Mandi Jumat

Dari Wiki Shia
Lompat ke: navigasi, cari

Mandi Jumat (bahasa Arab: غسل الجمعة) adalah salah satu mandi mustahab yang paling penting (dianjurkan) untuk dilakukan pada hari jumat.

mengenai pentingnya mandi ini,Nabi yang mulia saw bersabda: "Jangan pernah meninggalkan mandi pada hari Jumat, meskipun kamu harus menghemat uang dan makanan dan menghabiskannya untuk mandi, karena mandi Jumat termasuk salah satu amalan mustahab yang paling agung."

Waktu pelaksanaannya dimulai dari azan subuh hari Jumat sampai waktu zuhur.[1] Bisa juga diqadha (diganti) setelah zuhur pada hari Jumat atau hari Sabtu.

Menurut fatwa sebagian besar marja taklid bahwa mandi ini (mandi jumat) tidak mengandung wudhu, oleh karena itu ketika ingin melaksanakan salat, maka harus terlebih dahulu berwudhu.

Nilai Mandi Jumat

Hukum Mandi Jumat adalah mustahab muakkad (paling dianjurkan) [2] dan bahkan sebagian fukaha dimasa lampau menganggap bahwa mandi jumat adalah wajib. [3] tentang pentingnya mandi jumat, Nabi yang mulia saw bersabda: "Jangan pernah meninggalkan mandi pada hari Jumat, meskipun kamu harus menghemat uang dan makanan dan menghabiskannya untuk mandi, karena mandi Jumat termasuk salah satu amalan mustahab yang paling agung."[4] Dan setiap kali Imam Ali as hendak memarahi seseorang, beliau berkata: "Kamu bahkan lebih lemah dari orang yang meninggalkan mandi Jumat. "[5]

Masyhur dikatakan bahwa jika seseorang tidak meninggalkan mandi Jumat selama empat puluh minggu, maka di dalam kubur nanti tubuhnya akan tetap utuh, namun pandangan ini tidak memiliki sandaran riwayat. [6]

Waktu Mandi Jumat

Waktu pelaksanaan mandi Jumat dimulai dari azan subuh hari Jumat sampai zuhur (siang) [7] dan waktu terbaik untuk melaksankannya adalah ketika mendekati waktu zuhur. [8] Jika seseorang memperkirakan bahwa ia tidak akan mendapatkan air pada hari Jumat maka ia bisa melaksanakan mandi pada hari Kamis.[9] Jika ia tidak melaksanakan mandi Jumat sampai azan zuhur, ia bisa mengqadhanya (menggantinya) setelah matahari tergelincir (setelah zuhur) atau menggantinya di hari Sabtu. Sebagian mengatakan: Jika mandi Jumat dilakukan setelah matahari tergelincir di hari Jumat, ikhtiyatnya (hati-hatinya) adalah dalam melaksanakannya ia tidak berniat adaan (dikerjakan diwaktunya) dan qadhaan (dikerjakan diluar waktunya). [10]

Cara Melakukan Mandi Jumat

Cara melakukan mandi Jumat sama dengan mandi-mandi lainnya yaitu dengan dua cara yaitu tartibi (berurutan) dan irtimasi (menceburkan seluruh badan kedalam air). [11]

Mandi jumat tidak mengandung Wudhu

Menurut fatwa sebagian besar para marja' Taklid bahwa mandi Jumat tidak mengandung wudhu, oleh karena itu, ketika ingin melaksanakansalat maka perlu lagi berwudhu. [12] [13]

ketika selesai melaksanakan mandi Jumat, kemudian keluar hadas (sesuatu yang membatalkan wudhu atau mandi) maka dia tidak perlu mengulang dan bahkan tidak disarankan untuk mengulanginya. [14]

Doa Mandi Jumat

Dianjurkan membaca doa ini ketika mandi Jumat: «‌أشْهَدُ أنْ لا إِلهَ إلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لا شَریک لَهُ وَأنَّ مُحَمَّداً عَبْدُه وَرَسوُلُه. اَلّلهُمَّ صَلِّ عَلی مُحَمَّد وَآلِ مُحَمَّد وَاجْعَلْنی مِنَ التَّوَّابینَ وَاجْعِلْنی مِنَ الْمُتَطَهِّرین» Saya bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah yang Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya dan saya bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah hamba-Nya dan rasul-Nya. Semoga Tuhan memberkati Nabi Muhammad saw dan keluarga Muhammad dan jadikanlah saya termasuk dari orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah saya termasuk dari orang-orang yang bersuci.[15]

Catatan Kaki

  1. Pendapat para ayatullah uzma, Imam Khomaini, Rahbar, Makarim Syirazi, Syaikh Bahjat, Wahid Khurasani, Syaikh Khui sampai zuhur dan ayatullah Sistani sampai matahari terbenam.
  2. Al-Mu’tabar, jld.1, hlm.353; Tadzkirah al-Fuqahā, jld.2, hlm.137-138; Allamah al-Hilli, Mukhtalaf al-Syiah, jld.1, hlm.318-319.
  3. Al-Hidāyah, hlm.102; al-Muqni’, hlm.144.
  4. Al-Majlisi, Bihār al-Anwār, jld.18, hlm.129.
  5. Ilal al-syarayi’, jld.2, hlm.285.
  6. Situs Media Informasi Hadis Syiah
  7. Kifāyah al-Ahkām, jld.1, hlm.38; Jawāhir al-Kalām, jld.5, hlm.7-8.
  8. Jawahir al-Kalam, jld.5, hlm.13.
  9. Jawāhir al-Kalām, jld.5, hlm.15.
  10. Mishbāh al-Fakih, jld.6, hlm.14; al-'Urwah al-Wutsqa, jld.2, hlm.143.
  11. masalah 530
  12. Para ayatullah uzma, Sistani, Makarim Syirazi, Ayatullah Khui, Tabrizi, Wahid Khurasani: Dapat melaksanakan salat dengan mandi ini, namun mustahab untuk berwudhu.
  13. Mukhtalaf al-Syiah, jld.1, hlm.318-339.
  14. Al-'Urwah al-Wutsqa, jld.2, hlm.147; Mausu’ah al-Khui, jld.10, hlm.34.
  15. Al-'Urwah al-Wutsqa, jld.2, hlm.145.

Daftar Pustaka

  • Tahrir al-Ahkām, Allamah al-Hilli, Muassasah al-Imam al-Shadiq as, Qum.
  • Al-Hadāiq al-Nādhirah, Yusuf Bahrani, Muassasah al-Nasyr al-Islami, Qum.
  • Jawāhir al-Kalām, Muhammad Hasan Najafi, Dar Ihya al-Turast, Beirut.
  • Riyādh al-Masāil, sayid Ali Thabathabai, Muassasah al-Nasyr al-Islami, Qum.
  • Al-‘Urwah al-Wutsqa, Sayid Muhammad Kazim Thabathabai Yazdi, Muassasah al-Nasyr al-Islami, Qum.
  • Ghunyah al-Nuzu’, Sayid Hamzah bin Ali bin Zauhrah al-Halabi, Muassasah al-Imam al-Shadiq as, Qum.
  • Al-Mukhtashar al-Nafi’, Muhaqqiq al-Hilli, Darul Adhwa’, Beirut.
  • Mukhtalaf al-Syiah, Allamah al-Hilli, Maktab al-A’lam al-Islami, Qum.
  • Madārik al-Ahkām, Sayid Muhamamd bin Ali al-Musawi al-Amili, Muassasah Alulbait li Ihya al-Thurast, Qum.
  • Mustamsak al-‘Urwah, Sayid Muhsin Thabathabai al-Hakim, Dar Ihya al-Turast al-Arabi, Beirut.
  • Mustanad al-Syiah, Ahmad bin Muhammad Mahdi Naraqi, Muassasah Alulbait li Ihya al-Thurast, Masyhad.
  • Mishbāh al-Faqih, Agha Ridha bin Muhamamd Hadi Hamadani, Muassasah al-Nasyr al-Islami.
  • Mishbāh al-Huda, Muhamamd Taqi Amuli, Firdausi, Tehran.
  • Mausu’ah al-Khui, Sayid Abul Qasim Khui, Muasasah al-Khui al-Islamiyah.
  • Muhadzab al-Ahkām, Sayid Abdul A‘la Sabzewari, Muassasah al-Manar, Qum.
  • Al-Nihāyah, Muhamamd bin al-Hasan al-Thusi, Dar al-Kutub al-Arabi, Beirut.