Prioritas: b, Kualitas: b
Ini sebuah artikel dengan nilai Baik. Untuk informasi lebih lanjut, silakan diklik .

Baitul Ahzan

Dari WikiShia
(Dialihkan dari Bait al-Ahzan)
Lompat ke: navigasi, cari

Baitul Ahzan (bahasa Arab:بیت الأحزان) adalah termasuk diantara bangunan-bangunan di Pemakaman Baqi di kota Madinah yang dihancurkan oleh kaum Wahabi . Dikatakan bahwa Sayidah Fatimah sa beberapa waktu beribadah di tempat tersebut dan berduka atas kepergian ayahnya. Tempat ini adalah sebuah kamar berkubah yang pada tahun 1344 H/1926 hancur di tangan orang-orang Wahabi. Baitul Ahzan adalah salah satu tempat yang diperkirakan sebagai tempat pemakaman Sayidah Zahra as. Sebagian besar para peziarah Madinah khususnya para peziarah Syiah, sampai sebelum terjadi penghancuran Baqi, kebiasaannya adalah menziarahi Baitul Ahzan.

Alasan Penamaan

Kata "bait" dalam bahasa Arab berarti rumah dan "ahzan" adalah kata jamak dari kata huzn yang berarti kesedihan. Dikatakan, rumah yang dihuni oleh Nabi Ya'kub as ketika berpisah jauh dari putranya Yusuf as dinamakan Baitul Ahzan. Namun, dalam referensi-referensi sejarah Islam yang dimaksud dengan Baitul Ahzan adalah sebuah tempat di pekuburan Baqi yang mana sayidah Fatimah Zahra sa beberapa waktu beribadah di tempat tersebut dan berduka atas perpisahannya dengan Nabi yang mulia saw.

Ciri-ciri Geogarafis dan Bentuk Bangunan

Menurut laporan sumber-sumber sejarah dan penulis perjalanan, Baitul Ahzan berada di Pekuburan Baqi di kota Madinah, di sebelah selatan makam Abbas bin Abdul Mutthalib. Dari beberapa laporan dikatakan bahwa Baitul Ahzan adalah sebuah kamar berkubah, yang tampaknya ada dharih kayu berwarna hijau di dalamnya. Banyak dari penulis perjalanan dari Iran di zaman Qajar menziarahi tempat ini dan mencatat alamat tempatnya dan ciri-ciri lainnya. Contohnya, Hisam al-Salthanah Qajar, berkata, "Baitul Ahzan Sayidah Fatimah as berada di pemakaman Baqi di belakang kuburan empat Imam as".[1] Muhammad Husain Husaini Farahani melihat Baitul Ahzan dalam perjalanan hajinya di tahun 1302 H/1885, dan berkata bangunan ini memiliki kubah dan kuburan kecil.[2] Haji Ayaz Khan Qasyqai adalah tergolong orang-orang terakhir yang melihat Baitul Ahzan sebelum dihancurkan (1344 H/1926) pada tahun 1341 H/1923 dan hal tersebut dia tulis dalam laporan surat perjalanannya.[3]

Sejarah singkat

Sumber-sumber sejarah menyebutkan alasan dibuatnya Baitul Ahzan seperti ini: Para pembesar Madinah berkumpul dan bertemu dengan Imam Ali as serta mengatakan: "Wahai Abul Hasan! Fatimah siang-malam selalu menangis, dan kami disamping capek mencari nafkah di siang hari, di malam hari pun kami tidak bisa tidur pulas. Kami mohon pada Anda untuk menyampaikan pada Fatimah supaya menangis di malam hari atau di siang hari saja". Lalu Imam as menjawab: "baiklah, tidak apa-apa". Kemudian beliau menyampaikan masalah ini pada Fatimah, tapi Fatimah tetap saja tidak berhenti menangis. Setelah itu, Imam Ali as membuatkan kamar untuk Sayidah Fatimah sa di Baqi, diluar kota Madinah. Kamar itu disebut "Baitul Ahzan". Di waktu pagi, Sayidah Fatimah membawa Hasan dan Husain ke Baqi, dan hingga senja hari beliau sibuk menangis di sana. Ketika tiba malam hari Imam Ali as memulangkan Fatimah ke rumahnya. Setelah berlalu 27 hari dari kepergian Nabi saw, Sayidah Fatimah tidak mampu lagi untuk pergi ke sana karena sakit.[4]

Referensi-referensi Ahlusunnah juga mengisyaratkan keberadaan tempat ini di Baqi. Misalnya Samhudi dalam penukilannya dari Ghazali (wafat 505 H/1111) ketika menjelaskan adab-adab ziarah Baqi memandang sunah (mustahab) mendirikan salat di masjid Bait al-Huzn. Dan tempat ini disebutkan oleh dia sebagai tempat tinggal Sayidah Fatimah sa di hari-hari kesedihan atas kepergian ayahnya.[5] Menurut penjelasan ini, dikemudian hari dibangun juga sebuah masjid di tempat tersebut. Begitu pula dijelaskan tentang tinggalnya Sayidah fatimah sa sepeninggal ayahnya di Baitul Ahzan yang terletak di Baqi.[6]

Setelah masjid Nabawi dan pekuburan Baqi, Baitul Ahzan adalah tempat ketiga yang dimungkinkan menjadi tempat pusara Sayidah Fatimah sa.[7]

Penghancuran

Baitul Ahzan lenyap musnah setelah penyerangan kedua kaum Wahabi ke kota Hijaz dan penguasaan kota Madinah pada tahun 1344 H/1926. kaum Wahabi dalam penyerangan pertamanya (1218-1221H/1803-1806) telah menghancurkan Baqi namun sebagian tempat-tempat diantaranya makam empat Imam as dibangun kembali setelah kekalahan mereka. Dengan mengingat bahwa sebagian penulis buku pencatat kejadian melihat jarak antara serangan pertama(1221 H/1806) dan kedua (1344/1926) terhadap Baitul Ahzan dan mereka telah menziarahi tempat itu, [8] maka dapat dikatakan bahwa Baitul Ahzan pada penyerangan pertama tidak sempat rusak atau diperbaiki kembali setelah sebelumnya sudah dirusak. Di sebagian laporan dikatakan bahwa pada tahun 1233 H/1817-18 Sulthan Mahmud Utsmani memerintahkan untuk membangun kembali kubah Baitul Ahzan bersamaan dengan kubah Istri-istri Rasul dan begitu pula kubah Utsman bin Affan.[9] Haji Ayaz Khan Qasyqai termasuk salah seorang pendahulu dalam menulis surat perjalanan haji dan melihat Baitul Ahzan pada tahun 1341 H/1923-24 dan kemudian memuat cerita perjalanannya dalam laporan-laporannya.[10]

Baitul Ahzan dalam Sastra

Dalam sastra elegi Syiah, baitul Ahzan juga memiliki kedudukan yang istimewa. Juga ada mimpi-mimpi yang dinukilkan bahwa dalam mimpi itu Imam Mahdi ajf dengan lantunan syair-syairnya memandang Baitul Ahzan sebagai penyebab kesedihan dirinya yang abadi.[11]

Oleh karena itu, sebagian ulama Syiah, menulis karya-karya dengan nama ini dalam menjelaskan peristiwa-peristiwa setelah Rasul saw wafat dan Musibah-musibah yang menimpa Ahlulbait as khususnya yang menimpa kepada Sayidah Fatimah sa, yang mana karya-karya paling ternamanya adalah:

  • Baitul Ahzān fi Mashāib Sayyidatu al-Niswan, karya Syaikh Abbas Qummi. (wafat 1359 H/1940);
  • Baitul Ahzān fi Mashāib Sādāt al-Zamān al-Khamsah al-Thāhirah min Wuldi Adnān, karya Abdul Khaliq bin Abdurrahim Yazdi (wafat 1268 H).[12]

Catatan Kaki

  1. Hisam al-Salthanah, Dalil al-Anām, hlm. 152.
  2. Farahani, Safarnāmeh Makkeh, hlm. 240; lihat juga: Muhammad Wali Mirzai Qajar, Safarnāmeh Makkeh, laporan perjalanan haji tahun 1260 H/1223 S.
  3. Ayaz Khan Qasyqai, Safar Nameh Makkeh, Panjah Safarnameh Haj Qajari, hlm.455
  4. Allamah Majlisi, Bihār al-Anwār, jld.43, hlm.177
  5. Samhudi, Ali bin Abdullah, Wafāul Wafa bi Akhbari Daru al-Musthofa, jld.3, hlm. 907.
  6. Ibrahim Raf'at Basya, Mirātu al-Haramain aw al-Rihlāt al-Hijāziah wa al-Hajj wa Masyā'ir al-Diniyah, jld.1, hlm.426.
  7. Ja'far Khalili, Mausu'ah al-'Atabāt al-Muqadasah, Qismu al-Madinah al-Munawarah, hlm. 284-285; Muhammad bin Abdurrahman Sakhawi, al-Tuhfat al-Lathifah fi Tārikh al-Madinah al-Syarifah, jld.1, hlm.41.
  8. Diantaranya: Hisam al-Salthanah, Dalil al-Anām fi Sabili Ziārati Baitillāh al-Harām, hlm.152.
  9. Mirātul Harāmain, jld.1 hlm.426.
  10. Ayaz Khan Qasyqai, Safarnāmeh Hajj Ayazkhan Qasyqai be Makkeh, Madineh, wa atabāt āliyāt dar ruzegare Ahmad Syah Qājar, hlm.455.
  11. Abdur Razzaq Muqram, Wafatu al-Shiddiqtu al-Zahrā Aliha al-Salām, hlm.97; Muhammad Samawi, Zarafatu al-Ahlām, hlm.81; Husain bin 'Ala Biladi Bahrani, Riyādh al-Madh wa al-Ritsa, hlm. 193-196.
  12. Muhammad Muhsin Agha Buzurg Tehrani, al-Dzariah ila tashānifi al-Syiah, jld.2, hlm.185.

Daftar Pustaka

  • 'Afifi, Rahim. Farhang Nāmeh Syi'rī. Tehran: 1372.
  • Bahrani, Husain bin 'Ali Biladi. Riyādh al-Madh wa ar-Ritsā` . Qum.
  • Farhad Mirza. Safar Nāmeh Makkeh. Riset Thabathabai. Tehran: Muassiah Mathbu`ati Ilmi, 1366 S.
  • Hisam as-salthanah. Safar Nāmeh Makkeh. Riset Rasul Ja'fariyan, Tehran: Masy'ar, , 1374 HS (1995).
  • Hisam as-salthanah. Dalīl al-Anām. Riset Rasul Ja'fariyaan. Tehran: Nasyr-e Masy'ar, 1374 HS (1995).
  • Ibrahim Raf'at Basya. Mirāh al- Haramain aw ar-Rahalāt al-Hijāziyah wa al-Hajj wa Masyā'iruhu ad-Diniyyah. Beirut: 1378.
  • Ja'fariyan, Rasul. Panjo Safar Nāmeh Haj Qājāri. Tehran: Nasyr-e Ilm, 1389 HS (2010).
  • Khalili, Ja'far. Mausū'ah al-'Atabāt al-Muqaddasah. Qismu al-Madinah al-Munawarah, Beirut, 1987.
  • Khurramsyahi, Bahauddin . Hāfiz Nāmeh.Tehran: 1366 HS.
  • Majlisi, Muhammad Baqir. Bihār al-Anwār al-Jāmi'ah li Dhurar Akhbār al-Aimmah al-Athhār. Beirut: 1403 H.
  • Musawi Muqarram, Abdur Razzaq. Wafātu ash-Shiddīqah az-Zahrā Alaihassalām. Najaf:1370H.
  • Nafisi, Ali Akbar. Farhangg-e Nafīsī. Tehran:1355.
  • Parwiz Ahuwar.Kalak-e Khiyāl Anggīz : Farhange-e Jāmi' Dīwāne Hāfiz. Tehran: 1372 H.
  • Qasyqai, Haj Ayaz Khan. Safar Nāme-ye Makkeh : Panjo Safar Nāmeh Haj Qājāri.
  • Sakhawi, Muhammad bin Abdurrahman. At-Tuhfah al-latīfah fī tārīkh al-Madīnah asy-Syarīfah. Beirut: 1993.
  • Samawi, Muhammad bin Thahir. Zhorāfah al-Ahlām. Qom.
  • Samhudi, Ali bin Abdullah. Wafā al-Wafā bi Akhbāri Daru al-Musthafā. Riset Muhammad Abdul Hamid. Beirut: 1404 H.
  • Sepehr, Muhammad Taqi. Nāsikh at-Tawārīkh. Jld. 4. Tehran.
  • Tahanawi, Muhammad bin Ali. Kasysyāf Ishthilāhāt al-Funūn. Riset Muhammad Wajih. Kolkata: 1862. Cetakan offset Tehran, 1967.
  • Taqi Zadeh Thusi, Faridun. Qishash al-Anbiyā` . (teks persia berkaitan dengan abad ketujuh hijriah). Masyhad: 1363.
  • Tehrani, Agha Bozorg. Adz-Dzarī'ah ilā Tashānīf asy-Syi'ah. Beirut: 1378.