Prioritas: b, Kualitas: b

Hadd al-Tarakkhus

Dari WikiShia
Lompat ke: navigasi, cari
Tanda batas Tarakhkhus untuk kota Qom di jalan tol Qom-Tehran

Hadd al-Tarakkhus (bahasa Arab: حد الترخص) adalah jarak dimana seorang musafir yang dimulai dari tempat ini dan seterusnya, ia harus memendekkan salatnya dan bisa membatalkan puasanya dengan berbuka (apabila ia berpuasa). Berdasarkan beberapa hadis, tempat ini adalah dimana azan di kota tidak lagi terdengar atau dinding-dindingnya tidak lagi terlihat.

Perbedaan antara Jarak Syar'i dan Hadd al-Tarakkhus

Salah satu syarat memendekkan salat bagi seorang musafir adalah ketika ia memutuskan untuk melakukan perjalanan minimal 8 farzakh syar'i (kira-kira antara 40-45 KM). 8 farzakh ini disebut sebagai masafat al-syar'i (jarak yang ditentukan oleh syariat). [1] Seorang musafir bisa memendekkan salatnya atau bisa membatalkan puasa (berbuka) apabila ia telah melewati jarak tertentu dari perjalanannya. Jarak tertentu ini disebut sebagai hadd al-tarakkhus. Kriteria ini juga berlaku apabila ia sampai di kampung halaman atau sampai pada tempat tujuan dimana ia berniat tinggal ditempat tersebut selama lebih dari sepuluh hari. [2] artinya setelah memasuki batas tarakkhus, mereka harus melaksanakan salat secara sempurna.

Ukuran Hadd al-Tarakkhus

Berdasarkan dari beberapa hadis para Imam Maksum, hadd al-tarakkhus adalah tempat dimana azan di kota atau kampung tidak lagi terdengar dan dinding-dindingnya tidak lagi terlihat. [3] Fukaha Syiah berbeda pendapat terkait dengan syarat ini bahwa apakah keduanya menjadi syarat sekaligus atau salah satunya saja sudah mencukupi. [4]

Kriteria fukaha dalam terlihatnya atau tidak terlihatnya dinding-dinding kota, bangunan-bangunan biasa yang berdiri di sebuah lahan datar. Semenjak kota-kota besar dibangun dan juga azan dikumandangkan melalui media-media elektronik (TV atau Radio), maka menentukan hadd al-tarakkhus menjadi sulit. Sebagian fakih berpendapat bahwa yang menjadi ukuran pada kota besar (bilad al-kabirah) adalah dinding-dinding terakhir sebuah wilayah (distrik) bukan dinding-dinding kota. [5]

Sesuai fatwa sebagian besar fukaha Syiah apabila orang yang berpuasa berbuka sebelum sampai pada had al-tarakkhus maka di samping ia harus mengganti puasanya, juga harus membayar kaffarah. [6]

Catatan Kaki

  1. Yazdi, al-Urwat al-Wutsqa, 1420 H, jld. 3, hlm. 414.
  2. Farhangg Fiqh, 1390 S, jld. 3, hlm. 245.
  3. Hurr al-Amili, Wasail al-Syi'ah, 1416 H, jld. 8, hlm. 470.
  4. Farhangg Fiqh, 1390 S, jld. 3, hlm. 245.
  5. Yazdi, al-Urwat al-Wutsqa, 1420 H, jld. 3, hlm. 463.
  6. Yazdi, al-Urwat al-Wutsqa, 1420 H, jld. 3, hlm. 424.

Daftar Pustaka

  • Farhang Fiqh Muthabiq Madzhab Ahl al-Bait as. Qom: Muassisah Dairah al-Ma'arif Fiqh Islami, 1390 S.
  • Hurr al-Amili, Muhammad bin Hasan. Wasail al-Syi'ah, Qom: Muassisah Alu al-Bait li Ihyah al-Turats, 1416 H.
  • Yazdi, Sayid Muhammad Kazhim. al-Urwat al-Wutsqa. Qom, Dar al-Tafsir, Ismailiyyan, 1420 H.