Prioritas: b, Kualitas: b
tanpa referensi

Datang Bulan

Dari WikiShia
(Dialihkan dari Menstruasi)
Lompat ke: navigasi, cari

Furu'uddin

Salat

Wajib: Salat JumatSalat IdSalat AyatSalat Mayit


Ibadah-ibadah lainnya
PuasaKhumusZakatHajiJihadAmar Makruf dan Nahi MungkarTawalliTabarri


Hukum-hukum bersuci
WudhuMandiTayammumNajasatMuthahhirat


Hukum-hukum Perdata
PengacaraWasiatGaransiJaminanWarisan


Hukum-hukum Keluarga
PerkawinanPerkawinan TemporerPoligamiTalakMaharMenyusuiJimakKenikmatanMahram


Hukum-hukum Yudisial
Putusan HakimBatasan-batasan hukumQishash


Hukum-hukum Ekonomi
Jual Beli (penjualan)SewaKreditRiba


Hukum-hukum Lain
HijabSedekahNazarTaklidMakanan dan MinumanWakaf


Pranala Terkait
BalighFikihHukum-hukum SyariatBuku Panduan Fatwa-fatwaWajibHaramMustahabMubahMakruh

Datang bulan atau siklus menstruasi ( haid)(bahasa Arab:الحيض), sebuah kondisi dimana darah haid mengalir dari rahim seorang wanita sejak dari masa pubertas hingga menopause, yang biasanya berlangsung selama 5 hingga 7 hari. Selama waktu ini, wanita itu disebut dengan "haid" dan memiliki hukum-hukum fikih khusus, diantaranya, dilarang untuk melakukan hal-hal yang disyaratkan untuk bersuci atau thaharah.

Alquran memperkenalkan darah haid sebagai darah yang merugikan dan dalam situasi ini melarang untuk berhubungan intim. Setelah siklus menstruasi berakhir, mandi wajib harus dilakukan untuk hal-hal tertentu guna melaksanakan sebagian pekerjaan.

Darah Haid

Ada kemungkinan darah yang keluar dari rahim wanita itu berbeda-beda dan hukum-hukum yang berkenaan dengannya pun berbeda-beda pula: Darah keluar di karenakan luka, darah yang keluar karena persalinan (nifas), pendarahan (istihadah) dan darah Menstruasi (haid). Darah haid biasanya berwarna gelap dan kental.

Dengan memperhatikan pada perbedaan hukum darah yang mengalir dari rahim maka tolok ukur, kriteria dan kondisi untuk diagnosis darah haid telah ada dan dijelaskan dalam hukum fikih.

Hukum-Hukum Seorang yang Haid

Alquran menganggap, darah haid itu adalah darah yang merugikan(membahayakan) dan melarang seseorang yang berada dalam kondisi tersebut untuk berhubungan intim. [Catatan 1] Dalam dua buku Wasail al-Syiah dan Mustadrak al-Wasail, telah terkumpul 375 hadis yang membahas tentang hukum dan aturan haid dan dengan demikian, hukum dan ketentuan spesifik haid adalah sebagai berikut:

  • Segala sesuatu yang dilarang (diharamkan) bagi seorang yang junub juga dilarang bagi seorang yang haid, seperti berhenti di dalam masjid, meletakkan sesuatu di dalam masjid, melewati Masjidil Haram dan Masjid al-Nabi, menyentuh nama Tuhan dan ayat-ayat Alquran, melakukan ibadah-ibadah yang membutuhkan kesucian seperti salat, puasa, tawaf dan iktikaf. [1] menggantikan (mengqadha) salat-salat harian tidak wajib bagi seorang yang haid tetapi menggantikan puasa di hari-hari Ramadhan wajib baginya. [2]
  • Dilarang(haram) membaca surah-surah yang memiliki kewajiban bersujud. [3]
  • Haram hukumnya melakukan hubungan badan selama masa haid baik bagi perempuan atau laki-laki dan sebagian besar fukaha meyakini bahwa hal tersebut ada tebusannya(kafarah). [4]
  • Melakukan perceraian pada perempuan yang sedang haid hukumnya adalah batal . [5]
  • Setelah masa haid berakhir, mandi wajib harus dilaksanakan untuk melakukan amalan-amalan ibadah seperti salat dan puasa.

Hal-Hal yang Makruh

Ketika datang bulan, melakukan beberapa hal, hukumnya makruh: [6]

  • Membawa Alquran
  • Membaca Alquran (surah-surah yang ada sujud wajibnya, diharamkan)
  • Memegang pinggiran ayat-ayat Alquran

Hal-Hal yang Mustahab

Dianjurkan, mustahab hukumnya bagi seorang yang haid pada waktu-waktu salat, untuk membersihkan dirinya dari darah dan dengan mengambil wudhu kemudian sibuk untuk berzikir, berdoa dan membaca salawat di tempat dia biasa mendirikan salat. [7]

Mandi Haid

Setelah berakhir masa datang bulan, diwajibkan untuk mandi haid guna melaksanakan peribadatan yang mensyaratkan pada kesucian atau melakukan hal-hal seperti berhenti di dalam masjid yang membutuhkan kesucian dari haid, nifas dan istihadah dan jenabah.[8] Mandi ini seperti mandi junub dan yang membedakannya hanya dalam niatnya saja. Menurut fatwa-fatwa sebagian besar para marja’ taklid, untuk mendirikan salat selain mandi haid juga perlu mengambil wudhu. [9]

Memperlambat Datangnya Haid untuk Berziarah

Segala sesuatu yang dilarang (diharamkan) bagi seorang yang junub juga dilarang bagi seorang perempuan datang bulan. Fatwa dari sekelompok para marja’ taklid [10] adalah tidak diperbolehkan berhenti di tempat-tempat suci(haram) para Imam bagi seorang] yang junub dan haid. Sejumlah dari para peziarah yang pergi ke Karbala, Najaf, Mekah atau Madinah, untuk mempermudah mereka dalam melakukan ibadah dan amalan-amalan lainnya, mereka menunda atau memperlambat datangnya menstruasi mereka dengan menggunakan pil, hal seperti itu tidak akan ada masalah, jika tidak ada bahaya yang signifikan pada kesehatan seseorang. [11]

Perempuan-Perempuan Suci

Dalam sebuah hadis Nabi saw, "Batul" berarti seorang wanita yang tidak melihat darah haid. Dalam hadis ini, Sayidah Maryam dan Sayidah Fatimah sa disebut dengan Batul. [12]

Imam Baqir as, Thahirah adalah salah satu gelar Sayidah Fatimah sa dan itu berarti bahwa seseorang yang diyakini bersih dari setiap folusi dan sama sekali tidak pernah melihat darah haid atau nifas. [Catatan 2]

Hukum Haid di Berbagai Agama

Dalam Agama Zoroaster

Menurut bab ketiga buku Zarathustra, "Shayesh Nashayesh" (layak tidak layak), dalam agama ini, perempuan Haid dinamakan dengan "Dashtan" dan memiliki aturan tersendiri: Jika mereka dalam periode ini kakinya diletakkan di karpet dan bantal, itu semua akan menjadi najis, jika masakan diletakkan tiga langkah darinya maka makanan itu tidak suci. Selama dia dalam kondisi semacam ini, dia tidak diperkenankan tubuhnya menyentuh air dan mencucinya, jika dia mencuci kedua tangannya dengan air, dia berdosa dan ada tebusannya (ada kafarahnya), jika dia melihat matahari atau cahaya lainnya atau melihat binatang berkaki empat dan tanaman atau berbicara dengan suaminya, dia berbuat dosa dan telah memindahkan ketidaksucian kepada mereka, jika pakaian seseorang bersentuhan dengan tubuh perempuan haid, pakaiannya menjadi tidak suci dan mereka harus mencucinya dengan urin sapi, dan lain-lain. [13]

Dalam Agama Yahudi

Orang-orang Yahudi meyakini bahwa menurut Taurat perempuan haid adalah najis dan dikatakan: " Jika seorang perempuan memiliki aliran dan aliran di tubuhnya adalah darah, dia akan tinggal tujuh hari dalam kondisi haid dan siapa saja yang menyentuhnya sampai malam dia akan najis dan atas apa saja dia tidur dalam kondisi haid maka itu akan menjadi najis dan pada apa saja ia duduk, itu juga akan menjadi najis dan siapa saja yang menyentuh tempat tidurnya, ia harus mencuci pakaiannya dan membasuh dirinya dengan air dan hingga malam akan tetap najis... dan jika seorang pria tidur bersamanya dan haidnya ada padanya maka hingga tujuh hari dia akan menjadi najis. "[14]

Catatan Kaki

Daftar Pustaka

  • Taudhih al-Masāil Marāji'. Daftare Intisyarat Islami.
  • Khomeini, Sayid Ruhullah. Tahrir al-Wasilah. Qom: Muassasah Nasyri Islami, 1363 HS.
  • Sahaduq, Muhammad bin Ali. Ilal asy-Syarāyi'. Qom: Maktabah al-Dawari, 1385 H.
  • Qunduzi Hanafi, Sulaiman bin Ibrahim. Yanābi' al-Mawaddah li Dzawi al-Qurba. Qom: Uswah, 1422 H.
  • Majlisi, Muhammad Baqir. Bihār al-Anwwr. Beirut: Ihya' al-Turats al-Arabi, 1403 H.
  • Mazdapur, Katayun. Syayest Nasyayest. Teheran: Muassasah Muthala'at wa Tahqiqat Farhanggi, 1369 HS.
  • Najafi, Muhammad Hasan. Jahwhir al-Kalām. Intisyarat Dāirah al-Ma'ārif Fiqh Islami.