Prioritas: a, Kualitas: b

Mujtahid: Perbedaan revisi

Dari WikiShia
Lompat ke: navigasi, cari
 
Baris 12: Baris 12:
 
  | Artikel pilihan =
 
  | Artikel pilihan =
 
}}}}</onlyinclude>
 
}}}}</onlyinclude>
'''Mujtahid''' (bahasa Arab: {{ia|المجتهد}}) atau '''fakih''' ({{ia|الفقيه}}) adalah seseorang yang memiliki kemampuan ''ijtihad'' atau ''istinbath'' (inferensi) hukum-hukum syariat dari sumber-sumber muktabar dan diandalkan. Mujtahid mutlak dan mutajazzi, mujtahid bil fi'il dan bil quwwah, mujtahid a'lam dan mujtahid jami' al-syaraith merupakan bagian-bagian dari fakih atau mujtahid. [[Syaikh Thusi]], Muhaqqiq  Hilli, [[Allamah Hilli]], Syaikh Anshari dan Mirza Syirazi adalah mujtahid-mujtahid [[Syiah]] yang terkenal dan memiliki nama.  
+
'''Mujtahid''' (bahasa Arab: {{ia|المجتهد}}) atau '''fakih''' ({{ia|الفقيه}}) adalah seseorang yang memiliki kemampuan ijtihad atau istinbath (inferensi) hukum-hukum syariat dari sumber-sumber muktabar dan diandalkan. Mujtahid mutlak dan mutajazzi, mujtahid bil fi'il dan bil quwwah, mujtahid a'lam dan mujtahid jami' al-syarāith merupakan bagian-bagian dari fakih atau mujtahid. [[Syaikh Thusi]], Muhaqqiq  Hilli, [[Allamah Hilli]], [[Syaikh Anshari]] dan Mirza Syirazi adalah mujtahid-mujtahid [[Syiah]] yang terkenal dan memiliki nama.  
  
 
==Definisi==
 
==Definisi==
Mujtahid atau fakih secara terminologis adalah seseorang yang memiliki kemampuan untuk melakukan infefensi hokum-hukum syariat dari sumber-sumber yang terpercaya dan muktabar. <ref>Markaz Itthila'at wa Madarik Islami, ''Farhang Nameh Ushul Fiqh'', hlm. 696. </ref>
+
Mujtahid atau fakih secara terminologis adalah seseorang yang memiliki kemampuan untuk melakukan infefensi hukum-hukum syariat dari sumber-sumber yang terpercaya dan muktabar. <ref>Markaz Itthila'at wa Madarik Islami, ''Farhang Nameh Ushul Fiqh'', hlm. 696. </ref>
Melakukan istinbath hokum-hukum syariat bersandar pada dalil-dalil atau kemampuan melakukan hal ini disebut sebagai ijtihad. <ref>Markaz Itthila'at wa Madarik Islami, ''Farhang Nameh Ushul Fiqh'', hlm. 69. </ref>
+
 
 +
Melakukan istinbath hukum-hukum syariat bersandar pada dalil-dalil atau kemampuan melakukan hal ini disebut sebagai ijtihad. <ref>Markaz Itthila'at wa Madarik Islami, ''Farhang Nameh Ushul Fiqh'', hlm. 69. </ref>
 
   
 
   
 
==Perbedaan antara Mujtahid dan Marja Taklid==  
 
==Perbedaan antara Mujtahid dan Marja Taklid==  
Setiap mujtahid tidak dapat disebut sebagai marja taklid. Marja taklid adalah salah satu bagian mujtahid dan marja taklid ini disebut sebagai mujtahid yang diikuti dan taklidi orang lain; artinya amalan-amalan keagamaannya dilakukan berdasarkan pandangan-pandangan fikihnya dan orang-orang menyerahkan pembayaran-pembayaran syar'inya (seperti [[zakat]], [[khumus]] dan lain sebagainya) kepadanya atau kepada perwakilannya. <ref>Yazdi, ''al-'Urwat al-Wutsqa'', jld. 1, hlm. 4; Rahman Setayesy, ''Taqlid'', hlm. 789. </ref>
+
Setiap mujtahid tidak dapat disebut sebagai [[marja taklid]]. Marja taklid adalah salah satu bagian mujtahid dan marja taklid ini disebut sebagai mujtahid yang diikuti dan taklidi orang lain; artinya amalan-amalan keagamaannya dilakukan berdasarkan pandangan-pandangan fikihnya dan orang-orang menyerahkan pembayaran-pembayaran syar'inya (seperti [[zakat]], [[khumus]] dan lain sebagainya) kepadanya atau kepada perwakilannya. <ref>Yazdi, ''al-'Urwah al-Wutsqa'', jld. 1, hlm. 4; Rahman Setayesy, ''Taqlid'', hlm. 789. </ref>
  
 
==Klasifikasi Mujtahid atau Fakih==  
 
==Klasifikasi Mujtahid atau Fakih==  
[[Berkas:صاحب جواهر.jpg|thumbnail|200px|Muhammad Hasan Najafi, lebih dikenal dengan Shahib Jawahir, fakih Syiah abad 13 H]]
+
[[Berkas:صاحب جواهر.jpg|thumbnail|200px|Muhammad Hasan Najafi, lebih dikenal dengan Shahib Jawahir, fakih [[Syiah]] abad ke-13 H]]
 
Berdasarkan ragam klasifikasi yang terkait dengan terma mujtahid, mujtahid dapat dibagi menjadi beberapa klasifikasi:  
 
Berdasarkan ragam klasifikasi yang terkait dengan terma mujtahid, mujtahid dapat dibagi menjadi beberapa klasifikasi:  
*'''Mujtahid Mutlak''': Seorang mujtahid yang mampu melakukan istinbath dan melalui penalaran syariat ia lebih banyak melakukan inferensi hokum-hukum syariat. <ref>Misykini, ''Ishthilahat al-Ushul'', hlm. 19. </ref>
+
*'''Mujtahid Mutlak''': Seorang mujtahid yang mampu melakukan istinbath dan melalui penalaran syariat ia lebih banyak melakukan inferensi hukum-hukum syariat. <ref>Misykini, ''Ishthilahat al-Ushul'', hlm. 19. </ref>
*'''Mujtahid Mutajazzi''': Seseorang yang memiliki kemampuan untuk melakukan istinbath hukum-hukum syariat pada sebagian masalah fikih. <ref>Misykini, ''Ishthilahat al-Ushul'', hlm. 19. </ref>Sebagian fakih berpandangan tidak dibenarkan bertaklid kepada mujtahid mutajazzi; sebagian lainnnya berpendapat boleh bertaklid kepada seorang mujtahid mutajazzi dalam istinbath hukum yang ia lakukan. <ref>Yazdi, ''al-'Urwat al-Wutsqa'', jld. 17, hlm. 4. </ref>
+
*'''Mujtahid Mutajazzi''': Seseorang yang memiliki kemampuan untuk melakukan istinbath hukum-hukum syariat pada sebagian masalah [[fikih]]. <ref>Misykini, ''Ishthilahat al-Ushul'', hlm. 19. </ref>Sebagian fakih berpandangan tidak dibenarkan ber[[taklid]] kepada mujtahid mutajazzi; sebagian lainnnya berpendapat boleh bertaklid kepada seorang mujtahid mutajazzi dalam istinbath hukum yang ia lakukan. <ref>Yazdi, ''al-'Urwah al-Wutsqa'', jld. 17, hlm. 4. </ref>
*'''Mujtahid bil fi'il''': Mujtahid yang di samping memiliki kemampuan melakukan istinbath hukum dalam tataran praktis juga ia banyak melakukan istinbath hukum. <ref>Markaz Itthila'at wa Madarik Islami, ''Farhang Nameh Ushul Fiqh'', hlm. 75. </ref>
+
*'''Mujtahid bil fi'il''': Mujtahid yang di samping memiliki kemampuan melakukan istinbath hukum, dalam tataran praktis juga ia banyak melakukan istinbath hukum. <ref>Markaz Itthila'at wa Madarik Islami, ''Farhang Nameh Ushul Fiqh'', hlm. 75. </ref>
*'''Mujtahid bil quwwa''': Mujtahid yang mampu melakukan istinbath hukum-hukum syariat namun pada kenyataannya ia tidak banyak melakukan inferensi hukum. <ref>Markaz Itthila'at wa Madarik Islami, ''Farhang Nameh Ushul Fiqh'', hlm. 71. </ref>  
+
*'''Mujtahid bil quwwa''': Mujtahid yang mampu melakukan istinbath hukum-hukum syariat namun pada tataran praktis ia tidak banyak melakukan inferensi hukum. <ref>Markaz Itthila'at wa Madarik Islami, ''Farhang Nameh Ushul Fiqh'', hlm. 71. </ref>  
 
*'''Mujtahid Infitahi''': Mujtahid yang meyakini bahwa jalan definitif atau asumtif yang dapat diandalkan untuk sampai kepada hukum-hukum syariat itu tetap terbuka; artinya keyakinan ini dilakukan bahwa melalui dalil-dalil definitif atau asumtif yang dapat diandalkan (muktabar) kita dapat melakukan inferensi hukum-hukum syariat. <ref>Markaz Itthila'at wa Madarik Islami, ''Farhang Nameh Ushul Fiqh'', hlm. 696. </ref>  
 
*'''Mujtahid Infitahi''': Mujtahid yang meyakini bahwa jalan definitif atau asumtif yang dapat diandalkan untuk sampai kepada hukum-hukum syariat itu tetap terbuka; artinya keyakinan ini dilakukan bahwa melalui dalil-dalil definitif atau asumtif yang dapat diandalkan (muktabar) kita dapat melakukan inferensi hukum-hukum syariat. <ref>Markaz Itthila'at wa Madarik Islami, ''Farhang Nameh Ushul Fiqh'', hlm. 696. </ref>  
 
*'''Mujtahid Insidadi''': Mujtahid yang menilai bahwa jalan definitif atau asumtif yang dapat diandalkan untuk sampai kepada hukum-hukum syariat itu tidak mungkin tercapai.<ref>Markaz Itthila'at wa Madarik Islami, ''Farhang Nameh Ushul Fiqh'', hlm. 696. </ref>  Di antara fakih terdapat perbedaan pendapat apakah mukalid dapat bertaklid kepada seorang mujtahid insidadi. <ref>Husaini Syirazi, ''al-Wushul ila Kifayah al-Ushul'', jld. 8, hlm. 393 & 394. </ref>  
 
*'''Mujtahid Insidadi''': Mujtahid yang menilai bahwa jalan definitif atau asumtif yang dapat diandalkan untuk sampai kepada hukum-hukum syariat itu tidak mungkin tercapai.<ref>Markaz Itthila'at wa Madarik Islami, ''Farhang Nameh Ushul Fiqh'', hlm. 696. </ref>  Di antara fakih terdapat perbedaan pendapat apakah mukalid dapat bertaklid kepada seorang mujtahid insidadi. <ref>Husaini Syirazi, ''al-Wushul ila Kifayah al-Ushul'', jld. 8, hlm. 393 & 394. </ref>  
*'''Mujtahid A'lam''': Fakih yang memenuhi segala persyaratan dalam melakukan istinbath hukum syariat dan dibanding dengan fakih yang lain ia lebih memiliki kemampuan. <ref>Syaikh Anshari, ''Matharih al-Anzhar'', jld. 2, hlm. 679. </ref>Sebagian fakih menilai wajib hukumnya untuk bertaklid kepada mujtahid a'lam apabila ia dapat mengidentifikasinya dan sebagian lainnya mewajibkan taklid kepada mujtahid a'lam berdasarkan prinsip kehati-hatian. <ref>Yazdi, ''al-'Urwat al-Wutsqa'', jld. 1, hlm. 19; Imam Khomeini, ''Taudhih al-Masail'', jld. 1, hlm. 13. </ref>  
+
*'''Mujtahid A'lam''': Fakih yang memenuhi segala persyaratan dalam melakukan istinbath hukum syariat dan dibanding dengan fakih yang lain ia lebih memiliki kemampuan. <ref>Syaikh Anshari, ''Matharih al-Anzhar'', jld. 2, hlm. 679. </ref>Sebagian fakih menilai [[wajib]] hukumnya untuk bertaklid kepada mujtahid a'lam apabila ia dapat mengidentifikasinya dan sebagian lainnya mewajibkan taklid kepada mujtahid a'lam berdasarkan prinsip kehati-hatian. <ref>Yazdi, ''al-'Urwah al-Wutsqa'', jld. 1, hlm. 19; Imam Khomeini, ''Taudhih al-Masail'', jld. 1, hlm. 13. </ref>  
*'''Mujtahid Jami' al-Syaraith''': Mujtahid yang memiliki syarat-syarat yang diperlukan untuk dapat ditaklidi orang lain. Sebagian syarat itu adalah: laki-laki, akil, dari keturunan baik-baik dan menganut mazhab Imamiyah. <ref>Imam Khomeini, ''Taudhih al-Masail'', jld. 1, hlm. 13.</ref>  
+
*'''Mujtahid Jami' al-Syaraith''': Mujtahid yang memiliki syarat-syarat yang diperlukan untuk dapat ditaklidi orang lain. Sebagian syarat itu adalah: laki-laki, berakal, dari keturunan baik-baik dan menganut mazhab [[Imamiyah]], hidup, adil dan a'lam. <ref>Imam Khomeini, ''Taudhih al-Masail'', jld. 1, hlm. 13.</ref>  
*'''Marja Taklid''': Mujtahid yang ditaklidi oleh orang lain; artinya amalan-amalan keagamaan dilakukan berdasarkan pendapat-pendapat keagamaannya (fatwa). <ref>Yazdi, ''al-'Urwat al-Wutsqa'', jld. 1, hlm. 4; Rahman Setayesy, ''Taqlid'', hlm. 789. </ref>
+
*'''Marja Taklid''': Mujtahid yang ditaklidi oleh orang lain; artinya amalan-amalan keagamaan dilakukan berdasarkan pendapat-pendapat keagamaannya ([[fatwa]]). <ref>Yazdi, ''al-'Urwht al-Wutsqa'', jld. 1, hlm. 4; Rahman Setayesy, ''Taqlid'', hlm. 789. </ref>
[[Berkas:تصویر منسوب به شیخ انصاری.jpg|thumbnail|200px|Lukisan wajah Syaikh Anshari, salah seorang ulama mujtahid ternama Syiah]]
+
[[Berkas:تصویر منسوب به شیخ انصاری.jpg|thumbnail|200px|Lukisan wajah [[Syaikh Anshari]], salah seorang ulama mujtahid ternama Syiah]]
  
 
==Syarat-syarat Mujtahid Jami' al-Syaraith==
 
==Syarat-syarat Mujtahid Jami' al-Syaraith==
[[Berkas:تصویر میرزای شیرازی.jpg|thumbnail|200px|Mirza Syirazi, mujtahid Jami' al-Syaraith abad 13-14 H]]
+
[[Berkas:تصویر میرزای شیرازی.jpg|thumbnail|200px|Mirza Syirazi, mujtahid Jami' al-Syaraith abad ke-13-14 H]]
Berdasarkan fatwa para fakih, seseorang yang bukan mujtahid maka ia harus bertaklid kepada mujtahid; artinya dalam urusan-urusan agama ia berbuat berdasarkan perintahnya atau melalui jalan ihtiyath sedemikian sehingga ia beramal sesuai dengan tugasnya yaitu ia yakin bahwa ia telah menunaikan taklifnya. <ref>Imam Khomeini, ''Taudhih al-Masail'', jld. 1, hlm. 11. </ref>
+
Berdasarkan [[fatwa]] para fakih, seseorang yang bukan mujtahid maka ia harus ber[[taklid]] kepada mujtahid; artinya dalam urusan-urusan agama ia berbuat berdasarkan perintahnya atau melalui jalan ihtiyath sedemikian sehingga ia beramal sesuai dengan tugasnya yaitu ia yakin bahwa ia telah menunaikan taklifnya. <ref>Imam Khomeini, ''Taudhih al-Masail'', jld. 1, hlm. 11. </ref>
Seorang mujtahid, ia dapat diikuti oleh orang lain harus memenuhi syarat-syarat tertentu sehingga mujtahid yang memiliki syarat-syarat ini disebut sebagai mujtahid jami' al-syaraith. Syarat-syarat yang disepakati oleh para fakih kontemporer, sekaitan dengan mujtahid jami' al-syaraith adalah sebagai berikut:  
+
 
 +
Seorang mujtahid, ia dapat diikuti oleh orang lain dan harus memenuhi syarat-syarat tertentu sehingga mujtahid yang memiliki syarat-syarat ini disebut sebagai mujtahid jami' al-syaraith. Syarat-syarat yang disepakati oleh para fakih kontemporer, sekaitan dengan mujtahid jami' al-syaraith adalah sebagai berikut:  
 
*Laki-laki
 
*Laki-laki
 
*Baligh
 
*Baligh
*Akil
+
*Aqil
 
*Bermazhab [[Syiah Imamiyah]]
 
*Bermazhab [[Syiah Imamiyah]]
 
*Keturunan baik-baik  
 
*Keturunan baik-baik  
Baris 49: Baris 51:
  
 
==Ijazah Ijtihad==
 
==Ijazah Ijtihad==
Pada beberapa dasawarsa terakhir telah menjadi tradisi bahwa para lulusan Hauzah Ilmiah tatkala sampai pada level tertinggi bidang fikih, guru atau para guru, baik secara lisan atau tulisan, memverifikasi ijtihad mereka. Verifikasi ini disebut sebagai ijazah ijtihad. <ref>Makarim Syirazi, ''Dairah al-Ma'arif Fiqh Muqaran'', jld. 1, hlm. 259-266. </ref>  
+
Pada beberapa dasawarsa terakhir telah menjadi tradisi bahwa para lulusan Hauzah Ilmiah tatkala sampai pada level tertinggi bidang [[fikih]], guru atau para guru, baik secara lisan atau tulisan, memverifikasi ijtihad mereka. Verifikasi ini disebut sebagai ijazah ijtihad. <ref>Makarim Syirazi, ''Dairah al-Ma'arif Fiqh Muqaran'', jld. 1, hlm. 259-266. </ref>  
  
 
==Fakih Ternama Syiah==
 
==Fakih Ternama Syiah==
[[Berkas:65931.jpg|thumbnail|200px|dari kanan ke kiri: Sayid Abul Qasim Khui, Sayid Muhsin Hakim, Sayid Mahmud Syahrudi dan Sayid Ali Tabrizi, diantara fukaha abad 15 H]]
+
[[Berkas:65931.jpg|thumbnail|200px|dari kanan ke kiri: Sayid Abul Qasim Khui, Sayid Muhsin Hakim, Sayid Mahmud Syahrudi dan Sayid Ali Tabrizi, diantara fukaha abad ke-15 H]]
Dalam sejarah fikih Syiah, terdapat banyak fakih yang melakukan ijtihad di sepanjang masa. Yang paling terkenal berdasarkan urutan masa hidup dan wafatnya adalah sebagai berikut: {{col-begin}}
+
Dalam sejarah [[fikih]] [[Syiah]], terdapat banyak fakih yang melakukan ijtihad di sepanjang masa. Yang paling terkenal berdasarkan urutan masa hidup dan wafatnya adalah sebagai berikut: {{col-begin}}
 
*[[Syaikh Mufid]]
 
*[[Syaikh Mufid]]
 
*[[Sayid Murtadha]]  
 
*[[Sayid Murtadha]]  
Baris 61: Baris 63:
 
*[[Syahid Awwal]]
 
*[[Syahid Awwal]]
 
*[[Syahid Tsani]]  
 
*[[Syahid Tsani]]  
*Wahid Bahbahani
+
*[[Wahid Behbahani]]
 
*[[Mirza Qummi]]  
 
*[[Mirza Qummi]]  
 
*Muhammad Hasan Najafi (Shahib al-Jawahir)  
 
*Muhammad Hasan Najafi (Shahib al-Jawahir)  
 
*[[Syaikh Murtadha Anshari]]  
 
*[[Syaikh Murtadha Anshari]]  
 
*Mirza Syirazi
 
*Mirza Syirazi
*Akhund Khurasani
+
*[[Akhund Khurasani]]
 
*Sayid Muhammad Kazhim Thabathabai Yazdi  
 
*Sayid Muhammad Kazhim Thabathabai Yazdi  
*Abdul Karim Hairi Yazdi
+
*[[Abdul Karim Hairi Yazdi]]
 
*Mirza Naini
 
*Mirza Naini
*Sayid Abul Hasan Isfahani
+
*[[Sayid Abul Hasan Isfahani]]
*Sayid Husain Thabathabai Burujerdi  
+
*[[Sayid Husain Thabathabai Burujerdi]]
*Sayid Muhsin Hakim  
+
*[[Sayid Muhsin Hakim]]
 
*[[Sayid Ruhullah Musawi Khomeini]]
 
*[[Sayid Ruhullah Musawi Khomeini]]
 
*[[Sayid Abul Qasim Khui]]<ref>Badri, ''Mu'jam Mufradat Ushul al-Fiqh al-Maqaran'', hlm. 253. </ref>{{akhir}}
 
*[[Sayid Abul Qasim Khui]]<ref>Badri, ''Mu'jam Mufradat Ushul al-Fiqh al-Maqaran'', hlm. 253. </ref>{{akhir}}
  
 
==Para Fakih Mutaqaddim dan Mutaakhir==
 
==Para Fakih Mutaqaddim dan Mutaakhir==
Dalam tulisan-tulisan fakih Syiah kebanyakan menyebut para fakih sebelum Syaikh Thusi sebagai qudama. <ref>Badri, ''Mu'jam Mufradat Ushul al-Fiqh al-Maqaran'', 1428 H, hlm. 252-253. </ref>
+
Dalam tulisan-tulisan [[fikih]] [[Syiah]] kebanyakan menyebut para fakih sebelum [[Syaikh Thusi]] sebagai "qudama". <ref>Badri, ''Mu'jam Mufradat Ushul al-Fiqh al-Muqaran'', 1428 H, hlm. 252-253. </ref>
Semenjak Syaikh Thusi hingga sebelum masa Allamah Hilli disebut sebagai mutaqaddim. Dari Allamah Hilli dan setelahnya hingga masa sebelum generasi pertama para fakih kontemporer disebut sebagai mutaakhir. <ref>Badri, ''Mu'jam Mufradat Ushul al-Fiqh al-Maqaran'', hlm. 252. </ref>
+
Semenjak Syaikh Thusi hingga sebelum masa [[Allamah Hilli]] disebut sebagai "mutaqaddim". Dari Allamah Hilli dan setelahnya hingga masa sebelum generasi pertama para fakih kontemporer disebut sebagai "mutaakhir". <ref>Badri, ''Mu'jam Mufradat Ushul al-Fiqh al-Muqaran'', hlm. 252. </ref> Adapun fakih kontemporer juga disebut sebagai muta'akhir dan al-muta'akhirun (para fakih pasca muta'akhirun).  
Adapun fakih kontemporer jgua disebut sebagai muta'akhir dan al-muta'akhirun (para fakih pasca muta'akhirun). Alasan pembagian ini adalah berdasarkan metode fikih yang digunakan pada setiap zaman. <ref>Badri, ''Mu'jam Mufradat Ushul al-Fiqh al-Maqaran'', hlm. 226, 252 dan 253. </ref>  
+
 
 +
Alasan pembagian ini adalah berdasarkan metode fikih yang digunakan pada setiap zaman. <ref>Badri, ''Mu'jam Mufradat Ushul al-Fiqh al-Muqaran'', hlm. 226, 252 dan 253. </ref>  
 
Akan tetapi peristilahan ini sifatnya relatif dan terdapat pendapat lain terkait dengan mereka. Sebagai contoh sebagian menyebut seluruh fakih sebelum masa Muhaqqiq Hilli sebagai qudama. <ref>Maliki Isfahani, ''Farhang Ishthilahat Ushul'', jld. 2, hlm. 60. </ref>
 
Akan tetapi peristilahan ini sifatnya relatif dan terdapat pendapat lain terkait dengan mereka. Sebagai contoh sebagian menyebut seluruh fakih sebelum masa Muhaqqiq Hilli sebagai qudama. <ref>Maliki Isfahani, ''Farhang Ishthilahat Ushul'', jld. 2, hlm. 60. </ref>
  
Baris 87: Baris 90:
 
==Daftar Pustaka==
 
==Daftar Pustaka==
 
{{Ref}}
 
{{Ref}}
*Anshari, Murtadha bin Muhammad Amin, ''Matharih al-Anzhar'', Qom, Majma' al-Fikr al-Islami, Cet. II, 2004.  
+
*Anshari, Murtadha bin Muhammad Amin. ''Mathārih al-Anzhār''. Qom: Majma' al-Fikr al-Islami, Cet. II, 2004.  
*Badri, Tahsin, Teheran, ''al-Masyriq lil Tsaqafah wa al-Nasyr'', Cet. 1, 1428 H.  
+
*Badri. ''Tahsin''. Teheran: al-Masyriq lil Tsaqafah wa al-Nasyr, Cet. I, 1428 H.  
*Jazairi, Muhammad Ja'far, ''Muntaha al-Dirayah fi Taudhih al-Kifayah'', Qom, Muassasah Dar al-Kitab, Cet. IV, 1415 H.  
+
*Jazairi, Muhammad Ja'far. ''Muntaha al-Dirāyah fi Taudhih al-Kifāyah''. Qom: Muassasah Dar al-Kitab, Cet. IV, 1415 H.  
*Husaini Syirazi, Muhammad, ''al-Wushul ila Kifayah al-Ushul'', Qom, Dar al-Hikmah, Cet. III, 1426 H.  
+
*Husaini Syirazi, Muhammad. ''Al-Wushul ila Kifāyah al-Ushul''. Qom: Dar al-Hikmah, Cet. III, 1426 H.  
*Rahman Setayesy, Muhammad Kazhim, ''Taqlid I'', Danesynameh Jahan Islami, Bunyad Dairah al-Ma'arif Islami, Cet. I, 1383 H.  
+
*Rahman Setayesy, Muhammad Kazhim. ''Taqlid I''. Danesynameh Jahan Islami, Bunyad Dairah al-Ma'arif Islami, Cet. I, 1383 H.  
*Kasyif al-Githa, Ali, ''al-Nur al-Sathi' fi al-Fiqh al-Nafi''', Najaf, Cet. I, 1381 H.  
+
*Kasyif al-Githa, Ali. ''An-Nur al-Sāthi' fi al-Fiqh al-Nāfi'''. Najaf: Cet. I, 1381 H.  
*Gurji, Abul Qasim, ''Ijtihad'', Dairah al-Ma'arif Buzurg Islami, Teheran, Markaz Dairah al-Ma'arif Buzurg Islami, Cet. I, 1994.  
+
*Gurji, Abul Qasim. ''Ijtihad''. Dairah al-Ma'arif Buzurg Islami. Teheran: Markaz Dairah al-Ma'arif Buzurg Islami, Cet. I, 1994.  
*Markaz Itthi'la'at wa Madarik Islami, ''Farhangnameh Ushul Fiqh'', Qom, Pazyuhesygah Ulum Farhang Islami, Cet. I, 2010.  
+
*Markaz Itthi'la'at wa Madarik Islami. ''Farhangnameh Ushul Fiqh''. Qom: Pazyuhesygah Ulum Farhang Islami, Cet. I, 2010.  
*Misykini, Mirza Ali, ''Ishthilahat al-Ushul wa Ma'zham Abhatsuha'', Qom, al-Hadi, Cet. VI, 1416 H.  
+
*Misykini, Mirza Ali. ''Ishthilāhāt al-Ushul wa Mu'zham Abhatsuha''. Qom: al-Hadi, Cet. VI, 1416 H.  
*Mustafawi, Hasan, ''al-Tahqiq fi Kalimat al-Qur'an al-Karim'', Beirut, Dar al-Kitab al-'Ilmiyah, Cet. III, 1430 H.  
+
*Mustafawi, Hasan. ''Al-Tahqiq fi Kalimāt al-Qur'an al-Karim''. Beirut: Dar al-Kitab al-'Ilmiyah, Cet. III, 1430 H.  
*Makarim Syirazi, Nasir, ''Dairah al-Ma'arif Fiqh Muqaran'', Qom, Madrasah al-Imam Ali bin Abi Thalib as, Cet. I, 1427 H.  
+
*Makarim Syirazi, Nasir. ''Dāirah al-Ma'ārif Fiqh Muqaran''. Qom: Madrasah al-Imam Ali bin Abi Thalib as, Cet. I, 1427 H.  
*Maliki Ishfahani, Mujtaba, Farhang Ishthilahat Ushul, Qom, Cet. I, 2000.  
+
*Maliki Ishfahani, Mujtaba. ''Farhang Ishthilāhāt Ushul''. Qom: Cet. I, 2000.  
*Musawi Khomeini, Sayid Ruhullah, ''Taudhih al-Masail'' (Muhassya), Qom, Cet. VIII, Markaz Intisyarat Islami, 1424 H.  
+
*Musawi Khomeini, Sayid Ruhullah. ''Taudhih al-Masāil'' (Muhassyi). Qom: Markaz Intisyarat Islami, Cet. VIII, 1424 H.  
*Yazdi, Sayid Muhammad Kazhim, ''al-'Urwah al-Wutsqa ma'a al-Ta'liqat'', Qom, Daftar Intisyarat Islami, Cet. I, 1428 H.
+
*Yazdi, Sayid Muhammad Kazhim. ''Al-'Urwah al-Wutsqa ma'a at-Ta'liqāt''. Qom: Daftar Intisyarat Islami, Cet. I, 1428 H.
 
{{akhir}}
 
{{akhir}}
 
{{Fukaha Syiah}}
 
{{Fukaha Syiah}}

Revisi terkini pada 23 Januari 2019 05.03

Mujtahid (bahasa Arab: المجتهد) atau fakih (الفقيه) adalah seseorang yang memiliki kemampuan ijtihad atau istinbath (inferensi) hukum-hukum syariat dari sumber-sumber muktabar dan diandalkan. Mujtahid mutlak dan mutajazzi, mujtahid bil fi'il dan bil quwwah, mujtahid a'lam dan mujtahid jami' al-syarāith merupakan bagian-bagian dari fakih atau mujtahid. Syaikh Thusi, Muhaqqiq Hilli, Allamah Hilli, Syaikh Anshari dan Mirza Syirazi adalah mujtahid-mujtahid Syiah yang terkenal dan memiliki nama.

Definisi

Mujtahid atau fakih secara terminologis adalah seseorang yang memiliki kemampuan untuk melakukan infefensi hukum-hukum syariat dari sumber-sumber yang terpercaya dan muktabar. [1]

Melakukan istinbath hukum-hukum syariat bersandar pada dalil-dalil atau kemampuan melakukan hal ini disebut sebagai ijtihad. [2]

Perbedaan antara Mujtahid dan Marja Taklid

Setiap mujtahid tidak dapat disebut sebagai marja taklid. Marja taklid adalah salah satu bagian mujtahid dan marja taklid ini disebut sebagai mujtahid yang diikuti dan taklidi orang lain; artinya amalan-amalan keagamaannya dilakukan berdasarkan pandangan-pandangan fikihnya dan orang-orang menyerahkan pembayaran-pembayaran syar'inya (seperti zakat, khumus dan lain sebagainya) kepadanya atau kepada perwakilannya. [3]

Klasifikasi Mujtahid atau Fakih

Muhammad Hasan Najafi, lebih dikenal dengan Shahib Jawahir, fakih Syiah abad ke-13 H

Berdasarkan ragam klasifikasi yang terkait dengan terma mujtahid, mujtahid dapat dibagi menjadi beberapa klasifikasi:

  • Mujtahid Mutlak: Seorang mujtahid yang mampu melakukan istinbath dan melalui penalaran syariat ia lebih banyak melakukan inferensi hukum-hukum syariat. [4]
  • Mujtahid Mutajazzi: Seseorang yang memiliki kemampuan untuk melakukan istinbath hukum-hukum syariat pada sebagian masalah fikih. [5]Sebagian fakih berpandangan tidak dibenarkan bertaklid kepada mujtahid mutajazzi; sebagian lainnnya berpendapat boleh bertaklid kepada seorang mujtahid mutajazzi dalam istinbath hukum yang ia lakukan. [6]
  • Mujtahid bil fi'il: Mujtahid yang di samping memiliki kemampuan melakukan istinbath hukum, dalam tataran praktis juga ia banyak melakukan istinbath hukum. [7]
  • Mujtahid bil quwwa: Mujtahid yang mampu melakukan istinbath hukum-hukum syariat namun pada tataran praktis ia tidak banyak melakukan inferensi hukum. [8]
  • Mujtahid Infitahi: Mujtahid yang meyakini bahwa jalan definitif atau asumtif yang dapat diandalkan untuk sampai kepada hukum-hukum syariat itu tetap terbuka; artinya keyakinan ini dilakukan bahwa melalui dalil-dalil definitif atau asumtif yang dapat diandalkan (muktabar) kita dapat melakukan inferensi hukum-hukum syariat. [9]
  • Mujtahid Insidadi: Mujtahid yang menilai bahwa jalan definitif atau asumtif yang dapat diandalkan untuk sampai kepada hukum-hukum syariat itu tidak mungkin tercapai.[10] Di antara fakih terdapat perbedaan pendapat apakah mukalid dapat bertaklid kepada seorang mujtahid insidadi. [11]
  • Mujtahid A'lam: Fakih yang memenuhi segala persyaratan dalam melakukan istinbath hukum syariat dan dibanding dengan fakih yang lain ia lebih memiliki kemampuan. [12]Sebagian fakih menilai wajib hukumnya untuk bertaklid kepada mujtahid a'lam apabila ia dapat mengidentifikasinya dan sebagian lainnya mewajibkan taklid kepada mujtahid a'lam berdasarkan prinsip kehati-hatian. [13]
  • Mujtahid Jami' al-Syaraith: Mujtahid yang memiliki syarat-syarat yang diperlukan untuk dapat ditaklidi orang lain. Sebagian syarat itu adalah: laki-laki, berakal, dari keturunan baik-baik dan menganut mazhab Imamiyah, hidup, adil dan a'lam. [14]
  • Marja Taklid: Mujtahid yang ditaklidi oleh orang lain; artinya amalan-amalan keagamaan dilakukan berdasarkan pendapat-pendapat keagamaannya (fatwa). [15]
Lukisan wajah Syaikh Anshari, salah seorang ulama mujtahid ternama Syiah

Syarat-syarat Mujtahid Jami' al-Syaraith

Mirza Syirazi, mujtahid Jami' al-Syaraith abad ke-13-14 H

Berdasarkan fatwa para fakih, seseorang yang bukan mujtahid maka ia harus bertaklid kepada mujtahid; artinya dalam urusan-urusan agama ia berbuat berdasarkan perintahnya atau melalui jalan ihtiyath sedemikian sehingga ia beramal sesuai dengan tugasnya yaitu ia yakin bahwa ia telah menunaikan taklifnya. [16]

Seorang mujtahid, ia dapat diikuti oleh orang lain dan harus memenuhi syarat-syarat tertentu sehingga mujtahid yang memiliki syarat-syarat ini disebut sebagai mujtahid jami' al-syaraith. Syarat-syarat yang disepakati oleh para fakih kontemporer, sekaitan dengan mujtahid jami' al-syaraith adalah sebagai berikut:

  • Laki-laki
  • Baligh
  • Aqil
  • Bermazhab Syiah Imamiyah
  • Keturunan baik-baik
  • Hidup
  • Adil
  • A'lam (lebih menonjol keilmuannya) [17]

Ijazah Ijtihad

Pada beberapa dasawarsa terakhir telah menjadi tradisi bahwa para lulusan Hauzah Ilmiah tatkala sampai pada level tertinggi bidang fikih, guru atau para guru, baik secara lisan atau tulisan, memverifikasi ijtihad mereka. Verifikasi ini disebut sebagai ijazah ijtihad. [18]

Fakih Ternama Syiah

dari kanan ke kiri: Sayid Abul Qasim Khui, Sayid Muhsin Hakim, Sayid Mahmud Syahrudi dan Sayid Ali Tabrizi, diantara fukaha abad ke-15 H
Dalam sejarah fikih Syiah, terdapat banyak fakih yang melakukan ijtihad di sepanjang masa. Yang paling terkenal berdasarkan urutan masa hidup dan wafatnya adalah sebagai berikut:

Para Fakih Mutaqaddim dan Mutaakhir

Dalam tulisan-tulisan fikih Syiah kebanyakan menyebut para fakih sebelum Syaikh Thusi sebagai "qudama". [20] Semenjak Syaikh Thusi hingga sebelum masa Allamah Hilli disebut sebagai "mutaqaddim". Dari Allamah Hilli dan setelahnya hingga masa sebelum generasi pertama para fakih kontemporer disebut sebagai "mutaakhir". [21] Adapun fakih kontemporer juga disebut sebagai muta'akhir dan al-muta'akhirun (para fakih pasca muta'akhirun).

Alasan pembagian ini adalah berdasarkan metode fikih yang digunakan pada setiap zaman. [22] Akan tetapi peristilahan ini sifatnya relatif dan terdapat pendapat lain terkait dengan mereka. Sebagai contoh sebagian menyebut seluruh fakih sebelum masa Muhaqqiq Hilli sebagai qudama. [23]

Catatan Kaki

  1. Markaz Itthila'at wa Madarik Islami, Farhang Nameh Ushul Fiqh, hlm. 696.
  2. Markaz Itthila'at wa Madarik Islami, Farhang Nameh Ushul Fiqh, hlm. 69.
  3. Yazdi, al-'Urwah al-Wutsqa, jld. 1, hlm. 4; Rahman Setayesy, Taqlid, hlm. 789.
  4. Misykini, Ishthilahat al-Ushul, hlm. 19.
  5. Misykini, Ishthilahat al-Ushul, hlm. 19.
  6. Yazdi, al-'Urwah al-Wutsqa, jld. 17, hlm. 4.
  7. Markaz Itthila'at wa Madarik Islami, Farhang Nameh Ushul Fiqh, hlm. 75.
  8. Markaz Itthila'at wa Madarik Islami, Farhang Nameh Ushul Fiqh, hlm. 71.
  9. Markaz Itthila'at wa Madarik Islami, Farhang Nameh Ushul Fiqh, hlm. 696.
  10. Markaz Itthila'at wa Madarik Islami, Farhang Nameh Ushul Fiqh, hlm. 696.
  11. Husaini Syirazi, al-Wushul ila Kifayah al-Ushul, jld. 8, hlm. 393 & 394.
  12. Syaikh Anshari, Matharih al-Anzhar, jld. 2, hlm. 679.
  13. Yazdi, al-'Urwah al-Wutsqa, jld. 1, hlm. 19; Imam Khomeini, Taudhih al-Masail, jld. 1, hlm. 13.
  14. Imam Khomeini, Taudhih al-Masail, jld. 1, hlm. 13.
  15. Yazdi, al-'Urwht al-Wutsqa, jld. 1, hlm. 4; Rahman Setayesy, Taqlid, hlm. 789.
  16. Imam Khomeini, Taudhih al-Masail, jld. 1, hlm. 11.
  17. Imam Khomeini, Taudhih al-Masail, jld. 1, hlm. 13-15.
  18. Makarim Syirazi, Dairah al-Ma'arif Fiqh Muqaran, jld. 1, hlm. 259-266.
  19. Badri, Mu'jam Mufradat Ushul al-Fiqh al-Maqaran, hlm. 253.
  20. Badri, Mu'jam Mufradat Ushul al-Fiqh al-Muqaran, 1428 H, hlm. 252-253.
  21. Badri, Mu'jam Mufradat Ushul al-Fiqh al-Muqaran, hlm. 252.
  22. Badri, Mu'jam Mufradat Ushul al-Fiqh al-Muqaran, hlm. 226, 252 dan 253.
  23. Maliki Isfahani, Farhang Ishthilahat Ushul, jld. 2, hlm. 60.

Daftar Pustaka

  • Anshari, Murtadha bin Muhammad Amin. Mathārih al-Anzhār. Qom: Majma' al-Fikr al-Islami, Cet. II, 2004.
  • Badri. Tahsin. Teheran: al-Masyriq lil Tsaqafah wa al-Nasyr, Cet. I, 1428 H.
  • Jazairi, Muhammad Ja'far. Muntaha al-Dirāyah fi Taudhih al-Kifāyah. Qom: Muassasah Dar al-Kitab, Cet. IV, 1415 H.
  • Husaini Syirazi, Muhammad. Al-Wushul ila Kifāyah al-Ushul. Qom: Dar al-Hikmah, Cet. III, 1426 H.
  • Rahman Setayesy, Muhammad Kazhim. Taqlid I. Danesynameh Jahan Islami, Bunyad Dairah al-Ma'arif Islami, Cet. I, 1383 H.
  • Kasyif al-Githa, Ali. An-Nur al-Sāthi' fi al-Fiqh al-Nāfi'. Najaf: Cet. I, 1381 H.
  • Gurji, Abul Qasim. Ijtihad. Dairah al-Ma'arif Buzurg Islami. Teheran: Markaz Dairah al-Ma'arif Buzurg Islami, Cet. I, 1994.
  • Markaz Itthi'la'at wa Madarik Islami. Farhangnameh Ushul Fiqh. Qom: Pazyuhesygah Ulum Farhang Islami, Cet. I, 2010.
  • Misykini, Mirza Ali. Ishthilāhāt al-Ushul wa Mu'zham Abhatsuha. Qom: al-Hadi, Cet. VI, 1416 H.
  • Mustafawi, Hasan. Al-Tahqiq fi Kalimāt al-Qur'an al-Karim. Beirut: Dar al-Kitab al-'Ilmiyah, Cet. III, 1430 H.
  • Makarim Syirazi, Nasir. Dāirah al-Ma'ārif Fiqh Muqaran. Qom: Madrasah al-Imam Ali bin Abi Thalib as, Cet. I, 1427 H.
  • Maliki Ishfahani, Mujtaba. Farhang Ishthilāhāt Ushul. Qom: Cet. I, 2000.
  • Musawi Khomeini, Sayid Ruhullah. Taudhih al-Masāil (Muhassyi). Qom: Markaz Intisyarat Islami, Cet. VIII, 1424 H.
  • Yazdi, Sayid Muhammad Kazhim. Al-'Urwah al-Wutsqa ma'a at-Ta'liqāt. Qom: Daftar Intisyarat Islami, Cet. I, 1428 H.