Prioritas: a, Kualitas: a

Muhammad Baqir al-Majlisi

Dari WikiShia
(Dialihkan dari Muhammad Bagir al-Majlisi)
Lompat ke: navigasi, cari
Muhammad Baqir al-Majlisihttp://en.wikishia.net
Allama Majlisi.jpg
Informasi Pribadi
Nama Lengkap Muhammad Baqir bin Muhammad Taqi bin Al-Maqsud Ali al- Majlisi
Terkenal dengan Majlisi al-Tsani
Lakab Allamah Majlisi
Lahir 1037 H/1628 M
Tempat lahir Isfahan, Iran
Tempat tinggal Isfahan
Wafat/Syahadah 1110 H/1699 M
Tempat dimakamkan Esfahan
Kerabat termasyhur Muhammad Taqi Majlisi • Mulla Shaleh Mazandarani
Informasi ilmiah
Guru-guru Muhammad Taqi Majlisi • Mulla Shaleh Mazandarani • Faidh Kasyani • Sayid Ali Khan Madani • Mulla Khalil Qazwini • dll
Murid-murid Afandi Isfahani • Sayid Ni'matullah al-Jazairi • Mulla Muhammad Rafi' Ghilani • Mir Muhammad Husain Khatun Abadi • dll
Karya-karya Bihar al-AnwarMirātul UqulHilyatul MuttaqinAinul HayātJalāu al-'Uyun' •dll
Kegiatan Sosial dan Politik
Sosial Hakim dan Syaikhul Islam pada era Shafawiyah

Muhammad Baqir bin Muhammad Taqi bin al-Maqsud Ali al-Majlisi(Bahasa Arab:محمد باقر بن محمد تقی بن المقصود علی المجلسي) terkenal dengan al-Allamah al-Majlisi (العلامة المجلسي) atau al-Majlisi al-Tsani (المجلسي الثاني) (lahir: 1037 H/1628 M - wafat: 1110 H/1699 M). Ia termasuk salah seorang ulama fikih dan hadis yang terkenal dalam dunia Syiah. Allamah Majlisi dari berbagai bidang ilmu-ilmu Islam yang lebih ia gemari dari semua itu adalah penulisan hadis dan dia dekat dengan kelompok Akhbari. Dia dengan mendidik para murid dan karya-karyanya yang cukup berbilang yang hampir kesemuanya ditulis dalam bahasa Persia dan kegunaannya lebih diperuntukkan bagi masyarakat umum, yang sangat berpengaruh bagi budaya Syiah dan metode ilmiah para ulama yang datang setelahnya.

Dia seorang ulama yang sangat terkenal, karena kerjasamanya dengan penguasa dinasti Shafawiyah dan peran politik dan sosialnya yang menonjol di zaman itu. Dia pada masa kesultanan Syah Sulaiman Shafawi menggapai kedudukan dan maqam "Syaikhul Islam" dan pada masa Sultan Husain Shafawi menjadi seorang ulama yang memiliki pengaruh.

Kelahiran dan Keturunan

Majlisi lahir pada tahun 1037 H/1628 M di kota Esfahan. [1] Kelahirannya bertepatan dengan masa akhir kekuasaan Syah Abbas Shafawi Pertama. Ayahnya Muhammad Taqi Majlisi yang terkenal dengan Majlisi Awwal termasuk tokoh terkemuka, mujtahid ternama di masanya dan termasuk salah satu dari murid-murid Syaikh Bahai, Mulla Abdullah Syusytari dan Mirdamad. Ibunya adalah putri Sadruddin Muhammad Asyurai Qummi, termasuk keluarga yang berilmu dan memiliki keutamaan. [2] Dia mempunyai 3 istri yang dari mereka semua mendapatkan keturunan 4 anak laki-laki dan 5 anak perempuan. [3]

Keluarga Majlisi

Dikatakan bahwa karena kekeknya memiliki majelis-majelis yang penuh dengan kedukaan atau di dalam menyampaikan kandungan syair-syairnya di setiap majelis penuh dengan keikhlasan, maka faktor itulah yang membuat mereka populer dengan sebutan Majlisi. Menurut kutipan lain, karena Muhammad Taqi tinggal dan hidup di sebuah desa bernama Majlis, kota Esfahan, maka keluarga ini populer dengan nama Majlisi. [4]

Leluhur keluarga Majlisi adalah Hafidz Abu Na'im Esfahani, tergolong ahli hadis (muhadits) dan seorang hafidz Al-Qur'an [5] Kakek Muhammad Baqir, Mulla Maqsud juga merupakan seorang penyair, pujangga dan memiliki keutamaan.[6] Nenek dari pihak ayahnya adalah putri Kamaluddin Syaikh Hasan Amili Natanzi Esfahani. Muhadits Nuri memuji saudara-saudara Majlisi, Mirza Azizullah dan Mulla Abdullah. Dan Aminah Beigem adalah saudara perempuan Majlisi yang paling terkenal adalah istri Mulla Shaleh Mazandarani dan dia adalah cendekiawan wanita di masanya. [7]

Para Dosen dan Para Murid

Mengenai jenjang pendidikan Muhammad Baqir Majlisi tidak ada keterangan yang begitu jelas tentang hal ini. Namun sepertinya dia lebih banyak berada di bawah didikan ayahnya Muhammad Taqi Majlisi (wafat:1070 H/1660 M). Sebagaimana diketahui bahwa ayahnya adalah murid Syaikh Bahai, dapat dikatakan bahwa pengaruh pemikiran-pemikiran Syaikh Bahai tersalurkan kepada Allamah Majlisi melalui ayahnya Muhammad Taqi Majlisi. [8]Selain itu, Muhammad Baqir Majlisi banyak mendengar hadis dari para ulama pada masanya dan dari mereka mendapatkan ijazah untuk meriwayatkan hadis yang mana orang yang paling penting di saat itu diantaranya adalah Mulla Shaleh Mazandarani (wafat: 1081 H/1670 M), Mulla Muhsin Faidh Kasyani (wafat: 1091 H/1681 M) dan Syaikh Hur Amili (wafat 1104 H/1690 M). Referensi-referensi 18 orang dari para dosennya telah ia sebutkan.[9]

Muhammad Baqir Majlisi, banyak memiliki murid dan perkumpulan-perkumpulan majelis ta'lim. sebagian referensi menyebutkan bahwa murid-muridnya yang hadir di tempat perkumpulan pengajarannya mencapai seribu orang.[10] Sebagian dari kalangan murid-murid Allamah telah terdidik menjadi ulama Syiah yang terkenal yang mana diantaranya adalah Mirza Abdullah Afandi Isfahani (wafat: 1130 H/1718 M), Sayid Ni'matullah Jazairi (wafat: 1112 H/1700 M), Syaikh Abdullah Bahrani (Wafat: 1127 H/1715 M), Muhammad bin Ali Ardabili (wafat: 1101 H/1690 M), Mir Muhammad Husain Khatun Abadi (wafat: 1151 H/1738 M) dan Sayid Abul Qasim Khansari (wafat: 1124 H/1712 M). [11]

Kedudukan dan Kepentingan Ilmiahnya

Allamah Majlisi memiliki keahlian di berbagai keilmuan Islam, seperti tafsir, hadis, fikih, Ushul fikih (dasar-dasar pemikiran fikih), sejarah, ilmu rijal (ilmu periwayatan hadis) dan ilmu dirayah (ilmu penelitian hadis). Ia juga menulis buku-buku dan karya-karyanya di bidang-bidang tersebut. dia seorang penulis yang sangat sibuk dan berdasarkan sebagian perhitungan, dia selama kehidupan ilmiahnya (setelah baligh) rata-rata setiap harinya ia menulis 67 baris yang mana setiap barisnya terdiri dari 50 kata.[12]

Bihar al-Anwar dan Karya-karya Hadis Lainnya

Allamah Majlisi lebih gemar menulis kumpulan-kumpulan hadis dan diantara buku-bukunya Bihar al-Anwar adalah sekumpulan besar dari hadis-hadis imam-imam Syiah, yang paling terkenal. Kembali pada teks-teks hadis dan pengumpulan pengelompokan-pengelompokan hadis dan juga penjelasan dan keterangan buku-buku hadis orang-orang terdahulu, adalah sebuah gerakan yang marak di masa Shafawiyah dan akarnya kembali pada usaha dan upaya para ulama Syiah untuk menjawab tuntutan-tuntutan keyakinan pada masa itu. Penulisan buku Bihar al-Anwar juga termasuk bagian dari perhatian ulama pada masa itu secara umum kepada hadis dan penulisannya.[13]

Bihar al-Anwar mencakup semua keilmuan manusia yang tercermin dari perkataan-perkataan para imam dan memerankan peranan sebuah ensiklopedia Syiah pada masanya. para ulama zaman itu termasuk Allamah Majlisi dengan memandang bahwa semua ilmu memiliki akar Ilahi dan jejek-jejak semua itu dapat ditemukan pada dan dalam ucapan para imam As oleh karena itu menulis sebuah karya semacam ini.[14]

Rekonstruksi hadis Syiah adalah sebuah usaha untuk dapat diakses oleh siapa saja dengan ide-ide otentik agama (yang mana hal itu sebelum dari segalanya telah mengkristal dalam hadis-hadis para imam) dan penyediaan sebuah diktat yang menanggapi pertanyaan-pertanyaan orang-orang Syiah dan membuat mereka mandiri dari berurusan dengan berbagai bidang dan ilmu-ilmu yang menyimpang seperti filsafat dan mistisisme.[15]

Rekonstruksi hadis Syiah adalah sebuah usaha untuk dapat diakses oleh siapa saja dengan ide-ide otentik agama (yang mana hal itu sebelum dari segalanya telah mengkristal dalam hadis-hadis para imam) dan penyediaan sebuah diktat yang menanggapi pertanyaan-pertanyaan orang-orang Syiah dan membuat mereka mandiri dari berurusan dengan berbagai bidang dan ilmu-ilmu yang menyimpang seperti filsafat dan mistisisme.[16] Dari sinilah kinerja Allamah majlisi yang menulis kumpulan-kumpulan hadis Syiah dinilai sebagai tindakan yang memperkuat madzhab Syiah dan dia dikenang sebagai seorang ulama yang menghidupkan madzhab Tasyayyu'.[17]

Disebutkan, sekumpulan karya Allamah Majlisi yang berbahasa Arab berjumlah sepuluh judul dan buku Bihar al-Anwar adalah buku yang paling berkapasitas tinggi kira-kira 700 ribu baris dan dalam salah satu cetakannya berjumlah 110 jilid. Allamah Majlisi juga menulis buku-buku yang menjelaskan kumpulan-kumpulan hadis-hadis lama Syiah dan dalam penjelasan itu berbagai pembahasan hukum fikih dan selainnya diulas dan diteliti. Dia menulis sebuah buku yang menjelaskan atas buku al-Kafi dan kemudian buku itu diberi nama Miratul Uqul. Begitu juga dia menulis buku penjelasan hadis atas buku Tahdzib al-Ahkam karya Syaikh Thusi dan diberi nama Maladz al-Akhbar fi Fahm Tahdzib al-Akhbar]]. Karya-karya lainnya Allamah Majlisi adalah sebagai berikut Syarh Cehel Hadits (syarah empat puluh hadis), al-Fawaid al-Thariqah fi Syarh al-Shahifah dalam menjelaskan Shahifah Sajjadiah, Risalah I'tiqad, Risalah Auzan dan buku al-Wajizah fi al-Rijal. [18]

Karya Tulis Bahasa Persia

Allamah Majlisi banyak menulis berbagai buku-buku dan artikel dalam bahasa Persia dan jumlahnya hingga mencapai 49 buku dan artikel. tulisan artikel dalam bahasa Persia dengan tujuan memarakkan ilmu-ilmu agama di kalangan masyarakat umum dan merupakan sebuah angan-angan yang sejak dulu dimulai sebelum Allamah Majlisi, namun karya-karya Majlisi mendapatkan ketenaran yang lebih ketimbang yang lain dan juga disambut oleh para penutur bahasa Persia.[19]

Diantara karya-karya Persia Muhammad Baqir Majlisi yang dapat ditunjukkan adalah sebagai berikut:[20]
Buku Hilyatu al-Muttaqin
  • Ainul Hayāt sebuah buku yang menjelaskan tentang wasiat Nabi kepada Abu Dzar yang mencakup nasehat-nasehat moral dan hikmah.
  • Misykāt al-Anwār dalam bidang Al-Quran dan doa, keutamaan membaca dan pahalanya.
  • Hayāt al-Qulub tentang perjalanan sirah para nabi, kehidupan Nabi Besar Islam dan berkaitan dengan Imamah.
  • Jalāu al-'Uyun dalam bidang sejarah dan musibah-musibah Empat Belas Maksum As.
  • Hilyatul Muttaqin tentang tata cara bermasyarakat dan sunah-sunah keseharian, baik secara peribadi atau sosial.
  • Haqqul Yaqin tentang keyakinan-keyakinan.

Pemikiran Agama

Kecenderungan pada Hadis

Allamah Majlisi hidup pada masa dimana kecenderungan pada hadis dan juga Kecenderungan pada Akhbarisme ketika itu sedang marak di kalangan ulama Syiah. Dia juga lebih dari yang lainnya bergantung pada ilmu-ilmu naql, terutama hadits dan ia meyakini bahwa hadis para Imam Syiah adalah paling pentingnya sumber dan referensi untuk menimba pengetahuan-pengetahuan agama dan perintah-perintah agama dan terhadap ilmu-ilmu Islam lainnya, terutama ilmu-ilmu filsafat dan intelektual lebih unggul. Dalam pemikiran Allamah Majlisi dan kebanyakan para ahli hadis lainnya yang sezaman dengannya, hadis para imam tidak hanya satu-satunya sumber dan referensi pengambilan segala ilmu yang dibutuhkan untuk kebahagiaan akhirat dan petunjuk manusia bahkan termasuk sumber otoritatif dan urgen dalam segala bidang ilmu dan pengetahuan manusia. [21]

Akhbarisme atau Ushulisme

Dengan adanya kecenderungan kepada Hadis, sebagian besar dari ulama dan cendikiawan Islam, menganggapnya sebagai ulama Akhbari yang moderat, sebagaimana ia menamakan alirannya dengan "Thariq Wustha" (jalan tengah) sebagai metode para Mujtahid dan Akhbari. [22]

Para cendikiawan dan ulama yang tidak meyakini Allamah sebagai Akhbari, membawakan dalil bahwa dengan meneliti karya-karya Allamah Majlisi akan ditemukan beberapa pertentangannya dengan sebagian pemikiran-pemikiran dan metode-metode Akhbari. Jika Allamah Majlisi adalah seorang yang beraliran Akhbari, mengapa tidak menolak secara global validitas akal dan di tempat yang lain dari karya-karyanya ia meyakini bahwa untuk memahami prinsip-prinsip agama kita harus menggunakan metode pendekatan rasional melalui pengetahuan teoritis dan dalam beberapa kasus Allamah menganalisis dan menginterpretasi beberapa hadis dengan menggunakan argumen rasional dan penggunaan bahasa serta istilah-istilah filsafat.[23] Bertentangan dengan Akhbari, Allamah Majlisi juga meyakini ilmu rijal dan melakukan penulisan buku dalam ilmu rijal, dia meyakini akan kewenangan dan otoritas Al-Quran secara lahiriah, kebalikan dari metode pemikiran kelompok Akhbari dia tidak meyakini pengharaman dalam penggunaan hal-hal yang dalil tentang kehalalannya belum jelas dan ia mengamalkan pada kaidah asal yaitu kemubahan.[24]

Di hadapan pandangan ini, sebagian dari beberapa penulis dengan bersandar pada sebagian dari pandangan Allamah Majlisi yang serasi dengan pandangan kelompok Akhbari telah menggolongkannya sebagai salah satu dari pengikut Akhbarisme dan mengatakan, "Allamah Majlisi tidak meyakini kevaliditasian akal dan dia menganggap bahwa jalan utama dan bahkan satu-satunya jalan untuk sampai pada pengetahuan-pengetahuan agama bahkan dalam dasar-dasar agama (usuluddin) harus merujuk kepada perkataan para imam". Allamah Majlisi juga sama seperti kelompok Akhbari lainnya yang meyakini bahwa pemahaman Al-Quran hanya dapat dicerna dengan melewati jalan hadis para imam. Menurutnya dalil utama dalam syariat adalah sunnah dan ketika antara dalil akal dan tektual (naql) saling bertentangan maka dalil naql lebih diutamakan.[25]

Beroposisi dengan Shufisme

Allamah seperti sebagian para faqih lainnya pada masa itu, ia juga melakukan oposisi dan pengkritikan terhadap metode Shufisme yang ia tuang dalam tulisan-tulisannya dan ia menilai bahwa pemikiran-pemikiran dan tradisi-tradisi mereka bertentangan dengan ajaran-ajaran para imam Syiah.[26] ketidakpatuhan terhadap hukum-hukum agama, pemarakan tradisi-tradisi adat dan ritual non syariat seperti lingkaran dzikir dan pendengaran dan interpretasi yang berorientasi kebatinan dan teks-teks agama ini semua adalah diantara hal-hal yang dikritik langsung oleh Allamah Majlisi dalam tindakan dan pemikiran Shufisme.[27]

Sebagaimana yang ditekankan pada sebagian tulisan-tulisan Allamah Majlisi dan sebagian tulisan beberapa penulis kontemporer, Allamah tidak menentang praktek pelatihan dan penyucian diri, jika hal itu dilakukan dengan menjaga aturan, tradisi dan menggabungkan antara yang zahir dan batin dan permasalhan utama dalam pandangannya adalah kepatuhan terhadap hukum-hukum syariat. Oleh karena itu, ia meyakini bahwa sebagian ulama Syiah seperti Syaikh Shafiuddin Ardabili, Sayid Ali bin Thawus, Ibnu Fhad Hilli, Syahid Tsani, Syaikh Bahai dan ayahnya Muhammad Taqi Majlisi adalah para Shufi madzhab Imamiyah dan memuji mereka (dan ia membedakan antara para Shufi Syiah dan para Shufi pengikut Ahlusunnah) dan diapun dalam karya-karyanya telah mulai mengetengahkan penafsiran-penafsiran irfani dari hadis-hadis para imam. [28]

Majlisi pada Jabatan Syaikhul slam

Allamah Majlisi dari tahun 1098 pada masa Syah Sulaiman Shafawi di usianya yang ke 61 menggapai kedudukan dan maqam "Syaikhul Islam". Setelah kematian penguasa ini dan pada masa penggantinya, Sultan Husain, Majlisi ditetapkan pada jabatannya sebagai "Syaikhul Islam".[29] Syaikhul Islam pada masa Shafawiyah melakukan beberapa tindakan seperti menerima dan mengambil perpajakan Islam, mengontrol penerapan hukum-hukum syariat dan pengadilan serta mengurus urusan sekolah-sekolah dan masjid-masjid dan juga tempat-tempat ziarah dan menetapkan siapa yang akan menjadi para imam Jum'at dan permasalahan-permasalahan keagamaan negara lainnya.[30]

Kritikan-kritikan terhadap Allamah

Tindakan-tindakan Allamah Majlisi pada jabatan Syaikhul Islamnya pada masa Sultan Husain Shafawi mendapatkan pelbagai reaksi dan pertentangan dari pelbagai cendikiawan dan sejarawan. Sekelompok dari sejarawan selain mengatakan bahwa Allamah memiliki kekuatan yang besar pada tahun-tahun kekuasaaan Sultan Husain, dia juga digambarkan sebagai seorang faqih yang fanatik yang menindas dan menyakiti kelompok-kelompok mazhab kecil. pada priode ini para pengusa Shafawi lebih dari sebelumnya telah dekat dengan para faqih Syiah dan mengangkat serta mendukung kekuatan mereka dalam menghadapi kelompok-kelompok madzhab lainnya seperti Sufisme atau Hukama dan Falasifah. [31]

Pusara Allamah Majlisi di Isfahan (bapak dan anak)

Wafat

Akhirnya Muhammad Baqir Majlisi meninggal dunia di usianya yang ke 73 (sesuai dengan tanggalan hijriah) pada malam ke-27 bulan suci Ramadhan, tahun 1110 H, di kota Esfahan. [32] Agha Jamal Khansari yang melaksanakan salat jenazah di atasnya. [33] dia sesuai wasiatnya, ia dikuburkan di serambi Masjid Jami' Isfahan dan di sisi makam ayahnya.

Catatan Kaki

  1. Amin, A'yānu al-Syiah, jld. 9, hlm. 182; Mudarris TabriziRaihānatu al-Adab, jld. 5, hlm. 196.
  2. Tehrani,al-Dzari'ah, jld. 1, hlm. 151.; Bihārul Anwār,jld. 102, hlm. 105.
  3. Kermansyahi,Mirātu al-Ahwāl jahān nemā, hlm. 122; Bihārul Anwār,jild. 102, hlm. 105-143.
  4. Khadamāt Allamah Majlisi , Maktab Islam, tahun 47, no 7, hlm. 50.
  5. Amin, A'yānu al-Syiah, jld. 9, hlm. 192; Khansari, Raudhāt al-Jannāt, jld. 2, hlm. 119.
  6. Bihārul Anwār, jld. 102, hlm. 105.
  7. Afandi, Riyādh al-Ulam'ā,jld. 5, hlm. 407; Tharimi, Allamah Majlisi, hlm.13.
  8. Tharimi, Allamah Majlisi, hlm.14.
  9. Bihārul Anwār, jld. 102, hlm. 76-83.
  10. Al-Kuna wa al-Alqab, jld.3, hlm. 147; Majlisi,Bihārul Anwār, jld. 102, hlm. 13.
  11. Untuk daftar murid-murid Allamah, lihat: Balaghi, Syarh Ahwal Allamah Majlisi, hlm.24-28.
  12. Tharimi, Allamah Majlisi, hlm.119-120.
  13. Lihat: Tharimi, Allamah Majlisi, hlm.70-71.
  14. Ja'fariyan, Bihar al-Anwar az zaviyeh Negah daeratu al--Ma'arifi, hlm.28-30.
  15. Shafa, Tarikh Adabiyat dar Iran, hlm. Ja'fariyan, Bihar al-Anwar az zaviyeh Negah daeratu al-Ma'arifi, hlm.36-37.
  16. Shafa, Tarikh Adabiyat dar Iran, hlm. Ja'fariyan, Bihar al-Anwar az zaviyeh Negah daeratu al-Ma'arifi, hlm.36-37.
  17. Amin, A'yan al-Syiah, jld.9, hlm.183.
  18. Lihat: Tharimi, Allamah Majlisi, hlm.122-129; Balaghi, syarh Ahwal Allamah Majlisi, hlm.35.
  19. Lihat: Tharimi, Allamah Majlisi, hlm.89-95.
  20. Lihat: 'Ayan al-Syiah, jld.9, hlm.183;Balaghi, Syarh Ahwal Allamah Majlisi, hlm.35-40.
  21. Lihat: Tharimi, Allamah Majlisi, hlm.170-175.
  22. Behesyti, Akhbarigari, hlm.148.
  23. Nashiri, Allamah Majlisi wa Naqd Didgahhas Falsafi, hlm.82-83.
  24. Behesyti, Akhbarigari, hlm.149-152; Fiqhi Zadeh, Allamah Majlisi wa fahme Hadits, hlm.245-249.
  25. Kadivar, Aql wa Din az Negahe Muhaddits wa Hakim, hlm.18-23.
  26. Ja'fariyan, Shafawiyeh dar Ashre Din, Siyasat wa Farhang, jld.2, hlm.589-590.
  27. Tharimi, Allamah Majlisi, hlm.218-219.
  28. Ja'fariyan, Shafawiyeh dar Ashre Din, Siyasat wa Farhang, jld.2, hlm.589-590; Tharimi, Allamah Majlisi, hlm.238-242.
  29. Tharimi, Allamah Majlisi, hlm.17.
  30. Fiqhi Zadeh, Allamah Majlisi wa fahme Hadits, hlm.252.
  31. Matteh, Zavale Sahfavieh va Sughute Esfahan, hlm.311.
  32. Al-Kuna wal Alqāb, jld.3, hlm. 149
  33. Raudhati, hlm.61.

Daftar Pustaka

  • Amin Amili, Sayid Muhsin, A'yān al-Syiah Beirut, Dar al-Ta'āruf lilmathbu'āt.
  • Tehrani, Agha Bujurg, Al-Dzari'ah, Beirut, darul Adwa', 1403 H.
  • Majlisi, Muhammad Baqir, Bihārul Anwār, Beirut, Muassasah al-Wafa', tahun 1403 H.
  • Mudarris, Muhammad Ali, Raihānatu al-Adab Fi Tarajumi al-Ma'rufin bil Kunyat awil Laqab, Khayyām, Tehran, 1369 S.
  • Afandi, Abdullah bin 'Isya, , Riyādh al-Ulama wa Hiyādh al-Fudhala, Khayyām, Qom,
  • Kermansyahi, Agha Ahmad, Mirāt al-Ahwāl jahān nemā, Anshariyan, Qom, 1403 H.
  • Tankabani, Mirza Muhammad, Qashasu al-Ulama
  • Qommi, Abbas, Al-Kuna wal Alqāb Shadr, Tehran.
  • Bahrani, Yusuf bin Ahmad, Lu'lu'u al-Bahrain .
  • Majlisi, Muhammad Baqir, Ainul Hayāt , Jamiah al-Mudarrisin, Qom.
  • Khansari, Muhammad Baqir, Raudhāt al-Jannāt Fi Ahwal al-Ulam'ā Wa al-Sādāt, Esmailiyan, Qom.
  • Nuri, Mirza Husain, Mustadrak al-Wasāil, Alul Bait, Beirut, 1425 H. 1408 H.