tanpa prioritas, kualitas: c

Istisqa

Dari WikiShia
(Dialihkan dari Salat Istisqa)
Lompat ke: navigasi, cari

Istisqa' (bahasa Arab:الإستسقاء) adalah sebuah amalan yang dilakukan untuk memohon diturunkannya hujan dari Allah swt dengan adab-adab tertentu khususnya jika terjadi kekeringan.

Arti secara Leksikal

Istisqa' secara leksikal berasal dari asal kata saqa pada bab "istif'al" bermakna meminta air.

Sejarah

Permintaan turunnya hujan ketika manusia dilanda kekurangan air memiliki akar sejarah yang panjang pada berbagai masyarakat di seluruh dunia dan hal itu adalah perilaku yang biasa mereka kerjakan.

Istisqa' dalam al-Quran

Dalam Alquran al-Karim, pada surah Al-Baqarah, [1] surah Al-A'raf [2] dengan jelas menunjukkan tentang permasalahan Istisqa' yang ada dalam cerita Nabi Musa as. Pada ayat-ayat yang lain [3] juga mengisyaratkan tentang permasalahan permintaan hujan tanpa menyebutkan kata-kata Istisqa'.

Berdoa untuk Meminta Hujan

Pada suatu ketika, penduduk gurun pasir menghampiri Nabi Muhammad saw dan mengeluhkan kejadian tentang sedikitnya turunnya hujan dan kekeringan yang melanda. Nabi Muhammad saw menuju mimbarnya dan setelah memanjatkan pujian kepada Allah swt, beliau berdoa:

«الْحَمْدُ للهِ الَّذِي عَلَا فِي السَّمَاءِ فَكَانَ عَالِياً، وَ فِي الْأَرْضِ قَرِيباً دَانِياً، أَقْرَبَ إِلَيْنَا مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ»

kemudian beliau mengangkat kedua tangannya ke atas seraya berdoa:

«اللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثاً مُغِيثاً مَرِيئاً مَرِيعاً غَدَقاً طَبَقاً، عَاجِلاً غَيْرَ رَائِثٍ، نَافِعاً غَيْرَ ضَارٍّ، تَمْلَأُ بِهِ الضَّرْعَ، وَ تُنْبِتُ بِهِ الزَّرْعَ، وَ تُحْيِي بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا»

Pada saat beliau belum menurunkan tangannya, di Madinah hujan turun dengan lebat. [4]

Dalam kitab-kitab hadis terdapat nukilan doa-doa untuk meminta hujan yang berasal dari Nabi Muhammad saw[5], Imam Ali as[6], Imam Hasan as dan Imam Husain as [7] serta Imam Ridha as. [8] Imam Sajad as dalam kitab doa Shahifah Sajjadiyah memiliki doa untuk meminta hujan (silahkan lihat doa ke-19 Shahifah Sajadiyyah)

Meminta Hujan Sebelum Islam

Terkait dengan ritual Istisqa' pada masyarakat Arab sebelum Islam, harus diisyaratkan tentang Abdul Muthalib, kakek Nabi Muhammad saw yang sedang memandikan cucunda pada tahun ketika mengalami kekeringan. Ketika itu, Abdul Muthalib meminta hujan dari Allah. [9]

Demikian juga, berdasarkan riwayat-riwayat yang ada, ketika pada zaman Abu Thalib terjadi kekeringan, ia bersama dengan beberapa putranya Abdul Muthalib pergi ke Kakbah untuk meminta hujan. Ia pun pada saat itu membacakan kasidah terkenalnya pada saat itu. [10]

Setelah kemuculan Islam, riwayat-riwayat mengenai pengadaan acara meminta hujan oleh Nabi Muhammad tercatat di kitab-kitab hadis.[11]

Ritual Istisqa' setelah meninggalnya Nabi Muhammad saw

Setelah Nabi Muhammad saw ritual Istisqa' terus dijalankan. Abbas juga turut serta dalam ritual Istisqa' yang diselenggarakan oleh khalifah Umar. [12]

Istisqa' dalam Nahjul Balaghah

Dalam Nahjul Balaghah terdapat dua khutbah dari Imam Ali as yang menguraikan masalah Istisqa'.[13]

Salat Istisqa' yang paling terkenal sepanjang Sejarah

Salah satu salat Istisqa' yang paling terkenal adalah salat Istisqa' yang dilakukan oleh Imam Ridha as atas permintaan Ma'mun Abbasi ketika terjadi kekeringan melanda. [14]

Salat Istisqa' lain yang terkenal dalam sejarah pada masa kini adalah salat Istisqa' Ayatullah Muhammad Taqi Khansari.

Tercatat bahwa pada tahun 1363 HS (1985)[Note 1], di Qom terjadi kekeringan hingga kebun-kebun dan sawah-sawah menjadi kering. Sayid Muhammad Taqi Khansari pergi ke padang pasir di sekitar Qom untuk melakukan salat Istisqa' selama dua hari berturut-turut. Salat ini diikuti oleh ribuan orang. Tindakan ini, meskipun mendapat ejekan orang-orang yang tidak meyakini adanya perkara-perkara ghaib, namun pada hari ke-2, hujan sangat turun dengan lebat bahkan menyebabkan adanya anak sungai dimana-mana. [15]

Cara Melaksanakan Salat Istisqa'

Dari segi fikih, bagian asli dari ritual ini adalah salat mustahab yang dilaksanakan secara berjamaah. Cara mengerjakan salat Istisqa' menurut madzab Syiah Imamiyyah adalah:

  • Cara melaksanakan salat Istisqa' ketika takbir dan qunut seperti Salat Id
  • Menyaringkan bacaan dan membaca surah-surah yang mustahab dibaca pada salat id, juga mustahab dibaca pada salat Istisqa'.
  • Mustahab untuk mengajak masyarakat melakukan puasa selama tiga hari dan pada hari ketiga dengan mengajak orang-orang tua renta dan anak-anak kecil pergi ke padang pasir dan membawa mimbar ke padang sahara kemudian pengumandang adzan (muadzin]] berdiri dihadapan Imam.
  • Sebaik-baik waktu untuk melakukan salat Istisqa' adalah seperti waktu yang dilakukan untuk mengerjakan salat id.
  • Pada salat ini, sebagai ganti dari adzan dan iqamah hanya melafadzkan «الصلاة» sebanyak tiga kali.
  • Ketika Imam menyelesaikan salat, setelah berdzikir dan berdoa, menyampaikan khutbah dan kemudian Imam dengan membalikkan jubahnya untuk menunjukkan ketidakmampuan dan kesedihan yang mendalam dihadapan Tuhan, membaca sebagian dzikir-dzikir dan doa-doa bersama dengan masyarakat meminta supaya Allah menurunkan hujan. [16]

Catatan Kaki

  1. ayat 60
  2. ayat 160
  3. (QS. Hud [11]: 52), (QS. Nuh [71]: 10-11)
  4. Majlisi, Bihār al-Anwār, jld. 91, hlm. 331-332 menurut nukilan dari Amāli Thusi.
  5. Majlisi, Bihār al-Anwār, jld. 91, hlm. 331-332 dan 315-316 menurut nukilan dari Nawādir
  6. Silahkan lihat: Nahj al-Balāghah (naskah Subhi Salihi), khutbah 114 dan 115; Majlisi, Bihār al-Anwār, jld. 91, hlm. 334, menurut nukilan dari Fiqh al-Ridha as; Thusi, Tahdzib al-Ahkām, jld. 3, hlm. 151-154.
  7. Silahkan lihat: Khamiri, Qurb al-Isnād, hlm. 157-158.
  8. Silahkan lihat: Majlisi, Bihār al-Anwār, jld. 91, hlm. 333-334; menurut nukilan dari Fiqh al-Ridha.
  9. Menurut nukilan dari Usd al-Ghābah, jld. 5, hlm. 454-455, al-Sirah al-Halabiyyah, jld. 1, hal 110-111.
  10. Bihār al-Anwār, jld 18, hlm. 3.
  11. Silahkan lihat: Sahih Bukhari, jld. 2, hlm. 15-16; Amāli, hlm. 301-305.
  12. Sahih Bukhari, jld. 2, hlm. 16; Man Lā Yahdhuruhu al-Faqih, jld. 1, hlm. 340.
  13. Khutbah ke-115 dan 143
  14. Uyun al-Akhbār, jld. 2, hlm. 168 dst
  15. Majalah Hauzah, no. 13, hlm. 28, no36, Ulama Mu'ashirin, hlm. 312; Majalah Majmu'ah Hikmat, hlm. 22, hlm. 29-35; Majalah Keihan Farhanggi, tahun ke-3, no. 12, no. 7 http://www.hawzah.net/fa/DaneshvarView.html?DaneshvarID=3200.
  16. Mufid, Al-Muqni'ah, hlm. 207-208; Thusi, al-Mabsuth, jld. 1, hlm. 134-135
  1. yaitu tahun ketika muttafaqin (sekutu beberapa negara dalam Perang Dunia II) menduduki Iran

Daftar Pustaka

  • Ibnu Atsir, Ali. Usd al-Ghābah. Kairo: 1280-1286 H.
  • Bukhari, Muhammad. Shahih. Istanbul: 1315 H.
  • Halabi, Ali. As-Sirah al-Halabiyyah. Kairo: 1320 H.
  • Himyari, Abdullah bin Jakfar. Qurb al-Isnad. Muassasah Al Bait, 1413 H
  • Shaduq, Muhammad bin Muhammad. Man la Yahduruhu al-Faqih. Riset: Hasan Musawi Khurasan. Beirut: Dar al-Adhwa, 1405 H.
  • Shaduq, Muhammad bin Muhammad. Uyun Akhbar ar-Ridha as. Qom: 1377 H
  • Thusi, Muhammad bin Hasan. Tahdzib al-Ahkām. Riset: Hasan Musawi Khurasan. Najaf: 1379 H.
  • Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Mabsuth. Teheran: 1388 H. 1377 H.
  • Majlisi, Muhammad Baqir. Bihār al-Anwār. 1404/1984.
  • Mufid, Muhammad. Al-Amāli. Riset: Husain Ustad Wali dan Ali Akbar Ghaffari. Qom: 1403 H.
  • Mufid, Muhammad. Al-Muqni'ah. Qom: Daftar Nasyr Islami, 1410 H.