shanā'i fi Tartib al-Syarā'i, jild. 2, hlm. 113.
  57. Al-Muntadzam fi Tārikh al-Muluk wa al-Umam, jild. 13, hlm. 5, 6; Yaqut, Hamawi, di bawah kata "Jumat" Al-Bidāyah wa al-Nihāyah, jild. 5, juz. 10, hlm. 105; jild. 6, juz. 11, hlm. 332.
  58. Shubh al-'A'syā fi Shinā'ah al-Insyā 1383, jild. 3, hlm. 362.
  59. Al-Mu'jam al-Kabir, jild. 17, hlm. 267; Kitāb Makātib al-Rasul, hlm. 239.
  60. Sunan Ibnu Mājah, jild. 1, hlm. 344; Sunan al-Nasa'i bi Syarh Jalaluddin Suyuthi, jild. 8, hlm. 150.
  61. Semisalhnya, Muruf al-Dzahab, jild. 3, hlm. 19.
  62. Sirah Halabi, jild. 2, hlm. 59.
  63. Thabari, jild. 3, hlm. 447, 2740; Tarikh Madinah Dimasyq, jild. 13, hlm. 251; Al-Bidayah wa Al-Nihayah, jild. 4, juz. 7, hlm. 189; Nahjul Sa'adah fi Mustadrak Nahjul Balaghah, Mahmudi, jild. 1, hlm. 427, 499, jild. 2, hlm. 595, 714, jild. 3, hlm. 153, 605.
  64. Ya'qubi, jild. 2, hlm. 285, 365; Thabari, jild. 8, hlm. 570, 579, 594, jild. 9, hlm. 222.
  65. Ya'qubi, jild. 2, hlm. 285, 365; Thabari, jild. 8, hlm. 570, 579, 594, jild. 9, hlm. 222.
  66. Shubh al-'A'sya fi Shina'ah al-Insya 1383, jild. 10, hlm. 15, 19-20.
  67. Zurari, jild. 2, hlm. 27; Mustadrak al-Wasāil, jild. 6, hlm. 40; Jabiri, hlm. 24.
  68. Semisalnya, Al-Muntadzam fi Tārikh al-Muluk wa al-Umam, jild. 16, hlm. 31-31; Muhammad Bagir Majlisi, jild. 44, hlm. 333.
  69. Thabari, jild. 4, hlm. 328.
  70. Thabari, jild. 4, hlm. 328.
  71. Kāmil Ibn Atsir, jild. 8, hlm. 533.
  72. Al-Muntadzam fi Tārikh al-Muluk wa al-Umam, jild. 15, hlm. 198-201.
  73. Kitāb Al-Kunā wa Al-Alqāb, jild. 2, hlm. 418; Shafawiyyah dar 'Arsheye Din 1379 S, jild. 3, hlm. 258-259.
  74. Seperti adanya masjid-masjid jami' di kota-kota kawasan Syiah, seperti kota Qom.
  75. Namāze Jum'eh, Zaminehhaye Tārikhi 1372 S, hlm. 23-25.
  76. Al-Badr al-Zahir fi Salat al-Jumat wa Al-Musafir, hlm. 7; Namaze Jum'eh, Zaminehhaye Tarikhi 1372 S, hlm. 26-27.
  77. Di antaranya, Syaikh Ibrahim Qatifi, meninggal tahun 950.
  78. Jabiri, hlm. 50-54; Namaze Jum'eh, Zaminehhaye Tarikhi 1372 S, hlm. 28.
  79. Qazwini, hlm. 172-173.
  80. Tabaqat A'lam al-Syiah 1404, bagian 1, hlm. 176; Jabiri, hlm. 50-51.
  81. Al-Dzriah fi Tashanif al-Syiah 1403, jild. 25, hlm. 28.
  82. Shafawiyyah dar 'Arsheye Din 1379, jild. 3, hlm. 237.
  83. Untuk masalah ini dan masalah-masalah lainnya, Muhammad Taqi Majlisi, jild. 4, hlm. 513; Khansari, jild. 2, hlm. 68, 78, 122-123; Lu'luah al-Bahrain, hlm. 61, 95, 136, 445.
  84. Di antara buku-buku penting lain dalam hal ini: Al-Khutab Maula Muhsin Faidh Kasyani (M 1091); Al-Khutab Lil Jum'at wa Al-A'yad, Mir Damad (M 1041); Al-Khutab Syaikh Yusuf Bahrani (M 1186); Al-Khutab Ibn Nabatah Khatib (M 374); Diwan Al-Khutab Al-Jamiyyah, Jamaluddin Abu Bakar Muhammad (M 768), yang populer dengan Ibn Nabatah Meshri, yang termasuk cucunya Khatib. Lu'luah al-Bahrain, hlm. 100, 127; Al-Dzariah ila Tashanif al-Syiah 1403, jild. 7, hlm. 183-187.
  85. Namoze Jum'eh: Zaminehhaye Tarikhi 1372 S, hlm. 37-38; Shafawiyyah dar 'Arsheye Din 1379 S, hlm. 251.
  86. Al-Badr al-Zahir fi Salat al-Jum'ah wa al-Musafir, hlm. 7.
  87. Namoze Jum'eh: Zaminehhaye Tarikhi 1372 S, hlm. 32.
  88. Imam Jumat Yazd pertama menigngal tahun 1084; Muhammd Muqim Yazdi, Muqaddimah Mudarrisi, hlm. 50; untuk para imam Jumat lainnya pada masa ini di kota-kota Iran, Al-Dzariah ila Tashanif al-Syiah 1403, jild. 2, hlm. 76, 88, jild. 3, hlm. 252, 301, 370-371, jild. 4, hlm. 322, jild. 6, hlm. 5, 6, 100, jild. 9, hlm. 785, 1087-1088; Salat Jumat, Reza Nejad, hlm. 123-125.
  89. Wadzaif Ruhaniyyat, dar Naqsye Ruhaniyyat dar Nidzame Islami, hlm. 84.
  90. Semisalnya, Kesywari, hlm. 133.
  91. Berita Fars news.
  92. Syuraye Siyasatguzari Aimma, ucapan di permulaan, hlm. 2.
  93. Muhammad bin Idris Syafi'i, Al-Umm, jild. 1, hlm. 192, Ibn Qudamah, jild. 2, hlm. 173-174; Nawawi, Al-Majmu', jild. 4, hlm. 509.
  94. Shafawiyyah dar 'Arsheye Din 1379, jild. 3, hlm. 255.
  95. Alamul Huda 1405-1410, jild. 3, hlm. 41; Rafi'i Qazwini, jild. 4, hlm. 576; Nawawi, Al-Majmu', jild. 4, hlm. 513; Wasail al-Syiah, jild. 7, hlm. 312-313.
  96. Taudhih al-Masail Maraji', jild. 1, hlm. 872-873.
  97. Ibn Atthar, hlm. 89-96; Imam Khomeini, jild. 1, hlm. 209; Taudhih al-Masail Maraji', jild. 1, hlm. 879-880.
  98. Wasail al-Syiah, jild. 7, hlm. 344.
  99. Allamah Hilli 1414, jild. 4, hlm. 68-69; Hairi, hlm. 193-199.
  100. Sallar Dailami, hlm. 77; Wasail al-Syiah, jild. 7, hlm. 344; Taudhih al-Masail Maraji', jild. 1, hlm. 878, 879.
  101. Syamsul Aimmah Sarkhasi, jild. 2, hlm. 29-30; Al-Sarair Ibn Idris, jild. 1, hlm. 291, 295; Nawawi, Raudhah al-Thalibin, jild. 1, hlm. 573, Khu'i, jild. 1, hlm. 187; lihat juga Taudhih al-Masail Maraji', jild. 1, hlm. 888, 892.
  102. Bihar al-Anwar, jild. 86, hlm. 198.
  103. Al-Muqni'ah, Syaikh Mufir, hlm. 141; Kitab Bada'i al-Shana'i fi Tartib al-Syara'i, jild. 1, hlm. 269; Jawahir al-Kalam, jild. 11, hlm. 133-134.
  104. Thusi 1401, jild. 3, hlm. 245, hlm. 1407-1417, jild. 1, hlm. 631-632; Taudhih al-Masail Maraji', jild. 1, hlm. 878.
  105. Jawahir al-Kalam, jild. 11, hlm. 147; Al-Fiqh al-Islami wa Adillatihi, Zuhaili, jild. 2, hlm. 273.

Daftar Pustaka

  • Abbas Qummi, Kitab Al-Kuna wa Al-Alqab, Shida, 1357-1358, cet. Offset, Qom.
  • Abd al-Nabi bin Muhammad Taqi Qazwini, Tatmim Amal al-Āmal, cet. Amhad Huseini, Qom, 1407.
  • Abdul Karim bin Muhammad Rafi'i Qazwini, Fathul Aziz Syarh al-Wajib, Beirut, Darul Fikr.
  • Abu Bakar bin Mas'ud Kasani, Kitab Bada'i al-Shana'i fi Tartib al-Syara'i, Quetta, 1409/1989.
  • Abul Qasim Khu'i, Minhajus Shalihin, Qom, 1410.
  • Ahmad bin Ali Najasyi, Fehrest Asma Mushannafi al-Syiah (Rijal al-Najasyi), cet. Musa Syubairi Zanjani, Qom, 1407.
  • Ahmad bin Ali Nasa'i, Sunan al-Nasa'i bi Syarh Jalaluddin Suyuthi wa Hasyiyah Nuruddin bin Abdul Hadi al-Sindi, Istanbul, 1401/1981.
  • Ahmad bin Ali Qalqasyandi, Shubh al-A'sya fi Shina'ah al-Ansya, Kairo, 1331-1338/ 1913-1920, cet. Offset, 1383/1963.
  • Ahmad bin Muhammad Mahdi Naraqi, Mustanad al-Syiah fi Ahkam al-Syariah, Qom, jild. 6, 1425.
  • Ahmad bin Muhammad Muqaddas Ardabeli, Majma' al-Faidah wa al-Burhan fi Syarh Irsyad al-Adzhan, cet. Mujtaba Iraqi, jild. 2, Qom, 1362 S.
  • Ahmad Khansari, Jami' al-Madarik fi Syarh al-Mukhtashar al-Nafi', anotasi Ali Akbar Ghaffari, Jild. 1, Tehran, 1355 S.
  • Ahmad Muballighi, 'Anasir-e Ta'tsirguzar dar Wujube Ta'yini Namaz Jum'eh dar Rawese Akhbariyan, Hukumat Islami th 9 S, 2 Tabistan, 1383.
  • Ahmad Muhammad Zurari, Tarikh Ali Zurarah, Isfahan, Bi Ta.
  • Ahmad Reza Kesywari, Farzanegan Khansar, Qom, 1378 S.
  • Al-Mausu'ah al-Fiqhiyyah, jild. 27, Kuwait, Wizarat al-Aukaf wa al-Syu'un al-Islamiyyah, 1412/1992.
  • Ali Ahmadi Miyanji, Kitab Makatib al-Rasul, Tehran, 1363 S.
  • Ali bin Hasanuddin, Muttaqi, Kanzul Ummal fi Sunan al-Aqwal wa Al-Af'al, cet. Bakri Hayani wa Shafwah Saqa, Beirut, 1409/1989.
  • Ali bin Husein Muhaqqiq Karaki, Rasail al-Muhaqqiq al-Karaki, cet. Muhammad Hasun, risalah 3, Risalah Salat al-Jumat, Qom, 1409-1412.
  • Ali bin Husein, Alamul Huda, Rasail al-Syarif al-Murtadha, cet. Mahdi Raja'i, Qom, 1405-1410.
  • Ali bin Ibrahim Halabi, Al-Sirah al-Halabiyyah, Beirut.
  • Ali bin Muhammad Mawardi, Al-Ahkam al-Sulthaniyyah wa al-Wilayaat al-Diniyyah, Baghdad, 1409/1989.
  • Ali bin Muhammad Thabathabai, Riyadh al-Masail fi Bayan al-Ahkam bi al-Dalail, Beirut, 1412-1414/ 1992-1993.
  • Ali Gharawi Tabrizi, Al-Tanqih fi Syarh al-'Urwah al-Wutsqa, ujaran pelajaran Ayatullah Khu'i, jild. 1, Qom, 1418/ 1998.
  • Hamzah bin Abdul Aziz Sallar Dailami, Al-Marasim al-'Alawiyyah fi al-Ahkam al-nabawiyyah, cet. Muhsin Huseini Amini, Beirut, 1414/1994.
  • Hasan bin Yusuf, Allamah Hilli, Tadzkirah al-Fuqoha, Qom, 1414.
  • Hur Amuli, Wasail al-Syiah.
  • Husein Ali Muntazeri, Al-Badr al-Zahir fi Salat al-Jum'at wa al-Musafir, ujaran pelajaran Ayatullah Berujerdi, Qom, 1362 S.
  • Husein bin Muhammad Taqi Nuri, Mustadrak al-Wasail wa Mustanbat al-Masail, Qom, 1407-1408.
  • Ibid,. Al-Muqni', Qom, 1415.,
  • Ibid., Al-Durus al-Syar'iyyah fi Fiqh al-Imamiyyah, Qom, 1412-1414.
  • Ibid., Al-Mabsuth fi Fiqh al-Imamiyyah, jild. 1, cet. Muhammad Taqi Kasyfi, Tehran, 1387.
  • Ibid., Al-Nihayah fi Mujarrad al-Fiqh wa al-Fatawa, Beirut, 1400/ 1980.
  • Ibid., Dzikri al-Syiah fi Ahkam al-Syariah, Qom, 1419.
  • Ibid., Ghayat al-Murad fi Syarh Nukat al-Irsyad, Qom, 1414-1421.
  • Ibid., Kitab Al-Khalaf, Qom, 1407-1417.
  • Ibid., Kitab al-Wafi, cet. Dhiyauddin Allamah Isfahani, Isfahan, 1365-1374 S.
  • Ibid., Kitab Muntaha al-Mathlab, cet. Sanggi Tabriz, 1316.
  • Ibid., Ma'tsar al-Inaqah fi Ma'alim al-Khilafah, cet, Abdul Sattar Ahmad Faraj, Kuwait, 1964, cet. Offset, Beirut, 1980.
  • Ibid., Man La Yahdhur al-Faqih, cet. Ali Akbar Ghaffari, Qom, 1404.
  • Ibid., Masail al-Nashiriyyat, Tehran, 1417/1997.
  • Ibid., Mukhtalaf al-Syiah fi Ahkam al-Syariah, Qom, 1412-1420.
  • Ibid., Namaze Jum'eh: Zaminehhaye Tarikhi wa Agahihaye Kitab Shenasi, Tehran, 1372 S.
  • Ibid., Rasail al-Syahid al-Tsani, Qom, 1379-1380 S.
  • Ibid., Raudhah al-Thalibin wa 'Umdah al-Mufthin, cet. Adil Ahmad Abdul Maujud dan Ali Muhammad Muawwidh, Beirut.
  • Ibid., Syara'i al-Islam fi Masail al-Halal wa Al-Haram, cet. Shadiq Shirazi, Tehran, 1409.
  • Ibid., Tahdzib al-Ahkam, cet. Hasan Musavi Khurasan, Beirut, 1404/1981.
  • Ibid., Thabaqat A'lam al-Syiah, Nuqaba al-Basyar fi Al-Qarni al-Rabi' Asyar, Masyhad, 1404.
  • Ibid., Tsawab al-A'mal wa Iqab al-A'mal, Najaf, 1972, cet. Offset, Qom 1364 S.
  • Ibn 'Asakir, Tarikh Madinah Dimasyq, cet. Ali Syiri, Beirut, 1415-1421/ 1995-2001.
  • Ibn 'Atthar, Kitab Adab al-Khatib, cet. Muhammad Sulaimani, Beirut, 1996.
  • Ibn Babawaih, Al-Amali, Qom, 1417.
  • Ibn Barraj, Al-Muhadzdzib, Qom, 1406.
  • Ibn Batutah, Rihlat Ibn Batutah, cet. Muhammad Abdul Mun'im Aryan, Beirut, 1407/1987.
  • Ibn Fahd, Al-Muhadzdzib al-Bari' fi Syarh al-Mukhtashar al-Nafi', cet. Mujtaba Iraqi, Qom, 1407-1413.
  • Ibn Hajar Askalani, Fathul Bari Syarh Shahih al-Bukhari, cet. Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Beirut, 1418/1997.
  • Ibn Hanbal, Musnad Ahmad bin Hanbal, Istanbul, 1402/ 1982.
  • Ibn Idris Hilli, Kitab Al-Sarair al-Hawi li Tahrir al-Fatawa, Qom, 1420-1411.
  • Ibn Jauzi, Al-Muntadzam fi Tarikh al-Muluk wa Al-Umam, cet. Muhammd Abdul Qadir Atha' dan Musthafa Abdul Qadir Atha', Beirut, 1412/1992.
  • Ibn Katsir, Al-Bidayah wa Al-Nihayah, cet. Ahmad Abu Mulhim dll, Beirut, jild. 4, 1405/ 1985, jild. 5 dan 6, 1407/1987.
  • Ibn Majah, Sunan Ibn Majah, Istanbul, 1401/1981.
  • Ibn Nadim, Al-Fehrest.
  • Ibn Najim al-Bahr, Al-Raiq Syarh Kanzul Daqaiq, Beirut, 1418/1997.
  • Ibn Qudamah, Al-Mughni, cet. Offset, Beirut, 1403/1983.
  • Ibn Syubbah Namiri, Tarikh Al-Madinah al-Munawwaroh: Akhbar Al-Madinah al-Nabawiyyah, cet. Fahim Muhammad Saltut, Beirut, 1410/1990.
  • Ibn Taghzi Bardi, Al-Nujum al-Zahirah fi Muluk Mishr wa al-Qahirah, Kairo.
  • Imame Chaharum, Al-Shahifah al-Sajjadiyyah, cet. Mumammad Jawab Huseini Jalalni, Qom, 1380 S.
  • Izzuddin, Reza Nejad, Salat al-Jum'at, Dirasatun Fiqhiyyah wa Tarikhiyyah, Qom, 1415.
  • Ja'far bin Hasan, Muhaqqiq Hilli, Al-Mu'tabar fi Syarh Al-Mukhtashar, jild. 2, Qom, 1364 S.
  • Ja'far bin Khidrh, Kasyif al-Ghitha', Kasyful Ghitha an Mubhammat al-Syari'at al-Ghrra', Qom, 1380 S.
  • Kamil Ibn Atsir, Al-Nihayah.
  • Kazim Jabiri, Salat al-Jumat: Tarikhan wa Fiqhiyyan, Qom, 1376 S.
  • Khatib Baghdadi, Tarikh Baghdad.
  • Mahmud Lathifi, Ibadate Bartar wa Asrare On, Hukumate islami tahun 9 S, 2.
  • Malik bin Anas, Al-Muwattha', Istanbul, 1401/1981.
  • Mansur bin Yunus Bahuti Hanbali, Kasysyaf al-Qina' an Matn al-Iqna', cet. Muhammad Hasan Syafi'i, Beirut, 1418/ 1997.
  • Mas'udi, Muruj al-Dzahab, Beirut.
  • Muhammad Asyraf bin Amir Adzim Abadi, 'Aun al-Ma'bud, Syarh Sunan Abi Daud, Cet. Abdul Rahman Muhammad Utsmani, Beirut, 1421/2001.
  • Muhammad Bagir bin Muhammad Taqi Majlisi, Bihar al-Anwar.
  • Muhammad Bagir Mahmudi, Nahjul Sa'adah fi Mustadrak Nahjul Balaghah, Beirut, jild. 1.
  • Muhammad bin Abdurrahman Mubarak fauri, Tuhfah al-Ahudzi bi Syarh Jami' al-Turmudzi, Beirut, 1410/1990.
  • Muhammad bin Ahmad Dasuqi, Hasyiah al-Dasuqi ala Al-Syarh Al-Kabir, Beirut, Daru Ihya al-Kutub al-Arabiyyah.
  • Muhammad bin Ahmad Syamsul Aimmah Sarkhasi, Kitab al-Mabsuth, Kairo, 1324-1331, cet. Offset, Istanbul, 1403/1983.
  • Muhammad bin Ali Musawi Amuli, Madarik al-Ahkam fi Syarh Syara'i al-Islam, Qom, 1410.
  • Muhammad bin Hasan Fadhil Hindi, Kasyf al-Litsam, cet. Sanggi Tehran, 1271-1274, cet. Offset. Qom, 1405.
  • Muhammad bin Hasan Thusi, Al-Fehrest, cet, Muhammad Shadiq Āl Bahrul Ulum, Najaf, 1380.
  • Muhammad bin Idris Syafi'i, Al-Umm, cet. Muhammad Zuhri Najjar, Beirut.
  • Muhammad bin Ismail Bukhari, Shahih Al-Bukhari, cet. Muhammad Dzihni Affandi, Istanbul. 1401/1981.
  • Muhammad bin Makki, Syahid Awwal, Al-Bayan, cet. Muhammad Hasun, Qom, 1412.
  • Muhammad bin Muhammad Mufid, Al-Muqni'ah, Qom, 1410.
  • Muhammad bin Syah Murtadha, Faidh Kasyani, Al-Syahab al-Tsaqib fi Wujub Salat al-Jum'ah al-'Aini, Qom, 1401.
  • Muhammad Farid Bik, Tarikh al-Daulah al-'Aliyyah al-'Utsmaniyyah, cet. Ihsan Haqqi, Beirut, 1408/1988.
  • Muhammad Hasan Agha Bozorg Tehrani, Al-Dzariah ila Tashanif al-Syiah, cet. Ali Naqi Munzawi dan Ahmad Manzawi, Beirtu, 1403/1983.
  • Muhammad Hasan bin Bagir Najafi, Jawahir al-Kalam fi Syarh Syara'i al-Islam, jild. 11, cet. Abbas Quchani, Beirut, 1981.
  • Muhammad Jawab bin Muhammad Huseini Amuli, Miftah al-Karamah fi Syarh Qawaid al-'Allamah, cet, Offset, Qom, Muassasah Āl al-Bait.
  • Muhammad Muqim bin Muhammad Ali Yazdi, Al-Hujjah fi Wujub Shalat al-Jum'at fi Zaman al-Ghaibah, cet. Jawab Mudarrisi.
  • Muhammad Syaukani, Nail al-Authar, Syarh Muntaqi al-Akhbar min Ahadis Sayid al-Akhbar Mishr, patner perpustakaan dan percetakan, Mushtafa al-Bani al-Halabi.
  • Muhammad Taqi bin Maqshud Ali Majlisi, Lawami' Shahib Qarani (Syarh al-Faqi), jild. 4, Qom, 1374 S.
  • Muhammad Taqi Danesh Pazuh, Fehrest Kitabkhaneh Markazi Daneshgah Tehran, jild. 14, Tehran, 1340 S.
  • Muhammad Yazdi, Wadzaif Ruhaniyyah dar Naqsye Ruhaniyyat dar Nidzame Islami Terhran, Syuraye Siyasatguzari Aimmeh Jum'ath, 1375 S.
  • Murtadha Hairi, Salat al-Jumat, Qom, 1409.
  • Nasir Khosro, Safarnameh Nasir Khosro Alawi, Berlin, 1341.
  • Nu'man bin Muhammad Qadhi Nu'man, Da'aim al-Islam wa Dzikri al-Halal wa al-Haram, cet, Arif Tamir, Beirut, 1416, 1995.
  • Rasul Ja'fariyan, Shafawiyyah dar 'Arsheye Din Farhang wa Siyasah, Qom, 1379 S.
  • Ruhullah Khomeini, Pemimpin Revolusi dan Pendiri Republik Islam Iran, Tahrir al-Wasilah, Beirut, 1407/1978.
  • Ruzha wa Ruidadha, penyusun dan penyunting, daftar Aqidati Sisasi Farmandahi Mu'adzdzam Kulli Quwa, Tehran, Nashre Ramin, 1378 S, jild. 3, Tehran: Zuhd, 1377 S.
  • Sulaiman bin Ahmad Thabrani, Al-Mu'jam al-Kabir, cet. Hamdi Abdul Majid Salafi, cet. Offset, Beirut, 1404- 140… ?
  • Syuraye Siyasatguzari Aimmeh Jum'eh, Asyenai ba Tasykilate Tehran, 1382 S.
  • Taudhih al-Masail Maraji', Muthabiq fh Fatwaye Dawozdah Nafar az Maraji', pengumpul, Muhammad Hasan bani Hasyim Khomeini, Qom, Daftar Intisyarate Islami, 1378 S.
  • Umar Ridha Kahalah, Mu'jam al-Muallifin Dimasyq, 1957-1961, cet. Offset, Beirut.
  • Utsman bin Muhammad Shata Dimyati, I'anah al-Thalibin ala Hilli Alfadz Fath al-Mu'in, Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi.
  • Wahbah Mushtafa Zuhaili, Al-Fiqh al-Islami wa Adillatihi, Damaskus, 1404/1984.
  • Yahya bin Syarif Nawawi, Al-Majmu': Syarh al-Muhadzdzab, Beirut, Darul Fikr.
  • Yaqut Hamawi.
  • Yusuf bin Ahmad Bahrani, Lu'luah al-Bahrain, cet. Muhammad Shadiw Bahrul Ulum, Qom.
  • Zainuddin bin Ali Syahid Tsani, Al-Raudhah al-Bahiyyah fi Syarh al-Lum'ah al-Damisqiyyah, Muhammad Klanter, Beirut, 1403/ 1983.