Alam Dzar

Dari Wiki Shia
Lompat ke: navigasi, cari

Alam Dzar (Bahasa Arab: عالَم ذَرّ ) atau alam Alastu atau alam Qalu Bala adalah salah satu alam dalam dunia penciptaan yang disebut dalam Al-Qur’an dan sejumlah riwayat. Menurut para Mufassir dan ulama Islam, alam ini berkaitan dengan alam sebelum penciptaan atau bersamaan dengan penciptaan Nabi Adam as. Disebutkan semua manusia yang sampai hari kiamat akan dilahirkan berada dalam alam ini dalam bentuk Dzarrah atau menurut sebagian riwayat dalam bentuk sekecil semut.

Pada alam ini, mereka yang telah diambil sumpahnya untuk mengakui ketauhidan dan sifat rububiyah Allah Swt, kenabian para |Nabi khususnya Nabi Muhammad Saw, wilayah para Washi khususnya wilayah Amirul Mukminin as akan meninggalkan bentuk dzarrahnya atau kembali kebentuk semula. Sejumlah pandangan lainnya mengenai alam ini, akan dikemukakan selanjutnya.

Alam Dzar dalam Ayat Al-Qur’an

Lebih dari 10 ayat dari berbagai surah Al-Qur’an disebutkan mengenai keberadaan alam dzar ini. Diantara ayat-ayat tersebut adalah sebagai berikut:

  • Surah al-A’raf ayat 172, ini adalah ayat terpenting dalam pembahasan mengenai alam dzar. وَ إِذْ أَخَذَ رَبُّک مِنْ بَنِی آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّیتَهُمْ وَ أَشْهَدَهُمْ عَلی أَنْفُسِهِمْ أَ لَسْتُ بِرَبِّکمْ قالُوا بَلی شَهِدْنا أَنْ تَقُولُوا یوْمَ الْقِیامَةِ إِنَّا کنَّا عَنْ هذا غافِلِینَ** أَوْ تَقُولُوا إِنَّما أَشْرَک آباؤُنا مِنْ قَبْلُ وَ کنَّا ذُرِّیةً مِنْ بَعْدِهِمْ أَ فَتُهْلِکنا بِما فَعَلَ الْمُبْطِلُونَ* وَ کذلِک نُفَصصِّلُ الْآیاتِ وَ لَعَلَّهُمْ یرْجِعُونَ
  • Surah ath-Thagabun ayat 2: هُوَ الَّذی خَلَقَکمْ فَمِنْکمْ کافِرٌ وَ مِنْکمْ مُؤْمِن
  • Surah Yunus ayat 74: فَما کانُوا لِیؤْمِنُوا بِما کذَّبُوا بِهِ مِنْ قَبْلُ
  • Surah an-Najm ayat 56: هذا نَذیرٌ مِنَ النُّذُرِ الْأُولی
  • Surah al-An’am ayat 110: وَ نُقَلِّبُ أَفْئِدَتَهُمْ وَ أَبْصارَهُمْ کما لَمْ یؤْمِنُوا بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَ نَذَرُهُمْ فی طُغْیانِهِمْ یعْمَهُون
  • Surah ar-Ra’ad ayat 20: الَّذینَ یوفُونَ بِعَهْدِ اللَّهِ وَ لا ینْقُضُونَ الْمیثاق
  • Surah al-Hajj ayat 5: یا أَیهَا النَّاسُ إِنْ کنْتُمْ فی رَیبٍ مِنَ الْبَعْثِ فَإِنَّا خَلَقْناکمْ مِنْ تُرابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِنْ مُضْغَةٍ مُخَلَّقَةٍ وَ غَیرِ مُخَلَّقَة
  • Surah Rum ayat 30: فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتی فَطَرَ النَّاسَ عَلَیها
  • Surah al-Waqiah ayat 10-11: وَ السَّابِقُونَ السَّابِقُونَ أُولئِک الْمُقَرَّبُونَ
  • Surah al-Baqarah ayat 137: صِبْغَةَ اللَّهِ وَ مَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ صِبْغَة
  • Surah al-An’am ayat 158: لا ینْفَعُ نَفْساً إیمانُها لَمْ تَکنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ

Penjelasan Istilah

  • Dzuriyyah: Aslinya bermakna anak kecil atau masih berumur dini. Namun ditujukan untuk seluruh keturunan baik bermakna tunggal maupun bermakna kelompok. Namun pada dasarnya memiliki makna jamak.
  • Tempat Diambilnya Sumpah: mengenai tempat diambilnya sumpah. Diantara para ulama terdapat perbedaan pendapat:
    • Sebagian berpendapat tempat diambilnya sumpah berada di alam arwah.
    • Sebagian lainnya berpendapat, tempatnya berada di alam malakut.
    • Sebagain juga berpendapat tempatnya adalah di dunia.[1]
  • Mukhāthabān: Mengenai siapa yang menjadi lawan bicara Allah Swt ketika bertanya ( اَلَستُ بِرَبِّکُم ) juga terdapat perbedaan pendapat dikalangan ulama Islam:
    • Semua manusia, berdasarkan riwayat Ahlulbait as di alam Dzar manusia diperkenalkan mengenai wilayah Auliyah Ilahi.[2]
    • Semua makhluk, bukan hanya manusia.[3]
    • Hanya malaikat, bukan manusia.[4]
  • Isi Perjanjian: Bahasan lainnya yang juga terdapat perbedaan pendapat adalah mengenai isi sumpah/perjanjian. Diantaranya yang disebutkan sebagai isi sumpah adalah:
    • Agama yang lurus atau fitrah.[5][6]
    • Sifat Rububiyah Allah Swt: اَلَستُ بِرَبِّکُم [7]
    • Tauhid: أَوْ تَقُولُوا إِنَّما أَشْرَکَ آباؤُنا [8]
    • Rububiyah Tuhan, risalah kenabian dan wilayah Ahlulbait as.[9][10]
    • Perjanjian Anbiyah Ulul Azmi untuk membantu Imam Mahdi Ajf.[11]
  • Tujuan dari Perjanjian. Dua tujuan dari diambilnya sumpah atau perjanjian, yaitu:
    • Sempurnanya hujjah bagi para hamba, sehingga pada saat menghadapi pengadilan di hari kiamat tidak mengatakan bahwa kami tidak mengetahui informasi mengenai pengenalan terhadap Tuhan sehingga kami menjadi kufur karena itu. أَنْ تَقُولُوا یوْمَ الْقِیامَةِ إِنَّا کُنَّا عَنْ هذا غافِلینَ [12]
    • Menjadi hujjah agar umat manusia tidak mengatakan nanti pada hari kiamat: Ayah dan nenek moyang kami dulu adalah penyembah berhala dan kami sebagai keturunannya hanya mengikuti mengikuti apa saja yang telah mereka lakukan. أَوْ تَقُولُوا إِنَّما أَشْرَکَ آباؤُنا مِنْ قَبْلُ وَ کُنَّا ذُرِّیةً مِنْ بَعْدِهِمْ

[13][14]

Pandangan yang Beragam mengenai Alam Dzar

Mayoritas dari pemikir Islam berkeyakinan bahwa pengetahuan mengenai Tuhan telah dikaruniakan Tuhan kepada semua manusia dalam dirinya sehingga manusia dengan pengetahuan itu menyadari bahwa pengenalan terhadap Tuhan adalah sesuatu yang sangat penting dan menjadi sumber kebahagiaan manusia.[15]

Penafsiran yang beragam mengenai tafsir ayat Mitsāq/perjanjian dapat disimpulkan menjadi empat bagian yang utama:

Perjanjian yang Hakiki dari semua Keturunan Adam

Para ahli hadis berdasarkan sejumlah riwayat berpendapat bahwa ketika Nabi Adam as diciptakan, kepada seluruh keturunannya sampai hari kiamat yang masih dalam bentuknya yang terkecil dikatakan kepada mereka, “Bukankah Aku adalah Tuhanmu?” Mereka berkata, “Betul (Kau adalah Tuhan kami), kami bersaksi.” Setelah itu mereka dikembalikan ke tulang sulbi Nabi Adam as. Mereka ketika menjadi lawan bicara Allah Swt memiliki akal dan intelegensi yang cukup, sehingga mereka mendengarkan pertanyaan Allah swt dan memberikan jawabannya.

Perjanjian ini diambil Allah swt dari mereka, sehingga kelak pada hari kiamat mereka tidak punya dalih untuk mengelak.[16]Banyak dari kalangan ulama Islam dalam menafsirkan ayat mitsāq berpegangan pada riwayat yang menyebutkan pada alam Dzar semua manusia diambil dari sulbi Nabi Adam as yang kemudian dimintai kesaksiannya mengenai Rububiyah Allah Swt yang dari itu mereka diambil sumpahnya.[17] Sebagian peneliti Islam menyebut pendapat tersebut memiliki sejumlah keganjalan.[18]

Fitrah Tauhid

Sekelompok Mufassir berpendapat bahwa kandungan ayat tersebut harus dimaknai tauhid fitri.[19]Menurut keyakinan mereka, Allah Swt mengeluarkan manusia dari tulang belakang ayah dan rahim ibunya untuk kemudian dimasukkan kedalam pengetahuan mereka mengenai Tuhan dan menyadari akan kebutuhan-kebutuhan asasinya. Ketika manusia menyadari akan kebutuhannya terhadap Tuhan, Allah Swt bertanya kepada mereka, “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” maka mereka menjawab, “Betul, kami menyaksikan bahwa Kau adalah Tuhan kami.”[20] Sebagian lagi berpendapat fitrah tauhid telah dimasukkan kedalam diri setiap manusia bersamaan dengan proses penciptaannya, dan dialog Tuhan dengan manusia dalam bentuk bahasa takwini.[21]

Dimensi Alam Malakut

Allamah Thabathabai memiliki perspektif khas dan meyakini bahwa hal ini terkait dengan alam malakut yang merupakan realitas dan dimensi lain alam ini. Pada alam yang berada di balik waktu dan tempat ini, seluruh manusia dan entitas-entitas lainnya hadir di hadapan Tuhan dan tak satupun entitas yang gaib. Dalam ruang (spasial) semacam ini, seakan seluruh anak-anak Adam pada satu tempat berada di belakang ayah-ayah mereka, berkumpul di hadapan Tuhan. Dalam kondisi ini setiap manusia menemukan dirinya dalam bentuk ilmu huduri dan temuannya itu merupakan bukti jelas atas eksistensi Tuhan dan Tuannya. Namun akibat keberadaan manusia dalam pusaran waktu dan perubahan serta kejadian-kejadian dunia dan kehidupan, begitu menyibukkan manusia hingga Ia tak sadar diri serta lalai dari pengetahuan huduri yang Ia miliki atas penciptanya.[22]

Teori Simbolis

Golongan pemikir lainnya menyebut bahasa ayat sebagai bahasa simbolis dan analogi; dalam bentuk seperti ini bahwa Tuhan dengan mengutus para Nabi serta memberikan nikmat akal kepada manusia di dunia ini, mengambil ikrar dari mereka atas ketuhanan atau kekuasaannya (rububiyah).[23]

Alam Dzar dalam Pandangan Riwayat Islam

Terdapat banyak riwayat dari berbagai sumber yang berbeda dalam literatur Islam baik dari kitab Sunni maupun kitab Syiah yang berbicara mengenai keberadaan alam Dzar. Dalam kitab Tafsir Al-Burhan dinukil 37 riwayat sementara dalam Tafsir Nur al-Tsaqalain dinukil 30 riwayat. Namun jika kita memperhatikan mengenai riwayat-riwayat yang ada dengan lebih teliti berdasarkan sanad dan matannya, maka jelas riwayat-riwayat tersebut pada umumnya memiliki jalur sanad yang berbeda bukan riwayat yang berbeda-beda.[24]

Berikut ini penjelasan singkat mengenai diantara riwayat-riwayat tersebut:

  • Sebagian riwayat menunjukkan hati setiap manusia menyadari akan keberadaan alam Dzar, yang jika itu tidak disadarinya, maka dia tidak akan mengenal siapa yang menciptakannya.[25]
  • Sebagian riwayat menyebutkan mengenai dikeluarkannya dzuriyah (keturunan) Bani Adam dari sulbi Nabi Adam as di alam Dzar.[26]
  • Riwayat yang menyebutkan keberadaan kelompok manusia yang lupa akan tempat diambilnya sumpah dan perjanjian, yang pada suatu hati nanti, mereka akan mengingat tempat itu kembali.[27]
  • Riwayat yang menyebutkan kesaksian atau perjanjian diambil dari para malaikat, bukan dari manusia.[28]
  • Riwayat yang menyebut alam Dzar adalah juga alam dimana Imam Ali as telah diperkenalkan sebagai Amirul Mukminin,[29]
  • Sebagian juga menyebutkan sebagai mitsaq/perjanjian Hajar al-Aswad dan penegasan melaluinya dibawalah surat perjanjian tersebut. [30]
  • Sejumlah riwayat menyebutkan diambilnya perjanjian dari semua makhluk, tidak hanya khusus dari umat manusia.[31]
  • Kumpulan riwayat yang menyebutkan satunya perjanjian dan fitrah.[32]
  • Riwayat yang menunjukkan ketunggalan alam Mitsaq dan Thainat, yang riwayat ini juga menunjukkan adanya taklif di alam dzar.[33]
  • Riwayat yang menunjukkan ketungggalan alam mitsaq dan alam Dhzalal.[34]
  • Riwayat yang menunjukkan keterkaitan perjanjian dengan sifat rububiyah Allah Swt, risalah Anbiyah as dan wilayah Ahlulbait as.[35]
  • Sebagian dari sumber riwayat-riwayat seperti al-Kāfi dan Bashāar mengaitkan perjanjian tersebut dengan perjanjian Anbiyah Ulul al-Azmi untuk membantu Imam Mahdi Ajf. Sebagian juga menyebutkan perjanjian antara Nabi dengan Ahlulbait as.[36]

Catatan Kaki

  1. Tabyyin wa Barresi Didgah Allamah Thabathabai darbare_e ‘Alam Dzar dar Tafsir Ayat Mitsāq, hlm. 59.
  2. Al-Kāfi, jld. 1, hlm. 413.
  3. Barqi, al-Mahāsin, jld. 1, hlm. 242; al-Kulaini, al-Kāfi, jld. 5, hlm. 504.
  4. Shaduq, ‘Ilal al-Syarāi’, jld. 1, hlm. 118.
  5. Bihār al-Anwār, jld. 3, hlm. 276.
  6. Fitrah, Muthahari, hlm. 27.
  7. Qs. Al-A’raf: 172.
  8. Qs. Al-A’raf: 172
  9. Al-Kulaini, al-Kāfi, jld. 1, hlm. 133 dan 412; al-Qomi, Tafsir, jld. 1, hlm. 246-247.
  10. Al-Burhan, jld. 3, hlm. 238-412. Untuk mempelajari lebih lanjut dapat merujuk ke al-Tibyāan fi Tafsir al-Qur’an, jld. 5, hlm. 26-30; Rauda al-Jinān wa Ruh al-Jinān, jld. 9, hlm. 5-10; Mansyur al-Jāwid, jld. 2, hlm. 61-82.
  11. Al-Kulaini, al-Kāfi, jld. 2, hlm. 12; Shaduq, ‘Ilal, hlm. 129; Shafār, Bashāar, jld. 1, hlm. 83 dan 86.
  12. Qs. Al-A’raf: 172.
  13. Qs. Al-A’raf: 173.
  14. Tafsir al-Amtsal, jld. 7, hlm. 3-5.
  15. Silahkan lihat: Rayāhi Mehr, ‘Awāmil wa Atsār Sa’ādat Insān az Mandzar_e Qur’an, hlm. 46-112.
  16. Thabarsi, Majma’ al-Bayān, jld. 5, hlm. 390; Fakhrurazi, Tafsir al-Kabir.
  17. Qomi, Tafsir al-Qomi, jld. 1, hlm. 248; Kufi, Tafsir Furāt Kufi, hlm. 145; Bahrani, al-Burhān, jld. 2, hlm. 605-615.
  18. Thusi, Tafsir at-Tibyān, jld. 5, hlm. 28; Thabarsi, Majma al-Bayān, jld. 4, hlm. 390.
  19. Tauhid fitri yaitu setiap manusia memiliki kesadaran dan kecenderungan untuk bertauhid. Dakwah tauhid yang disampaikan para Nabi telah ada pada kesadaran manusia, yang dengan itu manusia dapat meneliti, menelusuri dan membuktikannya sendiri.
  20. Majm’ al-Bayān, jld. 4, hlm. 391; Tafsir Dzhilāl al-Qur’an, jld. 9, hlm. 58-59; Tafsir Razi, jld. 15, hlm. 53.
  21. Makarim Shirazi, Tafsir al-Amtsal, jld. 7, hlm. 6.
  22. Tafsir al-Mizan, jld. 8, hlm. 455.
  23. Mufid, Tafsir Al-Qur'an al-Majid, hlm. 221-266; Thabarsi, Jawami' al-Jami', jld. 1, hlm. 482.
  24. Tafsir al-Amtsal, Makarim Shirazi, jld. 7, hlm. 3-10.
  25. ‘Ayyasyi, Tafsir, jld. 2, hlm. 39-40; Barqi, al-Mahāsin, jld. 1, hlm. 241; Shafār, Bashāar al-Darajāt, jld. 1, hlm. 71-72; Shaduq, al-Tauhid, hlm. 330; Shaduq, ‘Ilal al-Syarāi’, jld. 1, hlm. 118.
  26. Al-Kulaini, al-Kāfi, jld. 2, hlm. 13; Shafār, Bashāar, jld. 1, hlm. 70-71.
  27. Shaduq, ‘Ilal al-Syarāi’, jld. 1, hlm. 118; Tafsir Qomi, jld. 1, hlm. 248.
  28. Shaduq, ‘Ilal al-Syarāi’, jld. 1, hlm. 118.
  29. Al-Kulaini, al-Kāfi, jld. 1, hlm. 412.
  30. Thusi, al-Amāli, hlm. 477; Ayyasyi, tafsir, jld. 2, hlm. 38; Shaduq, ‘Iall al-Syarāi’, jld. 2, hlm. 425.
  31. Barqi, al-Mahāsin, jld. 1, hlm. 242; al-Kulaini, al-Kāfi, jld. 5, hlm. 504.
  32. Shaduq, al-Tauhid, hlm. 329; al-Kulaini, al-Kāfi, jld. 2, hlm. 12.
  33. Lih. Al-Kulaini, al-Kāfi, jld. 2, hlm. 6 dan 7; Shafār, Bashāar, jld. 1, hlm. 70 dan 80-81.
  34. Shaduq, ‘Ilal al-Syarāi’, jld. 1, hlm. 84-85 dan 118; al-Kulaini, al-Kāfi, jld. 1, hlm. 236; Shafār, Bashāar, jld. 1, hlm. 80-81.
  35. Al-Kulaini, al-Kāfi, jld. 1, hlm. 133 dan 412; Qomi, Tafsir, jld. 1, hlm. 246-247.
  36. Al-Kulaini, al-Kāfi, jld. 2, hlm. 12; Shaduq, ‘Ilal, hlm. 129; Shafār, Bashāar, jld. 1, hlm. 83 dan 86.


Daftar Pustaka

  • Bahrani, Sayid Hasyim, al-Burhān fi Tafsir al-Qur’an, Tehran, Bunyad Bi’tsat, 1416 H.
  • Barqi, Ahmad bin Muhammad bin Khalid, al-Mahāsin, cet. II, Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1371 H.
  • Razi, Abu al-Fatuh, Raudh al-Jinān wa Ruh al-Jinān, riset: Yahuqi, cet. II, Ustan Quds.
  • Riyahi Mehr, Baqir, ‘Awāmil wa Atsār Sa’ādat Insān az Mandzhar_e Qur’an, Tesis S2, Madrasah Ma’arif Islam, Qom, Universitas Ma’arif, 1392 S.
  • Subhani, Ja’far, Mansyur Jawid Qur’an, cet. III, Muassasah Imam Shadiq As, 1373 S.
  • Shaduq, Muhammad bin Ali, ‘Ilal al-Syarāi’, Qom, Kitab Furusyi Dauri, 1385 S.
  • Shaduq, Muhammad bin Alil, al-Tauhid, riset: Hasyim Husaini, Qom, Jami’ah Mudarrisini, 1398 H.
  • Shafar, Muhammad bin Hasan, Bashāar al-Darajāt fi Fadhāil Ali Muhammad Saw, riset: Muhsin bin Abbas Ali Kucehbaghi, Qom, Kitab Khaneh Ayatullah al-Mar’asyi al-Najafi, 1404 H.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan, Jawāmi’ al-Jāmi’, Tehran-Qom, Universitas Tehran dan Mudiriyat Hauzah Ilmiah, 1377 S.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan, Majma’ al-Bayān, Beirut, Muassasah al-‘Ilmi
  • Thusi, Muhammad bin Hasan, al-Amuli, Muassasah al-Bi’tsat, Qom, Dar al-Tsaqafah, 1414 H.
  • Thusi, Muhammad bin Hasan, al-Tibyān fi Tafsir al-Qur’an, Syaikh Thusi, cet. I, Maktab A’lam, Qom.
  • Ayyasyi, Muhammad bin Mas’ud, Tafsir al-Ayyasyi, riset: Sayid Hasyim Rasuli Mahlati, Tehran, al-Mathbu’ah al-‘Ilmiah, 1380 H.
  • Fakhrurazi, Muhammad bin Umar,Tafsir Kabir, cet. Dar Ahya Turats, Beirut.
  • Qomi, Ali bin Ibrahim, Tafsir al-Qomi, riset: Thayib Musawi Jazairi, Qom, Dar al-Kitab, 1404 H.
  • Al-Kulaini, Muhammad bin Ya’qub, al-Kāfi, cet. IV, Tehran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1407 H.
  • Kufi, Furat bin Ibrahim, Tafsir Furat al-Kufi, Tehran, Muassasah al-Thab’ wa al-Nashr fi Wizarat al-Arsyad Islami, 1410 H.
  • Majlisi, Muhammad Baqir, Bihār al-Anwār, cet. II, Muassasah al-Wafa, Beirut.
  • Mustafawi, Hasan, al-Tahqiq fi Kulli, 1367 S.