Muslim bin Aqil

Dari Wiki Shia
(Dialihkan dari Muslim bin 'Aqil)
Lompat ke: navigasi, cari
Prioritas: a, Kualitas: c tanpa link tanpa foto tanpa Kategori tanpa infobox tanpa navbox tanpa alih tanpa referensi
Haram Muslim bin Aqil di Masjid Kufah

Muslim bin Aqil bin Abi Thalib (Bahasa Arab: مسلم بن عقیل بن أبي طالب ) adalah keponakan dari Imam Husain As dan termasuk salah satu tokoh Islam yang berperan penting dalam kebangkitan melawan Yazid bin Muawiyah. Ia syahid di Kufah beberapa hari sebelum terjadinya peristiwa Asyura di Karbala.[1]

Muslim adalah utusan Imam Husain As yang lebih dulu menuju ke Kufah untuk memastikan bahwa undangan dan ajakan penduduk Kufah yang ditujukan kepada Imam Husain As adalah benar adanya dan setelah itu, ia akan melaporkan kepada Imam Husain As kondisi dan situasi terakhir dari kota tersebut. Ia menulis surat yang melaporkan kondisi Kufah kepada Imam Husain As, 27 hari sebelum ia syahid [2] dan menceritakan tentang persiapan penduduk Kufah untuk menyambut kedatangan Imam Husain As bersama kafilahnya. Namun melalui intervensi dan teror dari penguasa Kufah saat itu, Ubaidillah bin Ziyad, membuat penduduk Kufah berada dalam ketakutan sehingga mencabut dukungan mereka kepada Muslim bin Aqil. Tidak lama kemudian, Muslim bin Aqil berhasil ditangkap dan akhirnya dibunuh pada hari Arafah[3] tahun 60 H oleh kaki tangan Ibnu Ziyad.

Nasab, Hari Kelahiran dan Kesyahidannya

Hari kelahiran Muslim bin Aqil tidak dapat dipastikan, namun sebagian sejarawan menyebutkan ketika ia mencapai kesyahidannya pada hari ke-9 Dzulhijjah tahun 60 H di Kufah, usianya sekitar 28 tahun. [4] Ayahnya adalah Aqil, putera dari Abu Thalib [5] yang dikenal sebagai paling fasihnya orang Arab [6] dari suku Qurasy.

Ibunya adalah seorang budak yang dibeli oleh Aqil di kota Syam. [7] Baladzuri menyebutkan namanya adalah Haliyah. [8]

Ibnu Habban (wafat 345 H) salah seorang ulama Ahlusunnah menulis, “Muslim bin Aqil bin Abi Thalib Hasyimi, panggilan akrabnya Abu Daud di kalangan keturunan Abdul Muthalib ia sangat mirip dengan Nabi Muhammad Saw. Ia termasuk dalam golongan sahabat Nabi Muhammad Saw. [9]

Baladzuri memperkenalkan Muslim sebagai putra Aqil yang paling pemberani. [10] Ia dimakamkan di sisi Masjid Kufah di Irak. [11]

Silsilah keluarga Nabi saw
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Qushay
wafat: 400 M
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Abdul Uzza
 
 
 
 
 
 
 
 
Abdu Manaf
wafat: 430 M
 
 
 
 
 
 
 
Abd al-Dar
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Asad
 
 
 
Muththalib
 
 
Hasyim
wafat: 464 M
 
 
 
Nawfal
 
'Abd Shams
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Khuwaylid
 
 
 
 
 
 
 
 
Abdul Muththalib
wafat: 497 M
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Al-'Awwam
 
Khadijah Sa
 
Hamzah
 
 
Abdullah
lahir: 545 M
 
 
 
Abu Thalib
 
Abbas
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Zubair
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Nabi Muhammad Saw
lahir: 571 M
 
Ali as
llahir: 599 M
 
'Aqil
 
Ja'far
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Fatimah binti Muhammad sa
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Muslim
 
Abdullah
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Hasan as
lahir: 625 M
 
 
 
 
 
 
Husain as
lahir: 626 M
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 


Istri dan Keturunannya

Abu al-Farj al-Isfahani menulis, “Muslim tidak memiliki keturunan. [12]Namun oleh sejarawan lain, ia diyakini memiliki anak laki-laki dan perempuan. Thabari misalnya, berpendapat salah satu putranya bernama Abdullah bin Muslim bin Aqil, yang terbunuh di Karbala oleh Amru bin Shabih Shadai yang memanahnya dan tepat kena didahinya, yang menyebabkan kesyahidannya.[13]

Thabari menulis, ibu dari Abdullah bin Muslim bernama Ruqayyah, putri Imam Ali As, dan ibu dari Ruqayyah adalah seorang mantan budak. Sebagian sejarawan lainnya berpendapat, yang membunuh Abdullah adalah Asid bin Malik al-Khadrami. [14]

Thabari di lain tempat menyebutkan, pembunuh Abdullah adalah Zaid bin Raqad, yang kemudian hari dibunuh atas perintah Mukhtar. [15]

Qadhi Nu'man al-Maghribi juga meyakini keberadaan Abdullah bin Muslim, dan menyebut ibunya bernama Ruqayyah binti Ali. Ia juga menegaskan bahwa Abdullah syahid di Karbala dan pembunuhnya bernama Amru bin Shabih [16] Syaikh Thusi juga membenarkan pendapat tersebut.[17]

Sementara Baladzuri meyakini bahwa pembunuh Abdullah bin Muslim bernama Zaid bin Raqad al-Junubi yang memanah tepat didahinya yang menyebabkan kesyahidannya di Karbala. [18] Meski demikian di tempat yang lain, Baladzuri menyebutkan kemungkinan pembunuhnya bernama Amru bin Shabih al-Shaidawi, dengan proses kesyahidan yang sama. [19]

Dzahabi menuliskan, Muslim bin Aqil memiliki dua putra, Abdullah dan Abdurrahman. Keduanya turut gugur bersama para syuhada lainnya di padang Karbala. [20]

Ibn Makula memberikan catatan bahwa Muslim bin Aqil juga memiliki putri bernama Ummu Hamidah, yang kemudian menikah dengan Abdullah bin Muhammad bin Aqil bin Abi Thalib, dan melahirkan seorang putra bernama Muhammad. [21] Pada sebagian literatur lainnya menyebutkan putri Muslim bin Aqil tersebut bernama Hamidah. [22]

Thabarsi menulis, “Ruqayyah binti Ali bin Abi Thalib As adalah istri Muslim bin Aqil yang melahirkan putra-putra bernama Abdullah, yang syahid di Karbala, Ali dan Muhammad.[23]

Ibnu Qutaibah berkenaan dengan keturunan Muslim bin Aqil menulis, “Abdulllah dan Ali –yang ibunya bernama Ruqayyah binti Ali bin Abi Thalib-, Muslim bin Muslim dan Abdul Aziz.[24] Untuk kedua putranya yang terakhir ini, Ibnu Qutaibah tidak menuliskan mengenai ibunya.

Baladzuri menulis bahwa keturunan Muslim bin Aqil adalah, “Abdullah dan Ali yang ibunya adalah Ruqayyah binti Ali bin Abi Thalib As. Muslim bin Muslim yang ibunya berasal dari Thaifah bani ‘Amir bin Sha'sha'a, Abdullah yang ibunya seorang mantan budak dan Muhammad.” Yang terakhir ini, Baladzuri tidak menuliskan apa-apa mengenai ibunya. [25]

Baladzuri berpendapat nama ibu dari Ruqayyah adalah Shahba. Ia menulis, “Dia adalah Ummu Habiba binti Habib bin Bajuiz Taghlabi yang berasal dari daerah ‘Ain al Tamr.” Baladzuri menambahkan, “Ruqayya menikah dengan Muslim bin Aqil bin Abi Thalib.” [26]

Sebagian dari literatur sejarah, dari dua putra Muslim yang disebutkan, setelah kesyahidan Imam Husain As, keduanya menjadi tawanan dan setelah dipenjara di Kufah, atas perintah Ubaidullah bin Ziyad keduanya dibunuh di penjara. [27]

Wakil Imam Husain As di Kufah

Sewaktu Imam Husain keluar dari Madinah menuju Mekah, Muslim bin Aqil adalah salah seorang yang menemaninya. Dengan banyaknya surat dari warga Kufah yang sampai kepada Imam Husain As sebagai bentuk dukungannya kepada Imam, ia mengutus Muslim bin Aqil ke Kufah untuk melihat situasinya dan memastikan dukungan tersebut adalah sesuatu yang benar adanya. Muslim bin Aqilpun bergerak menuju Kufah atas perintah sang Imam. [28] Dalam literatur sejarah disebutkan, bersama Muslim ikut Qais bin Mashar, Shaidawi, Ammarah bin Abdul Saluli dan Abdurrahman bin Abdullah Arhabi. Mereka diminta jika melihat bahwa warga Kufah konsisten terhadap pilihan mereka mendukung Imam Husain As dan akan memberikan pembelaan, sebagaimana yang mereka tulis dalam surat-surat mereka, agar segera menyampaikan kabarnya kepada Imam Husain As. [29]

Setibanya Muslim bin Aqil di Kufah, ia menetap di kediaman Mukhtar bin Abi Ubaidah. Warga Kufah yang mengetahui keberadaannya di rumah tersebut, berdatangan untuk mendengarkan surat Imam Husain As dibacakan oleh Muslim bin Aqil. [30] Catatan lain menyebutkan, bahwa rumah yang ditempati Muslim bin Aqil di Kufah adalah kediaman ‘Ausajah, sebagaimana yang ditulis oleh Mas'udi [31] dan Ibnu Jauzi juga meyakini hal yang sama dengan menulis, Muslim bin Aqil tinggal dirumah seseorang yang bernama Ibn ‘Ausajah selama menetap sementara di Kufah. [32]

Ibnu ‘Asakir menulis, “Di Kufah 12 ribu orang menyatakan baiatnya kepada Imam Husain As melalui kesaksian Muslim bin Aqil.” [33] Sebagian sejarahwan lainnya menyebutkan jumlah total warga Kufah yang berbaiat sebanyak 18 ribu orang [34] dan sebagian lagi menyebutkan lebih dari 30 ribu orang. [35]

Dengan banyaknya dari warga Kufah yang menyatakan baiatnya kepada Imam Husain As dan menyambut kedatangan Muslim bin Aqil dengan antusias, membuat mata-mata kerajaan menyampaikan hal tersebut kepada Yazid bin Muawiyah sambil menyebutkan bahwa Nu'man bin Basyir lemah sebagai penguasa Kufah, sehingga harus diganti dengan yang lain yang lebih mampu meredam suasana yang mengkhawatirkan bagi kekuasaan Yazid. Atas laporan tersebut, Yazid menurunkan Nu'man bin Basyir sebagai gubernur Kufah dan mengangkat Ubaidillah bin Ziyad, gubernur Basrah saat itu, sekaligus sebagai penguasa di Kufah.[36]

Dengan datangnya Ubaidillah bin Ziyad di Kufah, Muslim bin Aqil meninggalkan rumah Mukhtar dan menetap di rumah Hani bin ‘Urwah, salah seorang pembesar Kufah. Seberapapun usaha Muslim bin Aqil untuk tetap melakukan kontak dengan Syiah meski dalam keadaan sembunyi-sembunyi, namun mata-mata Ubaidillah bin Ziyad berhasil mengetahuinya, termasuk tempat persembunyian Muslim bin Aqil. Tidak lama, Hani bin ‘Urwah ditangkap dan dipaksa untuk menyerahkan Muslim bin Aqil.

Dengan adanya peristiwa tersebut, Kabilah Mudzhaj berkumpul di sekitar istana Ubaidillah bin Ziyad, mereka melakukan protes jika penangkapan tersebut betul-betul terjadi. Dengan adanya protes itu, Ibnu Ziyad memerintahkan kepada Syarih Qadhi untuk melakukan kebohongan kepada kabilah tersebut, sambil berusaha memecah belah diantara mereka. Dengan dukungan 4 ribu orang, Muslim bin Aqil melakukan blokade terhadap istana Ibnu Ziyad dan berunjuk rasa. Mereka meneriakkan slogan, “Wahai penolong ummat”. [37]

Melihat keadaan tersbeut, Ubadillah mengumpulkan para pembesar Kufah dan meminta kepada masing-masing kabilah untuk mengingatkan kabilahnya, bahwa jika kondisi tersebut dibiarkan, pasukan Yazid bin Muawiyah akan menyerang Kufah dan akan membawa bencana bagi seluruh warga kota tersebut.

Para pembesar tersebut pun mengingatkan kabilahnya masing-masing. Taktik tersebut berhasil menyebabkan pendukung Muslim bin Aqil mulai berpecah-belah, sampai jumlahnya berkurang drastis. Pada akhirnya, Muslim bin Aqil benar-benar sendiri bahkan rumah untuk dia menginappun tidak ada. Suatu malam, seorang perempuan bernama Thau'ah, melihat seorang pria beristrahat di depan rumahnya. Iapun membawakan air minum untuk pria malang itu. Thau'ah kemudian mengenalinya sebagai Muslim bin Aqil, dan memintanya beristrahat di dalam rumah. Anak laki-laki perempuan tersebut melihat kejadian itu, dan keesokan harinya, ia melaporkan kepada Abdurrahman bin Muhammad bin Asy'ab akan keberadaan Muslim bin Aqil di rumahnya. Atas perintah Ibnu Ziyad, Muhammad bin Asy'ab bersama 70 orang lainnya berhasil menangkap Muslim bin Aqil dan bermaksud membawanya ke istana.

Pasca penangkapan, Muhammad bin Asy'ab berkata kepada Muslim, jika Muslim menyerah dan bersedia bekerjasama untuk dihadapkan dengan Ibnu Ziyad maka keselamatan nyawanya akan ia jamin. Muslim bin Aqil pun bersedia dipertemukan dengan Ibnu Ziyad. Namun atas perintah Ibnu Ziyad, Muslim bin Aqil diminta dibawa ke atas istana, dan dihukum mati di tempat tersebut. [38]

Pasca kesyahidan Muslim bin Aqil, Ibnu Ziyad juga memerintahkan untuk membunuh Hani bin ‘Urwah. Kepala kedua orang tersebut yang telah dipisahkan dari tubuhnya, kemudian dibawa ke Syam untuk diperlihatkan kepada Yazid bin Muawiyah.[39]

Catatan Kaki

  1. Abu al-Faraj Isfahani, Maqātil al-Thālinbin, hlm. 52.
  2. Al-Thabari, Muhammad bin Jarir, Tārikh al-Thabari, jld. 4, hlm. 297.
  3. 1. hlm. 593.
  4. Syahidi, Sayid Ja'far, Qiyām Husain As, Teheran, Daftar Nasyr Farhanggi Islami, 1380, hlm. 122.
  5. Ibn Abdul Bar, al-Isti'āb, jld. 3, hlm. 1079.
  6. Ibn Abdul Bar, al-Istidzkār, jld. 8, hlm. 249.
  7. Abu al-Faraj Isfahani, Maqātil al-Thālibin, hlm. 52.
  8. Al-Balādzuri, Ansāb al-Asyrāf, jld. 3, hlm. 224.
  9. Ibn Haban, al-Tsiqāt, jld. 5, Muassasah al-Kutub al-Tsaqifah, hlm. 391, 1393 H.
  10. Al-Baladzuri, Ansāb al-Asyrāf, jld. 2, hlm. 77.
  11. Al-Sayid al-Baraqi, Tārikh al-Kufah, hlm. 98.
  12. Abu al-Faraj Isfahani, Maqātil al-Thālibin, hlm. 52.
  13. Tārikh Thabari, jld. 4, hlm. 341.
  14. Thabari, jld. 4, hlm. 359.
  15. Thabari, jld. 4, hlm. 534.
  16. Al-Qadhi al-Nu'man al-Maghribi, Syarh al-Akbhār, jld. 3, hlm. 195.
  17. Rijāl al-Thusi, hlm. 103.
  18. Al-Baladzuri, Ansāb al-Asyrāf, jld. 6, hlm. 407-408.
  19. Al-Baladzuri, Ansāb al-Asyrāf, jld. 3, hlm. 200.
  20. Al-Dzahabi, Siar A'lām al-Nubalā, jld. 3, hlm. 320.
  21. Ibnu Makula, Ikmāl al-Kamāl, jld. 6, hlm. 235.
  22. Ibnu ‘Anabah, ‘Umdah al-Thālib, hlm. 32.
  23. Al-Thabarsi, I'lām al-Wara bi ‘Alām al-Huda, jld. 1, hlm. 397.
  24. Ibnu Qutaibah, al-Ma'ārif, hlm. 204.
  25. Al-Baladzuri, Ansāb al-Asyrāf, jld. 2, hlm. 70-71.
  26. Al-Baladzuri, Ansāb al-Asyrāf, jld. 2, hlm. 192.
  27. Al-Shaduq, al-Amāli, hlm. 143-148.
  28. Ibnu Qutaibah al-Dinawari, al-Akhbār al-Thiwāl, hlm. 230.
  29. Al-Mufid, al-Irsyād, hlm. 295-297; Terjemahan Irsyād, hlm. 339-342.
  30. Ibnu Qutaibah al-Dinawari, al-Akhbār al-Thiwāl, hlm. 231.
  31. Al-Mas'udi, Muruj al-Dzahab wa Ma'ādin al-Jauhar, jld. 3, hlm. 54.
  32. Ibnu al-Jauzi, al-Muntadzam fi Tarikh al-Umum wa al-Muluk, jld. 5, hlm. 325.
  33. Ibnu Asakir, Tarikh Madinah Damsyik, jld. 14, hlm. 213.
  34. Ibnu Qutaibah al-Dinawari, al-Akhbār al-Thawāl, hlm. 235.
  35. Ibnu Qutaibah al-Dinawari, al-Imamāh wa Siyāsah, jld. 2, hlm. 8.
  36. Ibnu Qutaibah al-Dinawari, al-Akhbār al-Thiwāl, hlm. 231.
  37. Farzandan_e Ali Abi Thalib, terjemahan, jld. 1, hlm. 147.
  38. Al-Mufid, al-Irsyād, hlm. 53-63.
  39. Ibnu A'tzam al-Kufi, al-Futuh, jld. 5, hlm. 62.

Daftar Pustaka

  • Ibnu A'dzham al-Kufi, al-Futuh, jld. 5, riset: Ali Syiri, Beirut: Dar al-Adhwa, 1411 H.
  • Al-Amin, al-Sayid Muhsin, A'yān al-Syi'ah, jld 1, riset: Hasan al-Amin, Beirut, Dar al-Ta'rif lil Mathbuat.
  • Al-Baladzuri, Ahmad bin Yahya bin Jabi, Insāb al-Asyrāf, jld. 2, riset: al-Syaikh Muhammad Baqir *Mahmudin, Muassasah al-‘Ilmi lil Mathbu'at, 1394 H/1974 M.
  • Ibnu Habban, al-Tsiqāt, jld. 5, Muassasah al-Kutub al-Tsaqāfiyah, 1393 H.
  • Ibnu al-Jauzi, al-Muntazham fi Tārikh al-Umum wa al-Muluk, jld. 5, riset: Muhammad Abdul Qadir ‘Atha dan Musthafa Abdul Qadir ‘Atha, Beirut, Dar al-Kutub al-‘Ilmiah, 1412 H/1992 M.
  • Ibnu Abd al-Bar, al-Istidzkār, jld. 8, riset: Salim Muhammad ‘Atha, Muhammad Ali Ma'udh, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 2000 M.
  • Ibnu Abd al-Bar, al-Isti'āb, jld. 3, riset: Ali Muhammad al-Bajawi, Beirut: Dar al-Jabal, 1412 H/1992 M.
  • Ibnu Asakir, Tārikh Madinah Dimasyq, jld. 14, riset: Ali Syiri, Beirut: Dar al-Fikr lil Thabz'a wa al-Nasyr wa al-Tauzi', 1415 H.
  • Ibnu ‘Anabah Husna Daudi, Jamāl al-Din Ahmad bin Ali, ‘Umdah al-Thālib fi Insāb Al Abi Thalib, Anshariyan, Qom, 1417 H.
  • Ibnu Qutaibah al-Dinawari, al-Akhbār al-Thiwāl, riset: Abdul Man'am ‘Amir, Kairo: Dar Ahya al-Kutub al-Arabi.
  • Ibnu Qutaibah al-Dinawari, al-Imāmah wa al-Siyasah, riset: Ali Syiri, Qom, Intisyarat Syarif al-Radhi, 1413 H.
  • Ibnu Qutaibah al-Dinawari, al-Ma'ārif, riset: Dr. Tsarwat ‘Akasya, Kairo: Dar al-Ma'arif Mishri, 1969 M.
  • Ibnu Makula, Ikmāl al-Kamāl, jld. 6, Dar Ihya al-Turats al-Arabi.
  • Abu al-Faraj Isfahani, Maqātil al-Thālibin, riset: Kadzhim al-Mudzaffar, Najaf, Mansyurat al-Maktabah al-Haidariyah, 1385 H/1965 M.
  • Isfahani, Abu al-Faraj Ali bin Husain, Farshand_e Abu Thalib, terj. Jawad Fadhil, Teheran, Kitab Furusyi Ali Akbat ‘Ilmi, 1339 S.
  • Al-Dzahabi, Siyar al-Nubalā, jld. 3, riset: Muhammad Na'im al-‘Arqaswasi, Mamun Shagerci, Beirut: Muassasah al-Risalah, 1413 H.
  • Al-Sayid al-Baraqi, Tārikh al-Kufah, riset: Majid Ahmad al-‘Athiyah, Intisyarat al-Maktabah al-Haidariyah, 14124 H, tanpa kota.
  • Al-Shaduq, al-Amali, Qom: Markaz al-Thaba'at wa al-Nasyr fi Muassasah al-Bitsah, 1417 H.
  • Al-Thabarsi, A'lām al-Wara bi ‘Alām al-Huda, jld. 1, Qom: Muassasah Ali al-Bait As li Ahya al-Turats, 1417 H.
  • Rijāl al-Thusi, riset: Jawad al-Qayyumi al-Isfahani, Qom: Muassasah al-Nasyr al-Islami, 1415 H.
  • Al-Qadhi al-Nu'man al-Maghribi, Syarah al-Akhbār, jld. 3, riset: al-Sayid Muhammad al-Husaini al-Jalali, Qom: Muassasah al-Nasyr al-Islami, tanpa tahun.
  • Al-Mufid, al-Irsyād, riset: Muassasah Ali Al-Bait As li Tahqiq al-Turats, Beirut: Dar al-Mufid, 1414 H/1993 M.
  • Al-Mas'udi, Muruj al-Dzahab wa Ma'ādin al-Jawahir, jld. 3, Qom: Mansyurat Dar al-Hijrah, 1404 H/1363 S/1984 M.