Prioritas: b, Kualitas: a

Aminah binti Wahb

Dari WikiShia
Lompat ke: navigasi, cari
Aminah binti Wahb
Nama lengkap Aminah binti Wahab
Afiliasi agama Monoteis
Garis keturunan Qurasyi
Kerabat termasyhur Abdullah bin Abdul Muththalib (suami), Nabi Muhammad saw (anak)
Tempat tinggal Mekah
Peran penting Ibu Nabi Islam saw

Aminah binti Wahb (bahasa Arab:آمِنة بنت وَهْب) wafat 46 tahun sebelum Hijrah atau bertepatan dengan tahun 576 M adalah ibu Nabi Muhammad saw dan salah seorang pembesar kaum Quraisy yang sangat dihormati. Ia menikah 53 atau 54 tahun sebelum tahun Hijriyah dengan Abdullah bin Abdul Muththalib. Dari hasil pernikahannya dengan Abdullah ia melahirkan Muhammad 52 tahun sebelum tahun Hijriah. Disaat putranya masih berusia 4 atau 6 tahun, Aminah meninggal dunia ketika melakukan perjalanan ke Madinah. Iapun dimakamkan di sebuah termpat yang bernama Abwa.

Nasab dan Kelahiran

Aminah lahir di kota Mekah [1]. Ayahnya bernama Wahab, seorang pembesar dari Bani Zahrah, kakeknya bernama Abdu Manaf bin Zuhrah yang setara dengan putra pamanya, Abdu Manaf bin Qushai, dan untuk perhormatan mereka bedua dipanggil Manafain. Nenek dari jalur ayahnya adalah Atikah binti Auqash bin Murrah bin Hilal al-Sulaimah, salah seorang dari tiga 'Awatik yang dibanggakan Rasulullah saw dengan mengatakan, انا ابن العَواتک من سُلَیم yang artinya, “Aku adalah putra dari al-'Awatik dari Bani Sulaim."[2]

Ibu Aminah bernah Barrah, kakek dari jalur ibunya bernama Abdul 'Uzza dan nenek dari jalur ibunya bernama Ummu Habaib bin Asad bin Abdul 'Uzza bin Qushai, sementara ibu Ummu Habaib bernama Barrah binti 'Auf.[3]

Nabi saw bangga dengan nasab tersebut dan berkata, “Allah swt telah memindahkan saya dari rahim-rahim yang suci dan bersih dan menjadikanku dari sebaik-baiknya silsilah/nasab.”

Pernikahan dengan Abdullah

Aminah menikah dengan Abdullah bin Abdul Muththalib. Ia saat itu dikenal sebagai perempuan terbaik dari kalangan Quraisy.[4]Sebelum Abdullah melamar Aminah, sejumlah perempuan telah ditawarkan kepada Abdullah seperti putri Naufal bin Asad, Fatimah binti Marra, Laila Adwiyah dan lainnya,[5] namun Abdullah menjatuhkan pilihan untuk meminang Aminah. Diceritakan, ketika Abdullah melamar Aminah, banyak perempuan yang patah hati dengan keputusan tersebut.[6] Acara dan pesta pernikahan dua pembesar Quraisy tersebut berlangsung selama tiga malam tiga hari. Sepanjang pesta pernikahan tersebut, Abdullah tetap mengenakan pakaian pengantin tradisional dan menetap di dalam rumah.[7]

Wafatnya Abdullah

Hanya berselang beberapa hari pasca pernikahan, Abdullah melakukan perjalanan dagang dan karena menderita sakit, iapun meninggal dunia di Yastrib, dan dimakamkan di kota tersebut.

Ketika Aminah mendengarkan kabar mengenai kematian suaminya, iapun bersenandung pilu.

Menurut sebagian catatan sejarah, wafatnya Abdullah hanya berselang sedikit dengan kelahiran putranya, Muhammad.[8] Sebagian pula menyebutkan, kematian cepat Abdullah pasca keselamatannya dari peng-kurbanan menunjukkan sebuah takdir Abudllah menikah dengan Aminah yang dari pernikahan ini lahir Muhammad.[9]

Kelahiran Muhammad Saw

Menurut pandangan Syiah Aminah melahirkan Muhammad pada hari 17 Rabiul Awal tahun Gajah, berbeda dengan versi Ahlusunnah yang meyakini peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 12 Rabiul Awal. [10] Berita kelahiran Muhammad menjadi kabar yang sangat menggembirakan bagi Bani Hasyim. Sewaktu berita tersebut sampai ke telinga Abu Lahab dan itu menggembirakan hatinya, ia membebaskan budaknya, Tsuwaibah Aslamiyah yang membawa kabar tersebut kepadanya.[11] Abdul Muththalib memberikan nama Muhammad pada bayi yang dilahirkan Aminah, yang membuat kaum Quraisy bertanya-tanya mengapa dinamakan dengan nama itu. Abdul Muththalib menjawab, “Aku inginkan dia menjadi yang terpuji di langit dan di bumi.”[12]

Masa Mengasuh Muhammad

Aminah pasca melahirkan, ia mengasuh sendiri bayinya. Awalnya, karena disebabkan keterbatan materi dan ketidaksanggupan untuk menyewa pengasuh, Aminah menolak setiap tawaran orang yang hendak mengasuh bayinya. Namun pada akhirnya ia menyerahkan Muhammad dibawah pengasuhan Halimah Sa'diyah, karena Muhammad juga butuh pengasupan ASI. Setelah 2 tahun berada dalam pengasuhannya, Halimahpun membawa kembali Muhammad kepada ibu kandungnya, namun karena anak ini membawa keberkahan kepadanya dan menjaganya dari waba yang menyerang Mekah, ia meminta izin kepada Aminah agar Muhammad tetap bersamanya beberapa tahun lagi dan tinggal bersamanya di perkampungan di gurun pasir. Aminah menyepakati permohonan tersebut.[13]Akhirnya Aminah pada tahun keenam setelah tahun Gajah, ketika Muhammad berusia 5 tahun 2 hari mengembalikan Muhammad kepada ibunya.[14]

Aminah pada tahun ketujuh setelah tahun Gajah membawa Muhammad ke Madinah untuk menziarahi makam ayahnya Abdullah dan bertemu dengan paman-paman Abdullah dari pihak ibu. Paman-paman ayah Muhammad saw berasal dari bani Najjar. Sayangnya, dalam perjalanan kembali dari Madinah, Aminah meninggal dunia karena sakit dan dimakamkan di Abwa. Ummu Aiman lah yang kemudian mengantar Muhammad untuk kembali ke Mekah dan tiba 5 hari setelahnya di kota tersebut.[15]

Peristiwa Beristighfarnya Nabi Muhammad saw

Pandangan Ahlusunnah

Suyuthi dari ulama Ahlusunnah menulis: Sepulangnya Nabi Muhammad saw dari perang Tabuk, ia memutuskan untuk melakukan ibadah haji dan umrah. Oleh karena itu, ia melakukan perjalanan dari kota Madinah ke Mekah. Ditengah perjalanan setibanya di makam ibunya, dalam doanya ia meminta agar ibunya diampunkan dosa-dosanya, namun permintaan tersebut tidak dikabulkan oleh Allah swt. Peristiwa tersebut menandai turunnya ayat [16]:

آیه وَمَا کانَ اسْتِغْفَارُ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ إِلاَّ عَن مَّوْعِدَةٍ وَعَدَهَا إِياهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ أَنَّهُ عَدُوٌّ لِلّهِ تَبَرَّأَ مِنْهُ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لأوَّاهٌ حَلِيمٌ

Terjemahan: Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya (baca: pamannya, Azar), tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah ia janjikan kepadanya. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa ia adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri darinya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun. (Qs. At-Taubah: 114]

Demikian pula Suyuthi menukil dari Ibnu Mas'ud: Suatu hari Rasulullah saw berziarah kemakam kaum muslimin dan kamipun mengikutinya. Setibanya, ia duduk dihadapan makam, lalu menangis serta berdoa. Kamipun turut menangis dan berdoa. Ia bertanya, “Mengapa kalian menangis?”. Kami menjawab, tangismu menjadi penyebab kami menangis. Nabi Muhammad saw berkata, “Kubur dihadapanku adalah kubur ibuku. Allah mengizinkanku menziarahinya, namun tidak mengizinkanku untuk memohonkan ampun untuknya.” Kemudian turunlah ayat:

مَا کانَ لِلنَّبِی وَالَّذِينَ آمَنُواْ أَن يسْتَغْفِرُواْ لِلْمُشْرِکينَ وَلَوْ کانُواْ أُوْلِی قُرْبَی مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

Terjemahan: Tiadalah sepatutnya bagi nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (mereka), sesudah jelas bagi mereka bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahanam. (Qs. At-Taubah: 113)

Penyebab menangisnya Rasulullah saw adalah hal tersebut.”[17]

Pandangan Syiah

Menurut versi Syiah, riwayat-riwayat diatas tidak mutawatir, karena Syiah secara ijma meyakini bahwa Abu Thalib, Aminah binti Wahab dan Abdullah bin Abdul Muththalib serta kakek Rasulullah saw sampai ke Nabi Adam as kesemuanya adalah orang-orang beriman.[18]Aqidah Syiah tersebut terdapat dalam literatur-literatur Syiah.

Imam Shadiq as berkata:

"Jibril as menemui Rasulullah saw dan berkata, Wahai Muhammad! Allah swt menitip salam untukmu dan berfirman, “Aku telah mengharamkan neraka Jahannam buat sulbi yang engkau lalui, buat rahim yang mengandungmu dan pangkuan yang mengasuhmu. Sulbi itu adalah sulbi Abdullah bin Abdul Muththalib, rahim itu rahim Aminah binti Wahab dan pangkuan itu pangkuan Abu Thalib –menurut versi yang diriwayatkan Ibn Fadhal- dan Fatimah binti Asad."[19]

Selain itu, riwayat-riwayat yang menjadi dasar keyakinan bahwa Aminah binti Wahab meninggal dalam keadaan kufur memiliki sejumlah kejanggalan, sebagai contoh Allamah Amini menulis:

"Apakah Nabi Muhammad saw di hari Tabuk, itupun setelah turunnya ayat yang kami sebutkan,[20] tidak mengetahui bahwa ia dan sahabat-sahabatnya tidak diperkenankan untuk mengharapkan ampunan untuk penyembah berhala?. Dan bagaimana mungkin Nabi Muhammad menginginkan dari Allah swt agar ibunya diampuni? apakah Nabi menganggap ibunya berbeda dengan manusia yang lain?. Apakah riwayat ini hanya rekayasa yang sengaja dibuat-dibuat untuk menjatuhkan kehormatan Rasulullah saw dan kesucian ibunya dengan noda penyembahan berhala?.”[21]

Allamah Amini menambahkan:

"Sebagian menafsirkan permintaan ampunan dalam ayat tersebut dengan menyolati mayat[22] sehingga tidak sesuai dengan riwayat-riwayat tersebut.”[23]

Catatan Kaki

  1. Aisyah Abdurahman, Aminah Madare_e Payambar, hlm. 74.
  2. Aisyah Abdurahman, Aminah Madare_e Payambar, hlm. 80-81.
  3. Aisyah Abdurahman, Aminah Madare_e Payambar, hlm. 81.
  4. Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyah, jld. 1, hlm. 156.
  5. Lihat: Ibnu Katsir, al-Kāmil fi al-Tārikh, jld. 2, hlm. 8.
  6. Aisyah Abdurahman, Aminah Madare_e Payambar, hlm. 103.
  7. Nawiri, Nihāyatu al-Arab, jld. 16, hlm. 57.
  8. Lihat: Ayati, Tārikh Payāmbar Islam, hlm. 41.
  9. Aisyah Abdurahman, Aminah Madare_e Payambar’’, hlm. 128.
  10. Ayati, Tārikh Payāmbar Islam, hlm. 43.
  11. Aisyah Abdurrahman, Aminah Madar_e Payambar, hlm. 150.
  12. Aisyah Abdurrahman, Aminah Madar_e Payambar, hlm. 153.
  13. Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyah, hlm. 162-164.
  14. Ibnu Abdul Bar, al-Isti’āb fi Ma’rifah al-Ashhāb, jld. 1, hlm. 29.
  15. Ibnu Abdul Bar, al-Isti’āb fi Ma’rifah al-Ashhāb, jld. 1, hlm. 30.
  16. Suyuthi, al-Dur al-Mantsur fi al-Tafsir bil Mātsur, jld. 3, hlm. 283.
  17. Suyuti, al-Dur al-Mantsur fi al-Tafsir bil Mātsur, jld. 3, hlm. 284.
  18. Aiti, Tārikh Payāmbar Islam, hlm. 42.
  19. Kulaini, al-Kāfi, jld. 1, hlm. 446.
  20. Lihat: al-Ghadir, jld.10, hlm.8-12
  21. Amini, al-Ghadir, jld. 8, hlm.18
  22. Lihat: Thabari, Jami' al-Bayan, jld.11, hlm.33
  23. Lihat: Amini, al-Ghadir, jld. 8, hlm.19-20

Daftar Pustaka

  • Aiti, Muhammad Ibrahim, Tārikh Payāmbar Islam, riset: Abu al-Qasim Garachi, penerbit Universitas Tehran, Tehran. 1378 S.
  • Ibnu Atsir, Ali bin Muhammad, al-Kāmil fi al-Tārikh, Dar Shar, Beirut.
  • Ibnu Abdu al-Barra, Yusuf bin Abdullah, al-Isti’āb fi Ma’rifah al-Ashhāb, riset: Ali Muhammad Bajawi, Dar al-Jail, Beirut.
  • Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyah, riset: Ibrahim Abyari, Musthafa Saqa, Abdul Hafidz Syabali, Dar al-Ma’rifah, Beirut.
  • Amini, Abdul al-Husain, al-Ghadir, terj. Akbar Tsabut, cet. 5, Bunyad Bi’tsat, Tehran, 1391 S.
  • Zarqani, Muhammad bin Abdl Baqi, Syarh al-'Allamah al-Zarqani 'ala al-Mawāhib al-Daniyah bin Manh al-Muhammadiyah, riset: Muhammad Abdul Aziz al-Khalidi, Dar al-Kutub al-'Ilmiyah, Beirut.
  • Suyuti, Abdurahman bin Abi Bakar, al-Dur al-Mantsur fi al-Tafsir bi al-Mātsur, Kitab Khaneh Ayatullah Mar’asyi Najafi, Qom.
  • Thabari, Muhammad bin Jarir, Jāmi’ al-Bayān fi Tafsir al-Qur’an (Tafsir Thabari) , Dar al-Ma’rifah, Beirut.
  • Aisyah Abdurahman binti al-Syathi, Aminah Madar_e Payāmbar , terj. Sayid Muhammad Taqi Sajjadi, cet. 3, Muassasah Intisyarat Nabawi, Tehran, 1379 S.
  • Nawiri, Ahmad bin Abdul Wahab, Nihāyah al-Arab fi Funun al-Adab, Dar al-Kutub wa al-Watsaiq al-Qaumiyah, Kairo.