Prioritas: a, Kualitas: c
tanpa link
tanpa foto
tanpa Kategori
tanpa navbox
tanpa alih
tanpa referensi

Wudhu

Dari WikiShia
Revisi per 3 Juni 2018 10.09 oleh E.amini (bicara | kontrib) (removed Category:Taharah using HotCat)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)
Lompat ke: navigasi, cari

Wudhu (bahasa Arab:الوضوء) adalah sebuah terminologi fiqih yang berarti membasuh muka dan tangan serta mengusap kepala dan kaki, dengan tata cara, secara urut dan niat yang telah dijelaskan dalam fiqih. Wudhu dengan sendirinya hukumnya adalah sunnah dan wajib untuk sebagian aktivitas, seperti salat dan tawaf Ka’bah. Dalam sebagian hal, harus dilakukan mandi atau tayammum, sebagai ganti dari wudhu. Wudhu dapat dilakukan dengan tiga cara: Tartibi (secara urut), Irtimasi (secara dibenamkan) dan Jabirah (berbalut).

Al-Quran dalam ayat wudhu[1] telah menjelaskan tata caranya dan riwayat-riwayat juga telah menjelaskan urgensitas dan perinciannya. Hadis-hadis Islam, para tokoh agama dan ulama ilmu akhlak juga menganjurkan agar senantiasa memiliki wudhu dan bersuci.

Pengertian Wudhu

Wudhu secara etimologi berasal dari kata Wadha’ah, yang berarti kebersihan/bersih dan bersuci, bukan dari kalimat Dhau’ yang berarti cahaya. Wudhu secara terminologi fiqih berarti membasuh muka dan tangan serta mengusap kepala dan kaki, sesuai dengan metode yang telah ditentukan dalam Al-Quran dan sunnah. Amal yang menyebabkan kesucian jasad dan jiwa ini dinamakan dengan wudhu.

Berwudhu hukumnya sunnah dan hukumnya wajib jika untuk melaksanakan salat, thawaf, menyentuh tulisan Al-Quran, menyentuh nama-nama Allah dan secara ikhtiyat nama Rasulullah Saw dan Ahlulbait As. Disunnahkan berwudhu dalam sebagian pekerjaan seperti membawa Al-Quran, membaca Al-Quran, berdoa, pergi ke masjid atau berziarah.

Wudhu dalam Al-Quran dan Riwayat

Satu-satunya ayat Al-Quran yang mengkaji tentang wudhu dan tata caranya adalah surah Al-Maidah ayat 6, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kalian hendak mengerjakan salat, maka basuhlah muka dan tangan kalian sampai dengan siku. Usaplah kepala dan kaki kalian sampai dengan kedua mata kaki.” Ahlusunnah menafsirkan ayat ini berbeda dengan apa yang ditafsirkan oleh Syiah dan tata cara wudhu mereka berbeda dengan Syiah dalam tiga aspek: mengusap tangan, kadar lazim dalam mengusap kepala dan membasuh kaki. Ada 565 riwayat terkait wudhu dalam dua buku Wasail al-Syiah dan Mustadrak al-Wasail, yang menunjukkan kedudukan agungnya. Sebagian riwayat tersebut menjelaskan hukum-hukum syariat wudhu dan sebagian lainnya membahas tentang dimensi-dimensi lainnya:

  • Wudhu menambah panjang umur. [2]
  • Menghilangkan murka dan amarah. [3]
  • Pembuka duka dan lara. [4]
  • Wudhu adalah cahaya dan wudhu diatas wudhu adalah sebuah cahaya yang berlipat dan kaffarah (penebus) dosa-dosa antara dua wudhu. [5] [6]
  • Pahala wudhu sebelum tidur adalah dicatat ibadah sampai terbangun dari tidur. [7]
  • Berwudhu sebelum makan menghilangkan kefakiran dan setelahnya menghilangkan kebimbangan. [8]

Perbedaan dalam Wudhu

Dengan melihat sebagian riwayat, tidak ada perselisihan dalam wudhu sampai akhir kekhilafahan Umar bin Khattab dan semua kaum muslimin berwudhu dengan tata cara yang sama, namun sejak masa Utsman muncul perselisihan dalam tata cara berwudhu. Al-Muttaqi Hindi menegaskan, Utsman menciptakan perubahan dalam wudhu. [9] Dalam menjabarkan wudhu Rasulullah Saw, ia sekali menyebut mengusap kaki[10] , namun ditempat lain ia mengatakan wudhu Rasulullah Saw dengan membasuh kaki. [11]

Amirul Mukminin Ali As dalam hal ini mengatakan, “jika agama mengikuti pendapat orang-orang, setiap ajaran yang mengusap telapak kaki lebih baik ketimbang di atas kaki; namun aku melihat bahwa Rasulullah Saw mengusap di atas kaki.” [12] Berdasarkan riwayat dari Ahlusunnah, malaikat Jibril juga mengajari Rasulullah Saw dengan mengusap kaki. [13]

Pembagian Wudhu

Wudhu ada tiga macam. Dalam kondisi biasa wudhu dapat dilakukan dengan cara tartibi atau irtimasi dan dalam kondisi tertentu, maka harus melakukan dengan cara wudhu jabirah.

Wudhu Tartibi

Jenis wudhu yang sering dan biasa dilakukan adalah wudhu tartibi, yaitu setelah berniat[14] , pertama-tama membasuh muka kemudian tangan kanan dan selanjutnya tangan kiri dan setelah itu baru mengusap kepala dan di permukaan atas kaki dengan basahan air yang tersisa di telapak tangan.

Membasuh Muka dan Tangan

Muka harus dibasuh dari atas ke bawah, dari tempat biasa tumbuhnya rambut sampai ujung dagu dan dengan ukuran lebar tangan (antara ibu jari dan ujung jari tengah). Tangan juga dibasuh dari atas siku sampai ujung jari, air juga harus masuk sampai di bawah cincin, jam tangan dan gelang. Basuhan pertama hukumnya wajib, basuhan kedua juga berdasarkan fatwa mayoritas para faqih hukumnya jaiz (boleh), namun basuhan ketiga, meski haram namun tidak membatalkan wudhu, kecuali basuhan ketiga tangan kiri, karena jika demikian, maka membasuh kepala atau kaki tersebut dengan basahan air tambahan. Mustahab hukumnya bagi laki-laki supaya memulai dari bagian luar siku dan bagi perempuan dari bagian dalam siku. [15] [16] Dalam wudhu, bulu tangan dan muka harus dibasuh dan jika jenggot, kumis dan alis sangat pendek, dimana kulit bawahnya terlihat, maka air juga harus sampai ke kulit tersebut, namun jika kulitnya tidak terlihat, maka cukuplah dengan membasuh bagian bulu atau rambutnya saja.

Mengusap Kepala dan Kaki

Setelah membasuh kedua tangan, selanjutnya adalah mengusap (sebagian)kepala sekali dengan basahan air yang tersisa di telapak tangan dan mengusap kaki kanan sekali dan selanjutnya mengusap kaki kiri sekali. Usapan kepala harus dilakukan di atas rambut di bagian depan kepala (jaraknya antara dahi sampai pangkal rambut) atau akar rambut atau kulit bagian tersebut, dari atas kepala ke arah dahi. Jika rambutnya terlalu lebat, maka pangkal rambut atau kulit kepala harus diusap (dapat membelah dan mengusap akar rambut). Ukuran mengusap kepala, cukup seukuran apapun, meski sunnahnya (menurut sebagian fatwa ikhtiyat wajib) dengan seukuran panjang satu jari dan lebar tiga jari tertutup). [17] Saat mengusap, kepala atau kaki harus dalam keadaan tetap (tidak bergerak) dan tangan yang mengusap di atasnya. [18] Mengusap kaki dilakukan dari ujung jari (bukan permulaan kuku) sampai persendian kaki (sebagian menganggap cukup sampai benjolan di atas kaki).

Berwudhu dengan tangan dan muka basah tidak masalah, dengan syarat air yang dituangkan untuk berwudhu tidak mengalahkan basahan tangan dan muka, namun tempat mengusap kepala dan kaki harus kering. [19]

Wudhu Irtimasi

Dalam wudhu irtimasi, sebagai ganti dari menuangkan air di atas anggota wudhu, seseorang dengan niat berwudhu memasukkan anggota wudhu tersebut ke dalam air dari atas ke bawah atau pertama-tama seseorang memasukkan anggota wudhunya terlebih dahulu ke dalam air dan dengan niat berwudhu mengeluarkannya dari atas permukaan air ke bawah, dan dengan basahan tangan mengusap kepala dan kaki. [20] Sebagian marja’ seperti ججAyatullah Shafi Ghulpaiganiچچ berpendapat ikhtiyat wajib harus membasuh tangan kiri secara biasa dan setelah itu mengusapnya. [21]

Wudhu Jabirah

Menutup luka atau anggota wudhu yang patah dengan kain perban, membubuhkan obat di atas luka dan semisalnya adalah jabirah dan berwudhu dengan kondisi demikian disebut dengan wudhu jabirah.

Wudhu jabirah dilakukan ketika seseorang merasa sulit untuk membuka perban atau berbahaya atau tidak dapat menuangkan air atau mengusap tangan secara langsung di atas luka atau patah, yakni mengusap tangan yang basah di tempat-tempat yang dapat dibasuh secara alami dan di atas perban yang ada luka atau kain di atasnya. [22] Jika jabirah menutupi semua atau mayoritas anggota wudhu, maka ia harus bertayammum sebagai ganti dari wudhu (namun sebagian marja’ berpendapat selain tayammum ia juga diharuskan untuk melakukan wudhu jabirah). [23]

Syarat dan Hukum Wudhu

  1. Air dan anggota wudhu harus suci (tidak najis).
  2. Air wudhu adalah air murni (bukan mudhaf seperti air buah, air mawar, air lumpur).
  3. Air wudhu, bejana dan tempat wudhu harus mubah, bukan ghasab (tidak ada izin).
  4. Bejana air wudhu tidak terbuat dari emas dan perak.
  5. Adanya waktu untuk berwudhu (jika waktu untuk melakukan shalat dan wudhu tidak cukup dan shalatnya diqadha, maka harus bertayammum sebagai ganti dari wudhu).
  6. Dengan niat taqarrub(mendekatkan diri kepada Allah).
  7. Menjaga tartib (urut).
  8. Muwalat (berkesinambungan).
  9. Tidak meminta bantuan orang lain dalam berwudhu.
  10. Tidak berbahaya jika menggunakan air.
  11. Tidak ada rintangan untuk sampainya air ke anggota wudhu. [24]

Keraguan-keraguan Wudhu

Keraguan dalam melakukan wudhu Keraguan dalam pengambilan wudhu, ragu apakah ia sudah mengambil wudhu atau tidak Sebelum salat Harus berwudhu
Di pertengahan salat Salatnya batal
Setelah salat salat sudah dilakukan benar, namun untuk salat-salat selanjutnya harus mengambil wudhu
Ragu dalam bagian wudhu Di pertengahan wudhu Harus kembali dan melaksanakan yang diragukan tadi kemudian secara tertib menyempurnakan wudhu
Setelah wudhu Wudhunya benar

Jika sebelumnya seseorang memiliki wudhu, dan sekarang ini ragu apakah wudhunya sudah batal ataukah tidak, maka di sini dia tidak perlu berwudhu lagi dan jika yakin wudhunya sudah batal, namun sekarang ragu apakah sudah berwudhu ataukah belum, maka ia harus mengambil wudhu.

Menggunakan Air di luar Wudhu

Dalam mengusap kepala dan kaki, seseorang tidak diperbolehkan untuk menggunakan air selain dari basahan yang diperoleh dari basuhan tangan dan muka dalam berwudhu, namun jika saat membasuh tangan dan muka sedikit tercampur dengan air di luar air wudhu, seperti saat membuka dan menutup keran kemudian bercampur dengan tetasan air wudhu atau tetasan-tetesan dari air wudhu lainnya atas anggota wudhu, maka tetesan-tetesan tambahan tersebut dapat diniatkan sebagai bagian dari air wudhu dan wudhunya dapat dibenarkan. Sebelum membasuh tangan kanan juga dapat menutup keran dengan tangan tersebut dan selanjutnya air yang ada di genggaman tangan kanan ditambah dengan tetesan-tetesan baru dikategorikan sebagai air wudhu, tapi setelah selesai membasuh tangan kiri, tidak diperbolehkan mengusap kepala dan kaki dengan basahan tambahan tersebut. [25]

Penghalang dalam Anggota Wudhu

Saat berwudhu, tidak boleh ada sesuatu di anggota wudhu yang dapat menghalangi sampainya air ke kulit. Jika ketika berwudhu, seseorang ragu apakah ada penghalang ataukah tidak, sebagaimana kemungkinannya tepat menurut pendapat masyarakat – bukan berdasarkan rasa waswas – maka harus diperiksa atau mengusapnya sampai merasa yakin bahwa jika sebelumnya ada hal itu sudah hilang atau air masuk dan mengalir di bawahnya. [26]

Jika setelah berwudhu muncul keraguan apakah ketika berwudhu ada penghalang ataukah tidak, maka tidak perlu memperhatikan keraguan tersebut; namun jika setelah wudhu ia melihat ada penghalang dan dia ragu apakah saat ia berwudhu tadi penghalang itu ada ataukah penghalang itu ada setelah ia berwudhu, maka wudhunya dianggap benar, kecuali saat ia berwudhu sama sekali tidak memperhatikan adanya penghalang, jika demikian maka ia harus mengulangi wudhunya[27] (menurut sebagian maraji seperti Ayatullah Sayid Ali Sistani wudhu tersebut hukumnya adalah mustahab) [28] .

Fatwa para marja’ taklid bagi seseorang yang pada anggota wudhunya terdapat penghalang, yang tidak dapat dihilangkan atau sangat sukar dihilangkan sangat beragam:

  1. Cukup dengan wudhu Jabirah[29] , dan ikhtiyat wajibnya, jika semua atau sebagian dari tempat tayammun tidak ada penghalang, maka ia juga bertayammum. [30]
  2. Wudhu jabirah hanya dapat dilakukan jika terdapat luka atau patah. [31]
  3. Cukup bertayammum[32] , kecuali jika di tempat tayammum juga ada penghalang yang melekat, jika demikian, maka wudhu saja sudah cukup. [33]
  4. Jika ada penghalang yang melekat di tempat tayammum, maka ia harus menggabungkan antara wudhu dan tayammum. [34]


Wudhu dengan Make Up atau Gel Rambut

Jika memakai krem atau make up yang memiliki substansi yang dapat menghalangi sampainya air ke kulit maka harus dihilangkan, namun jika hanya lemak biasa saja maka hal itu tidak masalah. Jika menggunakan gel, minyak, semprotan dll di rambut, jika saat berwudhu rambutnya dibelah dan mengusap di atas kulit kepala, maka wudhunya benar.

Tinta Pena, Tato dan Rajah

Apabila ada tinta pena, tato atau rajah di atas kulit dan memiliki substansi maka itu menghalangi wudhu dan harus dihilangkan (terlebih dahulu) [35] , namun jika tidak bersubstansi dan hanya warnanya saja yang tersisa dan menembus ke dalam kulit, maka berwudhu dan mandi dengannya tidak masalah dan benar. [36]

Mengusap di atas Rambut Palsu (Wig)

Rambut palsu atau wig harus dilepas dari kepala saat berwudhu atau mandi. Jika rambut yang ditanam tanpa adanya perekat sudah menjadi bagian dari badan, maka wudhu dan mandinya benar, namun jika penanaman rambut dilakukan dengan perekat yang menghalangi sampainya air ke kulit kepala, jika sebagian dari tempat mengusap kepala adalah rambut aslinya sendiri, maka orang tersebut dapat mengusap di bagian tersebut, namun jika semua bagian tersebut adalah rambut tanaman, maka fatwanya sangatlah beragam sebagaimana yang telah disiyaratkan di atas: membasuh rambut tersebut, wudhu jabirah, tayammum, penggabungan antara tayammum dan wudhu jabirah. [37]

Kutek dan Memasang Kuku Palsu

Jika kutek yang dipakai dapat dihilangkan dengan mudah, maka harus dihilangkan dan kemudian baru berwudhu[38] namun jika tidak dapat dihilangkan atau sangat sukar menghilangkannya, maka sebagian para marja’ selain mengharamkan hal tersebut (butuh referensi) juga orang itu harus melakukan wudhu jabirah dan juga bertayammum (perbedaan fatwa disini juga berlaku). [39]

Jika penghalang sampainya air ke kulit seperti kutek, di atas kuku jemari kaki atau sebagian di atas kaki, maka cukup hanya dengan menghilangkan penghalang satu jari dari setiap kaki untuk wudhu dan tidak perlu menghilangkannya yang ada di semua jemari kaki[40] (sebagian maraji menganggap kuku kecil tidak mencukupi dan mereka meyakini lebar usapan harus seukuran tiga jari [41] ).

Memasang kuku jika untuk wudhu atau mandi tidak dapat dilepas, menurut fatwa sebagian maraji hal itu tidak diperbolehkan (dilarang) dan jika memasangnya, maka disitu berlaku perbedaan fatwa seperti yang tertera diatas. [42] [43] [44] Jika kukunya panjang, selain air harus sampai di atasnya, dibawah kukunya juga harus bersih dan tidak ada penghalang untuk sampainya air ke sana. Jika kukunya pendek, dimana tidak terlihat dari balik tangan, maka tidak diharuskan membasuh dibawah kukunya selama tidak menghalangi sampainya air ke kulit bagian tersebut.

Lepuhan di Angggota Wudhu

Jika ada lepuhan di anggota wudhu akibat terbakar atau sesuatu lainnya, maka cukuplah membasuh dan mengusap di atasnya, dan jika berlubang, maka tidak perlu mengalirkan air ke bawahnya. Jika kulit satu bagiannya terlepas, maka tidak perlu untuk mengalirkan air di bawah bagian yang terlepas, namun jika kulit yang terlepas terkadang menempel di badan dan terkadang tidak menempel, maka harus mengalirkan air di bawahnya juga. [45]

Wudhu setelah Mandi

Jika seseorang melakukan mandi janabah, selama ia tidak berhadas (buang air besar, buang air kecil dll), maka dia melaksanakan salat dengan mandi tersebut dan tidak diharuskan berwudhu. dan jika ia bewudhu dengan tanpa keluarnya hadas, ia telah melakukan hal yang haram, namun mandi dan salatnya benar[46], namun jika keluar hadas maka dia diharuskan berwudhu untuk melaksanakan salat [47], namun jika ada kemungkinan setelah wudhu melakukan hal yang membatalkan wudhu, meski tidak wajib baginya untuk berwudhu, namun lebih baik ia melakukan wudhu.

Tentang mandi-mandi lain yang mencukupi dari wudhu:

  1. Ayatullah al-Uzhma Imam Khomeini, Ayatullah al- Uzhma Bahjat, Ayatullah al- Uzhma Khomenei dan Ayatullah al- Uzhma Shafi: Hanya dengan mandi janabah saja dapat melaksanakan salat, namun dengan mandi-mandi lainnya dia harus melakukan wudhu. [48]
  2. Ayatullah Makarim: dengan mandi wajib dan mustahab dapat melaksanakan salat dan tidak wajib kembali melakukan wudhu, namun ikhtiyat mustahab adalah pada selain mandi janabah, juga melakukan wudhu. [49]
  3. Ayatullah Fadhil: Dengan semua mandi-mandi wajib – selain mandi istihadhah mutawassitah – dapat melakukan salat, meski ikhtiyat mustahab adalah (di selain mandi janabah) juga melakukan wudhu. [50]
  4. Ayatullah Tabrizi, Ayatullah Sistani, Ayatullah Nuri dan Ayatullah Wahid Khurasani: dapat melakukan salat dengan semua mandi-mandi wajib dan mustahab – selain dari mandi istihadhah mutawassitah –, meski ikhtiyat mustahab adalah (di selain mandi janabah) juga mengambil wudhu. [51]

Hal-hal yang Membatalkan Wudhu

Ada beberapa hal yang dapat membatalkan wudhu diantaranya adalah:

  • Buang air kecil, buang air besar dan buang angin (kentut).
  • Tidur yang karenanya mata tidak lagi melihat dan telinga tidak lagi mendengar, namun jika telinga masih mendengar maka tidak membatalkan wudhu.
  • Sesuatu yang menghilangkan akal, seperti gila, mabuk dan tidak sadar.
  • Istihadah wanita (pendarahan).
  • Setiap perbuatan yang mengharuskannya mandi, seperti janabah dan menyentuh badan mayit dalam kondisi tertentu.[52] Keluarnya cairan selain mani dan kencing, maka tidak perlu berwudhu.

Hal-hal yang Disunnahkan dalam Wudhu

Saat berwudhu disunnahkan untuk menghadap kiblat[53] , bersiwak[54] , yang melipatgandakan 70 kali ganjaran salat[55] , berkumur-kumur sebelum wudhu[56] , dan istinsyaq[57] [58] , air wudhu tidak lebih dari 50 gram (kurang lebih tiga gelas) dan tidak mengeringkan anggota wudhu setelah berwudhu. [59] Dianjurkan juga untuk membaca surah Al-Qadr saat berwudhu. [60]

Doa saat Berwudhu

dianjurkan saat berwudhu hendaknya membaca doa yang diriwayatkan dari Amirul Mukminin Ali As, beliau menjelaskan sebagian rahasia dan adab-adab maknawi wudhu, dengan mengatakan:

Ketika melihat air اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذی جَعَلَ الْمآءَ طَهُورا وَلَمْ یجْعَلْهُ نَجِساً Puji syukur kepada Allah yang telah menjadikan air suci dan mensucikan dan tidak menjadikannya najis.
Ketika Membasuh tangan بِسْمِ اللَّهِ وَبِاللَّهِ اَللّهُمَّ اجْعَلْنی مِنَ التَّوّابینَ وَاجْعَلْنی مِنَ الْمُتَطَهِّرینَ Dengan nama Allah dan dengan kebenaran Dzat-Nya, ya Allah jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang bersuci.
Ketika berkumur-kumur اَللّهُمَّ لَقِّنی حُجَّتی یوْمَ اَلْقاک وَاَطْلِقْ لِسانی بِذِکراک Ya Allah, temuilah aku dengan hujjahku di hari aku menghadapMu, dan tuntunlah lisanku dengan berzikir padaMu.
Ketika beristinsaq اَللّهُمَّ لا تُحَرِّمْ عَلَی ریحَ الْجَنَّةِ وَاجْعَلْنی مِمَّنْ یشَمُّ ریحَها وَرَوْحَها وَطیبَها Ya Allah, jangan Kau haramkan padaku aroma surga dan jadaikanlah aku termasuk dari orang-orang yang mencium aroma keharuman anginnya.
Ketika membasuh muka اَللّهُمَّ بَیضْ وَجْهی یوْمَ تَسْوَدُّ فیهِ الْوُجُوهُ وَلا تُسَوِّدْ وَجْهی یوْمَ تَبْیضُّ فیهِ الْوُجُوهُ Ya Allah, putihkanlah mukaku di hari penghitaman muka-muka dan jangan Kau hitamkan mukaku di hari pemutihan muka-muka.
Ketika membasuh tangan kanan اَللّهُمَّ اَعْطِنی کتابی بِیمینی وَالْخُلْدَ فِی الْجِنانِ بِیساری وَحاسِبْنی حِساباً یسیراً Ya Allah, berilah catatan amalku di tangan kananku dan surat kekekalanku di surga di tangan kiriku dan mudahkanlah perhitunganku.
Ketika membasuh tangan kiri اَللّهُمَّ لا تُعْطِنی کتابی بِشِمالی وَلا مِنْ وَرآءِ ظَهْری وَلا تَجْعَلْها مَغْلُولَةً اِلی عُنُقی وَاَعُوذُ بِک مِنْ مُقَطَّعاتِ النّیرانِ Ya Allah, jangan Kau letakkan catatan amalku di tangan kiriku dan juga tidak dari belakang punggungku, dan jangan kau gantungkan ke atas leherku, dan aku berlindung kepadaMu dari sambaran dan jilatan (yang merobek) api neraka.
Mengusap kepala اَللّهُمَّ غَشِّنی رَحْمَتَک وَبَرَکاتِک Ya Allah, tenggelamkanlah aku dalam rahmat dan keberkahanMu.
Mengusap kaki اَللّهُمَّ ثَبِّتْنی عَلَی الصِّراطِ یوْمَ تَزِلُّ فیهِ الاَقْدامُ وَاجْعَلْ سَعْیی فیما یرْضیک عنّی یا ذَاالْجَلالِ وَالاِکرامِ Ilahi, tegapkanlah aku pada shiratMu di hari semua kaki-kaki tergelincir dan jadikan usahaku pada hal-hal yang engkau ridhai, wahai pemilik kebesaran dan kemuliaan.
Setelah selesai wudhu اَللّهُمَّ اِنّی اَسْئَلُک تَمامَ الْوُضُوءِ وَتَمامَ الصَّلوةِ وَتَمامَ رِضْوانِک وَالْجَنَّةَ. اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعالَمینَ Ya Allah, kepadaMu aku meminta kesempurnaan wudhu, dan kesempurnaan salat dan juga kesempurnaan keridhoan dan aku mengharap surgaMu. Puji syukur hanya untuk Allah Tuhan semesta alam.

Pranala terkait

Catatan Kaki

  1. Q.S. Al-Maidah: 36.
  2. Rasulullah (Saw bersabda), “Perbanyaklah bersuci (wudhu), Allah Swt akan menambah umurmu.” Āmāli (Mufid), hlm. 60, hadis 5.
  3. Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya kemamarahan dari setan dan sesungguhnya setan tercipta dari api dan sesungguhnya api dapat dipadamkan dengan air, apabila salah satu dari kalian marah, maka berwudhulah.” Nahjul Fashahah, hlm. 286, hadis 660.
  4. Imam Shadiq As berkata, “Apa yang menghalangi kalian, setiap kali kesedihan-kesedihan dunia melanda hendaknya berwudhu, kemudian pergi ke tempat sujud kalian dan melakukan salat dua rakaat? Tidakkah kalian mendengar Allah Swt berfirman, meminta bantuanlah kalian dari sabar dan salat?” Tafsir Ayasyi, jild. 1, hlm. 43, hadis 39.
  5. Imam Shadiq As berkata, “Wudhu di atas wudhu adalah cahaya di atas cahaya.” Wasail al-Syiah, jild. 1, hlm. 377.
  6. Imam Ali As berkata, “Dan wudhu sampai pada wudhu adalah kaffarah dosa-dosa diantara keduanya.” Man La Yahdhuruhul Faqih, jild. 1, hlm. 50.
  7. Imam Shadiq As berkata, “Barang siapa bersuci kemudian tidur di tempat tidurnya, tempat tidurnya pada malam tersebut laksana masjid dan kemudian jika ia teringat bahwa dirinya tidak memiliki wudhu, maka ia bertayammum, maka jika demikian ia senantiasa dalam salat dan mengingat Allah Swt.” Tahdzib al-Ahkam, (riset Khurasan), jild. 2, hlm. 116.
  8. Rasulullah Saw bersabda, “Wudhu sebelum makan menghilangkan kefakiran dan setelahnya menghilangkan waswas dan mempertajam pandangan.” Nahjul Fashahah, hlm. 797.
  9. Kanzul Ummal, jild. 9, hlm. 443, h. 26890.
  10. Al-Mushannif fi al-Ahadits wa al-Ātsar, jild. 1, hlm. 16.
  11. Musnad al-Darumi, jild. 1, hlm. 544.
  12. Ibn Abi Syaibah, Al-Mushannif fi al-Ahadits wa al-Ātsar, jild. 1, hlm. 25; Kanzul Ummal fi Sunan al-Aqwal wa al-Af’al, jild. 9, hlm. 606.
  13. Shan’ani, al-Mushannif, jild. 1, hlm. 19; Ibn Abi Syaibah, Al-Mushannif fi al-Ahadits wa al-Ātsar, jild. 1, hlm. 26.
  14. Yakni di benaknya cukup berkeinginan melakukan wudhu dan untuk mendekatkan diri kepada Allah swt dan mendapatkan ridha-Nya. Tidak perlu melafazkannya.
  15. Taudhih al-Masail (Al-Mahsyi lil Imam al-Khomeini), jild. 1, hlm. 155, masalah 245.
  16. Taudhih al-Masail (Al-Mahsyi lil Imam al-Khomeini), jild. 1, hlm. 205, Ahkame Wudhu (Istafita’at Rahbar), pertanyaan. 146.
  17. Taudhih al-Masail (Al-Mahsyi lil Imam al-Khomeini), jild. 1, hlm. 157.
  18. Ibid., hlm. 159, masalah 255.
  19. Taudhih al-Masail (Al-Mahsyi lil Imam al-Khomeini), jild. 1, hlm. 158, masalah 256: tempat yang diusap harus kering dan jika sedikit basah, dimana basahan tangan tidak berpengaruh maka usapan tersebut batal, namun jika basahan tersebut sangat sedikit sehingga basahan setelah mengusap dapat terlihat, dan dikatakan hanya dari basahan tangan maka tidak masalah.
  20. Taudhih la-Masail Maraji’, masalah 261.
  21. Taudhih al-Masail Ayatullah Shafi, masalah 267.
  22. Taudhih al-Masail (Al-Mahsyi lil Imam al-Khomeini), masalah 198.
  23. Ibid., masalah 305.
  24. Taudhih la-Masail Maraji’, syarat-syarat wudhu.
  25. Catatan 1: Ayatullah Khomenei: Jika seseorang yang berwudhu, saat membasuh muka dan tangan membuka dan menutup keran air dengan niat berwudhu (yakni jika keran air kering tetesan tambahan bagian dari air wudhu) maka tidak masalah dan tidak merusak keabsahan wudhu. Namun jika setelah selesai membasuh tangan kiri dan sebelum mengusap dengannya, kemudian meletakkan tangannya di atas keran yang basah dan air wudhu tangan bercampur dengan air dari luar wudhu, maka keabsahan mengusap dengan basahan yang bercampur dengan air wudhu dan selainnya tidaklah jelas. (Taudhih al-Masail (Mahsyi Lil Imam al-Khomeini)), jild. 1, hlm. 200, Daftar Intisyarate Islami, cet. 8, Qom, 1424 H/ Ayatullah Shafi Ghulpaigani: Percikan air wudhu orang lain ke atas tangan dan muka seseorang yang sedang melakukan wudhu, jika orang-orang disekitarnya berniat melakukan wudhunya dengan sekumpulan air yang ada di tangan mereka, baik air yang mereka tuangkan sendiri atau air yang terpercik dari air wudhu selainnya, hal itu tidak bermasalah. Ayatullah Shafi Ghulpaigani, Luthfullah, Jami’ al-Ahkam (Shafi, jild. 1, hlm. 35, Intisyarat Hazrate Ma’sumah, cet. 4, Qom, 1417 H.
  26. Taudhih al-Masail (Al-Mahsyi lil Imam al-Khomeini), jild. 1, hlm. 177, masalah 293.
  27. Taudhih la-Masail Maraji’, masalah 297; Nuri, Taudhih al-Masail, masalah 298; Daftar: Khomenei/ Wahid, Taudhih al-Masail, masalah 303 dan Makarim, Taudhih al-Masail, masalah 321.
  28. Taudhih la-Masail Maraji’, masalah 297.
  29. Ayatullah al- Uzhma: Imam Khomeini, Sayid Ali Khamenei, Fadhil, Bahjat, Makarim, Nuri.
  30. Ayatullah al- Uzhma: Ghulpaigani, Shafi.
  31. Ayatullah Khu’i, Ayatullah Tabrizi, Ayatullah Sistani.
  32. Ayatullah al- Uzhma Zanjani.
  33. Ayatullah al-Uzhma Khu’i dan Ayatullah al-Udzma Tabrizi.
  34. Ayatullah al-Udzma Sistani, Taudhih al-Masail (Al-Muhassya lil Imam al-Khomeini), jild. 1, hlm. 196, masalah 1338.
  35. Imam Khomeini, Istifta’at, jild. 1, hlm. 36.
  36. Taudhih al-Masail; (Al-Mahsyi lil Imam al-Khomeini), jild. 1, hlm. 205.
  37. Porseshkadeh.
  38. Taudhih al-Masail; (Al-Mahsyi lil Imam al-Khomeini), jild. 1, hlm. 201.
  39. Ibid., Ayatullah al-Udzma Sistani dan Ayatullah al-Udzma Zanjani; Ayatullah al-Udzma Bahjat: harus mengamalkan dengan perintah jabirah dan ikhtiyat dalam mengabung antara tayammum dan wudhu jabirah.
  40. Tauhdih al-Masail Maraji’, masalah 250 dan 252.
  41. Ayatullah Makarim dan Subhani, masalah 249.
  42. Situs Tibyan.
  43. Markas Melli Posukhgui be Soalate dini (markas religi menjawab pertanyaan-pertanyaan agama).
  44. Portal Anhar.
  45. Taudhih al-Masail; (Al-Mahsyi lil Imam al-Khomeini), jild. 1, hlm. 176, masalah 292.
  46. Haram berwudhu untuk salat setelah mandi, dimana dipertengahan atau setelahnya tidak keluar hadas, namun mandi dan salatnya sahih.
  47. catatan 2:Taudhih al-Masail (Al-Mahsyi lil Imam al-Khomeini), jild. 1, hlm. 227, masalah 391, seseorang yang mandi janabah tidak harus (tidak dilazimkan) berwudhu, ketika hendak melaksanakan salat, namun ia tidak dapat melaksanakan salat dengan mandi-mandi yang lainnya dan harus juga berwudhu.
  48. Taudhih al-Masail Maraji’, 391 dan 646.
  49. Ibid.,
  50. Ibid.,
  51. Ibid., Ayatullah Wahid, Taudhih al-Masail, masalah 397; Ayatullah Nuri, Taudhih al-Masail, masalah 392 dan 647.
  52. Taudhih al-Masail; (Al-Mahsyi lil Imam al-Khomeini), jild. 1, hlm. 188.
  53. Rasulullah Saw bersabda, barang siapa yang berwudhu dengan menghadap kiblat maka dicatat untuknya pahala dua rakaat salat di catatan amalnya. Miftah al-Falah, hlm. 25.
  54. Rasulullah Saw berkata kepada Amirul Mukminin Ali As, “Wahai Ali! Pakailah siwak di setiap kali wudhu”. Man La Yahdhuruhul Faqih, jild. 1, hlm. 125.
  55. Rasulullah Saw: “Dua rakaat salat yang dikerjakan dengan keadaan bersiwak lebih baik dari tujupuluh rakaat salat yang dikerjakan dengan tidak bersiwak”. Nahjul Fashahah, hlm. 349.
  56. Memutar-mutar air di mulut dan mengeluarkannya.
  57. Memasukkan air ke dalam hidung dan mengeluarkannya dari hidung.
  58. Miftah al-Falah, hlm. 27 dan 28.
  59. Man La Yahdhuruhul Faqih, jild. 1, hlm. 122.
  60. Fiqh al-Ridha, hlm. 70.

Daftar Pustaka

  • Al-Āmāli, Syaikh Mufid, Muassasah al-Naysr al-Islami, Qom, 1412 H.
  • Allamah Majlisi Muhammad Baqir, Bihar al-Anwar, Dar al-Kutub Islamiyyah, Tehran, 1363 S.
  • Darumi, Abdullah bin Abdul Rahman (255 H), Musnad al-Darimi, Riset. Husain Salim Asad ad-Darani, Dar al-Mughni lin Nasyri wa al-Tauzi’, al-Mamlikah al-Arabiyyah al-Saudiyyah, cet. 1, 1412 H.
  • Fiqh al-Ridha, al-Mansub lil Imam al-Ridha As, al-Mu’tamar al-Alami lil Imam al-Ridha As, Masyhad, 1406 H.
  • Ibn Abi Syaibah, Abu Bakar (23 H), Al-Mushannif fi al-Ahadits wa al-Ātsar, Riset. Kamal Yusuf al-Hut, Maktabah al-Rushd al-Riyadh, cet. 1, 1409 H.
  • Miftah al-Falah, Syaikh Baha’i, Intisyarate Hikmat, Tehran, 1384 S.
  • Muttaqi Hindi, Ali bin Husam (975 H), Kanzul Ummal, Riset. Bakri Hayyani, Shafwah al-Saqa, Muassasah al-Risalah, cet. 5, 1401 H.
  • Payandeh Abul Qasim, Nahjul Fashahah, Dar al-Ilm, Tehran, 1387 S.
  • Shan’ani, Abu Bakar Abdul Razzak (211 H), Al-Mushannif, Riset. Habib al-Rahman al-A’dzami, al-Maktab al-Islami, Beirut, cet. 2, 1403 H.
  • Syaikh Shaduq, Muhammad bin Ali, Man La Yahdhuruhul Faqih, Nasyr Shaduq, 1367 S.
  • Tafsir al-‘Ayasyi, Muhammad bin Mas’ud ‘Ayasyi, Tafsir ‘Ayasyi, Tehran, Tehran, al-Maktabah al-Ilmiyyah al-Islamiyyah, 1380 H.
  • Taudhih al-Masail (Al-Muhassya lil Imam al-Khomeini), Daftar Intisyarate Islami.
  • Taudhih al-Masail Maraji’, Daftar Intisyarate Islami.
  • Wasail al-Syiah, Syaikh Hur Amuli, Muhammad bin Hasan, Muassasah Āl al-Bait as, Qom, 1409 H.