Prioritas: c, Kualitas: c
tanpa infobox
tanpa navbox

Hamzah Fansuri

Dari WikiShia
Lompat ke: navigasi, cari
Makam Hamzah Fansuri di Desa Oboh Aceh

Hamzah Fansuri (Bahasa Arab:حمزه فَنْصوري) adalah seorang tokoh sufi dan sastrawan bermazhab Syiah dari Indonesia yang hidup pada abad ke-10 H/16 M. Ia lahir di Barus, Sumatra Utara dan semasa hidupnya aktif menyebarkan tasawuf dan ajaran-ajaran para arif di Indonesia.

Biografi

Tidak terdapat banyak literatur mengenai biografinya, namun yang pasti ia pernah melakukan safar ke Hijaz, Suriah dan Irak. Ia mengajar di pusat-pusat pendidikan ke-Islaman ternama seperti Mekah, Madinah, Baitul Maqdis dan Baghdad. Setelah kembali ke negaranya ia menempati posisi pemberi fatwa (mufti). [1]

Tabligh

Meskipun Islam telah diperkenalkan ke bangsa Melayu pada abad ke-6 Hijriah/12 M, namun tidak dijelaskan mengenai silsilah khusus di sana. Hamzah Fansuri adalah tokoh sufi pertama kali yang menyebarkan ajaran tasawuf di kawasan itu.[2] Sepertinya ia merupakan bagian dari aliran Qadiriyah dan telah bergabung dalam aliran ini semenjak ia di Baghdad sebelum kembali ke Aceh. [3]

Hamzah Fansuri adalah seorang penulis produktif yang memiliki pengaruh terhadap corak pemikiran dan akidah masyarakat pada masa kehidupannya. Dalam Irfan Teoritis ia terpengaruh Muhyiddin Arabi dan pengikutnya, Abdul Karim Jili. Karya-karya yang ditulisnya juga menggunakan referensi-referensi seperti Ghazali, Ibnu Arabi, Maulawi dan Jami. [4] Nampaknya Fansuri memiliki kemampuan bahasa Arab dan Persia. [5]

Murid-murid Terkemuka

Syamsuddin Sumatrani (w. 1039/1629) adalah murid terkemuka Hamzah Fansuri. Hamzah Fansuri dan Syamsuddin Sumatrani adalah dua ulama terkemuka yang menyebarkan Islam Irfani di kawasan tersebut. [6] Tafsir mistisnya tidak hanya berkembang di Aceh, namun tersebar di kawasan Melayu dan mendapat perhatian dan sambutan yang meluas dari masyarakat dan hal ini mengundang protes dari Nuruddin ar-Raniri dan Abdur Rauf Singkili. [7]

Nuruddin ar-Raniri memerintahkan untuk membakar kitab-kitab karya Hamzah Fansuri. [8] Namun Hamzah Fansuri tetap saja menegaskan tentang pentingnya keterkaitan antara irfan dan syariat. Ia menilai bahwa keduanya merupakan pengalaman irfan yang khusus. Hamzah Fansuri dalam kitabnya Syarab al-'Asyiqin (Minuman Para Pecinta) menggunakan perumpamaan perahu untuk menggambarkan keterkaitan antara syari'at, tariqat dan hakekat. Ia berkata bahwa syariat seperti perahu, tariqat geladaknya, hakekat adalah muatannya dan ma'rifat adalah hasil dari barang yang diperdagangkan. Jika nakhoda tidak melaksanakan tugasnya dengan benar, pastilah perahu akan karam, demikian juga dagangan dan semua barang yang ada akan tenggelam [9]

Karya-karya

Karya-karya Hamzah Fansuri pada umumnya berisi tentang syarah dan tafsir Ibnu Arabi. [10] Buah pemikirannya dalam hal tasawuf teoritis terbagi menjadi empat (syari'at, thariqat, hakikat, dan ma'rifat), pengertian wujud, sifat-sifat Ilahi dan sisi-sisi irfani. [11] Asrar al-'Arifin (Rahasia-rahasia Para Arif). Kitab al-Muntaha adalah di antara karya-karyanya. [12] Menurut pendapat Naqib al-'Athas, Hamzah Fansuri adalah ulama pertama kali yang menjelaskan tentang masalah akidah dan pemikiran-pemikiran yang argumentatif dan sistematis. Oleh itulah, padanya disematkan "Sang Pemula Puisi Indonesia". [13]

Pujangga

Pola penulisan puisi Hamzah Fansuri bercirikan puisi empat baris dengan pola rima akhir "a-a-a-a". Hamzah Fansuri memiliki karya-karya dalam bidang syair. Winasd dan Naqib Athas percaya bahwa genre syair ini adalah empat baris pertama kali digunakan oleh Hamzah Fansuri dan ia adalah orang pertama kali yang melahirkan produk karya sastra berupa sastra irfani Melayu. [14] Pikiran irfannya ia tuangkan dan ia simbolkan dalam bentuk syair. Diantaranya syairnya adalah penggambarannya tentang perjalanan ruh manusia untuk berjumpa dengan Allah swt. Untuk tujuan ini, ia menggunakan perumpamaan seperti perahu. Gerakan perahu ini menunjukkan perjalanan ruh manusia kepada Sang Khaliq. [15]

Penggunaan gambar, metafora dan perumpamaan yang ia gunakan pada hari-hari gembira menyebabkan pengaruh yang signifikan syair Hamzah Fansuri pada karya sastra Melayu. Syair-syair Hamzah Fansuri adalah sumber inspirasi dan refleksi ide-ide Hamzah Fansuri yang nampak dalam syair-syair baru Melayu (baik di Indonesia maupun Malaysia). [16]

Catatan Kaki

  1. Azyumardi Azra, 1997, hlm. 167; Azyumardi Azra, 1999, 672.
  2. Azumardi Azra, 1997, hlm. 168.
  3. Silahkan lihat: Azyumardi Azra, 1999, hlm. 672.
  4. Knysh, hlm. 268.
  5. Silahkan lihat: Dāirah Maārif Jahān Islām Oxford, jld. 3, hlm. 30.
  6. Azyumardi Azra, 1999, hlm. 672-673.
  7. Silahkan lihat: Azyumardi Azra, 1997, hlm. 176; Azyumardi Azra, 1999, hlm. 673-675.
  8. Silahkan lihat: Azyumardi Azra, 1999, hlm. 673-674, Knsy, hlm. 287.
  9. Silahkan lihat: Azyumardi Azra, 1999, hlm. 673.
  10. Balidak, hlm. 163.
  11. Knysh, hlm. 286.
  12. Islam, ibid.
  13. Silahkan lihat: Ismail Hamid, hlm. 207.
  14. Ismail Hamid, hlm. 229.
  15. Ismail Hamid, hlm. 231.
  16. Dāirāh Maārif Jahān Islām Oxford, ibid.

Daftar Pustaka

  • Azyumardi Azra,Education, Law, Mysticism: Constructing Social Realities, in Islamic Civilization in the Malay world, ed. Mohd. Taib Osman, Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1997.
  • Opposition to Sufism in the East Indies in the Seventeenth and eighteenth centuries, in Islamic Mysticism Contested: Thirteen Centuries of Controversies and Polemics, ed. Fredrick de Jong and Bernd Radtke Leiden: Brill, 1999.
  • Julian Baldick, Mystical Islam and Introduction of Sufism, London 2000.
  • EI2, s.v. "Hamza Fansuri" (by P. Voorhoeve).
  • Ismail Hamid, Kitab Jawi: Intellectualizing Literary Tradition", in Islam Civilization in the Malay World.
  • Alexander D. Knysh, Islamic Mysticism: A Short History, Leiden 2000.
  • The Oxford Encyclopedia of the Modern Islamic World, ed. John L. Esposito, New York 1995, s.v. "Malay and Indonesian literature" (by Hendrik M. J. Maier).