Nabi Ibrahim as

Dari Wiki Shia
(Dialihkan dari Nabi Ibrahim As)
Lompat ke: navigasi, cari
Prioritas: a, Kualitas: b tanpa infobox

Nabi Ibrahim as, dikenal dengan julukan Khalilullah (kekasih Allah), merupakan salah satu nabi Ulul Azmi. Ia adalah leluhur bangsa Arab dari putranya, Nabi Ismail as, sekaligus leluhur Bani Israil dari putranya yang lain, Nabi Ishak as.

Nama

Dalam literatur-literatur agama maupun umum, nama Ibrahim memiliki bermacam bentuk dan pelafalan. Ini menandakan nama itu telah tersebar dan tidak asing di kawasan Hilal Khashib. Dalam Perjanjian Lama nama Ibrahim disebut dengan Abram (Kejadian, 11:26). Sama halnya dengan nama Ya’qub dan Yusuf, pada abad ke-19 dan ke-20 H kedua nama ini telah dikenal di kawasan tersebut.[1] Al-Jawaliqi menyebutkan beberapa bentuk pelafalan nama Ibrahim, di antaranya: Ibraham, Ibrahum, dan Ibrahim. Menurutnya, Ibrahim adalah nama dari peradaban kuno dan bukan kosa kata Bahasa Arab.[2] Al-Qur’an merupakan referensi terkuno yang memuat nama ini dengan pelafalan Ibrahim.

Arti Nama Ibrahim

Nama Abram berasal dari dua suku kata, yaitu Ab yang berarti ayah, dan Ram yang bermakna “penyayang” atau “berkududukan tinggi” atau “mulia”. Dengan demikian, sangat mungkin nama Abram berarti “Ayah yang mulia atau penyayang.”[3] Sedangkan nama “Abraham” bermakna “bapak dari banyak bangsa”. Nama ini diambil dari pelafalan masyarakat umum. Namun tidak menutup kemungkinan nama ini adalah kata serapan dari Bahasa Arab yang seakar dengan “Ruham” yang bemakna “banyak dan tak terhitung.” Sedangkan nama-nama lain yang disandarkan pada Nabi Ibrahim itu tidak tepat. Misalnya Novi, sebagaimana yang dikemukakan al-Mawardi, dalam Bahasa Suryani bermakna “ayah yang penyayang.” Wahab bin Munabbih menyebutkan Abrahah, diambil dari Bahasa Habasyah, bermakna “wajah yang putih”.[4]

Keluarga dan Asal-usul Nabi Ibrahim As

Menurut Perjanjian Lama, nasab Nabi Ibrahim as bermuara pada Bangsa Aram yang dulu bermigrasi dari Jazirah Arab ke tepi Sungai Efrat.[5] Sebagian peneliti berpendapat, leluhur Nabi Ibrahim as adalah Bangsa Amori yang meninggalkan Jazirah Arab lalu menginvasi Irak dan Syam.[6] Sebelumnya Bangsa Aram bermukim di Harran dekat sumber air sungai Balikh dan Kebar. Pada pertengahan kedua dari milenium ketiga sebelum Masehi, karena keindahan Kota Ur, sebagian mereka bermigrasi ke daerah baru ini. Namun begitu Kota Ur hancur karena serbuan Bangsa Amori dan Elam, Bangsa Aram kembali ke tempat asalnya. Ayah Nabi Ibrahim as adalah salah seorang yang mengepalai keluarga yang pergi dari Ur ke Harran.[7] Berdasar pendapat para arkeolog terkait migrasi Bangsa Aram, dapat disimpulkan bahwa keluarga Nabi Ibrahim as datang ke wilayah tersebut pada periode awal melenium kedua SM.[8] Hal itu didukung pendapat para sejarawan dan penulis periode terdahulu, menurut mereka Haran adalah tanah leluhur Nabi Ibrahim as.[9]

Ayah Nabi Ibrahim As

Pejanjian Lama dan Baru berbeda pendapat dengan Al-Qur’an mengenai nama ayah Nabi Ibrahim as. Hal sama juga terjadi di antara para mufasir. Perjanjian Lama menyebut nama ayah Nabi Ibrahim as dengan Terah.[10] Sedangkan Al-Qur’an menyebutnya Azar.[11] Para mufasir dan ahli bahasa menyebutkan, kata “Azar” merupakan bahasa asing yang telah diserap menjadi Bahasa Arab.[12] Di masa sekarang, menurut pendapat masyhur kalangan orientalis, kemungkinan kata itu telah mengalami perubahan bentuk. Aslinya adalah “ilazar” dari Bahasa Ibrani. Menurut Perjanjian Lama itu adalah nama pembantu Nabi Abrahim as.[13] Dalam kitab-kitab tafsir Al-Qur’an juga terdapat perbedaan pendapat tentang hal itu. Sebagian tafsir menyebutkan, Azar adalah nama ayah Nabi Ibrahim As. Sedangkan tafsir lainnya menolak pendapat tersebut.

Banyak mufasir dan ahli sejarah berpendapat, nama ayah Nabi Ibrahim As adalah Tarih.[14] Adapun nama Azar yang disebutkan di dalam Al-Qur’an dan riwayat Nabi Muhammad saw,[15] itu ada penjelasannya tersendiri. Sebagian pihak mengartikan Azar dengan “teman” dan “penolong.” Dengan demikian ayat yang berbunyi;

وَ إِذْ قالَ إِبْراهيمُ لِأَبيهِ آزَرَ أَتَتَّخِذُ أَصْناماً آلِهَةً

(Dan [ingatlah] ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya [pamannya], Azar, "Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan?)[16] itu menunjukkan bahwa ayah Nabi Ibrahim as membantu masyarakat dalam menyembah berhala. Sebagian berpendapat, Azar adalah nama berhala yang disembah ayah Nabi Ibrahim as. Dalam ayat tersebut “أَصْناماً” (berhala-berhala) adalah kata pengganti dari nama itu.[17] Pendapat lainnya mengatakan, Tarih adalah nama ayah Nabi Ibrahim as, sedangkan Azar adalah nama pamannya. Penjelasan mereka mengenai hal ini adalah, Bangsa Arab menggunakan kata ab ( اب ) bukan hanya untuk makna “ayah” tapi juga “paman.”

Sebagaimana dalam Al-Qur’an disebutkan, Ismail as adalah ayah Ya’qub. Sejatinya pendapat terakhir merupakan penjelas bahwa seluruh leluhur Nabi Muhammad saw adalah orang-orang yang bertauhid, sebagaimana yang disabdakan Nabi saw, “Allah memindahkanku dari tulang sulbi para lelaki suci ke rahim para perempuan suci.” Setelah mengutip makna tersebut Syaikh Thusi menambahkan, Azar adalah kakek Nabi Ibrahim as dari pihak ibu.

Banyak riwayat lain terkait pembahasan ini. Misalnya, “azar” dalam Bahasa Ibrani adalah kata yang dipakai untuk mencela.[18] Namun Razi menganggap semua itu adalah penjelasan tanpa dasar. Menurutnya, jika kata “Azar” yang ada dalam Al-Qur’an itu bukan nama ayah Nabi Ibrahim as, mestinya Yahudi di zaman Nabi saw menyangkalnya karena mereka selalu mendustakannya. Karena tidak ada riwayat tentang itu maka dapat disimpulkan, menurut Yahudi nama ayah Nabi Ibrahim As memang Azar. Namun ia menambahkan, namun jika memang benar bahwa nama ayah Nabi Ibrahim as adalah Tarih, berarti dia memiliki dua nama, satu nama asli, dan lainnya adalah julukan.[19] Sebagaiman Nabi Ya’qub as yang memiliki julukan Israil.[20]

Tempat dan Tanggal Lahir

Nabi Ibrahim as lahir saat Terah berumur 70 tahun. [21] Tidak ada data akurat yang dapat menyebutkan kapan persisnya beliau lahir. Di masa sekarang kebanyakan para peneliti menyebutkan, tahun kelahiran Nabi Ibrahim as adalah 20 abad SM. Sebagian ada yang mengatakan, tepatnya adalah 1996 SM.[[22]

Terdapat perbedaan pendapat mengenai tempat lahir Nabi Ibrahim as. Meskipun dari Perjanjian Lama dapat disimpulkan bahwa tempat kelahirannya adalah Ur-Kasdim,[23] namun sebagian pihak menyebutkan Nabi Ibrahim as lahir di Uruk. Sedangkan referensi Islam sendiri banyak menyebutkan bahwa tempat kelahiran Nabi Ibrahim As adalah Kota Kutsi.[24] Ibnu Batutah menyebutkan, Nabi Ibrahim As lahir di daerah Burs (daerah Babilon sekarang), letaknya antara Hillah dan Baghdad, Irak. Hiran juga disebut sebagai tempat kelahiran Nabi Ibrahim as.[25] Namun dari itu semua, kebanyakan peneliti meyakini bahwa Nabi Ibrahim lahir di Ur.

Tempat Ziarah Yang Dinisbahkan Kepada Nabi Ibrahim as di Irak

Hijrah Ibrahim As

Menurut cerita Al-Qur’an, di zamannya, Nabi Ibrahim as menunjukkan pada masyarakat tentang kekeliruan syirik dan penyembahan pada obyek-obyek astronomi yang saat itu telah menjadi kebiasaan, seraya menyeru mereka untuk menyembah Allah Yang Esa.[26] Cerita ini tidak terdapat dalam Perjanjian Lama, namun sudah menjadi hal yang tidak asing di kalangan Yahudi. Bahkan Yosefus juga mengisyaratkannya.[27] Kemudian di era setelahnya, cerita itu sudah dapat ditemukan dalam buku-buku Yahudi.[28] Sebagian riwayat menjelaskan, peristiwa itu terjadi di saat Nabi Ibrahim as berdialog dengan kaumnya. Sebelumnya ia menampakkan diri pada masyarakat seakan-akan juga mengimani keyakinan mereka. Namun kemudian ia mengganti keyakinannya itu dengan keyakinan baru bertauhid pada Allah swt. Tujuannya supaya masyarakat sadar bahwa apa yang mereka yakini adalah salah, dengan begitu dengan mudah mereka akan menerima konsep ke-esaan Allah swt (Thusi, 4/185, 186). Menurut penuturan Mas'udi, Sarah, istri Nabi Ibrahim as, dan Nabi Luth as, keponakan beliau (putra Haran, saudara Ibrahim) adalah orang pertama yang menerima dakwah Nabi Ibrahim as.[29]

Menurut Al-Qur’an, dialog dan debat yang dilakukan dengan ayah, pejabat dan masyarakat di masa itu berujung pada hijrahnya Nabi Ibrahim as. Perjanjian Lama tidak menyinggung tentang hal ini. Yang disebutkan hanya tentang perjalanan ayah Nabi Ibrahim as ke Haran. Diceritakan, setelah wafat anaknya yang bernama Haran, bersama keluarganya dia meninggalkan Ur-Kasdim.[30] Dalam Al-Qur’an hanya diterangkan mengenai sebab perjalanan, tidak disebutkan tentang daerah asal dan tujuan mereka.

Dakwah Tauhid

Nabi Ibrahim as pertama kali berdakwah akan ke-esaan Allah swt kepada Azar. Hal ini tertuang dalam surah-surah Al-Qur’an. Ia dua kali berdialog dengan Azar terkait keyakinan masyarakat pada waktu itu. Setelah dialog kedua, Azar mengusir Nabi Ibrahim as sehingga beliau harus berhijrah ke tempat lain. Kemurkaan Azar pada Nabi Ibrahim As yang paling utama adalah karena telah menghancurkan berhala-berhala kemudian menuduhkan perbuatan itu pada berhala terbesar di sana. Tak hanya itu, masyarakat malah diminta bertanya langsung kepada berhala itu tentang sebab diancurkannya. Tentu saja sang berhala tidak dapat berbicara sehingga masyarakat dibuat terdiam. Akibatnya Nabi Ibrahim as dimasukan ke dalam api. Dengan kuasa Allah swt, api itu tidak dapat membakarnya, bahkan terasa dingin. Akhirnya Allah swt menyelamatkan Nabi Ibrahim dan Luth dari genggaman musuh mereka.[31]

Catatan Kaki

  1. Albright, 3. Sousse, 233.
  2. Al-Mua’arrab, 13.
  3. Judaica, ibid.
  4. Novi, hlm. 136.
  5. Sousse, 252.
  6. Klor, ibid.
  7. Epstein, 11. Sousse, 446.
  8. Sousse, 252.
  9. Ath-Thabari, Tarikh, 1/346. Novi, 1(1)/101).
  10. Kejadian, 11:24, teks Ibrani.
  11. Qs. Al-An’am: 74.
  12. Jawaliqi, 15.
  13. Kejadian, 15:2. Jefri, 53-55.
  14. Misalnya: Ibnu Hisyam, 1/2, 3. Thabari, Tarikh, 1/346. Ibnu Qutaibah, 30.
  15. Bukhari, 4/139.
  16. Qs. Al-An’am: 74.
  17. Silahkan lihat: Maibudi, 3/402.
  18. Thusi, 4/175. Razi, 13/38. Qurtubi, 7/22. Maibudi, 3/402.
  19. 13/37, 38.
  20. Maibudi, 3/401. Muhammad Syakir, al-Mu’arab Jawaliqi, 359 dan selanjutnya.
  21. Kejadian, 11:26.
  22. Hawks, 4. Sousse, 250, 251.
  23. Kejadian, 11: 28-30.
  24. Thabari, Tarikh, 1/252. Yaqut, Kutsi.
  25. Tsa’labi, 72.
  26. Qs. Al-An’am: 76-79.
  27. Dairah al-Ma’arif, Din 1.
  28. Lihat: Judaica, II, 117.
  29. Muruj, 1/57.
  30. Kejadian, 11: 28-32.
  31. Qs. Al-Anbiya: 56-71.