tanpa navbox
tanpa alih

Katsir al-Syak

Dari WikiShia
Lompat ke: navigasi, cari


Katsir al-Syak (bahasa Arab: كثير الشك, syak yang berlebihan) adalah istilah fikih yang bermakna orang-orang yang menurut pandangan masyarakat banyak ragu (syak) dalam melaksanakan amalan-amalan ibadah keagamaannya. Sebagian marja' Taklid menjelaskan ciri-ciri untuk menentukan sikap dalam menghadapi katsir al-syak. Dalam sebagian riwayat, perbuatan katsir al-syak dinisbatkan kepada setan dan pengikutan terhadap bentuk syak ini adalah merupakan perbuatan buruk. Dalam fikih Islam katsir al-syak memiliki hukum-hukum khusus dan sudah seharusnya supaya tidak memperhatikan syak yang menimpa dirinya.

Definisi

Yang dimaksud dengan syak adalah setara antara dua perkara (50 persen, 50 persen). Oleh itu syak berbeda dengan dzan (dugaan). Terdapat ahkam tersendiri dalam pembahasan tentang dugaan (dzan) meskipun sebagiannya seperti hukum yang ada pada keadaan syak. [1]

Ciri-ciri Katsir al-Syak

Sebagian fukaha menuturkan bahwa parameter katsir al-syak adalah urf masyarakat (penilaian masyarakat setempat dan pada masa tertentu). Artinya perilaku seseorang dalam syak yang menimpanya sedemikian sehingga telah melebihi ukuran kebiasaan orang-orang. [2] Sebagian ulama juga menjelaskan ciri-ciri yang lain dari katsir al-syak seperti syak dalam tiga salat secara berturut-turut atau tiga kali syak dalam satu salat. [3] [4]

Hukum Fikih bagi Katsir al-Syak

Berdasarkan kaedah-kaedah fikih (qawaid fiqhi) “la syakka li katsir al-syak” maka seseorang yang mengalami syak yang berlebihan, tidak boleh mengikuti syak yang menimpanya. Dalam keadaan ini, sangkaannya yang telah melakukan hal-hal yang meragukan dan apabila pelaksanaan tindakan itu menyebabkan batilnya suatu amalam, maka ia harus menganggap bahwa ia tidak melakukan hal-hal yang meragukan itu. Misalnya apabila ia syak apakah telah ruku’ ataukah belum, maka ia harus menganggap bahwa telah melakukan ruku’dan apabila syak bahwa ia melakukan sekali atau dua kali ruku’ maka ia harus menganggap sekali melakukan ruku’ dan salatnya adalah benar. [5] Sebagian para fuqaha menilai bahwa kaedah ini hanya berlaku khusus dalam salat saja. [6]

Mengenai bahwa apabila seseorang tertimpa katsir al-syak dalam keadaan-keadaan tertentu saja, maka dalam hal-hal yang lainnya apakah ia juga akan tergolong menjadi katsir syak ataukah tidak, maka dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat diantara para fuqaha. [7] Katsir al-syak yang tidak mengetahui bahwa keadaan yang menimpanya telah hilang dari dirinya, maka ia harus menilai bahwa dirinya masih termasuk orang-orang yang terkena katsir al-syak dan mengamalkan ahkam bagi orang-orang yang tertimpa katsir al-syak. [8] Sebagian marja’ taklid mengharamkan memberikan perhatian kepada was was dan syak yang berlebihan. [9]

Sebagian Kaedah-kaedah Fikih

Dalam fikih Syiah terdapat aturan-aturan dalam syak yang merupakan jalan keluar bagi orang-orang yang terkena katsir al-syak. Di antara kaedah-kaedah itu adalah:

Kaedah Firagh

Berdasarkan kaedah ini, apabila seseorang telah menyelesaikan suatu pekerjaan kemudian ia syak apakah telah melaksanakannya dengan benar dan telah selesai mengerjakannya, maka ia tidak boleh memperhatikan dan mempedulikan syak yang menimpanya misalnya apabila ia telah menyelesaikan shalat kemudian ragu apakah sudah membaca surah a-Ikhlas dengan benar ataukah sudah ruku’ ataukah belum, maka satat yang dilakukannya adalah benar dan tidak mempedulikan syak yang menimpanya. [10]

Kaidah Tajawuz

Berdasarkan kaidah tajawuz yaitu apabila seseorang tertimpa keraguan sebelum menyelesaikan suatu amalan maka jangan memperhatikan jenis syak ini dan menilai bahwa tindakan yang telah dilakukan adalah syah. Misalnya apabila seseorang sedang ruku’ kemudian terserang syak bahwa apakah benar ataukah tidak dalam membaca surah Al-Fatihah, atau misalnya dalam sujud ia syak apakah telah ruku’ ataukah belum maka ia tidak boleh memberi perhatian kepada syak jenis ini dan tetap melanjutkan untuk shalat. [11]

Syak dalam Riwayat

Dalam sebuah hadis dari Imam Shadiq as dijelaskan tentang kesenangan setan apabila manusia menuruti perbuatan syak ini. Syak yang berlebihan dinilai sebagai upaya untuk mengikuti langkah-langkah setan dimana hasil dari pengikutan ini akan menambah ketamakan syetan kepada orang-orang yang tertimpa penyakit syak dan setan biasa berlaku tamak kepada ibadah kaum mukmin. "[Note 1]

Perbedaan antara Was-was dan Katsir al-Syak

Sebagian orang meyakini adanya perbedaan antara katsir al-syak dan was-was. Was-was adalah ia melakukan suatu amalan tertentu dan menganggap bahwa amalannya itu tidak benar namun katsir al-syak tidak mengetahui apakah ia sudah melakukan amalan tertentu ataukah belum. Hukum syar’i pada kedua kondisi ini adalah sama dan tidak seharusnya memperhatikan keraguan yang menimpanya. [12] Terdapat banyak cara untuk menyembuhkan penyakit was-was. [13] [14]

Catatan Kaki

  1. Jawāhir al-Kalām, jld. 12, hlm. 362-365.
  2. Mustanad al-Urwah (Solat), jld. 7, hlm. 17.
  3. Al-Urwah al-Wutsqā, jld. 3, hlm. 308.
  4. Risalah Taudhih al-Masāil Marāji’, masalah 1184.
  5. Farhang Fiqh Muthābiq Madzhab Ahlul Bayt, jld. 4, hlm. 712-720.
  6. Al-Qawāid al-Fiqhiyyah, jld. 2, hlm. 355-356.
  7. Al-Urwah al-Wutsqā, jld. 3, hlm. 306-307.
  8. Al-Urwah al-Wutsqa, jld. 3, hlm. 308.
  9. Site Ayatullah Madhahiri
  10. Farhang Tasyrihi Ishtilāhāt Ushul, Wilāyi, Isa, hlm. 261.
  11. Farhang Tasyrihi Istilāhāt Ushul, Wilāyi, Isa, hlm. 233.
  12. Madrasah Faqāhat.
  13. Site Ayatullah Madhahiri
  14. Site Hauzah
  1. Kāfi, cet. Dar al-Hadist, لاتُعَوِّدُوا الْخَبِیثَ مِنْ أَنْفُسِكُمْ بِنَقْضِ الصَّلَاةِ؛ فَتُطْمِعُوهُ؛ فَإِنَّ الشَّیطَانَ خَبِیثٌ یعْتَادُ لِمَا عُوِّد Kafi, cet. Dar al-Hadist, jld. 6, hlm. 278.

Daftar Pustaka

  • Jawāhir al-Kalām fi Syarah Syarāyi’ al-Islām, Muhammad Hasan Najafi (w. 1266 H), cet. 7, Beirut, Dar Ihya al-Tsurats al-Arabi.
  • Mustanad al-Urwah al-Wutsqā, Taqrirat Ayatullah Khui, (1413 H), Murtadha Burujerdi, Qum, Madrasah Dar al-Ilm, t.t.
  • Urwah al-Wutsqā, Sayyid Muhammad Kadzim Thabathabai Yazdi, Muasasah al-Nasyar al-Islami, Qum.
  • Taudhih al-Masāil Marāji’, Daftar Intisyarat Islami.
  • Farhang Fiqh Farsi, Dibawah pengawasan Ayatullah Sayid Mahmud Syahrudi, Intisyarat Islami.
  • Farhang Tasyrihi Istilāhāt Ushul, Isa Wilayi, Nasyar Nei, Tehran, 1374 S.
  • Kāfi, Muhammad bin Ya’qub Kulaini, Intisyarat Dar al-Hadits.