Abdullah Mahdh

Dari WikiShia
Lompat ke: navigasi, cari
Keturunan Imam
Abdullah Mahdh
Peran Merekomendasikan putranya, Muhammad (Nafs Zakiyyah) sebagai Mahdi dan mengambil baiat untuknya
Nama Abdullah bin Hasan Mutsanna
Terkenal dengan Abdullah Mahdh
Afiliasi Agama Islam
Tempat Tinggal Madinah
Wafat Najaf
Tempat Dimakamkan 70 kilo meter sebeleh selatan Najaf

Abdullah bin Hasan Mutsanna (bahasa Arab:عبدالله بن الحسن المثنیٰ ) terkenal dengan nama Abdullah Mahdh, adalah cucu laki-laki Imam Hasan as dan cucu putri perempuan Imam Husain as. Ia pada akhir kekuasaan Bani Umayyah, pada masa Imam Shadiq as menyebut putranya Muhammad sebagai Mahdi dan meminta orang-orang untuk memberikan baiat kepadanya.

Di antara putra-putranya, Muhammad (Nafs Zakiyyah) dan Ibrahim (Qatil Bakhamra) yang mengadakan perlawanan terhadap khalifah Abbasi dan terbunuh. Sedangkan putranya yang lain, Idris mendirikan negara Syiah pertama kali di Maroko dengan nama negara Syiah Idrisian.

Abdullah Mahdh pada masa pemerintahan Mansur Dawaniqi, khalifah kedua bani Abbasi, dikenakan hukuman penjara selama tiga tahun karena tidak memberitahukan tempat persembunyian putranya Muhammad yang terkenal dengan Nafs Zakiyyah dan akhirnya ia terbunuh di dalam penjara. Kuburnya berada di 70 kilo meter kota Najaf-Irak, yang dikenal dengan nama Abdullah Abu Najm.

Kehidupan

Ayahandanya, Hasan Mutsanna, putra Imam Hasan as dan Ibundanya Fatimah binti Imam Husain sa. Oleh karena itu, ia dipanggil dengan nama Abdullah Mahdh karena nasabnya baik dari jalur ayah maupun ibu menyambung kepada Rasulullah saw. Dari ia sendiri dinukilkan bahwa: وَلَّدَنی رَسولُ اللهِ مَرَّتَین "Rasulullah telah melahirkan aku dua kali."[1]

Abdullah bin Hasan Mutsanna dimasa mudanya mengikuti majelis-majelis pelajaran Imam Sajjad as.[2]. Telah dinukil darinya bahwa, ibuku Fatimah binti Imam Husain senantiasa menyuruhku untuk hadir dalam pertemuan-pertemuan yang diadakan oleh pamanku Ali bin Husain as, dan pada setiap pertemuan ilmu dan rasa takutku kepada Allah kian bertambah.[3]. Abul Faraj Isfahani menilai bahwa ia adalah Syaikh bagi Bani Hasyim yang memiliki keutamaan dan berilmu. [4] Dinukilkan bahwa Umar bin Abdul Aziz juga menghormatinya. [5]

Abdullah bin Hasan Mutsanna mati terbunuh pada tahun 145 H pada usia 75 tahun di penjara Hasyimiyah Kufah[6] dan menurut riwayat yang lain di Bagdad.[7]Sibth ibn Jauzi mengatakan bahwa ia terbunuh pada Idul Qurban.[8]Sebagaimana yang dituliskan oleh Abul Faraj Isfahani, Abdullah terbunuh karena kepalanya tertimpa langit-langit penjara yang rusak.[9]

Makamnya barada di 9 kilo meter sebelah barat kota Syanafiyah di provinsi Diwaniyah-Irak, terletak di 70 kilo meter sebelah selatan Najaf, yang terkenal dengan nama Abdullah Abu Najm.[10]

Anak-anak

  • Muhammad: Ia dikenal dengan nama Nafs Zakiyyah. Ia mengadakan perlawanan terhadap Dinasti Abbasiyah di Madinah namun terbunuh bersama para prajurit yang ikut peperangan itu.[11]
  • Ibrahim yang terkenal dengan Qatil Bakhamra: Ia mengadakan perlawanan terhadap Bani Abbasiyah setelah perlawanan yang dilancarkan oleh saudaranya, Nafs Zakiyyah di Basrah. Dalam peperangan ini, sangat banyak dari Para Fuqaha kenamaan yang ikut serta, dan orang-orang seperti Abu Hanifah mendukungnya.[12], namun pada akhirnya perlawanan ini menuai kekalahan dan Ibrahim tewas di sebuah tempat bernama Bakhamara, sebuah tempat di dekat Kufah.
  • Idris: Ia hadir pada peristiwa Fakh dan kemudian pergi ke negara Maroko dan mendirikan pemerintahan Syiah Idrisian.[13]
  • Sulaiman: ia mati syahid pada peristiwa Fakh.[14]
  • Yahya: Ibunya adalah Quraibah binti Abdullah (Dzabih) bin Abi Ubaidah bin Abdullah bin Za’mah. [15] Ia datang ke Iran setelah selesai peparangan Syahid Fakh dan hidup secara sembunyi-sembunyi di Dailam dan mengajak masyarakat kota itu untuk mengikuti kekhilafahannya [16] dan mampu mengumpulkan penolong baginya. Namun perlawanannya berakhir dengan kekalahan dan atas perintah Harun al-Rasyid, ia dimasukkan ke penjara dan pada akhirnya meninggal di Baghdad pada tahun 176 H. [17]

Aktivitas Politik

Dari laporan sejarah bisa dipahami bahwa Abdullah tidak tertarik dengan metode perlawanan Zaid bin Ali atas Bani Umayyah dan bahkan sebelum Zaid bin Ali mengadakan perlawanan di Kufah, ia menyuru Zaid untuk mewaspadai akan janji-janji yang diberikan oleh masyarakat Kufah. [18] Demikian juga dinukilkan bahwa ia berbeda pendapat dengan Zaid bin Ali mengenai sumbangan-sumbangan Imam Ali as. [19] Namun setelah syahadahnya Zaid, Abdullah memiliki ketertarikan kepada pemikiran Zaid dan menyiapkan anak-anaknya untuk mengadakan kebangkitan. [20]

Mengambil Baiat bagi Anaknya

Pada akhir-akhir pemerintahan Bani Umayyah, beberapa Bani Hasyim di antaranya Abdullah dan para putranya, demikian juga dengan Safah dan Manshur berkumpul di Abwa mengharap masyarakat akan memberikan baiat kepada salah satu dari mereka. Pada pertemuan itu, Abdullah memperkenalkan putranya Muhammad sebagai Mahdi dan ia mengajak masyarakat supaya membaiatnya.[21]Sepak terjang Abdullah ini tidak disetuji oleh Imam Shadiq as dan beliau marah kepadanya seraya berkata, 'khilafah milik Sifah dan saudara-saudaranya serta anak-anaknya, bukan milik kamu dan anak-anakmu'.[22]Berdasarkan apa yang telah disebutkan dalam buku Maqatil al-Thalibiyyin, Imam Shadiq as telah memberi tahu Abdullah bahwa kedua putranya akan terbunuh.[23]

Menurut Rasul Ja’fariyan, penulis sejarah kontemporer, perbedaan antara putra-putra Imam Hasan as dan Imam Husain as muncul sejak Abdullah bin Hasan bin Hasan, putra Muhammad, diperkenalkan sebagai Qa'im ali Muḥammad. [24]

Penjara Bani Abbas

Abdullah Mahdh pada masa pemerintahan Mansur Dawaniqi, khalifah kedua bani Abbasi, masuk penjara selama tiga tahun karena tidak memberitahukan tempat persembunyian putranya Muhammad (Nafs Zakiyyah).[25] Pada tahun 140 H ia bertemu dengan Manshur Dawaniqi di musim haji dan ia menolak permintaan Mansur untuk memberitahukan tempat persembunyian Nafs Zakiyyah.[26]

Catatan Kaki

  1. Abul Faraj Isfahani, Maqātil al-Thālibiyyin, 1408 H, hlm. 168.
  2. Arbili, Kasyf al-Ghummah, jld.2, hlm.84; Qurasyi, Hayat al-Imam Zainul Abidin, jld.2, hlm. 266
  3. Arbili, Kasyf al-Ghummah, jld.2, hlm.84; Qurasyi, Hayat al-Imam Zainul Abidin, jld.2, hlm. 266
  4. Abul Faraj Isfahani, Maqātil al-Thālibiyyin, 1408 H, hlm. 167.
  5. Abul Faraj Isfahani, Maqātil al-Thālibiyyin, 1408 H, hlm. 170.
  6. Abul Faraj Isfahani, Maqātil al-Thālibiyyin, 1408 H, hlm. 171
  7. Shabiri, Tarikh Firaq Islami, jld. 2, hlm. 70, dinukil dari Tarikh Baghdad, jld. 9, hlm. 431-433 dan Tarikh al-Ya'qubi, jld.2, hlm.360
  8. Sibth ibn Jauzi, Tadzkirah al-Khawash, hlm.207
  9. Abul Faraj Isfahani, Maqātil al-Thālibiyyin, 1408 H, hlm. 202-203
  10. Gubernur Najaf Asyraf mengunjungi makam Abdullah Abu Najm.
  11. Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, jld. 7, hlm. 590
  12. Dzahabi, al-'Ibar, jld.1, hlm.155-156
  13. Abul Faraj Isfahani, Maqatil al-Talibiyyin, hlm.406-408
  14. Abul Faraj Isfahani, Maqatil al-Talibiyyin, hlm.365
  15. Abul Faraj Isfahani, Maqātil al-Thālibin, 1408 H, hlm. 388.
  16. Abul Faraj Isfahani, Maqātil al-Thālibin, 1408 H, hlm. 390-433.
  17. Ibnu Anbah, Umdah al-Thālib, hlm. 111-112.
  18. Sabiri, Tārikh Farq Islāmi, jld. 2, hlm. 70; Menurut nukilan dari Ibnu Katsir, al-Kāmil, jld. 5, hlm. 143.
  19. Baladzuri, Ansāb al-Asyrāf, jld. 2, hlm. 199.
  20. Sabiri, Tārikh Firaq Islāmi, jld. 2, hlm. 70.
  21. Abul Faraj Isfahani, Maqatil al-Thalibiyyin, hlm. 185-186
  22. Abul Faraj Isfahani, Maqatil al-Thalibiyyin, hlm.185-186
  23. Abul Faraj Isfahani, Maqatil al-Thalibiyyin, hlm.185-186
  24. Ja’fariyan, Hayāt Fikri wa Siyāsi Imāman Syiah, hlm. 371.
  25. Abul Faraj Isfahani, Maqatil al-Thalibiyyin, hlm. 192-193; Thabari, Tarikh al-Umam wa al-muluk, jld.7, hlm.524
  26. Abul Faraj Isfahani, Maqatil al-Thalibiyyin, hlm. 192-193; Thabari, Tarikh al-Umam wa al-muluk, jld.7, hlm.524

Daftar Pustaka

  • Abu al-Faraj Isfahani, Ali bin Husain.Maqātil ath-Thālibiyyin. Komentar dan riset Ahmad Shaqar. Beirut: Muassasah al-A'lami li al-Matbu'at, 1408 H/1987.
  • Arbili, Ali bin Isa. Kasyf al-Ghummah fi Ma'rifat al-Aimmah. Najaf: Maktabah al-Haidariyah, 1427 H.
  • Baladzuri, Ahmad bin Yahya. Ansāb al-Asyrāf. Riset: Muhammad Baqir Mahmudi. Beirut: Muassasah al-a'lami li al-Mathbu'at, 1394 H/1974
  • Dzahabi, Syamsuddin Muhammad bin Ahmad. Al-'Ibar fi Khair man Ghabara. Riset: Abu Hajir Muhammad Said bin Basyuni Zughlul. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah, tanpa tahun.
  • Ibnu Anbah, Ahmad bin Ali. 'Umdah ath-Thālib fi Ansāb Āl Abi Thalib. Qom: Anshariyan, 1383 HS/2004.
  • Jakfaiyan, Rasul. Hayāte Fikri wa Siyasi Imāmāni Syiah. Qom: Intisyarat Anshariyan, cet.XI, 1387 HS
  • Qurasyi, Baqir Syarif. Hayāt al-Imam Zainul Abidi. Beirut: Dar al-Adhwa, 1988/1408 H.
  • Sajjadi,Shadiq.Ibrahim bin Abdullah, Ensiklopedia Ma'arif Islami, jld.2, hlm.446.
  • Shabiri, Husain. Tarikh Firaqe Islami Firaqe Syieh wa Firqehaye Mansub be an. Teheran: simat, cet. V, 1388 HS.
  • Shibt bin Jauzi,Yusuf bin Qazghali. Tadzkirah al-Khawash. Qom: Mansyurat al-syarif al-Radhi, 1418 H
  • Thabari, Muhammad bin Jarir. Tarikh al-Umam wa al-Muluk. Beirut: Dar al-Turats, cet. II, 1387 H
  • Ya'qubi, Ahmad bin Abi Ya'qubi. Tarikh al-Ya'qubi. Beirut: Dar Shadir, tanpa tahun.