Prioritas: aa, Kualitas: b
tanpa navbox

Masjid Jami'

Dari WikiShia
(Dialihkan dari Masjid A'zham)
Lompat ke: navigasi, cari
Masjid Jami' di Isfahan-Iran

Masjid Jami' (bahasa Arab: المَسْجِد الجامِع) adalah masjid yang biasanya dibangun di tengah kota dan menjadi pusat ibadahو khususnya salat Jumat dan menjadi tempat berbagai aktivitas politik, sosial dan pendidikan. Menurut riwayat, Masjid Jami' lebih suci dan utama dibanding masjid biasa. Karenanya pahala salat dan ibadah yang dilakukan di Masjid Jami' pun lebih besar. Sebagian ulama Syiah berfatwa, selain di empat masjid khusus (Masjidil Haram, Masjid Nabawi, Masjid Kufah, dan Masjid Bashrah), ibadah iktikaf hanya boleh dilakukan di Masjid Jami', mereka tidak membolehkannya dilakukan di masjid biasa.

مسجد الجامع

Alasan Penamaan

Jami' artinya mengumpulkan bagian-bagian (subjek: pengumpul). Pada naskah-nasah Arab istilah Masjid Jami' ditulis dengan dua model susunan kata; washfi (deskriptif: المسجد الجامع) dan idhafi (konstruktif:مسجد الجامع). Menurut sebagian ahli bahasa, misal al-Farahidi, istilah Masjid Jami' dengan bentuk مسجد الجامع itu tidak tepat. Berdasarkan susunan washfi, "masjid jami'" adalah masjid yang mengumpulkan umat guna melakukan sebuah aktivitas, misal salat, khususnya salat Jumat.[1] Sedangkan berdasarkan susunan idhafi, disebut "masjid jami'" karena masjid ini mengumpulkan umat Islam pada waktu tertentu, misal pada hari Jumat, atau untuk melakukan aktivitas tertentu. [2]

Masjid Jami' oleh sebagian kalangan juga disebut dengan masjid jamaah, [3] masjid a'zham, dan masjid Jumat. [4] Sebenarnya Masjid Jami' beda dangan mushalla,[5] masjid kabir (masjid agung), dan masjid a'zham (masjid raya).

Sejarah

Sejarah pembangunan Masjid Jami' bermuara pada Masjid Nabawi yang dibangun oleh Nabi Muhammad saw. Saat itu, karena semakin luasnya kota Madinah serta permintaan kaum Muslimin, Nabi saw mengizinkan mereka membangun masjid lain di pinggiran kota. Masjid demikian disebut masjid lokal. Namun pusat aktivitas ibadah, politik, dan sosial Nabi saw tetap di Masjid Nabawi.[6]

Istilah Masjid Jami' digunakan sejak masa kekhalifahan Umar bin Khattab. Umar memerintahkan para pejabat daerah, di setiap pusat daerah kekuasaannya hanya boleh ada satu masjid jamaah dan salat Jumat tidak boleh dilakukan di kampung-kampung supaya persatuan umat Islam tetap terjaga.[7] Sebagaimana yang diucapkan olehnya [8] dan Imam Shadiq as, saat itu istilah tersebut sudah digunakan. [9] Di masa pemerintahan Imam Ali as, Masjid Kufah disebut dengan Masjid Jami'. [10]

Masjid Jami' Pertama

Masjid Jami' Kufah-Iraq

Masjid pertama dengan sebutan Masjid Jami' dibangun di kota Bashrah dan Kufah. Pada tahun 14 H/635 Utbah bin Gazwan membangun Masjid Kufah dengan bahan batang pohon. [11] Kemudian di tahun 15 atau 18 H/639 Masjid Kufah juga dibangun. [12] Di awal abad pertama Hijriah, banyak daerah lain juga membangun Masjid Jami', misal Mosul (20 H/641), Tikrit, [13] Damaskus, Homs (sekitar 14 H/635), Mesir (21 H/642), [14] Utara Afrika, dan Maroko (55 H/675). [15] Di masa itu, atas perintah Utsman bin Abi al-'Ash, gubernur Umar, di Iran juga dibangun beberapa masjid, di antaranya Masjid Jami' Tuj dekat kota Kazerun. [16]

Tradisi pada abad pertama Hijriah adalah, di tiap kota hanya ada satu Masjid Jami'. Tujuannya supaya persatuan umat dan dukungan mereka terhadap pemerintah menjadi nampak. Seiring bertambahnya masyarakat, sementara masjid tidak mampu menampungnya, para penguasa pun memperluas bangunan masjid utama di berbagai kota. Hingga pertengahan abad ke-2 H, di tiap kota seperti Madinah, Mekah, Kufah, Bagdad, Basrah, Fustat, dan Damaskus, salat Jumat hanya dilakukan di satu tempat.[17] Sejak abad ke-2 H dan setelahnya, di sebagian kota seperti Marw, [18] Bagdad, [19] Mesir, dan Kairo [20] mulai dibangun dua atau beberapa Masjid Jami'.

Keutamaan dan Hukum

Sebagian riwayat menyebutkan, pahala salat di Masjid Jami' lebih besar dibanding di masjid biasa. [21] Menurut riwayat Ahlusunah yang dinukil dari Umar bin Khattab, salat jamaah dan salat sunnah yang dilakukan di Masjid Jami' itu lebih baik dibanding ibadah haji dan umrah sunnah. [22] Setelah Arafah, Masjidil Haram, dan makam suci Ahlulbait as, tempat utama untuk berdoa adalah Masjid Jami'. [23]

Menurut fikih, antara Masjid Jami' dan masjid biasa memiliki perbedaan hukum. Misal, bersumpah di Masjid Jami' berefek lebih besar. [24] Atau jika seseorang berbuat dosa di Masjid Jami, hukumannya lebih berat dibanding di masjid biasa. [25] Adapun perbedaan hukum terpenting antara Masjid Jami' dan masjid biasa itu berkenaan dengan ibadah iktikaf. Sebagian ulama Syiah berfatwa, selain di empat masjid khusus, ibadah iktikaf hanya boleh dilakukan di Masjid Jami', mereka tidak membolehkannya dilakukan di masjid biasa. [26] Ulama yang menfatwakan itu di antaranya adalah, Muhaqiq al-Karaki, [27] Muqaddas Ardabili, [28] Muhaqiq Sabzwari, [29] Sahibul Jawahir, [30] dan Sayid Yazdi. [31] [32] Dalil mereka adalah riwayat-riwayat yang menjelaskan bahwa iktikaf hanya boleh dilakukan di empat masjid khusus dan Masjid Jami'. [33]Sedangkan menurut fatwa Ayatullah Ali Khamenei, dengan niat raja' (berharap ridha Allah swt) iktikaf boleh dilakukan di masjid biasa. [34]

Penamaan Masjid Jami'

Masjid Jami' Umawi di Damaskus-Suriah

Masjid Jami' biasanya dinamai dengan nama-nama khusus. Misal nama kota, orang yang membangun, ulama terkemuka, kelompok, dan lainnya. Mayoritas Masjid Jami' disebut dengan nama kota tempatnya berada. Misal, Masjid Jami' Basrah, Kufah, Isfahan, Ray, Damaskus, Fustat, Kairo, dan lainnya. Sementara di kota yang memiliki Masjid Jami' lebih dari satu biasanya masing-masing memiliki sebutan tersendiri. Misal, di Bagdad Masjid Jami' Mansur al-Abbasi disebut dengan Masjid Jami' Madinah, atau Masjid Jami' Mahdi al-Abbasi lebih dikenal dengan sebutan dengan Masjid Jami' al-Rusafah.[35]

Contoh Masjid Jami' yang dinamai sesuai nama pembangunnya adalah, Masjid Jami' Ibnu Thulun, al-Hakim, al-Mashur, dan al-Sultan di Bagdad. Itu adalah nama-nama amir dan pejabat di masa lalu.[36] Ada juga Masjid Jami' yang dinamai dengan nama rezim, keluarga atau kelompok tertentu. Misal, Masjid Jami' Umayyah di Damaskus. Selain itu kadang nama Masjid Jami' diambil dari nama daerah, pasar, jembatan atau tempat tertentu yang berlokasi dengan masjid tersebut.[37]

Biaya dan Sumber Pendapatan

Pembangunan Masjid Jami' memakan biaya yang sangat besar yang tidak mampu ditanggung oleh warga biasa. Karena itu biasanya pembangunan Masjid Jami' dibiayai oleh pemerintah.[38] Biaya perawatannya pun diambil dari Baitul Mal. Abu Naim Isfahani menyebutkan, hingga masa kekhalifahan Mahdi al-Abbasi, biaya kebutuhan Masjid Jami' Yahudiah dan Masjid Jami' Isfahan masuk dalam daftar belanja Baitul Mal. Itu mencakup biaya gaji pengurus masjid, muazin, karpet, dan penerangan.[39]

Dahulu, biaya Masjid Jami' ditanggung oleh para hartawan dan Baitul Mal. Hal itu sangat bergantung kepada kondisi pribadi tertentu dan pemerintah. Bila terjadi pergeseran politik dan ekonomi tentu berdampak pada masjid. Lambat laun para pembangun Masjid Jami' mewakafkan harta mereka untuk masjid supaya tidak lagi bergantung penuh kepada pribadi tertentu dan pemerintah. Sehingga jika terjadi pergeseran politik dan ekonomi tidak akan berdampak langsung terhadap masjid. [40]

Kepengurusan Masjid Jami'

Mulanya, Masjid Jami' dikelola di bawah pengawasan khalifah atau wakilnya. Khalifah sendiri yang menyampaikan khutbah dan memimpin salat Jumat di Masjid Jami'.[41]Namun kemudian tugas pengawasan dan pelaksanaan salat Jumat diserahkan ke pihak lain. Dirinya hanya hadir pada momen tertentu seperti hari raya Idul Fitri dan Idul Adha.[42] Yang dipercaya khalifah untuk mengelola masjid adalah ulama, hakim, atau menteri. Atas perintah imam dan khatib salat Jumat Masjid Jami' kemudian dijadikan pusat kekhalifahan. [43]

Di masa kekhalifahan Abbasiah para khatib dan imam salat Jumat di setiap daerah kekuasaan ditentukan oleh amir dan pejabat setempat.[44]Penguasa menerbitkan aturan khusus untuk para hakim dan ulama terkait pengelolaan harta wakaf Masjid Jami'.[45]

Pasca kekhalifahan Abbasiah, para imam dan khatib salat Jumat di masjid-masjid penting diangkat oleh sultan atau wakilnya.[46] Di masa kekuasaan Muhammad Ali Pasya, pengawasan Masjid Jami' dipercayakan kepada para ulama. [47]

Bangunan dan Fasilitas

Dahulu Masjid Jami' merupakan ciri khas negeri Islam. Biasanya dibangun di pusat kota berdekatan dengan Darul Imarah dan pasar. Di sebagian kota seperti Damaskus, Fustat, Isfahan, dan Balkh, Masjid Jami' berdiri di antara pasar.[48]Sebagian penulis menilai, bersandingnya Masjid Jami'dan pasar merupakan simbol keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat dalam kehidupan umat Islam.[49]

Masjid Jami' adalah model arsitektur Islam. Tempat azan, menara, serambi, lorong, mimbar, dan mihrab adalah bagian yang kental dengan arsitektur tersebut. Pembangunan menara bermula sejak abad pertama Hijriah.[50] Sebagian Masjid Jami' memiliki unit lain. Misal Masjid Jami' Ibnu Thulun memiliki apotek,[51]Masjid Jami' Sana'a, Kairo, Damaskus,[52] dan Marw memiliki perpustakaan.[53]

Fungsi

Dibanding masjid biasa, nilai lebih Masjid Jami' adalah memiliki berbagai fungsi penting. Di antaranya fungsi politik, administrasi, sosial, dan pendidikan.

Fungsi Politik

Dahulu Masjid Jami' merupakan satu-satunya tempat berkumpulnya pemerintah dan masyarakat. Khalifah atau sultan yang baru naik tahta biasanya menyampaikan pidato perdana resminya di Masjid Jami'. Dulu setelah menerima baiat dari umat, Imam Hasan as menuju ke Masjid Kufah lalu menyampaikan khotbah.[54] Imam Ali as, seusai Perang Jamal memerintahkan rayatnya berkumpul di Masjid Jami' Basrah untuk salat berjamaah selama tiga hari.[55]

Hal serupa juga dilakukan para pejabat daerah. Begitu datang di daerah kekuasaan yang dipimpinnya, mereka menyampaikan pidato pertamanya di Masjid Jami' kota.[56] Di masa-masa sulit, seperti ketika perang, untuk mengobarkan semangat jihad dan merekrut dukungan rakyat, sang khalifah akan mendatangi Masjid Jami' untuk menyampaikan orasinya.[57]

Penguasa masa itu juga menggunakan Masjid Jami' untuk menyampaikan informasi kepada rakyatnya. Di antaranya terkait titah pengangkatan pejabat baru, kabar kemenangan, teks kesepakatan, kabar seputar pemerintahan, [58] pengangkatan hakim pengadilan,[59]dan titah resmi terkait langkah politik pemerintah di bidang mazhab dan agama.[60] Termasuk sebagian acara pelantikan khalifah atau sultan, seperti pemakaian jubah kebesaran juga dilakukan di Masjid Jami'.[61]

Saat terjadi krisis politik dan perubahan sistem pemerintahan, biasanya reaksi pertama muncul dari Masjid Jami'.[62]Banyak sekali tuntutan masyarakat, protes, deklarasi, bahkan gerakan perlawanan terhadap pemerintah disampaikan di Masjid Jami'. [63]

Fungsi Administrasi

Masjid Nabawi, adalah pusat pemerintah Nabi Muhammad saw. Di tempat tersebut urusan administrasi, keuangan dan kehakiman dijalankan sampai terbentuknya Darul Amarah, Darul Khilafah dan kantor-kantor pengadilan yang mengambil alih urusan-urusan adminstrasi tersebut. Namun khusus urusan yudisial tetap dilakukan di masjid-masjid Jami'. Seperti Imam Ali as melakukannya di Masjid Kufah [64], demikian pulan di masjid-masjid Jami' Cordoba, [65] Amr bin Ash [66] menjadikan Basrah sebagai majelis kehakiman. [67]

Selain tempat penyimpanan harta masjid, Masjid Jami'juga pernah menjadi tempat penitipan harta anak yatim. Masjid Jami'Amr bin Ash beberapa waktu juga menjadi tempat penyimpanan baitul mal.[68]

Fungsi Sosial

Masjid Jami'adalah tempat ibadah, perayaan, dan acara duka. Kadang, salat Idul Fitri dan Idul Adha, salat memohon hujan, dan salat jenazah ulama terkemuka atau pejabat tinggi negara juga dilakukan di masjid jami'. [69] Selain itu, warga menggunakannya sebagai tempat acara peringatan hari besar agama seperti malam Qadar. [70]

Di antara fungsi sosial Masjid Jami'adalah sebagai penyalur bantuan bagi kalangan miskin, korban bencana, dan lainnya. [71]

Fungsi Pendidikan

Masjid Jami'adalah lembaga pendidikan Islam tertua. [72] Acara belajar mengajar dan diskusi ilmiah yang dilakukan di Masjid Jami'disebut Halakah dan Majelis.[73]Biasanya di masjid-masjid terkenal seperti Masjid Damaskus, pelajaran yang disampaikan oleh ustad diselenggarakan di tempat khusus yang disebut Zawiah (corner). [74] Di Masjid Jami'Umayyah pernah diadakan halakah ilmiah empat mazhab Sunni. Masing-masing mazhab memiliki zawiah khusus. Selain itu di sana juga terdapat halakah kajian Alquran.[75]Menurut keterangan Ibnu Jauzi, Ibnu Thahir pernah mendikte hadis sebanyak hampir 1000 majelis di Masjid Jami'Naisyabur.[76] Sedangkan di Masjid Jami'Isfahan Abul Qasim Thalhi pernah mendikte pelajaran dalam 3000 majelis.[77]

Pendiktean dan penerbitan syair juga sempat menjadi tradisi di masjid jami'. Da'bal al-Khuzai pernah membacakan kasidah Taiah-nya di Masjid Jami'Qom. [78] Di Masjid Jami'Amr Ash terdapat tempat yang’digunakan untuk acara sastra. Tempat itu dikenal dengan nama Qubbah al-Syu’ara'atau Qubbah al-Syi’r.[79]

Masjid Jami'juga mengadakan kegiatan pendidikan umum yang mengandung nilai-nilai tablig yang disertai dengan wejangan dan arahan. [80] Namun seiring dengan makin merebaknya sekolah di beragai negara Islam, lambat laun aktivitas pendidikan di masjid mulai berkurang.[81]

Aktivitas Pendidikan Imamiah

Masjid Jami' Hakim-Kairo Mesir

Menurut Fayyaz, banyak pemerintahan yang mengawasi aktivitas masjid jami'. Hal itu dapat menghambat banyak aktivitas penting para ulama Imamiah di masjid jami’. Imam Ali as pernah mengadakan halakah pendidikan di Masjid Kufah. Sedangkan Imam Ali Zainal Abidin as, Imam Baqir as dan Imam Shadiq as mengadakannya di Masjid Nabawi. Ulama Syiah pun mengadakan halakah, kajian, dan menerbitkan fatwa di masjid jami'. Saat itu kebanyakan mereka melakukannya dalam kodisi tauriah dan taqiyah. [82] Di masa kekuasaan Bani Buwaih, atas perlindungan mereka, sebagian ulama besar Syiah berhasil mengadakan kajian ilmiah di masjid-masjid jami'. Sebagaimana yang dilakukan Ibnu Uqdah di Masjid Jami'al-Rusafa dan Masjid Jami'Buratsa, ia mengadakan majelis dikte hadis.[83]

Catatan Kaki

  1. Farahidi, al-'Ain, jld. 1, hlm. 239-240
  2. Lih. Raghib, Mufradat, hlm. 202
  3. Kulaini, al-Kafi, jld. 4, hlm. 176; Basawi, al-Ma'rifah wa al-Tarikh, jld. 1, hlm. 149
  4. Nashir Khusru, Safarnameh, hlm. 12, 28, 20, 25, 90
  5. Lih. Ibnu Syabah Namiri, Tarikh al-Madinah al-Munawarah, jld. 1, hlm. 133-143
  6. Lih. Ibnu Syabah Namiri, Tarikh al-Madinah al-Munawarah, jld. 1, hlm. 57-75
  7. Maqrizi, al-Suluk al-Ma'rifah Daul al-Muluk, jld. 2, hlm. 246, dinukil dari Daneshnameh Jahan-e Islami, jld. 1, hlm. 4354
  8. Bahsyal, Tarikh Wasith, hlm. 179
  9. Kulaini, al-Kafi, jld. 2, hlm. 176
  10. Ibnu Babwaih, jld. 2, hlm. 593
  11. Ibnu Qutaibah, al-Ma'arif, hlm. 564
  12. Ibnu Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, Darul Fikr, jld. 7, hlm. 93
  13. Hamu, Mu'jam al-Baldan, jld. 2, hlm. 39
  14. Ibnu Abd al-Hakim, hlm. 16; Maqrizi, al-Suluk al-Ma'rifah Daula al-Muluk, jld. 2, hlm. 246, dinukil dari Daneshnameh Jahan-e Islami, jld. 1, hlm. 4354
  15. Munas, al-Masajid, hlm. 67-68: dinukil dari Daneshnameh Jahan-e Islami, jld. 1, hlm. 4345
  16. Dainuri, Akhbar al-Thawal, hlm. 133
  17. Untuk contoh lih. Ibnu Jauzi, al-Muntazham, jld. 13, hlm. 5-6; Maqqari, Nafh al-Thib, jld. 1, hlm. 374: dinukil dari Daneshnameh Jahan-e Islami, jld. 1, hlm. 4354
  18. Hamu, Mu'jam al-Baldan, jld. 5, hlm. 114
  19. Ibnu Jauzi, al-Muntazham, jld. 13, hlm. 5-6; Ibnu Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, jld. 6, juz 11, hlm 332: dinukil dari Daneshnameh Jahan-e Islami, jld. 1, hlm. 4354
  20. Nashirkhusru, Safarnameh, hlm. 90
  21. Untuk contoh lih. Syahid Awal, al-Bayan, hlm. 136; Muhaqqiq Hilli, al-Mu'tabar fi Syarh al-Muktashar, jld. 2, hlm. 305
  22. Bahsyal, Tarikh Wasith, hlm. 179
  23. Jazairi, al-Tuhfatu al-Saniyah, hlm. 146: dinukil dari Daneshnameh Jahan-e Islami, jld. 1, hlm. 4354
  24. Syaikh Thusi, al-Mabsuth, jld. 8, hlm. 203
  25. Abu Shalih al-Hilbi, al-Kafi fi al-Fiqh, hlm. 420
  26. Lih. Sa'adi, al-Masajid wa Ahkamuha, jld. 2, hlm. 14-25
  27. Karaki, Jami' al-Maqasid, jld. 3, hlm. 98
  28. Irdibili, Majma' al-Faidah, jld. 5, hlm. 365
  29. Sabzwari, Kifayah al-Ahkam, jld. 1, hlm. 271
  30. Najafi, Jawahir al-Kalam, jld. 17, hlm. 170-175
  31. Yazdi, al-'Urwah wa al-Wutsqah, jld. 2, hlm. 248
  32. Untuk lebih detail lih. Sa'adi, al-Masajid wa Ahkamuha, jld. 2, hlm. 14
  33. Kulaini, al-Kafi, jld. 4, hlm. 176; lih. Sa'adi, al-Masajid wa Ahkamuha, jld. 2, hlm. 114-15
  34. Situs informasi kantor Rahbar
  35. Ma'ruf, al-Ta'lim fi al-'Iraq bain al-Qurn al-Khamis wa al-Sabi' al-Hijriyin, hlm. 377: dinukil dari Daneshnameh Jahan-e Islam, jld. 1, hlm. 4354
  36. Ibnu Jauzi, al-Muntazham, jld. 11, hlm. 252
  37. Maqrizi, al-Mawa'idzh wa al-I'tibar, jld. 4, hlm. 3-15
  38. Maqqari, Nafh al-Thib, jld. 1, hln. 347, jld. 2, hlm. 134: dinukil dari Daneshnameh Jahan-e Islami, jld. 1, hlm. 4354
  39. Abu Na'im Isfahani, Dzikr Tarikh Isbahan, jld. 1, hlm. 17-18
  40. Pada beberapa Masjid Jami'; Syanawi, al-Azhar Jami'a wa Jami'ah, jld. 1, hlm. 81-84: dinukil dari Daneshnameh Jahan-e Islam, jld. 1, hlm. 4354
  41. Ibnu Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, jld. 6, juz I, hlm. 196: dinukil dari Daneshnameh Jahan-e Islam, jld. 1, hlm. 4354
  42. Qalqasyandi, Shubh al-A'sya, Kairo, jld. 4, hlm. 39
  43. Ibnu Jauzi, al-Muntadzham, jld. 14, hlm. 383, jld. 15, hlm. 351
  44. Untuk contoh lih. Qalqasyandi, Shubh al-A'sya, Kairo, jld. 10, hlm. 15, 19-20
  45. Ibnu Jauzi, al-Muntadzham, jld. 15, hlm. 108; Qalsqasyandi, Shubh al-A'sya, Kairo, jld. 11, hlm. 262-264
  46. Qalqasyandi, Shubh al-A'sya, Kairo, jld. 11, hlm. 226
  47. Syanawi, al-Azhar Jami'a wa Jami'ah, jld. 1, hlm. 115-116: dinukil dari Daneshnameh Jahan-e Islam, jld. 1, hlm. 4354
  48. Muqaddasi, hlm. 198-199, 392, 408; Nashirkhusru, Safarnameh, hlm. 90
  49. Badekubah Hazawah, Daneshnameh Jahan-e Islam, item Jami', jld. 1, hlm. 4354
  50. Ya'qubi, Tarikh al-Ya'qubi, Dar Shadr, jld. 2, hlm. 468
  51. Maqrizi, al-Mawa'idzh wa al-I'tibar, jld. 4, hlm. 40
  52. 'Awad, hlm. 230-231, 234
  53. Hamu, Mu'jam al-Baldan, jld. 5, hlm. 114
  54. Ya'qubi, Tarikh al-Ya'qubi, Dar Shadr, jld. 2, hlm. 214
  55. Nuri, Mustadrak al-Wasail, jld. 3, hlm. 449
  56. Mabrad, al-Kamil, jld. 1, hlm. 380: dinukil dari Daneshnameh Jahan-e Islam, jld. 1, hlm. 4354
  57. Untuk contoh lih. Ibnu Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, jld. 6, juz 12, hlm. 209: dinukil dari Daneshnameh Jahan-e Islam, jld. 1, hlm. 4354
  58. Syanawi, al-Azhar Jami' wa Jami'ah, jld. 1, hlm. 115
  59. Ibnu Jauzi, al-Muntazham, jld. 15, hlm. 201
  60. Thaha, Abu Sadirah, al-Harakah al-'Ilmiah fi Jami' 'Amru bin al-'Ash fi 'Ashr al-Wiladah, hlm. 170
  61. Ibnu Jauzi, al-Muntazham, jld. 17, hlm. 275
  62. Untuk contoh lih. Ibnu Jauzi, al-Muntazham, jld. 16, hlm. 31-32
  63. Untuk contoh lih. Ibnu Jauzi, al-Muntazham, jld. 14, hlm. 19, jld. 15, hlm. 208
  64. Ibnu Idris al-Hilli, al-Sarair, jld. 2, hlm. 157
  65. Muanas, al-Masajid, hlm. 199: dinukil dari Daneshnameh Jahan-e Islam, jld. 1, hlm. 4354
  66. Thaha Abu Sadirah, al-Harakah al-'Ilmiah fi Jami' 'Amru bin al-'Ash fi 'Ashr al-Wiladah, hlm. 190-192: dinukil dari Daneshnameh Jahan-e Islam, jld. 1, hlm. 4354
  67. Marwardi, al-Ahkam al-Salthaniyah wa al-Wilayah al-Diniyah, hlm. 122: dinukil dari Daneshnameh Jahan-e Islam, jld. 1, hlm. 4354
  68. Thaha Abu Saidarah, al-Harakah al-'Ilmiah fi Jami' 'Amru bin al-'Ash fi 'Ashr al-Wiladah, hlm. 28-30: dinukil dari Daneshnameh Jahan-e Islam, jld. 1, hlm. 4354
  69. Ibnu Jauzi, al-Muntazham, jld. 15, hlm. 201; untuk contoh penyelanggaran salat mayit di masjid-majis Jami' lih. Ibnu Jauzi, al-Muntazham, jld. 16, hlm. 134, 170, jld. 17, hlm. 96, 155, jld. 18, hlm. 157
  70. Ibnu Jauzi, al-Muntazham, jld. 15, hlm. 44
  71. Muanas, al-Masajid, hlm. 38-39
  72. Abyadh, Tanzhim al-Ta'lim fi al-Masajid al-Jami' bi Dimasyq qabl Nasywa al-Madaris, hlm. 198-210: dinukil dari Daneshnameh Jahan-e Islam, jld. 1, hlm. 4354
  73. Munir al-Din, Dur al-Majalis al-Islamiyah, Muassasah wa Mamarisat, hlm. 289-301
  74. Maqrizi, al-Suluk al-Ma'rifah Daul al-Muluk, jld. 2, hlm. 255-256; dinukil dari Daneshnameh Jahan-e Islam, jld. 1, hlm. 4354
  75. Ibnu Jabir, Rihlah Ibnu Jabir, Dar wa Maktabah al-Hilal, hlm. 214-220
  76. Ibnu Jauzi, al-Muntazham, jld. 17, hlm. 337
  77. Ibnu Jauzi, al-Muntazham, jld. 18, hlm. 10
  78. Ibnu Babwaih, jld. 1, hlm. 296
  79. Khatib Baghdadi, Tarikh Baghdad, Dar al-'Arab al-Islami, jld. 9, hlm. 157
  80. Ibnu Jauzi, al-Muntazham, jld. 17, hlm. 130-132
  81. Badkubah Hazwah, Daneshnameh Jahan-e Islam, item Jami', jld. 1, hlm. 4354
  82. Fayyadh, Tarikh al-Tarbiyah 'inda al-Imamiyah wa Aslafihim min al-Syiah bain 'Ahadi al-Shadiq wa al-Thusi, jld. 76
  83. Khatib Baghadadi, Dar al-'Arab al-Islami, jld. 6, hlm. 147-159

Daftar Pustaka

  • Abu Na'im Isfahani, Ahmad bin Abdullah. Dzikru Akhbār Ishbahān. Leiden (Belanda) : 1934.
  • Abu Shalah Halabi, Taqiyyuddin bin Najmuddin. Al-Kāfī fī al-Fiqh. Diedit oleh Ridha Ustadi. Isfahan: Perpustakaan Umum Imam Amirul Mukminin Alaihi Salam, 1403 H.
  • Abyadh, Malakeh. Tanzhīm at-Ta'līm fī al-Masjid al-Jāmi' bi Dimasyq Qabla Nusyū` al-Madāris. Majalah At-Turats asy-Sya'bi. No. 22, 1406 H.
  • Bahsyal, Aslam bin Sahl. Tārīkh Wāsith. Beirut: 'Alam al-Kitab, 1406 H.
  • Dinawari Abu Hunaifah, Ahmad bin Daud. Al-Akhbār at-Thiwāl. Riset 'Abdul Mun'im Amir diedit Jamaludin Syayyal. Qom: Mansyurat Radhi, 1368 HS (1989).
  • Dinawari, Ibnu Qutaibah. Al-Ma'ārif. Riset Tsarwat 'Okasyah. Kairo: Al-Hai`ah al-Mishriyah al-'Ammah lil Kitab, 1992.
  • Farahidi, Khalil bin Ahmad. Al-'Ain. Qom: Nasyr-e Hijrat, 1409 H.
  • Fasawi, Yaqub bin Sufyan. Al-Ma'rifah wa at-Tārīkh. Riset Akram Dhiya` al-Umari. Beirut: Muassisah ar-Risalah, 1401 H.
  • Fayyadh, Abdullah. Tārīkh at-Tarbiyyah 'inda al-Imamiyyah wa Aslāfihim min asy-Syi'ah baina 'Ahdai ash-Shādiq wa at-Thūsī. Beirut: 1983.
  • Hamawi Bagdadi, Yaqut. Mu'jam al-Buldan. Beirut: dar ash-Shadir, 1995.
  • Ibnu Abdul Hakam. Futūh Mishr wa al-Maghrib. Maktabah ats-Tsiqafiyyah ad-Diniyyah, 1415 H.
  • Ibnu Idris Hilli, Muhammad bin Manshur. As-Sarāir al-Hāwī li Tahrīr al-Fatāwi. Qom: Daftar Entesyarat-e Islami, 1410 H.
  • Ibnu Jauzi, Abdurrahman bin Ali. Al-Muntazham fī Tārīkh al-Umam wa al-Mulūk. Riset Muhammad Abdul Qodir 'Atha. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1992.
  • Ibnu Jubair, Muhammad bin Ahmad. Rihlah Ibn Jubair. Beirut: Dar wa Maktabah al-Hilal.
  • Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. Al-Bidāyah wa an-Nihāyah. Beirut: Dar al-Fikr, 1407 H.
  • Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. Al-Bidāyah wa an-Nihāyah. Diedit oleh Ahmad Abu Mulhim dkk. Beirut: 1407 H.
  • Ibnu Syubbah an-Namiri, Umar bin Syubbah. Tārīkh al-Madīnah al-Munawwarah. Qom: Dar al-Fikr, 1368 HS (1989).
  • Jazairi, Abdullah. At-Tuhfah as-Sanniyyah fī Syarh Nukhbah al-Muhsiniyyah. Manuskrip Astan-e Quds Razawi. No. 2266.
  • Karaki, Ali bin Husain. Jāmi' al-Maqāshid fī Syarh al-Qawāid. Qom: Muassisah Alul Bait, 1414 H.
  • Khatib Baghdadi, Ahmad bin Ali. Tārīkh Baghdād. Riset Basyar Awwad. Dar al-Arab al-Islami.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. Kāfī. Riset Ali Akbar Ghaffari dan Muhammad Akhundi. Tehran: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1407 H.
  • Maqrizi, Ahmad bin Ali. As-Sulūk li Ma'rifati Duwal al-Mulūk. Riset Muhammad Abdul Qadir 'Atha. Beirut: 1997.
  • Maqrizi, Taqi ad-Din. Al-Mawā'idz wa al-I'tibār. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1418 H.
  • Ma'ruf, Basyar 'Awwad. Muassisāt at-Ta'līm fi al-Iraq baina al-Qarn al-Khāmis wa as-Sābi' al-Hijriyain. Riset Dar at-Tarbiyyah al-Arabiyyah al-Islamiyyah: al-Muassisat wa al-Mumarisat. Jld. 2. Oman: Muassisah Alul Bait, 1989 .
  • Mawardi, Alibin Muhammad. Al-Ahkām as-Sulthāniyyah wa al-Wilāyāt ad-Dīniyyah. 1409 H.
  • Mu`nis, Husain. Al-Masājid. Kuwait: 1401 H.
  • Mubarrad, Muhammad bin Yazid. Al-Kāmil. Riset Muhammad Abul Fadl Ibrahim dan Sayid Syahhata. Kairo:1956.
  • Muhaqqiq Hilli, Ja'far bin Hasan. Al-Mu'tabar fī Syarh al-Mukhtashar. Diedit oleh Sayid Mahdi Syamsuddin dkk. Qom: Muassisah Sayyid asy-Syuhada, 1407 H.
  • Muniruddin, Ahmad. Daurul Majālis al-Islāmiyyah. Muassisat wa Mumarisat.
  • Najafi, Muhammad Hasan. Jawāhir al-Kalām fī Syarh Syarāyi al-Islām. Diedit oleh Abbas Quchani dan Ali Akhundi. Beirut: Daru Ihya' at-Turats al-'Arabi, 1404 H.
  • Nashir Khusru. Safar Nāmeh. Tehran: Entesyrat-e Zuwwar, 1381 HS(2002).
  • Nuri, Husain bin Muhammad Taqi. Mustadrak al-Wasāil. Qom: Muassisah Alul Bait (as), 1408 H.
  • Qalqasyandi, Ahmad bin Ali. Shub al-A'syā fī Shinā'ah al-Insya` . Kairo: Wizarah ats-Tsaqafah wa al-Irsyad al-Qoumi al-Muassisah al-Mishriyyah al-'Ammah.
  • Raghib Isfahani, Husain bin Muhammad. Al-Mufradāt fī Gharīb al-Qur'ān. Riset Shofwan 'Adnan ad-Dawudi. Beirut: Dar al-Qalam. Damaskus: Ad- Dar asy-Syamiyah, 1412 H.
  • Sabziwari, Muhammad Baqir. Kifāyah al-Ahkām. Qom: Daftar-e Entesyarat-e Islami, 1423 H.
  • Sa'idi, Muhammad. Al-masājid wa Ahkāmuhā fī Asy-Syarī'ah al-Islāmiyyah. Tehran: Al-Majma' al-'Alami li at-Taqrib Baina al-Madzahib al-Islamiyah, 1430 H.
  • Syahid Awwal, Muhammad bin Makki. Al-Bayān. Diedit oleh Muhammad Hasun. Qom: 1412 H.
  • Syannawi, Abdul Aziz Muhammad. Al-Azhar Jāmi'an wa Jāmiah. Kairo: 1983-1984.
  • Thaha, Abu Sadirah. Al-Harakah al-Ilmiyyah fī Jāmi' 'Amr bin ' Āsh fī 'Ashr al-Wiladah 21-245 H. Kairo: 1410 H.
  • Thusi, Muhammad bin al-Hasan. Al-Mabsūth. Riset Sayid Muhammad Taqi, Kasyfi. Tehran: al-Maktabah al-Murtadhawiyyah, 1387 H.
  • Ya'qubi, Ahmad bin Ya'qub. Tārīkh al-Ya'qubī. Beirut: Dar ash-Shadir.
  • Yazdi, Sayyid Kazhim Thabathabai. Al-'Urwah al-Wutsqā fīmā Ta'ummu bihi al-Balwā . Beirut: Muassisah al-A'lami li al-Mathbu'at, 1409 H.